Random: Pilihan dalam Pendidikan

Dalam kehidupan, banyak pilihan yang harus dibuat, entah itu bagi diri kita, atau bagi hal-hal di sekitar kita. Dari sekedar hal sehari-hari seperti memilih baju apa yang ingin dikenakan ke kampus, memilih menu atau tempat sarapan atau memilih mau menggunakan laptop dengan operating system yang mana, hingga hal yang krusial seperti mau kuliah dimana atau jurusan apa, memilih siapa yang akan dijadikan pendamping hidup, memilih antara bekerja atau lanjut studi setelah lulus kuliah, memilih lokasi tujuan untuk mencari nafkah atau melanjutkan studi itu, serta memilih kapan akan mulai membuka buku untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian kompre sesi 2 besok siang (iya, jadi mau kapan, laks?).

Sebagaimana yang diceritakan adikku dua pekan lalu, yang menyatakan bingung ingin memilih jurusan atau universitas tujuan kuliah kelak. Saat kutanya ketertarikan terhadap pelajaran pun dia bingung. Ah, pelajaran sekolah saat ini memang jarang ada yang menarik. Jelas ada beberapa siswa yang tertarik, tapi dari puluhan juta siswa yang ada, berapa banyak yang tertarik pada setidaknya satu mata pelajaran?

Andai kita sempat diperlihatkan bagaimana bentuk dan cara kerja hovercraft saat sekolah dulu, mungkin jumlah peminat di bidang fisika (khususnya pada topik medan magnet dan material superkonduktor) saat ini jauh lebih banyak, dan mungkin tidak lama lagi kita punya mobil terbang (atau setidaknya, mengambang. Seperti prinsip kereta super cepat yang bergerak dengan gaya magnet sehingga menghilangkan gaya gesek yang memperlambat laju. Yah, setidaknya tinggal memikirkan bagaimana cara menghentikan benda melayang dalam jumlah banyak, kecelakaan karena tidak bisa mengerem jelas akan menurunkan daya tarik ide ini).

Mungkin juga akan lebih banyak murid yang tertarik terhadap sejarah jika tiap kita berkunjung ke museum tidak ada resume yang perlu dibuat, waktu yang digunakan untuk mencari informasi dan menuliskannya jauh lebih banyak daripada waktu yang digunakan untuk melihat-lihat dan bertanya-tanya apa ini, siapa itu, serta kapan, dimana, mengapa dan bagaimana itu terjadi. Sisi menarik museum sebagai dokumentasi dari perkembangan peradaban tidak terlihat, minat untuk menggali informasi secara mandiri tidak muncul, dan aku tidak menyukai museum hingga sma, setidaknya hingga bertemu dengan sahabat yang punya minat tinggi di bidang persenjataan dan strategi militer. Obrolan tentang bagaimana cara menggunakan keris untuk menghabisi musuh. Dulu aku menganggap keris hanya jenis dagger yang kurus dan berlekuk-lekuk, tidak berbeda dengan dagger lainnya (maklum, sebagai gamer yang suka permainan rpg, action, logic dan strategi, senjata yang ada di game hanyalah dagger). Lalu temanku itu bercerita tentang bagaimana jika keris ditusukkan ke perut, kemudian diputar 90 derajat dan dicabut, pengaruhnya fatal. Tekstur keris yang ramping mampu membuatnya menyelip di sela-sela organ dalam lawan, memutarnya dan mencabutnya dapat menyebabkan organ dalam lawan terburai keluar tubuhnya. Oke, bahasan yang sedikit sadis, tapi kupikir kita perlu mengetahui keunggulan, kelemahan dan cara pakai tiap senjata agar jika suatu saat kita berada dalam kondisi diancam suatu senjata kita dapat menentukan tindakan terbaik. Itu juga mengubah pandanganku dan menarik minatku terhadap orang-orang zaman dahulu, keris jauh lebih berbahaya daripada dagger.

Mungkin aku juga tidak akan tertarik masuk ke jurusan fisika jika tidak dijebak menjadi perwakilan olimpiade sains fisika dan menemukan sisi menarik dari fisis dunia ini saat sma dahulu (terkait prestasi, yaah, satu tahap sebelum masuk tingkat nasional memang, tapi sebagai posisi terakhir dari semua yang sampai di tahap itu, hahaha). Karena itu, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan adikku, aku sendiri mengakui pelajaran saat sekolah tidak cukup menarik untuk membuat orang-orang yang belajar tertarik, setidaknya di sekolah yang pernah menjadikanku murid disana.

Tekanan diminta masuk ke perguruan tinggi ternama pun turut menjadi masalah yang sama sekali tidak membantunya, harus masuk sini, harus masuk situ, semua agar masa depannya lebih terjamin. Benar kah? Entah, sejak berada di salah satu perguruan tinggi ternama itu aku lumayan sering mendengar komentar “Dahulu nama kampus ini dibesarkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini, sekarang dimana nama mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini lah yang dibesarkan oleh kampus ini” atau komentar senada lainnya. Lupa tepatnya kapan, kalau tidak salah di momen seperti saat menyindir kurangnya minat mahasiswa universitas ini dalam beberapa jenis perlombaan. Oh, jangan salah, meski ada beberapa lomba yang tidak diminati kampus ini tidak miskin prestasi, bagaimanapun kita (yang setidaknya saat masa orientasi dahulu dijuluki) putra-putri terbaik bangsa berada disini. Tapi, dahulu kampus ini juga bukan merupakan apa-apa. Karena itu apa salahnya masuk ke kampus yang saat ini belum jadi apa-apa? Jika dia nyaman terhadap situasi disana, siapatahu dia jadi pelopor perubahan disana. Meningkatnya level universitas lain adalah hal yang bagus bagi negeri ini bukan?

Lagipula, benarkah dengan kita menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ternama itu berpengaruh terhadap kesuksesan masa depan kita? Aku skeptis.

Memang di universitas ini jumlah orang yang hebat tidak sedikit, tapi di universitas lain di kota yang sama juga kelihatannya jumlahnya tidak kalah banyak. Jika kita dapat menjadi baik dengan bergaul di lingkungan berstandar tinggi, lingkungan seperti itu dapat dibentuk di universitas manapun. Atau cobalah bergabung di organisasi luar kampus yang punya lingkungan serupa. Saat ini pun aku lebih memilih aktif di organisasi luar kampus, dengan sebagian besar anggotanya sudah menyelesaikan pendidikan strata-1. Menganggap lingkungan ini lebih profesional dan tidak kalah bermanfaat dengan organisasi yang ada di dalam kampus, sembari berharap sikap-sikap yang tidak profesional seperti deadliners bisa berubah perlahan disini.

Aku tidak menyangkal kelebihan berupa fasilitas yang relatif bagus serta jaringan yang ada di perguruan tinggi ternama merupakan daya tarik yang sangat menggoda untuk melanjutkan perkembangan disini. Tapi dalam beberapa kasus, kita tidak perlu terdaftar sebagai mahasiswa disana untuk menikmati fasilitas dan koneksinya. Cobalah perbanyak berkenalan dengan mahasiswa di jurusan dengan fasilitas yang kalian ingin gunakan, siapatahu kelak kalian bisa berkenalan dengan kepala progam studinya atau organisasi kemahasiswaan yang punya akses terhadap fasilitas tersebut. Dan siapatahu kalian berkesempatan untuk menggunakan fasilitasnya. Setidaknya itu pengalaman temanku yang tidak terdaftar tapi dapat menggunakan fasilitas di sebuah unit. Mungkin agak ilegal, tapi jika ada kemauan, akan terbuka jalan kan?

Aku juga tidak menyangkal bahwa perusahaan sangat mungkin lebih tertarik menjadikan mahasiswa cendekia dari universitas ternama sebagai tenaga kerjanya. Tapi aku juga mengenal beberapa senior dengan nilai indeks prestasi yang, hm, rata-rata lah. Namun beliau aktif di berbagai tempat dan membangun banyak koneksi sehingga beliau memiliki akses terhadap lumayan banyak informasi, sembari berargumen bahwa dia akan mengandalkan koneksinya untuk mencari lowongan close recruitment, saat perusahaan hanya mencari beberapa orang saja, dan umumnya berdasarkan rekomendasi orang dalam. Pada akhirnya, yaah, setahuku akhirnya dia mendaftar melalui jalur biasa, dan dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan energi multinasional. Yah, mungkin indeks prestasi dan asal perguruan tinggi bukan satu-satunya faktor penentu rezeki. Lagipula, soal rezeki sudah ada yang mengatur kan? Mungkin tinggal masalah seberapa keras kita mau mengambil rezeki yang ditakdirkan untuk kita saja🙂

Jelas tiap orangtua menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Dan tiap anak juga berhak memilih lingkungan terbaik dimana mereka dapat belajar dan berkembang menjadi apapun yang mereka inginkan. Tapi mungkin tidak selamanya juga asal memilih jurusan di perguruan tinggi ternama merupakan pilihan yang bijak. Saat aku baru masuk universitas pun, jumlah sahabatku yang mengeluh merasa dirinya salah jurusan tidak sedikit. Kayaknya lebih cocok di mesin lah, kayaknya lebih cocok di desain lah, kayaknya lebih cocok di kedokteran lah, dan umumnya hal ini berujung pada penerimaan terhadap takdir atau usaha untuk pindah ke tempat atau program studi lain. Meski memang mungkin karir kita tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pelajari saat kuliah, mengingat bahwa kita akan terjebak untuk belajar selama 4 tahun (atau mungkin lebih) lagi, mengapa tidak sekalian belajar tentang apa yang kita sukai?🙂

Masih ada banyak yang menarik untuk dibahas terkait hal ini, meracau tentang kehidupan selalu seru meski tidak pernah jelas apakah racauan ini ada implikasinya atau tidak pada kehidupan, hahaha. Jadi ingat sebuah pertanyaan yang, menurutku, orang yang bisa menjawabnya mungkin tidak akan terlalu repot untuk mempermasalahkan pilihan-pilihan dalam kehidupannya, baik itu pendidikan atau apapun.

What makes you, you?
Apa yang membuat kamu menjadi dirimu?

————————————————————————————————

Mungkin lain waktu akan dibahas lagi, sekarang waktunya fokus ke ujian besok dahulu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s