Tuhan Tahu, Tapi Menunggu

“God Sees The Truth, But Waits.”
-Leo Tolstoy

Tuhan tahu, tapi menunggu. Salah satu frase yang dikutip Andrea Hirata dalam buku ketiga serial Laskar Pelangi, Edensor. Buku favoritku dari tetralogi tersebut, dan masih termasuk satu dari sekian banyak buku yang berpengaruh dalam kehidupanku. Aku suka dengan epilognya, dimana Ikal digambarkan sampai di tempat yang familiar meski belum pernah mengunjunginya, hanya berdasarkan imajinasi yang dipengaruhi oleh sebuah buku dan angan untuk mengunjungi tempat tersebut. Ketika dia menyadari kejanggalan tersebut, dia memutuskan untuk bertanya kepada penduduk lokal–seorang wanita tua–dimana dia saat itu. Dan sang wanita itu pun menjawab, “It’s Edensor”. Ya, dia berada di desa yang selama ini hanya terbayang dalam benaknya, Edensor.

Kutipan diatas awalnya menceritakan tentang bagaimana Arai yang seolah mendapatkan balasan dari perbuatannya di masa kecil, meliuk-liukkan nada “Aamiin” dalam shalat berjamaah seusai imam membaca Surat Al-Fatihah karena ketidaksukaan pribadi terhadap sang imam. Siapa yang sangka setelah bertahun-tahun itu berlalu, kejadian itu terulang kembali saat Arai dewasa, di belakang imam besar dan kaum muslim dari berbagai belahan dunia.

Tapi mungkin kutipan itu juga berlaku pada Ikal, yang telah lama menjadikan desa kecil itu sebagai inspirasinya. Hingga akhirnya, saat waktunya telah tiba, dia pun dipertemukan dengan tempat tersebut.

Nyatanya, Dia Maha Mengetahui. Baik itu rezeki bagi seluruh makhluk di muka bumi, lembaran daun mana yang jatuh berguguran, segala perbuatan baik yang dilakukan terang-terangan maupun yang tersembunyi, ataupun tiap angan dan isi hati, baik yang diungkapkan maupun dipendam dalam-dalam. Namun, Dia juga Maha Menghitung. Aku memang sama sekali tidak punya pengetahuan tentang bagaimana Dia bekerja, tapi berdasarkan nama julukanNya, mungkin Dia menunggu saat semua variabel telah berada pada kondisi yang tepat.

Jika semua perbuatan dosa mendapatkan balasan seketika, kira-kira berapa banyak penduduk bumi yang masih hidup tanpa rasa hina? Entah, dan kita patut bersyukur karena bukan skenario itu yang berlaku di dunia ini. Dalam Al-Quran Surat Hud (11): 121-122 pun disebutkan bahwa:

Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman, “Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (121) Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya kami pun menunggu (pula)” (122)

Ya, nyatanya, kita semua pun menunggu. Menunggu akan balasan dari perbuatan yang kita kerjakan, baik itu berupa hal yang membuat kita merasa dipermalukan, berupa terwujudnya apa yang kita pernah angankan, berupa bersatunya dua insan dalam ikatan, berupa rezeki yang Dia berikan, berupa terbukanya pikiran kita terhadap hikmah dan pelajaran dari sebuah kejadian, dan masih banyak lagi balasan yang bisa didapatkan. Atau menunggu akan kesiapan hati atau bulatnya tekad sebelum mulai mengambil langkah, hm, atau mungkin itu sama dengan menunggu deadline tiba? Yah, lagipula, pada akhirnya bukankah kita semua sedang menunggu kematian?

Karena itu, berbuatlah yang terbaik. Percayalah, Dia Maha Tahu. Dan mungkin, Dia sedang menunggu, untuk menjadikan segalanya indah pada saatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s