Random: Kesombongan, Pendidikan dan Fanatisme

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan sombong?

Aku pernah mendengar bahwa, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Itulah sombong. Dan entah kenapa, saat ini aku melihat banyak sekali bentuk kesombongan yang ada saat ini, baik disadari atau tidak.

Ada yang pernah membaca “Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan: Dilematika Ujian Nasional” yang ditulis oleh Nurmillaty Abadiah? Jika belum, silahkan buka link berikut, http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

Silahkan dibaca terlebih dahulu, ada yang ingin kudiskusikan dengan kalian setelah selesai nanti🙂

——————————————————————————————————————————————————————————–

Sudah selesai membaca?

Dalam beberapa hal, aku kurang sepakat dengan sang penulis itu, tapi dalam beberapa hal lain aku sangat sepakat. Tertarik untuk menguji kemampuan diri dengan soal tahap internasional, tapi tidak berminat jika itu jadi syarat utama kelulusan; Tidak suka dengan kecurangan yang seolah sudah umum terjadi saat ujian, tapi tidak tahu dapat berbuat apa jika satu sekolah sudah berkonspirasi untuk melakukannya; Tidak masalah atas bobot soal ujian yang berbeda-beda mengingat masalah yang kita hadapi dalam kehidupan juga begitu, tapi enggan menjawab pertanyaan terkait bagaimana hasil akhir dari sebuah masalah tanpa mempedulikan prosesnya.

Tapi bukan setuju atau tidak dengan artikel itu yang akan dibahas, menurut kalian bagaimana respon yang diberikan sang menteri?

Entah dengan pendapat kalian, tapi menurutku, respon yang diberikan tidaklah dewasa. Poin-poin argumen yang diberikan oleh sang penulis sepengetahuanku valid, tapi kenapa yang dipertanyakan adalah siapa sebenarnya yang menulis surat itu? Aku juga pernah mendengar seorang sahabat berkata, “Jangan lihat siapa yang berbicara, lihatlah apa yang dibicarakan”. Sekedar bertanya, seberapa penting jawaban dari pertanyaan tersebut berpengaruh terhadap argumen kritikan yang diberikan? Memang yang terbaik adalah mengingatkan secara sembunyi-sembunyi, tapi bisakah kita memberi pengecualian pada hal-hal dimana kita ingin mengingatkan tapi tidak tahu bagaimana mengingatkan secara personal seperti saat ini?

Dan respon di bagian kedua menurutku kurang layak untuk diungkapkan. Dari bagian setelah sang menteri menyatakan tidak ingin terlalu larut dalam polemik ujian nasional. Menurutmu, apakah itu terkesan menolak apa yang dianggap kebenaran oleh sang penulis dan meremehkan pendapat penulis? Menurutku iya, kuharap ini disebabkan gaya penulisan reportase media yang ingin melaporkan kabar secara kontroversial dan menarik minat massa. Ah, kabar tentang menteri yang arogan jelas memenuhi kriteria itu. Tapi, mari kita realistis dan mempertimbangkan semua hal yang mungkin terjadi. Jika apa yang dikatakan media itu memang merupakan kenyataan tanpa ditambah-tambah atau ditutup-tutupi sebagian, bagaimana menurutmu?

Kalau kita membahas secara luas, semua punya kadar kesalahan tersendiri dalam sistem seperti ini. Dalam kasus para siswa, mari kita lihat situasinya sejenak. Benarkah siswa-siswi yang protes merupakan siswa-siswi yang serius dalam menuntut ilmu dan ada perkembangan di sekolahnya? Kalau tidak serius, hm, apakah pantas jika orang-orang yang tidak serius belajar berteriak-teriak meminta sistemnya diganti? Yakinkah jika sistemnya diganti mereka akan berubah? Namun, dalam kasus siswa yang serius namun tidak ada perkembangan, dalam hal itu, menurutku pihak sekolah atau guru lah yang salah karena tidak memiliki kapabilitas untuk menangani murid tersebut. Jika argumennya karena jumlah murid yang perlu diperhatikan terlalu banyak, kenapa kuota siswa baru yang diterima dipasang banyak-banyak?

Begitu pula dengan kasus mencontek, dari segi moral siswa yang melakukannya dan pihak sekolah atau guru yang mendukungnya sudah salah. Tapi bukan berarti sang menteri juga tidak salah sama sekali, hei, menurutmu, siapa yang punya kuasa untuk mengubah sistem dimana semua komponennya sudah salah tujuan seperti ini? Hanya ingin mengingatkan bahwa dalam sistem seperti ini semua salah, meski tidak memungkiri juga kesalahan terbesar ada di pihak pemerintah yang memutuskan sistem apa yang akan digunakan. Jadi teringat bahwa ada komentar, yang saat ini dunia pendidikan butuhkan bukanlah evolusi, tapi revolusi. Karena jika kita mengevolusikan sistem dengan banyak kesalahan, ada kemungkinan kesalahan-kesalahan tersebut juga akan berevolusi menjadi makin kompleks. Bukan berarti tidak ada sistem yang tidak punya kekurangan, tapi, jika masalah yang ada turut berevolusi menjadi kompleks, siapa yang akan turut kesulitan?

Kelihatannya, kita semua akan kesulitan bukan?

Mari kita beralih pada kasus yang kedua, terkait fanatisme golongan. Di suatu waktu ada sebuah golongan yang menganggap apa yang dilakukan golongannya adalah yang paling benar. Bahkan beberapa mungkin menganggap yang dilakukan golongannya sebagai satu-satunya yang benar. Sehingga saat golongannya ditimpa musibah, semua bersepakat untuk menyalahkan pihak manapun yang bisa disalahkan, karena musibah ini pasti bukan karena kesalahan golongannya. Entah apa yang sebenarnya benar, yang jelas pendapat orang lain yang menyalahkan atau mengkritisi golongan itu pasti salah. Hm, ada kemungkinan menolak kebenaran, ada juga kemungkinan meremehkan orang lain, baik hanya dari pendapatnya atau memang meremehkan seluruhnya.

Nyatanya aku melihat golongan ini ada dalam berbagai kelompok, dari partai politik, organisasi sosial, suporter klub sepakbola, akademisi lab, yah, setelah dipikir kembali kelihatannya hampir semua kelompok bermassa banyak memiliki golongan ini di dalamnya.

Mungkin ini waktunya kita memikirkan kembali, bahwa masalahnya bukan kita berada di kelompok apa, tapi apakah kita termasuk golongan yang fanatik dan sombong atau tidak?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s