Hitunglah

Baru kemarin mempertanyakan skenarioNya, dan sekarang sudah berganti lagi menjadi lebih mensyukuri skenario hari ini. Kelihatannya hidup memang lumayan sulit diprediksi.

Dari kejadian pagi tadi, kelas yang akhirnya kosong, kepanikan saat berkendara karena beberapa hal yang nyaris membahayakan orang lain dan yang berada diatas motor (ya, syukurnya, nyaris), shalat jumat di masjid yang ceramahnya tergolong singkat sehingga bisa memperhatikan aktivitas di sekitar masjid lain saat shalat jumat belum selesai, belajar sistem kebut waktu singkat yang syukurnya sangat bermanfaat saat ujian kompre, ujian yang alhamdulillah dapat diselesaikan dengan perasaan optimis (terlepas dari hasilnya kelak seperti apa), dan masih banyak lagi.

Maka, nikmatNya yang mana lagi yang akan kamu dustakan?

Kalau aku mengingat ayat itu kemarin, mungkin akan timbul berbagai pertanyaan tentang tafsir. Tapi saat mengingatnya sekarang, entah kenapa terpikir untuk memikirkannya. Berapa banyak nikmat yang telah kudustakan, atau terdustakan?

Bukankah ada sahabat yang berkata “Hisab–(menghitung kebaikan dan keburukan)–lah dirimu sebelum dirimu dihisab”? Kelihatannya sesekali kita memang perlu meluangkan waktu sejenak untuk menghitung. Menghitung berapa banyak nikmat yang kita dustakan, berapa banyak nikmat yang terlupakan, dan berapa banyak kebaikan yang perlu kita lakukan tiap hari untuk memperbaiki timbangan kebaikan kita.

Untuk menghitungnya, tidak perlu rumus khusus kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s