Kematian (2)

“Assalaamualaikum.. Kak, teteh saya meninggal. Mohon doanya..”

Seiring berjalannya waktuku di dunia, semakin banyak sms serupa yang kuterima. Tapi sms barusan benar-benar membuatku kehilangan minat untuk melakukan apapun. Belajar untuk ujian besok? Masih melihat-lihat dan belajar dari soal, berharap besok sempat membuka kembali, minatku sudah berada di titik nadhir sekarang.

Sms itu datang dari seorang muridku, yang saat ini tengah berjuang untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi ternama di indonesia. Baru awal bulan kemarin anggota keluarganya yang lain berpulang, dan sekarang panggilan berikutnya tiba.

Kadang aku ingin bertanya, dari tiap waktu yang mungkin, kenapa harus saat ini? Saat dia perlu fokus belajar demi impiannya, saat dia perlu dukungan dari orang-orang dekatnya. Dan saat itu kuceritakan pada sahabatku, dia hanya berkata singkat, “Bukankah Dia Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui?” Lagipula, kalaupun ini ujian, bukankah Dia tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambaNya?

Ya, aku terjebak dalam perandaian. Andai saja begini, pasti semua akan jadi lebih pasti. Andai saja begitu, pasti semua akan jadi lebih baik. Padahal kita tidak punya bukti apapun, hanya imajinasi dan berbagai teori yang menghasut pikiran bahwa dengan begitu semuanya akan lebih baik. Padahal nyatanya, siapa yang menjamin pasti begitu?

Aneh. Nyatanya, aku pernah berpikir begitu, semua yang terjadi adalah yang terbaik, sembari berusaha meyakinkan diri bahwa memang seperti itu logika yang digunakan kehidupan. Tapi di saat hal buruk yang terjadi, aku selalu kembali untuk mencari yang bisa disalahkan atau berandai-andai bagaimana jika semuanya berbeda. Aku pernah mendengar istilah doublethink digunakan untuk menyebut hal seperti ini, mempercayai dua hal yang sepenuhnya berkebalikan. Tapi dalam kasusku ini, aku bahkan ragu apakah ini doublethink atau munafik. Atau keduanya?

Jadi ingat di salah satu buku dari serial “Tunnels” ada monolog serupa. “Satu hal yang paling ironis dari manusia adalah, mereka tidak pernah sadar terhadap apa yang mereka miliki. Tidak sampai mereka merasakan bagaimana kehilangannya.”

Mungkin kesempatan kali ini memang bertujuan untuk mengingatkan hal itu. Bahwa semua akan pergi, karena itu nikmatilah saat-saat kebersamaan yang mungkin tidak akan lama lagi. Tidak ada yang mengetahui kapan kita akan sampai di ujung takdir, tapi kita masih dapat memilih apa yang ingin kita lakukan sembari menunggu itu terjadi bukan?

Ya, percayalah. Semua yang terjadi adalah yang terbaik, tentu hanya jika kita tidak melibatkan faktor imajinasi dan ekspektasi dalam melakukan perandaian. Dan teringat perkataan Dr. Seuss, “Don’t cry because it’s over, smile because it happened”.

Dan sms baru pun masuk ke hpku, sms pengingat.
“Allah tidak menjanjikan pelayaran yang indah dalam hidup ini, tapi Allah menjanjikan pelabuhan yang indah untuk meneguhkan setiap hati yang berserah padaNya :)”

Serenade No. 13 in G karya Mozart masih mengalun dari laptop, atau dikenal juga dengan “Eine Kleine Nachtmusik”, A Little Night Music. Yah, mari lupakan segalanya sejenak. Karena mungkin malam ini hanyalah sebuah malam biasa yang sangat kecil jika dibandingkan dengan berbagai kejadian yang telah menanti πŸ™‚

Memperingati Kepahlawanan

Memperingati kepahlawanan. Tema pelajaran di sebuah sekolah pekan ini. Belum setuju untuk mengangkat ini sebagai tema, tapi kalau protes agak repot juga karena banyak yang telah dipersiapkan untuk ini. Sudah lah, mari meracau disini.

hakikat-perjuangan

Sumber Gambar: http://www.anneahira.com/hakikat-perjuangan.htm

Pahlawan. Kata yang maskulin, menggambarkan sosok-sosok pemberani yang mengusir para penjajah dari negeri ini. Sehingga para lelaki tidak perlu lagi bekerja secara paksa, dan perempuan tidak ada lagi yang diculik untuk dijadikan gundik, bahkan dapat menjadi kaum terdidik. Mulia sekali kedengarannya.

Namun aku punya definisi tersendiri terkait pahlawan. Pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kebaikan untukku. Hanya untukku. Egois? Mungkin. Hei, bukankah tiap orang punya kebebasan mendefinisikan kata-kata? Setidaknya itu definisi dari kebebasan berpendapat yang diatur undang-undang bukan?

Bukan berarti aku menganggap para pejuang di belahan bumi lain seperti Nelson Mandela yang memperjuangkan nasib kulit berwarna di benua afrika sana tidak berharga. Aku mengklasifikasikan mereka sebagai “Inspirasi”. Mereka tidak memperjuangkan kebaikan untukku, tapi menggerakkanku, atau mengarahkanku melakukan sesuatu yang kuanggap baik.

Aku menganggap julukan “Pahlawan” bukanlah julukan yang bisa diberikan pada siapapun, tapi aku juga tidak berpendapat julukan itu sebegitu hebat hingga tidak ada yang mampu mendapatkan julukan tersebut.

Dan aku punya banyak orang yang kujuluki pahlawan. Mulai dari pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan di jaman Bung Karno dahulu sehingga hidupku tidak terjajah saat ini, baik itu panglima perang seperti Jenderal Soedirman, negarawan macam Muhammad Natsir, tokoh pelopor pendidikan macam Ki Hajar Dewantara, dan banyak lagi. Sulit untuk menyebutkan semuanya, Bung Hatta, tiga serangkai, seluruh anggota panitia sembilan yang mempersiapkan piagam jakarta, anggota bpupki dan/atau ppki, semua pihak yang terlibat dalam perjuangan memerdekakan negara ini. Pahlawan bangsa, orang-orang yang memperjuangkan kebaikan bagi bangsa, tidak heran mereka dianggap pahlawan oleh banyak orang. Dan, sebuah kehormatan untuk menjadi bagian dari yang mereka perjuangkan πŸ™‚

Begitu juga dengan pahlawan yang membuat kehidupan semudah saat ini, dari Isaac Newton yang menyadari mekanika hingga menjadi ilmu yang aplikatif, James Watt dengan mesin uap modernnya yang menciptakan revolusi industri dan berkembangnya teknologi, Alexander Graham Bell yang menemukan telepon, Nikola Tesla yang membuat energi listrik mudah didistribusikan (sangat disayangkan ide wardenclyffe tower belum terwujud, semoga ada yang mau melanjutkan sehingga energi listrik dapat disalurkan secara wireless, kelihatannya akan menarik, haha), dan tokoh-tokoh serupa.

Begitu juga dengan sosok yang menginginkan kebaikan bagi Umat Muslim, Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, para Nabi dan Rasul serta para sahabat di jaman Rasulullah, yang menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Ada beberapa orang yang berkata mereka tidak perlu agama untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mengingat kehidupan bangsa Arab di jaman dahulu sebelum Rasululllah diturunkan yang mendapat julukan jahiliyyah, aku ragu akan kebenaran perkataan tersebut. Semudah itu kah membedakan yang baik dan buruk saat keburukan telah merajalela dan tidak ada yang tahu hal atau perbuatan seperti apakah yang baik bagi mereka? Entah lah.

Dan yang paling penting, tentu saja, pahlawan yang berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan jalan yang halal tentunya; Ibu yang sangat peduli terhadap kondisi anak-anaknya, dari kesehatan hingga pendidikan; Para guru yang benar-benar menginginkan murid-muridnya menguasai ilmu yang dia ajarkan, karena dia yakin akan bermanfaat bagi mereka di masa depan nanti; Para sahabat seperjuangan yang saling bahu membahu untuk tujuan yang sama, entah kebetulan memiliki tujuan yang sama atau memang hanya ingin membantu saja; dan berbagai profesi yang tidak terlihat penting tapi sangat memperjuangkan kebaikan kita, seperti tukang bersih-bersih yang menyebabkan kita tidak terkena penyakit dari tumpukan sampah, para petani dan pedagang tempat kita mendapatkan variasi makanan yang bergizi, para supir kendaraan umum yang mengantarkan kita pada tujuan, dan masih banyak lagi.

Mereka semua pahlawan, dan memang jasa mereka dalam kehidupan kita sangat penting. Tapi meski begitu, aku tidak menganggap kita perlu membuat satu hari khusus untuk memperingati mereka.

Menurutku memperingati mereka dapat dilakukan dengam cara yang lebih sederhana. Ingatlah mereka, dan bayangkanlah mereka mengamati semua tindak-tandukmu selama ini. Menurutmu, akan banggakah mereka?

Dan sampai sekarang aku masih merasa malu pada pahlawan nasional, dan Rasulullah, mengingat kemerdekaan dan kebaikan yang mereka perjuangkan untukku lumayan banyak kusalahgunakan dengan hal yang kurang bermanfaat, seperti terlalu lama berada di depan internet ._.

Simfoni Alam Semesta

Pernahkah kau mendengar sebuah simfoni alam semesta?

Saat awan-awan berkumpul untuk meredupkan cahaya sorot dari matahari, mempersiapkan latar yang sempurna bagi simfoni untuk beraksi

Saat buliran air berjatuhan ke tanah, atap rumah, permukaan sungai dan berbagai tempat lainnya untuk mencipta nada

Saat semilir angin tak mau kalah dan menggerakkan dedaunan untuk menyemarakkan suasana dengan gemerisiknya

Saat racauan hewan-hewan tak terdengar lagi, seolah mereka ingin diam dan menghayati alunan nada dari simfoni ini

Kita menamakan simfoni ini hujan

rain-06

Bukan sebuah badai yang dapat mencederai ratusan, bahkan ribuan jiwa

Bukan hujan es yang dapat menyakiti siapapun yang ingin terlibat dan bermain di latar

Kita menamakannya hujan, rahmat dariNya

Tidak, aku tidak bertanya apakah dirimu pernah berdiri basah kuyup di tengah latar saat simfoni sedang dimainkan

Aku juga tidak bertanya apakah dirimu pernah merutuki keberjalanan simfoni ini

Aku tahu semua orang pasti pernah melihat dan mengalaminya

Yang jadi pertanyaan adalah, berapa banyak yang mau diam, fokus dan mendengarkan simfoni ini?

Cobalah tenangkan dirimu dan dengarkan

Dengarkan suara rintiknya saling bersahutan

Ini bukanlah sebuah simfoni karya manusia yang mengandalkan frekuensi dan resonansi dari peralatan musik

Dan jika ada tangga nada yang dimainkan simfoni ini, mungkin Dia satu-satunya yang menyimpan salinannya

Karena itu, cukup diam dan dengarkanlah

Tidakkah alunan melodinya mendamaikan hati?

-23 April 2014, saat berusaha mendamaikan hati untuk menghadapi ujian di kedua jumat ini. Kelihatannya, Dia punya cara tersendiri untuk menenangkan hati ciptaanNya ya?

Sumber gambar: http://eofdreams.com/photo/rain/06/

Masalah

Racauan hari ini:
Masalah tidak jauh berbeda dengan malam, dia membuatmu bertanya-tanya tentang kehidupan. Hanya saja, jika malam diciptakan agar kita dapat tertidur dengan tenang untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjuangan setelah bangun nanti, masalah diciptakan sebagai persoalan yang harus dihadapi.

Tapi bukan berarti masalah tidak dapat menenangkan hati. Karena terkadang keberadaan masalah mengingatkan kita kepada hal-hal sederhana yang sering kita lupakan. Sesederhana isi diskusi menarik yang lama terlupakan, sesederhana rasa syukur, sesederhana rasa sabar.

Sesederhana mengingat-Nya. Dan, bukankah ini menenangkan hati?

Memaknai Pendidikan

“Untuk apa berlelah-lelah demi tiga koma?”

Pertanyaan itu terlintas di pikiranku begitu saja, setelah terlambat bangun di kelas dimana seharusnya aku melakukan presentasi, dimana semua peserta wajib masuk jika tidak ingin nilainya berkurang. Entah apakah pikiranku saat ini ingin menyalahkan kenyataan dan mencari pembenaran atau memang terpikirkan begitu saja dan mempertanyakan apa yang selama ini kuanggap kebenaran. Bukankah itu wajar?

Lalu setelah melihat transkrip aku pun sadar, meskipun aku menjalani semester ini dengan asal-asalan, selama tugas akhir selesai dan lulus dari tes fundamental engineering (FE) yang dilaksanakan jumat pekan ini dan pekan depan, aku sudah bisa bersantai dan bersikap abai terhadap sisa tugasku. Bahkan aku bisa mengerjakan semua tugasku dengan asal untuk fokus hanya ke tugas akhir dan FE, bahkan mungkin juga untuk mencari beasiswa lanjut studi ke luar negeri mengingat akademikku saat ini masih dapat diterima. Cukup bertahan hingga akhir semester, kan?

Mendapat ip tiga koma memang punya keuntungan, seperti cv terlihat sangat indah bagi yang mau melamar pekerjaan, melanjutkan studi ataupun mengikuti seleksi suatu program setelah lulus. Jadi teringat perkataan seorang petinggi perusahaan, yang berkata bahwa mereka menyeleksi mahasiswa berdasarkan ip karena menurut mereka tingginya ip menunjukkan sang pemilik ip menjaga amanah yang diberikan orangtuanya untuk belajar dengan baik, sehingga mereka menganggap sang pemilik ip dapat dipercaya.

Yah, setidaknya itulah yang kudengar, meski aku juga masih skeptis, menganggap itu hanyalah kata-kata manis yang terucap agar sistem seperti ini dianggap benar oleh yang mendengar. Jadi teringat diskusi dengan para senior dahulu, bahwa sistem pendidikan saat ini seolah mengubah pesertanya menjadi robot yang siap dikirim ke pabrik-pabrik. Entah ya, menuruti perintah dengan hasil yang sangat memuaskan, bukankah itu tidak jauh berbeda dengan apa yang seperangkat robot lakukan?

Jadi apakah perkuliahan ini hanyalah kegiatan meng-upgrade soft skill atau meng-install hard skill sebelum para manusia robot ini siap dikirim ke dunia industri? Mungkin iya, dan mungkin tidak. Seperti apa yang dikatakan seniorku sebagai penutup dari diskusi.

“Meski mungkin sistem yang ada saat ini kurang tepat, tapi kita juga perlu memaknai proses pendidikan yang kita ikuti saat ini.”

Ya, memberi makna pada apa yang sedang kita pelajari saat ini. Apakah kita melakukannya karena kita ingin melakukan sesuatu dengan ilmu yang kita dapat atau karena terpaksa? Apakah kita menganggap pelajaran yang kita ikuti sebagai sebuah kewajiban dari masyarakat ataukah sebagai hak untuk meningkatkan kapabilitas kita? Apakah kita menganggap kelulusan atau naik kelas adalah suatu hal yang harus terjadi jika ingin menghindari rasa malu ataukah peningkatan level materi karena kita sudah menguasai materi di level sebelumnya?

Jadi teringat dengan ujian nasional tahun ini yang menggunakan soal internasional. Tidak sedikit peserta yang protes dengan alasan soalnya susah atau khawatir tidak lulus karena UN yang hanya 3 hari ini. Aku memang tidak terlalu setuju dengan un yang kelihatannya hanya membuang-buang anggaran negara karena bocoran dapat merajalela dimana-mana atau guru dan murid saling bekerjasama untuk mengharumkan nama baik sekolah, hei, bukan itu tujuan ujian diadakan kan? Tapi aku juga agak miris membaca komentar-komentar protes tersebut, apa yang salah sih dari mengulang setahun lagi kalau ternyata memang belum mampu?

Entah ini salah siapa, apakah kementerian yang suka menggonta-ganti kurikulum, murid yang belum memaknai pendidikannya, atau situasi sosial dimana anak yang tidak lulus atau tinggal kelas sering diejek atau dicap bodoh seperti saat ini, setidaknya itu cerita pengalaman seorang muridku yang tinggal kelas, yang kudengar dari beberapa warga. Yah, terlepas dari itu, mungkin ini juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk memaknai pendidikan. Mungkin memang saat ini makna pendidikan tidak sepopuler makna cinta atau makna sahabat, tapi, mengingat hal ini tidak kalah penting, mengapa tidak mulai memaknainya? πŸ™‚

Bisa dimulai dari tiga pertanyaan sederhana. Apa yang dapat kamu lakukan, apa yang ingin kamu lakukan dan apa yang mau kamu usahakan setelah mendapatkan ilmu-ilmu ini?

Selamat memaknai pendidikan πŸ™‚

Pergaulan

Ada sahabat yang berkata “Berkumpul di acara doa kematian seseorang adalah momentum bagi yang hidup untuk mengingat mati dan menghidupi hidupnya”, dan ada juga sahabat yang menanggapinya dengan gurauan galau, “Berkumpul di acara pernikahan seseorang adalah momentum bagi yang jomblo untuk mengingat bahwa semua orang pasti ada jodohnya”.

Dan sahabat yang sama juga mempertanyakan, “Jika saat ini Kartini masih hidup, akankah beliau suka selfie dan menonton Film Korea?”

Oke, itu hanya sebagian kecil dari pemikiran unik yang muncul hari ini. Tapi kalau dipikir kembali, bukankah pergaulan itu sangat berpengaruh bagi kepribadian seseorang? Ada yang tahu berapa banyak anak-anak yang terlibat tawuran atau narkoba karena salah pergaulan? Atau anak-anak yang menjadi baik dan berwawasan luas karena pergaulan juga?

Mungkin kita tidak akan mengenal Albert Einstein sebagai fisikawan ataupun orang yang cerdas jika beliau memilih untuk aktif di sebuah perkumpulan berandalan. Mungkin jika Vincent van Gogh terlahir saat ini, dia tidak akan memilih aktif di dunia lukis karena karyanya tidak pernah dihargai lingkungannya, dan mungkin beralih ke dunia engineer. Mungkin jika Kartini terlahir saat ini beliau hanya akan menjadi remaja yang suka selfie, menonton drama korea dan galau menanti jodoh. Hei, itu hanya satu dari sekian banyak kemungkinan yang ada, siapa yang tahu tokoh favorit kita atau orang yang kita kagumi akan menjadi seperti apa jika saja mereka memiliki pergaulan yang berbeda.

Karena itu aku merasa wajar jika melihat ada sahabatku yang berubah menjadi galau karena pergaulan dia diisi oleh orang-orang yang galau juga. Dan aku pun juga masih mempertanyakan apakah keputusanku bergaul dengan para deadliner dan orang-orang yang tidak terlalu peduli pada akademik tepat atau tidak, hahaha.

Mungkin itu penyebab Rasulullah bersabda demikian.

β€œPermisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Bukan berarti kita perlu menjadi pribadi yang tertutup atau pemilih dalam berteman, tapi perlu lebih memperhatikan siapa saja sahabat kita, dan apakah sahabat kita memang mengarahkan kita ke arah yang lebih baik atau tidak. Ini hidup kita, kita bebas bertindak sesuka hati selama ingat untuk bertanggungjawab nanti. Jika ada yang memang bisa berubah dan mengajak teman-temannya untuk berubah juga, itu sangat bagus. Tapi jika belum, langkah apa yang sebaiknya kita ambil agar kita tidak terkena pengaruh buruk, atau pergaulan kita menjadi baik? πŸ™‚

Perjuangan

Kelihatannya bulan terakhir perkuliahan memang merupakan titik puncak dari grafik banyaknya masalah dalam satu semester. Seperti saat ini, tugas kelompok pemodelan pencahayaan yang belum ada kemajuan meskipun deadline 12 jam lagi, tugas akhir yang datanya belum selesai diolah, tugas uas yang aku lupa detailnya bagaimana, belum lagi kesibukan organisasi dan akademik formal ataupun informal.

Dan sekarang aku masih berkutat menyelesaikan manga “Giant Killing” dan “Uchuu Kyodai/Space Brothers” di internet, memperbaharui nilai tertinggi dalam permainan 2048, serta mencurahkan isi pikiran disini. Rehat sejenak mengingat daya tahan otak yang tidak mampu diajak berpikir dan bekerja keras terlalu lama.

Dan ada tab terkait berita bunuh diri. Entah, kebanyakan berita bunuh diri yang kubaca selalu disebabkan oleh adanya masalah, stres un, diputusin pacar, dipecat dari pekerjaan, dan lain semacamnya. Aku tidak tahu situasi yang mereka hadapi saat mengambil keputusan itu, tapi, jika bunuh diri dapat menyelesaikan permasalahan, seharusnya area kuburan jauh lebih luas daripada area perumahan bukan?

Ya, hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menyelesaikan masalah, perjuangan untuk hidup layak, perjuangan untuk hidup bahagia, banyak hal yang perlu diperjuangkan. Begitu juga perjuangan untuk tetap berada dalam jalanNya, dan memperoleh hidayahNya. Bukankah banyak hal yang perlu kita perjuangkan?

Setidaknya percayalah, masalah yang Dia berikan pasti dapat kita selesaikan, bukankah Dia Maha Mengetahui kondisi hambaNya?