Random: Pilihan dalam Pendidikan (2)

Kemarin merupakan hari pendidikan nasional, 2 Mei 2014. Mungkin kemarin merupakan hari yang biasa-biasa saja, hari yang spesial karena alasan tertentu atau hari yang tidak terlalu menyenangkan. Dan bagiku, yang terakhirlah yang terjadi, akibat dari ujian komprehensif yang tidak berjalan dengan terlalu lancar. Merayakan hari pendidikan dengan membuat mempertanyakan kegunaan dan metode yang diterapkan institusi formal saat ini, quite a way to celebrate it :v

 

Melanjutkan racauan sebelumnya, pilihan dalam pendidikan, dari sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat seekor ikan menjadi seekor ikan?”. Mari lupakan sejenak melupakan makna harfiah dari pertanyaan tersebut dan ubah sedikit pertanyaannya menjadi, “Apa yang membuatmu menjadi dirimu?”

 

Semua makhluk memiliki keunikannya tersendiri, ciri khas yang tidak dimiliki orang lain.Ikan berbeda dengan gajah. Gajah berbeda dengan harimau. Harimau berbeda dengan manusia. Meski ada beberapa ilmuwan yang memaparkan tetap ada kesamaan, tapi tak bisa disangkal juga bahwa ada perbedaan diantara semua makhluk.

 

Kemudian, mengingat ada premis yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah unik, maka mungkin tiap manusia juga memiliki keunikannya tersendiri. “Tiap manusia berbeda”. Mungkin kalimat serupa sudah terdengar berulang kali di telinga kita hingga kita kategorikan sebagai sebuah kalimat yang klise bagi sebagian orang, kalimat yang terlalu sering digunakan, kadang hingga sampai pada suatu titik dimana perkataan tersebut kehilangan maknanya.

 

Mungkin itu salah satu alasan mengapa nasihat yang paling mengena merupakan nasihat yang hanya diucapkan pada waktu yang tepat, bukan yang diucapkan berulang-ulang. Setidaknya itu menurut pendapatku sih, tapi memang aku lebih mudah mengingat nasihat seperti itu, dan cenderung malas mengingat nasihat yang dikatakan berulang kali. “Nanti juga akan diingatkan lagi”, “Ah, itu lagi, itu lagi”, “Iya, iya, tahu, tahu”, uniknya, aku bisa langsung memikirkan berbagai respon negatif yang sangat mungkin muncul dalam menghadapi nasihat yang diberikan berulang-ulang. Berbeda dengan nasihat yang diberikan pada waktu yang tepat. Tidak ada argumen, tidak ada sanggahan, hanya diam dan menerima. Yah, mungkin nasihat bukan hal yang baik untuk dibuat klise.

 

Kadang aku berpikir bahwa kata “klise” tidak hanya dapat disematkan pada sebuah kutipan atau kalimat. Dalam beberapa kasus, pendidikan yang tidak disertai dengan pemaknaan pun dapat menjadi klise. Ya, bagaimanapun, waktu hidup kita yang kita habiskan di sekolah tidak lah sedikit. 12 tahun untuk pendidikan dasar, ditambah dengan 9 tahun atau mungkin lebih jika ditambah dengan pendidikan lanjutan di level universitas. Wajar jika ada saja keluhan bosan untuk belajar, bosan masuk sekolah, bosan untuk mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Kadang rutinitas memang membosankan.

 

Dan disini lah gunanya pemaknaan. Untuk kembali menyemangati diri saat ini terjadi. Kita belajar karena ingin mengetahui hal-hal baru yang kelak dapat kita manfaatkan untuk kebaikan kita atau orang lain, atau hal-hal yang memang membuat kita penasaran. Dan untuk menemukan apa yang membuat kita penasaran, mungkin kita juga perlu mengenal diri kita, minat kita, bakat kita, sifat kita, beserta segala keunikan kita. Dengan menemukan minat kita, mungkin kita akan lebih mudah menentukan pilihan apa yang ingin kita pelajari secara mendalam, yang pada gilirannya akan berlanjut pada menentukan program studi apa yang sesuai untuk kita masuki kelak. Dalam proses menemukannya, siapa saja dapat berperan, baik diri sendiri, sekolah, orangtua, sahabat atau kelompok sepermainan dan semacamnya. Dan di sisi lain, mungkin kita juga dapat lebih mengenal diri sendiri karenanya. Misalnya, untuk mendeskripsikanku? Banyak kata yang bisa digunakan, seperti penggalan lirik lagu Wishing Well karya Blink 182, “I’m a little bit shy. A bit strange and a little bit manic”, dengan minat yang timbul dari sebuah pengalaman kurang menyenangkan di bidang energi terbarukan. Oke, mungkin bukan pribadi yang keren atau gagah, tapi tidak masalah. Tiap orang berbeda, baik sikap, minat, dan lain sebagainya, jadi, apa kata yang kau anggap tepat untuk mendeskripsikanmu dan apa minatmu?

 

Hal lain yang mungkin perlu diperhatikan adalah kondisi belajar di institusi yang ingin kita masuki. Ya, mungkin ada baiknya kita memeriksa bagaimana kondisi pendidikan di sebuah universitas sebelum memutuskan untuk masuk. Salah seorang juniorku pernah berminat untuk menyusup ke kelas di sebuah universitas karena penasaran akan kondisi perkuliahan saat dia sedang tidak sekolah. Yah, entah legal atau tidak, tapi kelihatannya seru juga jika kita memang ingin lebih tahu tentang kondisi sebuah universitas. Mungkin mengetahui seperti apa sikap kita juga akan membantu dalam menentukan institusi formal tujuan kita. Tidak selalu harus yang ternama, tapi dimana kira-kira yang akan menjadi lokasi terbaik bagi kita untuk belajar dan berkembang. Bagaimanapun, pilihan yang kita buat untuk pendidikan kita adalah pendidikan yang akan kita jalani kelak kan? Mungkin agak merepotkan, tapi semoga saat dijalani ternyata menyenangkan.

 

Yang jelas, jika kita memilih untuk melanjutkan pendidikan, cobalah cari hal yang menarik bagi kita dalam pilihan kita itu. Setidaknya dengan begitu, pilihan tersebut tidak hanya menjadi sekedar pilihan klise yang kehilangan maknanya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s