Random: Bosan

Bosan.

Kata yang sering kugunakan sejak dahulu, dan tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Bosan, dengan rutinitas yang setiap hari menjebak, dengan tugas yang semakin banyak, dengan waktu yang semakin singkat, dan dengan akhir yang semakin dekat. Akhir perkuliahan dan akhir kehidupan, keduanya semakin mendekat, meski memang aku sendiri belum bisa memastikan kapan akhir itu tiba, akhir yang manapun itu.

“Masih mengusahakan untuk Juli, tapi memang lebih mungkin Oktober”. Entah sudah berapa kali kalimat itu kuucapkan, hampir selalu dengan template yang sama, baik dari segi intonasi, artikulasi maupun ekspresi karena bosan mendengar pertanyaan yang sama selalu terulang dari mulut yang berbeda. Kadang karena saking bosannya menjawab dengan jawaban yang sama, aku membuat satu template jawaban lagi yang lebih singkat, “Allah lebih tahu kapan”. Entah juga sudah berapa kali pertanyaan itu ditujukan padaku, baik dari teman sejawat, adik tingkat, sahabat di organisasi, siapapun. Kadang juga ada pertanyaan lanjutan, baik itu pertanyaan yang sama di topik yang berbeda seperti “Kapan nikah?” atau pertanyaan yang berbeda di topik yang sama seperti “Habis lulus mau ngapain?”. Tapi pertanyaan yang mengawali selalu sama, “Kapan lulus?”

Padahal dari segi usia seharusnya aku masih mungkin menjadi mahasiswa baru di tahun ajaran berikutnya, tapi semakin sering mendengar pertanyaan itu, semakin merasa tua. Masaku telah berakhir, dan tiap pertanyaan seolah mengusir secara halus dari dunia mahasiswa. Yah, entah karena bosan melihatku di kampus, masih membutuhkanku atau sekedar penasaran, tapi beruntung juga belum ada yang menanyakan akhir dari satu lagi. Yah, “Kapan mati?” kedengarannya bukan pertanyaan yang sopan, kan?

Kelihatannya akan menarik jika ada yang punya mesin waktu, baik seperti yang ada di laci meja nobita ataupun seperti kotak biru milik doctor who. Hanya untuk melihat, mempertanyakan dan menertawakan apa yang telah terjadi, tidak ada yang perlu diubah. Mungkin keberadaan konsep time travel ini juga yang menyebabkan aku lumayan suka dengan serial Doctor Who, selain sinematografi BBC yang menurutku keren, yah, teman-temanku juga tidak sedikit yang berpendapat begitu, padahal kita tidak anglophile. Dan sekarang dalam proses mendownload beberapa dokumenter dan series dari BBC untuk mengisi masa liburan. Yah, baru rencana memang, kadang merencanakan jauh lebih mengasyikan daripada melaksanakan, mungkin juga rencana membaca buku dan menghabiskan film ini akan kalah oleh daya tarik internet kelak, ah, tapi itu masalah nanti.

Ada beberapa sahabat yang harus berusaha lebih keras karena ikut program fast track, dimana mereka akan lulus S1 dan S2 dalam waktu 5 tahun, tapi kelulusan S1 sepertinya harus terlaksana Juli ini. Untunglah aku tidak berminat pada program itu, kehidupanku sudah terlalu cepat. Lagipula, ilmu tidak hanya dapat didapatkan di ruang kelas kan? Memang ada yang bilang sebaiknya diambil saja, sebagai persiapan untuk S2 di luar negeri, jika lancar memang akan lebih mudah mendapatkan beasiswa. Tapi aku merasa ada banyak sekali hal di luar dunia perkuliahan yang selama ini terlewatkan, hal-hal penting yang terabaikan hanya karena tidak ada dalam kurikulum institusi formal.

Jika aku punya waktu luang, aku ingin belajar metodologi riset. Tapi tidak di dunia perkuliahan. Aku sudah terlalu bosan dengan berbagai penilaian, kehadiran, deadline ataupun tugas-tugas yang berlebihan. Tidak bisakah proses pembelajaran dilakukan tanpa tekanan dan berdasarkan rasa keingintahuan semata?

Hidup memang bukan laut yang tenang, akan ada banyak tekanan yang kedatangannya tidak dapat diperkirakan kapan. Tapi bukankah aneh jika untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tekanan tersebut, kita justru memberikan mereka tekanan yang jauh lebih banyak, entah itu dalam bentuk ujian, penilaian, hukuman bila nilai jelek atau tidak mengerjakan tugas tanpa peduli alasannya, dan berbagai hal serupa? Jadi ingat di manga Space Brothers, saat salah seorang astronot mengalami kecelakaan di bulan dan menyebabkan dia memiliki PD (Panic Disorder) setiap kali mengenakan baju astronot. Awalnya rehabilitasi dilakukan dengan menyuruhnya menghadapi ketakutannya, beraktivitas sebagaimana protokol saat berada di markas di bulan di lingkungan yang telah disimulasikan. Oke, ceritanya agak panjang, tapi intinya di akhir ini salah seorang petinggi menyadari dan mempertanyakan, apa tujuan mereka melakukan ini? Untuk menyelamatkan astronot itu, atau untuk mengujinya? Aku lumayan suka dengan resolusi dari konflik ini, dimana tim dari astronot itu akhirnya turut membantu proses rehabilitasi dengan mengingatkannya pada masa-masa yang mereka lalui dengan menyenangkan selama ekspedisi mereka ke bulan, meski astronot itu akhirnya juga keluar karena masih tetap tidak dipercaya perusahaannya untuk mendapatkan misi berikutnya. Dan jadi mempertanyakan, meski memang konsep ini abstrak dan sulit untuk mengukur indikator ketercapaiannya, tapi jika kita menekankan bahwa ada kesenangan pada setiap tekanan yang datang, apa yang akan terjadi? Akankah masa depan mereka jadi lebih baik?

Ah, lama kelamaan aku juga jadi bosan memikirkan masa depan, memikirkan permintaan orang-orang, memikirkan apapun. Sudah lah, lebih baik tidur saja.

Selamat malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s