Random: Tentang Agama

“Tanda orang beragama adalah bukti nyata. Kalau agamis adalah asal jenggotan, kambing pun berjenggot. Kalau agamis adalah pandai mengutip dalil, Google pun juga pandai.” Begitulah isi kutipan yang dibagikan sahabatku di sebuah media sosial, di kutipan lengkapnya pun ada tambahan, “Kambing dan Google tidak bisa disebut beragama Islam, karena tidak memiliki akhlak”

Jika dilihat dari latar belakangnya, pernyataan ini dibuat berdasarkan kekecewaan terhadap sebuah golongan tertentu yang membawa-bawa nama agama, karena di kesempatan lain dia juga mengkritisi peraturan dari golongan tersebut yang kesannya dibuat-buat demi kepentingan golongan itu semata.

Tapi kutipan ini menarik. Sebenarnya, apa yang membedakan antara orang yang beragama dan orang yang tidak? Mungkin perlu ada disclaimer sebelum memulai tulisan ini, bahwa tulisan ini bukan dibuat oleh seorang ahli, teolog atau orang yang berpengetahuan tinggi, mungkin layak untuk dijadikan perspektif dari sudut pandang lain, dan bagi yang berkenan mengoreksi atau memberikan sudut pandang lain akan sangat diterima. Tapi mendasarkan sebuah argumen, pendapat, debat atau apapun berdasarkan tulisan ini adalah sebuah kebodohan yang nyata. Hei, secara logika, hanya orang bodoh yang mau menggunakan perkataan orang yang tidak kompeten–bodoh yang diperhalus–dan berlogika berdasarkan apa kata orang dalam bidang yang dibahas, bukan?

Aku teringat seorang dosen yang pernah kuikuti kelasnya di sini. Beliau pernah bercerita bahwa beliau sering sekali bergonta-ganti agama. Agama yang dianut saat sd berbeda dengan saat sma, kemudian sempat kembali saat kuliah namun pindah lagi saat berada di luar negeri. Entah berapa banyak agama yang telah beliau anut. Dan saat beliau mengisi kuliahku, beliau mengatakan bahwa akhirnya dia memutuskan untuk menjadi orang baik saja. Yah, secara tidak langsung mungkin beliau termasuk orang yang disindir Andrea Hirata sebagai kafir dalam semua agama.

Tapi jika ditinjau dari sisi lain, saat seseorang memutuskan untuk pindah kepercayaan, bukankah itu berarti dia ragu atau tidak puas terhadap apa yang dia percaya? Entah apa yang menyebabkan beliau begitu, tapi kupikir itu normal, aku juga sering ragu dan mempertanyakan, terutama di bagian haruskah kita tercipta berbeda-beda untuk saling mengenal, saat perbedaan yang ada justru menimbulkan pertikaian? Yah, setidaknya masih ada banyak alasan yang masih membuatku percaya, seperti fakta saintifik yang dikabarkan hampir 15 abad yang lalu dan masih belum ada yang membuat artikel bantahannya–setidaknya dengan argumen yang kuat dan sampai padaku–hingga saat ini.

Jika kita melihat di zaman dahulu mengapa ada agama, umumnya ini disebabkan saat itu kejahatan, keburukan, atau kebodohan sedang merajalela. Entah karena perbudakan, entah karena timbangan yang tercurangi, yah, begitu lah pokoknya. Karena itu diutus lah seseorang untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Tapi umumnya semua agak kacau setelah utusan tersebut pergi, apa yang disampaikan terdistorsi. Ada yang menyembunyikan sebagian isi kitabnya, ada juga yang menambah-nambahkan kitabnya dengab yang tidak diperlukan, akibatnya banyak agama kehilangan kebenaran yang awalnya menjadi dasar mereka. Dalam kasus kepercayaan yang kuanut, bukan kitab yang diutak-atik, melainkan perkataan sang utusan. Kakekku pernah bercerita bahwa setelah Rasulullah wafat, jumlah pedagang yang mengada-adakan perkataan beliau agar dagangannya laku tidak sedikit. Mendistorsi kebenaran demi keuntungan pribadi. Yah, secara logika, besar juga kemungkinan banyak versi yang dibuat-buat untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu, tidak hanya dalam perdagangan tentunya.

Dan sekarang pun kejadian yang sama seolah terulang kembali. Saat sosok-sosok berkedok agama menyembunyikan sebagian kebenaran dan menambah-nambah berita buruk demi kepentingan sebuah golongan, saat sosok-sosok berkedok agama abai terhadap lingkungan sekitarnya–miris jika benar agama ada untuk memperbaiki kehidupan manusia–dan berusaha untuk menjadi baik sendirian, saat sosok-sosok berkedok agama justru sibuk mengatasnamakan kepercayaan mereka untuk membenarkan tindakan mereka yang jelas salah, yah, kalau yang dilihat adalah sosok manusia, memang tak ada yang sempurna. Wajar jika ada yang akhirnya memutuskan untuk ragu atau tidak percaya, kan?

Tapi jika mereka sengaja berkedok agama untuk kepentingan mereka sendiri, dengan mendistorsi kebenaran untuk kepentingan pribadi, ironis. Kita justru menjadikan penghancur agama sebagai petingginya, entah akan seperti apa masa depan jika hal ini dipertahankan.

Kita memang tidak punya kemampuan untuk mengetahui isi hati seseorang dan menentukan apakah dia berniat mendistorsi kebenaran atau tidak, namun, setidaknya kita dapat menjaga pikiran agar tetap terbuka dan menganalisis tiap fakta yang terbukti nyata. Kita bahkan juga dapat menyebarkan informasi terkait mana yang nyata dan benar adanya serta mana yang hanyalah dusta belaka, kan?

Entah benar atau tidak, tapi jika agama adalah sesuatu yang diturunkan untuk memperbaiki kehidupan manusia, bukankah hal yang wajar jika orang beragama adalah orang yang berusaha untuk memperbaiki kehidupan manusia serta berusaha menunjukkan mana jalan yang benar? Bukan mereka yang mengatasnamakan agama untuk merugikan suatu pihak, menyembunyikan atau menahan kebenaran dari lingkungannya, ataupun menciptakan dusta dan konspirasi demi keuntungan golongan sendiri.

Dan aku sendiri lumayan percaya bahwa orang agamis bisa berada dimana saja, baik dalam golongan yang dianggap–atau memang–“sok suci” maupun golongan yang dianggap–atau memang–terzhalimi, baik dalam jajaran eksekutif perusahaan besar multinasional maupun pedagang kaki lima, pengemis, tukang sapu dan orang-orang di pinggir jalan yang tak jarang dipandang sebelah mata, baik di lokasi yang sangat jauh maupun yang sangat dekat, baik di golongan yang mungkin kita sukai maupun yang mungkin kita benci, bisa siapa saja dan dimana saja. Sayangnya, begitu juga dengan orang-orang pendistorsi kebenaran.

Dan karena itu lah, bukankah ada baiknya kita mulai membuka pikiran, mendengarkan cerita dari berbagai sudut pandang, mencari fakta, menganalisis data dan melupakan fanatisme serta kesukaan ataupun kebencian berlebih terhadap suatu golongan? Yah, kita juga mungkin tidak berada di jalan yang benar sekarang, tapi jika kita terus mencari, bukan hal yang mustahil jika kita akan sampai disana suatu saat, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s