Kesalahan, Kesoktahuan dan Kecerobohan

Entah berapa banyak kartun atau sinetron dimana masalah bertambah parah akibat sebuah kesalahan. Padahal, jika sebuah kesalahan pasti menghancurkan hubungan, berapa banyak hubungan yang telah hancur saat ini?

Entah berapa banyak film serupa dimana sok tahu digambarkan sebagai tingkah laku yang menyebalkan, dimana akhirnya pasti buruk atau dijauhi oleh lingkungannya.

Entah juga berapa banyak film serupa dimana karakter yang ceroboh digambarkan mati secara tragis, atau mungkin konyol. Tiga hal yang sering kutemui akhir-akhir ini.

“Jadi, zakat yang dikeluarkan kalau penghasilannya sudah sangat besar namanya Zakat Maal.” *sambil menulis ejaannya di papan tulis*
“Eh eh, bukannya L nya ada dua kak?”
“Loh, entar jadinya zakat mall dong?”

“I am generous.” *belajar kata sifat sembari mendoakan diri sendiri dengan mengucapkan kalimat I+am+kata sifat yang baik*
“Loh, kamu berbahaya?”
*hening sejenak*
“Hahahahaha, itu dangerooouuus!”

“Eh, beda AOK dan Allianz apa?” *bertanya tentang teks karena terlambat masuk kelas bahasa jerman*
“Oh, kayaknya kata Allianz itu yang lebih sopan deh, kayak penambahan kata ‘leiden’ atau ‘denn’.”
*masih gak yakin, akhirnya memutuskan bertanya ke pengajar*
“Herr, beda AOK dan Allianz itu apa?”
“Oh, dua ini nama perusahaan asuransi, jadi perusahaan asuransi yang dipake beda.”
“Lebih sopan?” *berbisik dengan nada sarkastis ke teman sebelah*
Apa salahnya sok tahu selama dia tidak menganggap dirinya satu-satunya yang benar dan terus mencari kebenaran dan menggali masalah dari sudut pandang lain?

Apa salahnya berbuat salah jika dia bisa belajar banyak dari kesalahan tersebut?

Apa salahnya ceroboh jika dia bisa banyak belajar dari kecerobohannya?

“Jangan berbuat salah, beban kalian terlalu besar”, “Jangan sok tahu lah, jelas-jelas ini begini”, “Jangan ceroboh! Ini benda kesayangan.” Entah berapa banyak kalimat ini terdengar. Padahal saat ini kita menikmati buah dari kesalahan, kesoktahuan dan kecerobohan.

Jika Galileo dan Copernicus tidak sok tahu dan khawatir saat apa yang dia anggap benar disalahkan dan memutuskan untuk mengikuti kepercayaan umumnya, dimana bumi berbentuk pizza dan matahari mengelilingi bumi, entah nasib perkembangan astronomi saat ini, mungkin tidak ada yang berhasil ke bulan karena salah perhitungan, bahkan mungkin tidak ada yang berani pergi terlalu jauh karena khawatir melewati ujung bumi dan jatuh ke luar angkasa.

Jika Einstein tidak sok tahu dengan pemahaman mekanika kuantumnya yang merevolusi dunia partikel dan kecepatan tinggi, entah secanggih apa elektronik saat ini jika kita tidak tahu seperti, entah juga sejauh mana kita telah menjelajah luar angkasa yang butuh kecepatan sangat tinggi mendekati cahaya.

Jika Titanic tidak karam karena kesalahan awak kapalnya, mungkin saat ini jauh lebih banyak lagi korban dari kapal yang karam karena manusia terlampau sombong dan tidak memerhatikan faktor seperti perlengkapan keselamatan yang mencukupi bagi semua penumpangnya.

Jika arsitek di Jepang tidak terlampau sombong, yang menyebabkan ribuan korban jiwa saat Great Hanshin Earthquake terjadi, entah bagaimana riset terkait struktur bangunan yang kuat dan evacuation drilling bagi anak-anak di Jepang, mungkin penduduk jepang tidak akan sebanyak ini sekarang.
Jika sang raja tidak memilih tukang emas yang salah, tentu dia tidak perlu repot-repot meminta Archimedes menentukan apakah mahkotanya dari emas asli atau tidak, dan mungkin kita tidak akan memahami konsep massa jenis saat ini, yang akan membuat kita kesulitan dalam memahami konsep terapung, tenggelam dan melayang, mungkin saat ini kita juga tidak akan tahu jika kapal selam, kapal laut dan kapal terbang dapat diciptakan.

Jika Newton tidak ceroboh dengan duduk di bawah pohon apel yang sangat mungkin akan jatuh menimpa kepalanya, mungkin tidak ada yang mengenal hukum gravitasi, teknologi akan mengalami set back dan mungkin saat ini kita belum mengenal kata otomatis. Jika ada yang bisa mendapatkan konsep energi mekanik secara menyeluruh tentunya, mengingat energi potensial tidak akan terdeskripsikan tanpa kejelasan tentang gravitasi.

Mungkin kita terlalu banyak mempermasalahkan hal, hal yang sebenarnya kalau dibiarkan pun tidak akan menjadi masalah. Atau terlalu menggeneralisir bahwa tidak ada orang yang secara bersamaan punya kedua sikap itu. Padahal mungkin jumlahnya jauh lebih banyak dari dugaan kita.

Efek dari sebuah kesalahan mungkin parah, atau fatal. Tapi ini kehidupan, bukan ujian nasional dimana benar dan salah dalam satu kesempatan akan menentukan semuanya. Setidaknya selama Dia masih memberikan kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk membenarkan hal-hal yang salah tidak akan tertutup kan?

Tapi setelah dipikir lagi, tulisan ini juga karya orang yang sering berbuat salah, ceroboh dan sok tahu. Mungkin ada sedikit unsur pembenaran dalam motivasi pembuatannya, atau aku terlalu menggeneralisir, hahaha, entah tulisan ini ada manfaatnya atau tidak, semoga adađŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s