Merdeka dalam Berjalan

Salah satu kegiatan yang suka kulakukan adalah berjalan. Entah dari mana, entah mau kemana, entah untuk apa, entah mengapa, yang penting jalan saja. Dan kelihatannya bagian dari kota ini yang sudah kujelajah juga cukup luas. Oke, kadang memang aku memutuskan berjalan karena kecewa dengan kendaraan umum yang menghabiskan terlalu banyak waktu dalam berhenti untuk menunggu penumpang, tapi lebih sering karena keinginan pribadi. Jika yang terakhir merupakan yang terjadi, kadang ada saja junior atau sahabat yang menawarkan tumpangan, dan kadang agak memaksa sehingga aku sendiri tidak enak untuk menolak, meskipun aku ingin berjalan saja. Dan kadang aku merasa heran dengan orang-orang, yang selalu terburu-buru dalam perjalanan sehingga kebut-kebutan, apalagi mereka yang setelah sampai di tempat tujuan justru sibuk membuang-buang waktunya, entah dengan terjebak di dunia maya, tidur-tiduran tanpa tahu apa yang dapat dilakukan dan lain sebagainya. Membahayakan nyawa untuk lebih banyak waktu yang dapat disia-siakan, hm, apa hanya aku yang berpendapat jika ini aneh?

Katanya rata-rata orang jakarta menghabiskan seperenam hingga seperempat hidupnya di jalan. Lalu kenapa? Yah, aku memang tidak menyukai kemacetan, tapi itu lebih karena situasi yang ramai–sulit akrab dengan situasi yang terlalu ramai atau berisik yang tidak dapat kukendalikan–apalagi jika ada klakson bersahut-sahutan meramaikan polusi suara, dan asap knalpot yang mencemari udara. Terkait waktu yang terbuang, hm, mungkin aku akan protes saat aku yakin mayoritas korban kemacetan memang punya rencana yang produktif untuk memanfaatkan waktu senggangnya. Dan sekarang, sayangnya, belum.

Dan terkait menghemat waktu, jadi teringat pada film “Cars”, dimana sebuah kota bernama Radiator Springs hilang dari peta setelah pembangunan sebuah jalan tol yang katanya dapat menghemat beberapa menit perjalanan, sehingga semua usaha di kota tersebut menganggur. Dan aku penasaran, mungkinkah hal serupa terjadi di negeri ini?

Padahal, apa salahnya menikmati perjalanan?

Memang kita menghabiskan banyak waktu di jalan, dan karena itu, seperti sekolah, apa salahnya jika kita menikmatinya? Memperhatikan rutinitas yang sudah biasa seperti dimana–atau di tempat seperti apa–umumnya dilaksanakan konvoi, terjadi kriminalitas, jalur yang umum dilalui truk sampah, yang mungkin datanya dapat dianalisis dan hasilnya dapat digunakan oleh banyak pihak; Mengamati fenomena yang umum terjadi, seperti apa saja istilah yang digunakan pedagang asongan, cara yang sering digunakan pengemis dalam menarik perhatian orang yang lewat, bagaimana tabiat pengamen jika diberi uang atau tidak, barang apa yang paling banyak dijual di sepanjang jalan yang dilalui, melihat apa hal yang memicu terjadinya konflik, siapatahu kelak ini akan membantu kita dalam menganalisis trend pasar, karakteristik masyarakat golongan menengah kebawah, atau bahkan ciri umum orang yang tinggal di suatu daerah; Mencoba hal baru yang mungkin belum pernah dicoba sebelumnya, entah apakah itu mencoba makanan yang baru muncul di pasaran, mencoba masuk ke sebuah mall atau pusat perbelanjaan dengan pakaian kumal–apalagi jika usiran satpam ditanggapi dengan menunjukkan lembaran-lembaran uang merah yang mengisi dompet, dan ada pengacara pribadi yang siap sedia untuk membuat gugatan atas pencemaran nama baik jika disangka pencuri, somehow it seems cool, dan tentu sekaligus memberi pelajaran untuk tidak menilai buku dari sampulnya, hahaha–dan tentu melihat reaksi pengunjung dan para staf di toko yang dikunjungi; Menjelajah sudut kota yang belum pernah dilihat ataupun masuk ke bangunan yang belum pernah dimasuki, entah itu sebuah kompleks perumahan, museum, restoran mahal–dalam kasus ini tentu hanya masuk, dan segera keluar jika tidak ada yang dapat diandalkan untuk mentraktir, hahaha–atau apapun yang belum pernah dilihat atau dimasuki.

Dan saat ini waktu luangku banyak habis di dua kegiatan yang terakhir, mencoba dan menjelajah. Tidak jauh berbeda seperti saat akan berangkat kuliah ke Bandung dulu, waktuku banyak habis untuk menjelajah kota dengan sepeda. Entah, semacam kurang lengkap dan kurang rela jika meninggalkan sebuah tempat tanpa mengetahui detailnya, dan memperbanyak data yang kelak dapat dirangkai untuk diceritakan, entah ke siapa, tapi siapatahu berguna, hahaha.

Dan aku selalu menikmati perjalananku, apalagi jika ada hal yang tak terprediksi yang muncul, seperti menemukan masjid kecil berarsitektur indah di tengah perumahan padat saat mencari sumber suara adzan, berbincang dengan orang tua yang senang bercerita akan pengalamannya dahulu, memperhatikan ekspresi dan pemilihan diksi oknum-oknum yang bertikai, melewati museum yang sedang menyelenggarakan acara sehingga terbuka untuk umum meski sudah terlewat larut, dan masih banyak lagi. Seperti tadi, saat berjalan ke Braga untuk memeriksa kondisi pencahayaan disana, terkait dengan tugas sebuah mata kuliah yang telah selesai, dan melihat Museum Konferensi Asia-Afrika terbuka. Dan ternyata, isinya bagus. Aku pun bertepuktangan sendiri setelah selesai membaca teks pidato pembukaan Bung Karno dalam konferensi tersebut, isinya bagus. Tentang kemerdekaan yang diperjuangkan oleh bangsa-bangsa yang mungkin dipandang sebelah mata oleh blok kekuatan besar dunia pada masa tersebut. “Jangan sangsi rakyat yang merdeka mempunyai kekuatan dimanapun juga!”

Dan saat ini, merdeka kah kita? Entah. Aku penasaran kekuatan macam apa yang dimaksud. Jika yang dimaksud merupakan kekuatan untuk mengubah nasib, aku yakin semua orang baik yang merdeka atau tidak pun punya, tapi aku tidak yakin semua orang menggunakannya. Hm, mungkin dalam hal ini kita belum merdeka dari kemalasan atau zona nyaman. Jika yang dimaksud adalah kekuatan untuk mengubah kebijakan pemerintah dalam negara ini, hm, aku pesimis. Pengetahuanku minim dalam hal dunia hukum di Indonesia, tapi aku jarang mendengar ada UU yang dibuat berdasarkan aspirasi rakyat. Antara pekerjannya tidak terlalu terblow-up atau memang jumlahnya minim saja, semoga yang pertama. Dan dalam hal ini, daripada memilih partai untuk diutus ke dpr aku lebih cenderung memilih orang yang aku atau keluargaku kenal, mau mendengarkan dan mau menjelaskan, kalau ada. Karena aku sulit percaya partai manapun, setidaknya jika ada hal yang tidak memuaskan aku bisa langsung meminta kejelasan pada kenalan itu. Aku tidak tertarik untuk memilih yang terbaik diantara yang terburuk, yang kepercayaannya sama ataupun yang banyak berjanji, karena menurutku yang penting adalah bagaimana mempertanggungjawabkan pilihan tersebut. Bukan hanya diam, demo atau marah-marah sendiri saat ada keputusan yang tidak memuaskan, yang belum tentu didengar atau diketahui juga, tapi langsung meminta klarifikasi dari yang dipilih atau bahkan memberikan kritik dan saran, setidaknya itu salah satu bentuk tanggungjawab yang terpikirkan olehku. Sayang aku belum berkesempatan menodai kelingkingku pada pemilu lalu, semoga database negara ini sudah benar sebelum pemilihan presiden. Masih penasaran kenapa namaku tidak terdaftar di database negara ini saat mengajukan pindah tempat memilih ._.

Yah, sekarang pun aku sebagai pejalan kaki memang sulit untuk mengatakan bahwa berjalan pun dapat dinikmati. Tumbuhan yang merambat atau terlalu lebat, suasa penerangan yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sehingga trotoar gelap gulita, kondisi trotoar yang rusak dan seolah menjadi halang rintang dalam berjalan, pedagang yang menjadikan trotoar sebagai tempat mereka berjualan atau tempat parkir kendaraan dan menghalangi pengguna jalan yang mau lewat, itu mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang membuat berjalan sulit untuk dinikmati. Jembatan penyeberangan juga, dibuat demi kenyamanan pengguna kendaraan, bukan pejalan kaki. Hei, memang pengguna kendaraan dapat kebut-kebutan sesuka hati jika tidak ada manusia di tengah jalan, tapi jembatan itu juga menyulitkan pejalan kaki, khususnya dari kaum manula atau kaum dengan disabilitas yang ingin menyeberang jalan, kan? Kenapa tidak membuat zebra cross dan lampu merah bagi para penyeberang jalan yang berfungsi dengan baik, atau membangun sebuah terowongan bawah tanah dengan eskalator turun dan naik agar tidak merepotkan kaum tersebut?

Dengan kondisi seperti ini, entah apakah kita sudah merdeka untuk menikmati perjalanan atau belum. Yah, semoga yang terbaik lah untuk kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s