Waktunya Bersyukur

Waktunya bersyukur, ternyata dua jumat kemarin yang penuh dengan perjuangan, lelah, kantuk, keringat dan keberanian telah mengeluarkan hasil yang baik. Yeay! Senang mengetahui ternyata tidak semua hal akan terjadi sebagaimana worst-case situation dalam benak. Sekarang tinggal menyelesaikan tiga tugas besar dan ujian take-home sebelum bisa mencurahkan fokus penuh untuk mengurus skripsi, yang belum ada kejelasan juga kapan selesainya, haha. Bismillaah lah yaπŸ˜€

Setidaknya selalu ada hal yang patut disyukuri tiap hari. Hal-hal yang mungkin sering terlupakan, seperti jantung yang masih berdetak, udara yang masih dapat dinikmati dan bebas biaya, tubuh yang masih sehat, waktu yang masih luang, teman-teman yang baik, keluarga yang utuh, wah, banyak.

Jadi ingat sebuah kisah pada jaman Nabi Musa as, saat ada orang miskin dan orang kaya yang bercerita tentang masalahnya secara bergiliran. Yang miskin ingin menjadi kaya karena tidak tahan dengan kemiskinannya, yang kaya ingin menjadi miskin karena hartanya merepotkannya.

Nabi Musa as menganjurkan orang yang miskin untuk lebih banyak bersyukur, dan menganjurkan orang yang kaya untuk mengurangi rasa syukurnya. Mereka berdua pun menjawab itu mustahil. Orang yang miskin merasa dirinya tidak punya apa-apa untuk disyukuri, dan orang kaya merasa keterlaluan jika banyaknya nikmat yang sampai padanya tidak disyukuri. Mereka pun berlalu.

Padahal itu semua sesuai dengan janjiNya dalam surat Ibrahim (14): 7, barangsiapa yang bersyukur akan ditambahkan, dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya azabNya sangat pedih.

Mungkin ada waktu kita perlu berhenti sejenak, mengenang apa yang terjadi, dan mensyukuriNya. Entah bagaimana cara Dia menambah, aku bahkan tidak pernah mengerti bagaimana cara Dia bekerja. Dan mungkin memang tidak ada yang perlu mengerti. Kalau Dia bisa kita prediksi dengan berbagai ilmu dan pengetahuan statistik, probabilitas, logika atau ilmu-ilmu lain, membuatNya kehilangan keagunganNya dengan memanipulasiNya bukan hal yang mustahil kan?

Mungkin memang ada beberapa hal yang belum perlu kita ketahui, mungkin juga tidak perlu diketahui. Bukan berarti tidak perlu dipertanyakan, bukankah dahulu para Sahabat juga bingung kenapa Perjanjian Hudaibiyah disetujui? Kenapa begini, kenapa begitu? Kalau tidak ada yang mempertanyakan dan hanya tunduk buta semata, mungkin umat muslim tidak akan pernah menjadi imperium di masa apapun. Astronomi, kedokteran, matematika, berapa banyak bidang yang sempat dikuasai ilmuwan muslim? Mungkinkah ada ilmuwan jika semua tidak mempertanyakan dan menerima apa adanya, entah itu perintah atasan, gejala alam, konflik sosial, konspirasi, apa pun lah. Bahkan Dia juga menegaskan bahwa dalam penciptaan bumi, bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Tapi, tidak perlu mempertanyakan sampai ke tingkatan dimana kita menuhankan berbagai skenario atau hal yang ada di benak kita juga, seolah kita dapat menjadi Tuhan yang lebih baik apabila ada kesempatan, padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari masalah. Benarkah semua akan lebih baik jika begini atau begitu? Apakah itu memang baik?

Yah, setidaknya bersyukurlah karena masih bisa melakukan banyak hal. Memang ada banyak hal yang belum dimengerti, tapi lebih baik saat ini berdoa saja, semoga Dia memberitahu jawabnya, atau membukakan pintu ilmu saat waktunya telah tiba. Tidak semua pertanyaan harus langsung terjawab bukan? Bagaimana dengan proses pencarian jawaban yang mungkin akan memberikan kita hikmah dan pelajaran yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jika semua jawaban langsung muncul secara spontan?πŸ™‚

Dan bersyukurlah jika masih ada pertanyaan yang membuat kita berpikir, setidaknya masih ada topik yang menarik bagi kita untuk dipikirkan, untuk dipertanyakan, dan untuk dipermasalahkan. Jika kita sudah tidak mempertanyakan apapun, apa bedanya kita dengan robot berbalut daging dan bernyawa dalam hal menjalani kehidupan? Mungkin hanya perasaan yang membedakan, hm, entah lah, mungkin robot juga punya perasaan yang tak pernah terucap karena sibuk menjalankan perintah.

Ah, sudah lah, yang jelas, bersyukur lahπŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s