Random: Kematian dan Logika

Paman dari juniorku meninggal. Ya, junior yang sama, yang baru kehilangan kakaknya dua pekan yang lalu, yang juga baru kehilangan neneknya dua pekan sebelum itu. Beruntun, dengan selang dua pekan. Speechless lah, words fail me ._.

Berbicara dari sisi probabilitas, berapa besar kemungkinan tiga orang yang terikat hubungan darah meninggal dengan sebab yang berlainan hanya dalam selang waktu satu bulan? Coba lah gambar kurva gauss, dengan jumlah kematian anggota keluarga yang sama dan selang waktu sebagai kedua sumbunya, berapa besar |z| yang memungkinkan ini terjadi? Bukan karena sebuah kecelakaan yang sama, atau pun karena tertular penyakit yang sama. Karena alasan yang berbeda. Kakaknya karena kecelakaan lalu lintas, dan aku lupa menanyakan apa yang membuat neneknya koma, dan entah apa penyebab kematian pamannya kemarin. Jika semua orang menanyakan hal yang sama, berapa kali dia harus menjawab pertanyaan itu dan mengingat detail kejadiannya lagi?

Setiap manusia punya rasa keingintahuan, tapi tetap ada hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengelola rasa tersebut. Bertanya pada dosen pun ada etikanya kan? Yah, lagipula kita tidak harus mengumpulkan berita hangat untuk disebarkan ke orang-orang, tidak perlu menampilkan rekaman keluarga korban dari sebuah musibah yang histeris–yang entah apakah pihak terkait berkenan kehisterisannya ditampilkan di media–untuk menggambarkan situasi mencekam atau kesedihan dari sebuah bencana, tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk mencari kebenaran sebuah informasi yang mungkin tidak kita anggap penting, setidaknya dalam mengetahui beberapa informasi–khususnya yang menjadi topik sensitif bagi seseorang–kita tidak perlu mendesak, kan?

Pengingat, bahwa seberapa kecil pun kemungkinan dari hasil perhitungan, tetap saja kemungkinan itu ada. Teringat perkataan Arai dalam Sang Pemimpi–yang entah mengutip siapa–“Tidak semua yang logis dapat dilogikakan, dan tidak semua yang dapat dilogikakan itu logis”. Entah bagaimana, tapi bukankah manusia senang sekali melogikakan segala hal? Setidaknya aku senang melogikakan hal, sebagaimana saat ujian bahasa jerman di sma dulu, dimana satu soal membahas Einstein’s Riddle. Dan meski kemampuan bahasa jermanku pas-pasan–tidak lancar yang diperhalus–keberhasilan menjawab soal itu membuatku mendapat nilai tertinggi kedua di kelas, dan menjadi bagian dari delegasi siswa ke Goethe Institut yang sedang mengadakan peringatan 20 tahun runtuhnya Berlin Wall dinding yang memisahkan Jerman Barat dan Timur. Mengetahui bahwa peringkat pertama yang pernah tinggal di eropa hanya berhasil mengamankan sekitar separuh dari bobot total saat itu juga menghibur. Yaah, di soal lain sih imbang, dan di soal-soal lain kalah, telak. Hahaha, win some, lose some. Tapi sejak itu lumayan tertarik dengan dunia logika, dan studi di eropa, khususnya Jerman. Sistem pertahanan dindingnya yang berlapis-lapis dan diagram alur kejadiannya agak mengerikan, tapi juga keren😀

Kita sendiri sering melogikakan suatu hal bukan? Melogikakan bahwa orang yang muda dan sehat akan lebih panjang sisa usianya dari yang tua dan sakit-sakitan, melogikakan suatu bencana terjadi karena keburukan penduduknya, melogikakan sistem ini akan tetap bobrok kalau suatu golongan tidak menang, melogikakan bahwa sulit untuk masuk ke universitas ternama dengan kemampuan diri yang hanya segini, melogikakan bahwa orang-orang cerdas sejak awal memang berada di level yang berbeda, dan berbagai logika pun terlintas dalam benak, entah apakah logika itu didapatkan dengan menarik kesimpulan dari sejumlah data atau diciptakan untuk membenarkan suatu tindakan yang telah dilakukan. Logika yang mungkin benar, dan mungkin juga salah. Entah apakah hal yang kita logikakan itu merupakan hal yang dapat dilogikakan, setidaknya kita memanfaatkan akal yang Dia berikan.

Entah bagaimana waktu kematian diatur, entah bagaimana skenario akhir hidup disusun, entah bagaimana kematian sebuah makhluk dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada makhluk lainnya, entah lah. Kelihatannya logika yang diberikan pada manusia bukan hal yang mampu menganalisa semuanya.

Mungkin itu sebabnya Dia mengajarkan tata cara memohon petunjuk dengan istikharah, karena kemampuan manusia terlalu terbatas untuk mampu menentukan pilihan mana yang terbaik, dan logika manusia mungkin belum cukup untuk menganalisis implikasi suatu hal dalam jangka besar.

Lagipula, entah bagaimana dua pekan lagi jika siklus itu masih berputar. Mungkin giliran dia, mungkin giliran anggota keluarganya yang lain, mungkin juga giliranku, atau giliranmu.

Yah, siapa yang tahu? Justru karena kita tidak tahu, sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin saja agar jika saatnya tiba tidak ada penyesalan kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s