Random: Capres

Dan akhirnya masuk ke tahap terakhir dari 5 stages of grief: acceptance. Penerimaan. Telah menerima fakta bahwa kelihatannya baru bisa diwisuda oktober ini. Meski begitu, masih tetap mengusahakan semuanya beres sebelum ramadhan. Yah, mungkin Allah punya rencana lain, sekarang jalani hidup dulu, nikmati proses dan cari peluang yang ada saja lah. Toh lulus 3.5 tahun bukan jaminan kesuksesan, sebagaimana lulus 6 tahun bukan jaminan kegagalan.

Yak, seperti biasa, kembali ke rutinitas: meracau.

Salah satu topik yang sedang ramai dibahas dalam masa-masa ini adalah calon pemimpin bangsa ini. Setidaknya topik ini masih lebih ramai dibahas di kampusku daripada topik piala dunia. Kabar baiknya, banyak yang peduli terhadap nasib bangsa selama beberapa tahun ke depan. Kabar buruknya, keburukan dan berbagai fitnah terkait pasangan calon pemimpin bangsa tersebar di berbagai situs internet. Entah dengan televisi, radio ataupun surat kabar, tapi karena internet adalah hal yang kuandalkan dalam mencari informasi tentang dunia luar, itu kabar buruk kan?

Erasmus mengatakan bahwa “Di negeri orang buta, orang bermata satu menjadi raja”. Ada sumber yang menyebutkan bahwa kalimat ini terinspirasi dari sebuah kalimat di kitab lama, “In the street of the blind, the one eyed man is called the Guiding Light”. Di saat orang lain tidak bisa melihat, orang yang bisa melihat meskipun tidak sempurna pun akan menjadi pemimpin, yang mengarahkan orang-orang buta tersebut.

Tapi, bagaimana jika orang-orang buta itu diarahkan demi kepentingan pribadi sang mata satu atau golongan tertentu? Sebagaimana novel “The Appeal” karya John Grisham, dimana sebuah perusahaan rokok besar yang terkena vonis denda yang besar mengajukan banding dan memanfaatkan momen pemilihan hakim agung dengan mendorong sosok orang muda yang masih bersih dari track record yang kelam namun bisa diperalat oleh industri tersebut untuk membatalkan vonisnya.

Dan begitulah yang terjadi saat ini, kedua calon pemimpin memiliki pencitraan baik dan pencitraan buruknya tersendiri, satu calon memiliki track record yang terlalu mulus untuk dianggap nyata dan terkesan disetir sedemikian rupa agar dianggap begitu, calon lainnya memiliki track record yang kontroversial lagi belum jelas kebenarannya dan mungkin membahayakan jika terpilih. Kadang analisis dibuat berdasarkan tebakan liar atau pernyataan dari lovers dan haters, padahal entah bagaimana kebenarannya. Banyaknya berita negatif kelihatannya sangat tidak membantu dalam menurunkan kadar golput, justru mungkin ini yang membutakan orang-orang di negeri ini. Bagi pendukung salah satu calon atau golongan tertentu, membenarkan kabar kebaikan calon yang dia atau golongannya dukung dan memandang nista kabar keburukan calon tersebut bukan hal yang sulit, hm, mungkin itu yang selalu kita lakukan. Memang, sulit untuk netral mengingat tiap manusia punya latar belakang yang berbeda, tapi setidaknya kita tetap bisa membenarkan kebaikan yang dilakukan keempat calon pemimpin dan wakilnya dan menentang keburukan yang keempatnya lakukan, kan?

Mungkin ajang debat adu gagasan merupakan ajang yang paling ditunggu-tunggu dalam pilpres ini, khususnya bagi orang-orang yang belum menentukan pilihan. Jika pencitraan figur sudah rusak di mata golongan tersebut, mari berharap programnya tidak demikian. Mungkin akan ada kecenderungan terhadap suatu calon, atau mungkin juga akan golput, entah karena percaya kedua calon sama baiknya atau karena kecewa dan berpikir kedua calon sama-sama tidak akan mampu mengubah nasib rakyat.

Mungkin memang orang bermata satu menjadi raja di negeri orang buta. Namun saat orang-orang bermata satu berdebat memperebutkan kursi singgasana, dan menyerahkan pilihan kepada orang-orang buta, mereka hanya bisa meraba-raba informasi yang ada. Mungkin sebagian kecil dari mereka berharap memiliki sebuah pedoman, atau sebuah mata. Untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang dusta. Dan melihat apakah ada pilihan yang mengarahkan kepada cahaya, atau pilihan yang menjerumuskan ke dalam kegelapan yang jauh lebih pekat. Tapi tetap saja itu hanya angan belaka, karena itu mereka terus meraba-raba, sembari berharap menemukan fakta, dan memilih pilihan yang dianggap paling bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s