Label

“Turns out I don’t need a medal to tell me I’m a good guy. Because if that little kid likes me… How bad can I be…?”
-Wreck it Ralph

Teringat pada film dan pernyataan ini saat menonton sebuah video yang menggunakan salah satu soundtracknya. Dan, ada benarnya. Jika penilaian terhadap seseorang dilakukan berdasarkan medali, trofi, penghargaan dan berbagai macam label yang dapat diberikan seorang manusia ke manusia lain dalam rangka menilai diri seseorang, sudah sekacau apa dunia ini?

Bukan mustahil jika seseorang mendapat label “Pahlawan” dan “Penjahat perang” secara bersamaan, tergantung penilaian itu berasal dari sudut pandang mana. Dan tokoh nasional seperti Diponegoro, Pattimura dan Soedirman pun mendapat kedua label tersebut, label “Pahlawan” dari masyarakat Indonesia dan label “Penjahat perang” dari pemerintahan kolonial Belanda jaman dahulu.

Dan kadang teori pemberian label ini pun dapat menyebabkan seseorang malas untuk melakukan sesuatu karena khawatir mendapat julukan yang tidak dia sukai. Sudjiwo Tedjo pun pernah membuat pernyataan demikian:

“Lama-lama orang males romantis, karena entar dibilang GALAU.
Males peduli karena takut disebut KEPO.
Males mendetail karena takut dibilang REMPONG.
Males mengubah-ubah point of view dalam debat, karena takut dibilang LABIL.
Lama-lama generasi mendatang males mengeluarkan pendapat, karena takut dikira CURHAT.”

Meski aku setuju bahwa kita perlu memperhatikan kesan yang kita berikan pada orang lain–setidaknya untuk meminimalisir kesalahpahaman, bahkan hal yang lebih parah seperti penyiksaan, seperti yang mungkin terjadi pada orang dengan kesan dirinya pencopet di lingkungan yang suka main hakim sendiri–tapi bukan berarti itu perlu dijadikan satu-satunya dasar pertimbangan kita, apakah keinginan pribadi patut untuk diabaikan? Menyenangkan semua orang merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan, lihat saja contoh pahlawan negara ini, mereka pun tetap dijadikan musuh oleh beberapa golongan. Tapi, apa peduli mereka? Mereka tetap memperjuangkan apa yang mereka inginkan, kan?

Jika kita bergantung pada teori Sudjiwo Tedjo, blog ini merupakan bukti bahwa aku adalah orang yang suka curhat. Umumnya meempertanyakan kehidupan–baik pribadi maupun orang lain–karena aku sendiri masih belum paham kenapa kita atau masyarakat harus begini ataupun begitu. Bukan bahasan yang sesuai untuk anak teknik tanpa latar belakang di bidang psikologi ataupun filsafat dan hanya sedikit pengalaman teknis di bidang sosial memang. Tapi, bukankah jaman dulu–baik di jaman penjajahan maupun jaman orde baru–orang-orang memperjuangkan kebebasan untuk berpendapat? Jika kebebasan itu tidak kita gunakan untuk curhat sebebas-bebasnya, bukankah kita menyia-nyiakan perjuangan mereka?

Aku juga labil. Jika ada yang berhasil meyakinkanku bahwa aku salah, umumnya aku akan menyendiri dan memikirkan segalanya kembali. Dalam hal apapun, entah apakah itu di bidang persamaan matematis yang jawabannya pasti ataupun dalam kehidupan sosial yang entah akan jadi seperti apa jika ada pendapatku yang berubah. Tapi, apa salahnya mengakui bahwa kita pernah salah? Lebih baik mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya daripada bernasib seperti firaun yang baru mengakui kesalahannya saat akan tenggelam ketika mengejar Nabi Musa dan sudah tidak punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Rempong? Juga. Terinspirasi Sherlock Holmes untuk memperhatikan dan mengerjakan segala detail. Sebuah detail yang terlewatkan dapat membuat fakta tersamarkan ataupun mangsa lepas dari perangkap. Bukan, bukan Sherlock yang menganggap dirinya “High-functioning Sociopath”, tapi Sherlock Holmes yang dikisahkan Conan Doyle. Dia bisa menunjukkan sisi keren dari orang yang peduli dengan detail, dan bagaimana detail-detail tersebut dapat direkonstruksi menjadi sebuah fakta. Rempong memang, tapi worth it.

Dalam beberapa hal yang memang kuanggap penting, aku juga kepo. Seperti saat ini, sedang kepo tentang kedua pasang capres, tentang piala dunia, tentang topik TA, serta sedang senang berkunjung ke akun ask.fm beberapa orang, melempar pertanyaan dan pergi. Menyenangkan mengganggu orang saat orang itu tidak bisa membalas dengan gangguan yang sama, karena itu aku pun menonaktifkan akun ask.fmku, hahaha. Sekarang kepikiran untuk mencari beberapa akun yang cenderung mendukung salah satu capres, melempar pertanyaan asal lalu melihat responnya. Berapa banyak yang memilih hanya karena fanatik terhadap golongan dan berapa banyak yang memilih karena memang punya alasan. Siapapun yang dipilih, semoga golongan kedua jauh lebih banyak. Tapi, sebelum itu perlu membereskan TA dulu, mengganggu orang tidak akan nyaman saat masih punya beban dan tanggungan kan?

Galau? Hm, mungkin nanti, saat sudah ada yang bisa dan pantas diajak untuk romantis. Yah, sebenarnya saat ini juga sudah ada yang minta perhatian terus sih, namun hubungan kita kurang baik. Aku masih belum bisa memahaminya secara keseluruhan. Dan aku cenderung abai terhadap dia, entah karena kegiatan sosial dengan kawan, film di harddisk yang menarik ataupun game hp yang membuat ketagihan. Oh well, kelihatannya perlu benar-benar minta maaf dan making up for the loss time kepada Laporan TAku. Meski aku tahu dia tidak akan marah ataupun ngambek, tapi kalau ini berlanjut, urusanku di kampus ini pun masih jauh dari selesai.

Dan aku masih bertanya-tanya mengapa semua hal yang membosankan bisa terlihat jauh lebih menarik daripada hal-hal yang harusnya dikerjakan -_-

Yah, mungkin memang ada saat kita perlu mengabaikan anggapan orang lain terhadap kita, apapun bentuknya. Memperjuangkan apa yang kita inginkan, mencari kebenaran, dan tidak lupa untuk mempertanggungjawabkan tindakan kita. Toh akan tetap ada orang yang memberikan label positif bagi diri kita, dan juga orang yang memberikan label negatif. Jadi, untuk apa dipedulikan seecara berlebih?

Lagipula, jika kita melakukan hal yang kita inginkan dan tetap berperilaku seperti biasa, toh orang yang sepaham akan bermunculan sendiri. Dan mungkin disanalah kita akan mendapat sebuah kepercayaan, sebagaimana Ralph dan Vanellope. Kadang kepercayaan dari sebuah pihak merupakan hal yang paling berharga yang bisa diterima bukan?

Jadi, kenapa takut dilabeli buruk? Just do things your own way, and trust yourself to finish the final project😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s