Melukis Langit Bagai Imaji

Dan, baru tahu sahaja ciroyom punya blog, hahaha.

 

Salah satu lagu yang sering dinyanyikan dalam berbagai acara, buatan kakak-kakak pengajar. Meski aku sendiri tidak sering ikut kegiatan belajar di sana, tapi tiap mendengarnya selalu bisa mengingat kondisinya 🙂

Lagu dapat didengar di https://soundcloud.com/rumahkaca/rumah-belajar-sahaja-ciroyom

Lirik bisa dilihat di blognya, Melukis Langit Bagai Imaji. 🙂

Menikmati Kehidupan

Dan sejak menerima kenyataan bahwa baru bisa wisuda oktober, kegiatanku menjadi tidak produktif. Meski ingin menyelesaikan semua urusan akademik sebelum ramadhan dimulai, tapi apa daya, otak mengingat bahwa oktober masih lama. Dan kembali terjebak bersama internet, berbagai manga dan informasi yang kurang penting, hahaha. Kelihatannya benar, TA itu mata kuliah pilihan. Pilihan mau lulus atau tidak, dan kalau mau lulus, kapan?

Seperti dua hari yang lalu, saat sedang berkumpul dengan sahabat-sahabat dan seorang senior yang sedang bersiap untuk melanjutkan studi di skotlandia. Berbincang tentang beasiswa lpdp yang diambil beliau, tentang sistem pendanaannya, tentang jurusan yang dituju di universitas tersebut, dan banyak lagi. Pembicaraan berlangsung sembari menyindir kawan yang masih belum menyerah untuk menyelesaikan studi juli ini bersama para junior–hei, lebih seru jika wisuda segerombolan ramai kan?–dan terhenti saat ada junior yang mengalihkan pertanyaan sudah sidang atau belum kepadaku.

Pernah mendengar bahwa orang bisa terdiam membisu dari sebuah pertanyaan dari orang yang disukai? Atau pertanyaan yang diajukan dengan todongan senjata? Uniknya, pertanyaan ini tidak dalam kedua kondisi khusus tersebut, tapi tetap efektif dalam membuatku membisu. Jawaban tercekat di tenggorokan, entah kenapa tidak bisa dikeluarkan. Kelihatannya pertanyaan terkait tugas akhir, sidang, wisuda dan hal-hal serupa pada mahasiswa tingkat akhir di masa deadline ini juga dapat diklasifikasikan ke dalam kondisi khusus tersebut.

Dan sekarang terjebak untuk membaca manga gintama, sebuah manga komedi-aksi yang memuat lumayan banyak filosofi kehidupan. Dulu sempat membaca beberapa chapter, dan karena lupa sudah membaca sampai mana akhirnya memutuskan untuk mengulang dari awal, hahaha. Dan kelihatannya tidak percuma, ada beberapa hal yang dapat dipikirkan.

Salah satunya adalah kalimat pidato saat ayah seorang tokoh meninggal.

“It’s surprisingly easy for people to become adults. But it’s pretty hard to keep a child-like heart that just enjoys life.”

Merasa tersindir kalimat ini. Hidup serba cepat, penuh tekanan deadline tugas akhir dan sidang, kekhawatiran pada masa depan, ketidakrelaan untuk meninggalkan komunitas dan dinamika di kampus karena mendengar cerita dari senior-senior yang merasa begitu, dan masih banyak lagi. Dan saat ini justru merasa tidak menikmati hidup.

Selama terjebak di aktivitas yang melibatkan anak-anak di bandung, terasa. Mereka kadang menyebalkan, kadang sengaja melanggar aturan, kadang berusaha mencari perhatian, kadang ingin mendapat pengakuan, kadang memaksa untuk didengarkan, tapi mereka menikmati kehidupan. Menikmati aktivitas apapun yang mereka lakukan, dan tidak ragu untuk lari atau pergi jika mereka menganggap itu lebih menyenangkan. Dalam beberapa hal, kesenangan mereka mengganggu orang lain. Mungkin beberapa dari mereka memang belum paham cara bersosialisasi yang baik ataupun batasan hak pada diri pribadi, namun kelihatannya mereka tidak peduli.

Mungkin ada beberapa orang yang tersenyum saat melihat anak-anak bermain, atau mengimajinasikan hal serupa, seperti laskar pelangi yang digambarkan bermain merosoti bukit berbekal pelepah daun pisangnya oleh andrea hirata, petualangan aneh bin ajaib dari anak-anak di serial kartun magic school bus, atau mungkin saat mencaritahu apa yang ingin dikomunikasikan seekor anjing berwarna biru yang meninggalkan jejak kakinya di beberapa benda. Terlepas dari betapa tidak masuk akalnya hal-hal yang ditampilkan, mereka tetap menikmatinya.

Terlepas dari apapun kegiatannya, mungkin tiap orang akan terlihat keren jika mereka melakukan suatu aktivitas secara total dan menikmatinya, apapun aktivitas itu. Setidaknya itu yang kurasakan, dan menjadi salah satu umpan yang menjerumuskanku kedalam dunia sosial di kampus sains dan teknik ini. Kalaupun tidak, yah, setidaknya mereka tetap menikmatinya kan? 🙂

Random: Capres

Dan akhirnya masuk ke tahap terakhir dari 5 stages of grief: acceptance. Penerimaan. Telah menerima fakta bahwa kelihatannya baru bisa diwisuda oktober ini. Meski begitu, masih tetap mengusahakan semuanya beres sebelum ramadhan. Yah, mungkin Allah punya rencana lain, sekarang jalani hidup dulu, nikmati proses dan cari peluang yang ada saja lah. Toh lulus 3.5 tahun bukan jaminan kesuksesan, sebagaimana lulus 6 tahun bukan jaminan kegagalan.

Yak, seperti biasa, kembali ke rutinitas: meracau.

Salah satu topik yang sedang ramai dibahas dalam masa-masa ini adalah calon pemimpin bangsa ini. Setidaknya topik ini masih lebih ramai dibahas di kampusku daripada topik piala dunia. Kabar baiknya, banyak yang peduli terhadap nasib bangsa selama beberapa tahun ke depan. Kabar buruknya, keburukan dan berbagai fitnah terkait pasangan calon pemimpin bangsa tersebar di berbagai situs internet. Entah dengan televisi, radio ataupun surat kabar, tapi karena internet adalah hal yang kuandalkan dalam mencari informasi tentang dunia luar, itu kabar buruk kan?

Erasmus mengatakan bahwa “Di negeri orang buta, orang bermata satu menjadi raja”. Ada sumber yang menyebutkan bahwa kalimat ini terinspirasi dari sebuah kalimat di kitab lama, “In the street of the blind, the one eyed man is called the Guiding Light”. Di saat orang lain tidak bisa melihat, orang yang bisa melihat meskipun tidak sempurna pun akan menjadi pemimpin, yang mengarahkan orang-orang buta tersebut.

Tapi, bagaimana jika orang-orang buta itu diarahkan demi kepentingan pribadi sang mata satu atau golongan tertentu? Sebagaimana novel “The Appeal” karya John Grisham, dimana sebuah perusahaan rokok besar yang terkena vonis denda yang besar mengajukan banding dan memanfaatkan momen pemilihan hakim agung dengan mendorong sosok orang muda yang masih bersih dari track record yang kelam namun bisa diperalat oleh industri tersebut untuk membatalkan vonisnya.

Dan begitulah yang terjadi saat ini, kedua calon pemimpin memiliki pencitraan baik dan pencitraan buruknya tersendiri, satu calon memiliki track record yang terlalu mulus untuk dianggap nyata dan terkesan disetir sedemikian rupa agar dianggap begitu, calon lainnya memiliki track record yang kontroversial lagi belum jelas kebenarannya dan mungkin membahayakan jika terpilih. Kadang analisis dibuat berdasarkan tebakan liar atau pernyataan dari lovers dan haters, padahal entah bagaimana kebenarannya. Banyaknya berita negatif kelihatannya sangat tidak membantu dalam menurunkan kadar golput, justru mungkin ini yang membutakan orang-orang di negeri ini. Bagi pendukung salah satu calon atau golongan tertentu, membenarkan kabar kebaikan calon yang dia atau golongannya dukung dan memandang nista kabar keburukan calon tersebut bukan hal yang sulit, hm, mungkin itu yang selalu kita lakukan. Memang, sulit untuk netral mengingat tiap manusia punya latar belakang yang berbeda, tapi setidaknya kita tetap bisa membenarkan kebaikan yang dilakukan keempat calon pemimpin dan wakilnya dan menentang keburukan yang keempatnya lakukan, kan?

Mungkin ajang debat adu gagasan merupakan ajang yang paling ditunggu-tunggu dalam pilpres ini, khususnya bagi orang-orang yang belum menentukan pilihan. Jika pencitraan figur sudah rusak di mata golongan tersebut, mari berharap programnya tidak demikian. Mungkin akan ada kecenderungan terhadap suatu calon, atau mungkin juga akan golput, entah karena percaya kedua calon sama baiknya atau karena kecewa dan berpikir kedua calon sama-sama tidak akan mampu mengubah nasib rakyat.

Mungkin memang orang bermata satu menjadi raja di negeri orang buta. Namun saat orang-orang bermata satu berdebat memperebutkan kursi singgasana, dan menyerahkan pilihan kepada orang-orang buta, mereka hanya bisa meraba-raba informasi yang ada. Mungkin sebagian kecil dari mereka berharap memiliki sebuah pedoman, atau sebuah mata. Untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang dusta. Dan melihat apakah ada pilihan yang mengarahkan kepada cahaya, atau pilihan yang menjerumuskan ke dalam kegelapan yang jauh lebih pekat. Tapi tetap saja itu hanya angan belaka, karena itu mereka terus meraba-raba, sembari berharap menemukan fakta, dan memilih pilihan yang dianggap paling bijaksana.

Label

“Turns out I don’t need a medal to tell me I’m a good guy. Because if that little kid likes me… How bad can I be…?”
-Wreck it Ralph

Teringat pada film dan pernyataan ini saat menonton sebuah video yang menggunakan salah satu soundtracknya. Dan, ada benarnya. Jika penilaian terhadap seseorang dilakukan berdasarkan medali, trofi, penghargaan dan berbagai macam label yang dapat diberikan seorang manusia ke manusia lain dalam rangka menilai diri seseorang, sudah sekacau apa dunia ini?

Bukan mustahil jika seseorang mendapat label “Pahlawan” dan “Penjahat perang” secara bersamaan, tergantung penilaian itu berasal dari sudut pandang mana. Dan tokoh nasional seperti Diponegoro, Pattimura dan Soedirman pun mendapat kedua label tersebut, label “Pahlawan” dari masyarakat Indonesia dan label “Penjahat perang” dari pemerintahan kolonial Belanda jaman dahulu.

Dan kadang teori pemberian label ini pun dapat menyebabkan seseorang malas untuk melakukan sesuatu karena khawatir mendapat julukan yang tidak dia sukai. Sudjiwo Tedjo pun pernah membuat pernyataan demikian:

“Lama-lama orang males romantis, karena entar dibilang GALAU.
Males peduli karena takut disebut KEPO.
Males mendetail karena takut dibilang REMPONG.
Males mengubah-ubah point of view dalam debat, karena takut dibilang LABIL.
Lama-lama generasi mendatang males mengeluarkan pendapat, karena takut dikira CURHAT.”

Meski aku setuju bahwa kita perlu memperhatikan kesan yang kita berikan pada orang lain–setidaknya untuk meminimalisir kesalahpahaman, bahkan hal yang lebih parah seperti penyiksaan, seperti yang mungkin terjadi pada orang dengan kesan dirinya pencopet di lingkungan yang suka main hakim sendiri–tapi bukan berarti itu perlu dijadikan satu-satunya dasar pertimbangan kita, apakah keinginan pribadi patut untuk diabaikan? Menyenangkan semua orang merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan, lihat saja contoh pahlawan negara ini, mereka pun tetap dijadikan musuh oleh beberapa golongan. Tapi, apa peduli mereka? Mereka tetap memperjuangkan apa yang mereka inginkan, kan?

Jika kita bergantung pada teori Sudjiwo Tedjo, blog ini merupakan bukti bahwa aku adalah orang yang suka curhat. Umumnya meempertanyakan kehidupan–baik pribadi maupun orang lain–karena aku sendiri masih belum paham kenapa kita atau masyarakat harus begini ataupun begitu. Bukan bahasan yang sesuai untuk anak teknik tanpa latar belakang di bidang psikologi ataupun filsafat dan hanya sedikit pengalaman teknis di bidang sosial memang. Tapi, bukankah jaman dulu–baik di jaman penjajahan maupun jaman orde baru–orang-orang memperjuangkan kebebasan untuk berpendapat? Jika kebebasan itu tidak kita gunakan untuk curhat sebebas-bebasnya, bukankah kita menyia-nyiakan perjuangan mereka?

Aku juga labil. Jika ada yang berhasil meyakinkanku bahwa aku salah, umumnya aku akan menyendiri dan memikirkan segalanya kembali. Dalam hal apapun, entah apakah itu di bidang persamaan matematis yang jawabannya pasti ataupun dalam kehidupan sosial yang entah akan jadi seperti apa jika ada pendapatku yang berubah. Tapi, apa salahnya mengakui bahwa kita pernah salah? Lebih baik mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya daripada bernasib seperti firaun yang baru mengakui kesalahannya saat akan tenggelam ketika mengejar Nabi Musa dan sudah tidak punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Rempong? Juga. Terinspirasi Sherlock Holmes untuk memperhatikan dan mengerjakan segala detail. Sebuah detail yang terlewatkan dapat membuat fakta tersamarkan ataupun mangsa lepas dari perangkap. Bukan, bukan Sherlock yang menganggap dirinya “High-functioning Sociopath”, tapi Sherlock Holmes yang dikisahkan Conan Doyle. Dia bisa menunjukkan sisi keren dari orang yang peduli dengan detail, dan bagaimana detail-detail tersebut dapat direkonstruksi menjadi sebuah fakta. Rempong memang, tapi worth it.

Dalam beberapa hal yang memang kuanggap penting, aku juga kepo. Seperti saat ini, sedang kepo tentang kedua pasang capres, tentang piala dunia, tentang topik TA, serta sedang senang berkunjung ke akun ask.fm beberapa orang, melempar pertanyaan dan pergi. Menyenangkan mengganggu orang saat orang itu tidak bisa membalas dengan gangguan yang sama, karena itu aku pun menonaktifkan akun ask.fmku, hahaha. Sekarang kepikiran untuk mencari beberapa akun yang cenderung mendukung salah satu capres, melempar pertanyaan asal lalu melihat responnya. Berapa banyak yang memilih hanya karena fanatik terhadap golongan dan berapa banyak yang memilih karena memang punya alasan. Siapapun yang dipilih, semoga golongan kedua jauh lebih banyak. Tapi, sebelum itu perlu membereskan TA dulu, mengganggu orang tidak akan nyaman saat masih punya beban dan tanggungan kan?

Galau? Hm, mungkin nanti, saat sudah ada yang bisa dan pantas diajak untuk romantis. Yah, sebenarnya saat ini juga sudah ada yang minta perhatian terus sih, namun hubungan kita kurang baik. Aku masih belum bisa memahaminya secara keseluruhan. Dan aku cenderung abai terhadap dia, entah karena kegiatan sosial dengan kawan, film di harddisk yang menarik ataupun game hp yang membuat ketagihan. Oh well, kelihatannya perlu benar-benar minta maaf dan making up for the loss time kepada Laporan TAku. Meski aku tahu dia tidak akan marah ataupun ngambek, tapi kalau ini berlanjut, urusanku di kampus ini pun masih jauh dari selesai.

Dan aku masih bertanya-tanya mengapa semua hal yang membosankan bisa terlihat jauh lebih menarik daripada hal-hal yang harusnya dikerjakan -_-

Yah, mungkin memang ada saat kita perlu mengabaikan anggapan orang lain terhadap kita, apapun bentuknya. Memperjuangkan apa yang kita inginkan, mencari kebenaran, dan tidak lupa untuk mempertanggungjawabkan tindakan kita. Toh akan tetap ada orang yang memberikan label positif bagi diri kita, dan juga orang yang memberikan label negatif. Jadi, untuk apa dipedulikan seecara berlebih?

Lagipula, jika kita melakukan hal yang kita inginkan dan tetap berperilaku seperti biasa, toh orang yang sepaham akan bermunculan sendiri. Dan mungkin disanalah kita akan mendapat sebuah kepercayaan, sebagaimana Ralph dan Vanellope. Kadang kepercayaan dari sebuah pihak merupakan hal yang paling berharga yang bisa diterima bukan?

Jadi, kenapa takut dilabeli buruk? Just do things your own way, and trust yourself to finish the final project 😀

Time to Work

Tidur siang, mandi biar seger, lanjut urus TA.

Tadi siang sih itu yang ada di pikiran. Dan semua tidak berjalan sesuai rencana.

Padahal harusnya tidur siang untuk memulihkan energi dari jalan-jalan pagi tadi, kemudian mandi biar segar lagi sebelum memulai pengerjaan laporan TA yang masih belum ada perkembangan sama sekali. Tapi nyatanya entah kenapa sulit tidur, hanya berbaring dan berguling. Setelah mandi, ashar dan beli makanan untuk berbuka pun, malah menjadi seperti kunang-kunang, tertarik mengunjungi kamar zhilal yang lampunya menyala untuk membahas dunia perpolitikan, dari konsep revolusi mental yang belum jelas indikatornya, track record salah calon lainnya yang tidak memberikan gambaran kepemimpinan sipil yang jelas, serta kredibilitas masing-masing pendampingnya. Cuma racauan asal dari dua manusia yang penasaran, toh kita bukan ahli dalam bidang perpolitikan ataupun seorang negarawan, tapi kita tetap punya hak untuk berpendapat berdasarkan pengamatan dan kondisi lapangan bukan?

Dan sekarang terpikir, kapan ingin menyelesaikan TA jika begini terus ._.

Segala hal yang memiliki awal pasti akan berakhir juga suatu saat nanti. Kadang akhir itu terjadi secara alami, kadang kita sendiri yang harus mengakhiri.

Dan kelihatannya, TA merupakan yang kedua.

Brace yourself, it’s time to work now, Laks.

Pengamat: Pemerintah Harus Tindak Situs Pemuja Alien Radikal!

Tertibkan semua situs pemuja alien radikal! Hahaha.

Sindiran bagi banyak situs yang belakangan ini ramai dan suka mengadudomba, entah dalam hal politik lah, agama lah, pendidikan lah, ini lah, itu lah, meh, kelihatannya semua hal bisa saja dijadikan alat untuk memecah persatuan antar masyarakat, antar umat beragama, antar sekolah, antar golongan apapun lah. Dan aku lumayan suka kalimat terakhirnya, “Pengguna internet itu terdiri dari bermacam-macam kepribadian dan latar belakang, seharusnya yang dikedepankan adalah toleransi, bukan hate speech.”

Mungkin ada orang, golongan atau suatu tindakan yang tidak kita sukai, namun, perlukah ketidaksukaan itu berujung pada menghasut orang-orang untuk sepaham dengan kita dan memerangi orang yang berbeda pemahaman? 🙂

POS RONDA | Indonesia's Political Infotainment

Logo situs allalien.com dan voaliens.com. Kedua situs ini disinyalir sebagai corong media pemuja alien radikal, dan menyebarkan paham kebencian. (pic by POS RONDA) Logo situs allalien.com dan voaliens.com. Kedua situs ini disinyalir sebagai corong media pemuja alien radikal, dan menyebarkan paham kebencian. (pic by POS RONDA)

JAKARTA, POS RONDA – Pengamat media dari lembaga Generasi Indonesia Bijaksana (GIB), Razin Alamsyah, memperingatkan pemerintah dan pihak berwenang untuk segera menindak dua situs internet yang ditujukan bagi para pemuja alien beraliran radikal.

Dua situs tersebut, allalien.com dan voaliens.com, menurut Razin, menyebarkan konten berupa tulisan-tulisan yang berisikan materi ajakan kekerasan, informasi yang menyesatkan, serta berpotensi mengancam toleransi keberagaman di Indonesia.

“Pemerintah harusnya menyadari bahwa situs-situs seperti ini adalah musuh dalam selimut yang berbahaya. Mereka menyebarkan propaganda mengenai superioritas makhluk asing, alien, tapi mereka menyampaikannya dengan cara yang tidak baik, diantaranya mengajak para pemuja alien memusuhi, bahkan memusnahkan orang-orang lain yang tidak mengakui keberadaan alien.” ujar Razin dalam sebuah konferensi pers  di Jakarta, pagi ini (16/5).

Jumlah para pemuja alien di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke…

Lihat pos aslinya 779 kata lagi

Merdeka dalam Berjalan

Salah satu kegiatan yang suka kulakukan adalah berjalan. Entah dari mana, entah mau kemana, entah untuk apa, entah mengapa, yang penting jalan saja. Dan kelihatannya bagian dari kota ini yang sudah kujelajah juga cukup luas. Oke, kadang memang aku memutuskan berjalan karena kecewa dengan kendaraan umum yang menghabiskan terlalu banyak waktu dalam berhenti untuk menunggu penumpang, tapi lebih sering karena keinginan pribadi. Jika yang terakhir merupakan yang terjadi, kadang ada saja junior atau sahabat yang menawarkan tumpangan, dan kadang agak memaksa sehingga aku sendiri tidak enak untuk menolak, meskipun aku ingin berjalan saja. Dan kadang aku merasa heran dengan orang-orang, yang selalu terburu-buru dalam perjalanan sehingga kebut-kebutan, apalagi mereka yang setelah sampai di tempat tujuan justru sibuk membuang-buang waktunya, entah dengan terjebak di dunia maya, tidur-tiduran tanpa tahu apa yang dapat dilakukan dan lain sebagainya. Membahayakan nyawa untuk lebih banyak waktu yang dapat disia-siakan, hm, apa hanya aku yang berpendapat jika ini aneh?

Katanya rata-rata orang jakarta menghabiskan seperenam hingga seperempat hidupnya di jalan. Lalu kenapa? Yah, aku memang tidak menyukai kemacetan, tapi itu lebih karena situasi yang ramai–sulit akrab dengan situasi yang terlalu ramai atau berisik yang tidak dapat kukendalikan–apalagi jika ada klakson bersahut-sahutan meramaikan polusi suara, dan asap knalpot yang mencemari udara. Terkait waktu yang terbuang, hm, mungkin aku akan protes saat aku yakin mayoritas korban kemacetan memang punya rencana yang produktif untuk memanfaatkan waktu senggangnya. Dan sekarang, sayangnya, belum.

Dan terkait menghemat waktu, jadi teringat pada film “Cars”, dimana sebuah kota bernama Radiator Springs hilang dari peta setelah pembangunan sebuah jalan tol yang katanya dapat menghemat beberapa menit perjalanan, sehingga semua usaha di kota tersebut menganggur. Dan aku penasaran, mungkinkah hal serupa terjadi di negeri ini?

Padahal, apa salahnya menikmati perjalanan?

Memang kita menghabiskan banyak waktu di jalan, dan karena itu, seperti sekolah, apa salahnya jika kita menikmatinya? Memperhatikan rutinitas yang sudah biasa seperti dimana–atau di tempat seperti apa–umumnya dilaksanakan konvoi, terjadi kriminalitas, jalur yang umum dilalui truk sampah, yang mungkin datanya dapat dianalisis dan hasilnya dapat digunakan oleh banyak pihak; Mengamati fenomena yang umum terjadi, seperti apa saja istilah yang digunakan pedagang asongan, cara yang sering digunakan pengemis dalam menarik perhatian orang yang lewat, bagaimana tabiat pengamen jika diberi uang atau tidak, barang apa yang paling banyak dijual di sepanjang jalan yang dilalui, melihat apa hal yang memicu terjadinya konflik, siapatahu kelak ini akan membantu kita dalam menganalisis trend pasar, karakteristik masyarakat golongan menengah kebawah, atau bahkan ciri umum orang yang tinggal di suatu daerah; Mencoba hal baru yang mungkin belum pernah dicoba sebelumnya, entah apakah itu mencoba makanan yang baru muncul di pasaran, mencoba masuk ke sebuah mall atau pusat perbelanjaan dengan pakaian kumal–apalagi jika usiran satpam ditanggapi dengan menunjukkan lembaran-lembaran uang merah yang mengisi dompet, dan ada pengacara pribadi yang siap sedia untuk membuat gugatan atas pencemaran nama baik jika disangka pencuri, somehow it seems cool, dan tentu sekaligus memberi pelajaran untuk tidak menilai buku dari sampulnya, hahaha–dan tentu melihat reaksi pengunjung dan para staf di toko yang dikunjungi; Menjelajah sudut kota yang belum pernah dilihat ataupun masuk ke bangunan yang belum pernah dimasuki, entah itu sebuah kompleks perumahan, museum, restoran mahal–dalam kasus ini tentu hanya masuk, dan segera keluar jika tidak ada yang dapat diandalkan untuk mentraktir, hahaha–atau apapun yang belum pernah dilihat atau dimasuki.

Dan saat ini waktu luangku banyak habis di dua kegiatan yang terakhir, mencoba dan menjelajah. Tidak jauh berbeda seperti saat akan berangkat kuliah ke Bandung dulu, waktuku banyak habis untuk menjelajah kota dengan sepeda. Entah, semacam kurang lengkap dan kurang rela jika meninggalkan sebuah tempat tanpa mengetahui detailnya, dan memperbanyak data yang kelak dapat dirangkai untuk diceritakan, entah ke siapa, tapi siapatahu berguna, hahaha.

Dan aku selalu menikmati perjalananku, apalagi jika ada hal yang tak terprediksi yang muncul, seperti menemukan masjid kecil berarsitektur indah di tengah perumahan padat saat mencari sumber suara adzan, berbincang dengan orang tua yang senang bercerita akan pengalamannya dahulu, memperhatikan ekspresi dan pemilihan diksi oknum-oknum yang bertikai, melewati museum yang sedang menyelenggarakan acara sehingga terbuka untuk umum meski sudah terlewat larut, dan masih banyak lagi. Seperti tadi, saat berjalan ke Braga untuk memeriksa kondisi pencahayaan disana, terkait dengan tugas sebuah mata kuliah yang telah selesai, dan melihat Museum Konferensi Asia-Afrika terbuka. Dan ternyata, isinya bagus. Aku pun bertepuktangan sendiri setelah selesai membaca teks pidato pembukaan Bung Karno dalam konferensi tersebut, isinya bagus. Tentang kemerdekaan yang diperjuangkan oleh bangsa-bangsa yang mungkin dipandang sebelah mata oleh blok kekuatan besar dunia pada masa tersebut. “Jangan sangsi rakyat yang merdeka mempunyai kekuatan dimanapun juga!”

Dan saat ini, merdeka kah kita? Entah. Aku penasaran kekuatan macam apa yang dimaksud. Jika yang dimaksud merupakan kekuatan untuk mengubah nasib, aku yakin semua orang baik yang merdeka atau tidak pun punya, tapi aku tidak yakin semua orang menggunakannya. Hm, mungkin dalam hal ini kita belum merdeka dari kemalasan atau zona nyaman. Jika yang dimaksud adalah kekuatan untuk mengubah kebijakan pemerintah dalam negara ini, hm, aku pesimis. Pengetahuanku minim dalam hal dunia hukum di Indonesia, tapi aku jarang mendengar ada UU yang dibuat berdasarkan aspirasi rakyat. Antara pekerjannya tidak terlalu terblow-up atau memang jumlahnya minim saja, semoga yang pertama. Dan dalam hal ini, daripada memilih partai untuk diutus ke dpr aku lebih cenderung memilih orang yang aku atau keluargaku kenal, mau mendengarkan dan mau menjelaskan, kalau ada. Karena aku sulit percaya partai manapun, setidaknya jika ada hal yang tidak memuaskan aku bisa langsung meminta kejelasan pada kenalan itu. Aku tidak tertarik untuk memilih yang terbaik diantara yang terburuk, yang kepercayaannya sama ataupun yang banyak berjanji, karena menurutku yang penting adalah bagaimana mempertanggungjawabkan pilihan tersebut. Bukan hanya diam, demo atau marah-marah sendiri saat ada keputusan yang tidak memuaskan, yang belum tentu didengar atau diketahui juga, tapi langsung meminta klarifikasi dari yang dipilih atau bahkan memberikan kritik dan saran, setidaknya itu salah satu bentuk tanggungjawab yang terpikirkan olehku. Sayang aku belum berkesempatan menodai kelingkingku pada pemilu lalu, semoga database negara ini sudah benar sebelum pemilihan presiden. Masih penasaran kenapa namaku tidak terdaftar di database negara ini saat mengajukan pindah tempat memilih ._.

Yah, sekarang pun aku sebagai pejalan kaki memang sulit untuk mengatakan bahwa berjalan pun dapat dinikmati. Tumbuhan yang merambat atau terlalu lebat, suasa penerangan yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sehingga trotoar gelap gulita, kondisi trotoar yang rusak dan seolah menjadi halang rintang dalam berjalan, pedagang yang menjadikan trotoar sebagai tempat mereka berjualan atau tempat parkir kendaraan dan menghalangi pengguna jalan yang mau lewat, itu mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang membuat berjalan sulit untuk dinikmati. Jembatan penyeberangan juga, dibuat demi kenyamanan pengguna kendaraan, bukan pejalan kaki. Hei, memang pengguna kendaraan dapat kebut-kebutan sesuka hati jika tidak ada manusia di tengah jalan, tapi jembatan itu juga menyulitkan pejalan kaki, khususnya dari kaum manula atau kaum dengan disabilitas yang ingin menyeberang jalan, kan? Kenapa tidak membuat zebra cross dan lampu merah bagi para penyeberang jalan yang berfungsi dengan baik, atau membangun sebuah terowongan bawah tanah dengan eskalator turun dan naik agar tidak merepotkan kaum tersebut?

Dengan kondisi seperti ini, entah apakah kita sudah merdeka untuk menikmati perjalanan atau belum. Yah, semoga yang terbaik lah untuk kita semua