Introverts (Again)

Introverts (Again)

Overall some of it quite describe me ._.

Terutama nomor 3 dan 4, alasan utama kecenderungan menghindari perdebatan :/
Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dikonfirmasi, dicaritahu lebih lanjut dan lain sebagainya, kadang agak heran bahkan dengan tingkahlaku insan yang memutuskan untuk langsung memutuskan, menghakimi dan lain sebagainya saat bukti-bukti yang ada masih berupa circumstantial evidence.

Dan nomor 7, yah, kelihatannya bisa menjadi pembenaran utama dari tidak selesainya Tugas Akhir yang kukerjakan. Dan ujian yang tidak pernah terselesaikan saat tidak ada yang memberi peringatan berapa banyak waktu yang tersisa di ruangan tanpa jam ._.

Iklan

Kapan Puasa?

Pertanyaan yang sering terdengar sekarang: “Kapan mulai puasa? Hari ini atau besok?” Cukup menunggu selang sekitar (hampir) sebulan sebelum pertanyaannya berganti menjadi “Kapan lebaran? Hari ini atau besok?”

Orang-orang yang menggunakan perhitungan sebagai landasan akan puasa hari ini, dan orang-orang yang menggunakan penglihatan di beberapa daerah strategis akan mulai puasa besok karena tadi malam bulan baru dikabarkan belum terlihat. Skenario yang akan terulang lagi bulan depan, kelihatannya ini hampir selalu menjadi skenario default tiap tahun, entah mengapa.

Dan jika pertanyaan itu diajukan padaku, jawabanku tergantung. Tergantung pada kesepakatan dari masjid di dekat rumah–kebetulan memutuskan untuk mengikuti pemerintah–yang in syaa Allah akan memulai puasa lusa. Mungkin jika masjid di dekat rumahku memutuskan untuk menggunakan perhitungan aku pun akan ikut puasa besok.

Kedua metode berbeda, tiap metode memiliki landasannya tersendiri, dan dari yang kubaca kelihatannya sama-sama kuat. Yah, hidup selalu begitu bukan? Dimana benarnya satu pilihan bukan berarti pilihan lain yang berbeda itu salah. Aku bukan ahli agama dan hal yang membuatku berpendapat begitu hanyalah sebuah pikiran yang terlintas sesaat:

“Apa asyiknya merayakan hari raya sendirian?”

Aku tahu bahwa orang yang mengambil pilihan berbeda dari lingkungannya tidak khawatir, berkendara ke lingkungan yang sependapat dengan mereka untuk merayakan hari raya bukan hal yang sulit, apalagi dengan teknologi transportasi saat ini. Mungkin ini hanya karena sudah terbiasa merasakan suasana hari raya yang sama sejak kecil, selalu ada teriakan riuh anak-anak dari jalan di sekitar rumah, sapaan ramah dari beberapa tetangga yang meski tidak terlalu akrab tapi tetap menularkan kebahagiaan, kunjungan dari tetangga–meski kadang anak-anak hanya berkunjung sembari berharap pemilik rumah bermurah hati dan bersedia berbagi rezeki–dan kerabat. Setidaknya bagi diriku yang telah terbiasa, itulah hari raya. Mengingat kedua metode memiliki landasan yang kuat, apakah itu salah?

Semua orang punya pilihan, dan kupikir itu tidak masalah selama landasan yang digunakan tidak salah. Mungkin pilihan yang diambil berbeda, tapi disitulah peran toleransi, bukan?

Selamat berpuasa, semoga ramadhan ini dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik 🙂

Pointless… And… Reading Comments On News Article Is Not Relaxing.

Pointless… And… Reading Comments On News Article Is Not Relaxing.

Exactly what I thought. Salah satu update terbaru di http://xkcd.com, dan, kelihatannya aku harus mulai mencari kegiatan yang meski pointless tapi tetap bisa membuat rileks, membaca kolom komentar dari sebuah artikel atau berita jelas pointless dan tidak membuat rileks, hanya membuat makin sedih karena saling serang yang tidak ada manfaatnya, dan entah apakah ada pengaruh bagi para calon atau tidak.

Entah bagaimana gambar ini lumayan menggambarkan kondisi saat ini, khususnya tiap membaca berita tentang pemilihan umum yang kolom komentarnya selalu menyimpan perdebatan antar pendukung kedua kubu. Jika komentar saling serang itu menggunakan fakta atau data yang dapat dipertanggungjawabkan sih aku tidak mempermasalahkan, toh negative campaign atau track record buruk itu juga penting untuk diketahui para pemilih. Hei, jika anak perempuan seseorang dilamar oleh orang yang diragukan agamanya dan memiliki masa lalu kelam–katakanlah perampok, pembunuh atau pemerkosa–adakah orangtua yang langsung mau menerima lamarannya begitu saja tanpa memeriksa latar belakangnya atau memastikannya bahwa dia sudah benar-benar berubah? Fakta lain bahwa satu kubu diperangi layaknya memerangi golongan orang yang tidak punya toleransi dan kubu lainnya diperangi layaknya memerangi golongan kafir juga kelihatannya memperkeruh suasana, kenapa seolah yang diperjuangkan adalah keyakinan diri pribadi ya? Entah juga sumber data untuk perang komentar itu dari mana, dari situs yang belum pasti kebenarannya, dari petinggi partai atau tokoh politik yang memperjuangkan kepentingannya, dari orang yang suka mengadu domba, dari kejadian saat debat calon yang dipelintir, atau memang dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Agak pesimis karena kelihatannya banyak data yang perlu divalidasi lagi, kadang menemukan orang-orang yang mengutip wikipedia dan menyatakan data itu valid. Oh, well… -_-

Bagaimanapun, ada dua jenis cibiran yang menurutku aneh untuk diungkapkan, yaitu pernyataan bodoh dan pernyataan kafir terhadap orang yang dicalonkan. Pernyataan bodoh merupakan salah satu pernyataan yang sering digunakan oleh pendukung dari sebuah kubu untuk menyerang calon dari kubu yang lain. Hanya karena ada kritikan terhadap konsep pemikiran dari sebuah tokoh–kedua kubu memang saling mengritisi konsep kubu lain, dan kadang beberapa ahli pun turut terlibat, dan pendapat dari sini lah yang umum digunakan untuk menjatuhkan kredibilitas calon lain–bukan berarti mereka tidak cerdas atau tidak paham terhadap masalah, hei, sejak kapan orang cerdas tidak boleh salah? Rasul yang mulia pun pernah ditegur karena bermuka masam pada orang yang mencari petunjuk, namun karena itu beliau pun menyadari kesalahannya dan memperbaiki konsep pemikirannya. Salah itu kodrat manusia, kan? Pengritisan dari para ahli pun bisa memperdalam pemahaman para calon terhadap konsepnya, kenapa hal itu dianggap bodoh? Lagipula, apa yang berkomentar bisa membahas topik bahasannya lebih baik dari calon yang dianggap bodoh? Kritis adalah sikap yang baik, tapi tidak dengan fanatik yang karena mendukung satu calon lantas tindakan calon lain dianggap tidak cerdas dan tidak pantas. Selain itu dari konsep kafir-mengkafirkan, mengingat bahwa satu calon sebagian keluarganya memiliki keyakinan yang berbeda dan calon lainnya banyak dipertanyakan isu keyakinannya. Sekedar mengingatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Jika seseorang mengatakan kepada saudaranya (sesama muslim) “hai kafir” maka salah satu diantara keduanya akan kufur” (HR.Bukhari). Kira-kira sejak pilpres dimulai hingga sekarang berapa banyak orang yang telah menjadi kufur? Hanya satu? Dua? Atau lebih? Yaaah, Allah lebih tahu lah, yang jelas aku tidak menganggap kata-kata ini layak untuk digunakan dalam menyerang seseorang. Resiko jika pernyataan itu salah berat, dan kalau pun pernyataan itu benar apa untungnya bagi kita? Hidup bukan permainan minesweeper dimana kita perlu mendeteksi kotak mana saja yang berisi ranjau atau orang mana saja yang kafir untuk bisa menang, jadi untuk apa menjuluki orang lain dengan julukan macam itu?

Tapi mungkin apapun program dari siapapun calon yang terpilih, kondisi negeri ini tidak akan berubah jauh dengan kondisi sebelum-sebelumnya, bahkan mungkin sama saja. Siapapun yang terpilih, jika rakyat tidak memberikan dukungan dan partisipasi dalam program yang diandalkan, apakah program akan berjalan? Untuk apa ada lampu merah jika kendaraan-kendaraan menyerobot seenaknya? Untuk apa ada ditaruh tempat sampah jika rakyat tidak membuang sampah disana? Dan karena itu untuk apa juga ada program yang ditujukan untuk kebaikan masyarakat jika masyarakat sendiri tidak memberikan dukungan dan partisipasi dalam program tersebut?

Agak menyayangkan sikap kedua kubu calon presiden yang saling menyindir satu sama lain sih, jika mengaku cinta negeri ini, jika mengaku berjiwa ksatria, jika mengaku santun, kenapa malah saling menyindir calon lain yang katanya sama-sama memperjuangkan rakyat? Tidak usah fanatik, berharaplah yang terbaik. Siapapun orangnya dan apapun programnya, berikanlah dukungan dan berpartisipasilah jika memang program itu baik, kritisilah jika memang program itu buruk, dan berdoalah agar masyarakat di negeri ini akan menjadi lebih baik siapapun yang terpilih kelak.

Ain’t No Reason

Tahu lagu ini dari Serial TV “House”, dan menjadi salah satu lagu favorit hingga saat ini. Entah apakah ini salah satu perwujudan rasa frustasi terhadap kehidupan saat ini, satir tentang ironi dalam kehidupan sehari-hari, usaha untuk meyakinkan diri atau hanya sekedar hasil kreasi, tapi aku suka liriknya 🙂

Sumber Lirik : http://www.azlyrics.com/lyrics/brettdennen/aintnoreason.html

Ain’t No Reason
By: Brett Dennen

There ain’t no reason things are this way.
It’s how they always been and they intend to stay.
I can’t explain why we live this way.
We do it every day.

Preachers on the podium speaking of saints.
Prophets on the sidewalk begging for change.
Old ladies laughing from the fire escape,
Cursing my name.

I gotta a basket full of lemons and they all taste the same,
A window and a pigeon with a broken wing,
You can spend your whole life working for something,
Just to have it taken away.

People walk around pushing back their debts,
Wearing paychecks like necklaces and bracelets,
Talking about nothing, not thinking about death,
Every little heartbeat, every little breath.

People walk a tightrope on a razors edge.
Carrying their hurt and hatred and weapons.
It could be a bomb, or a bullet, or a pen,
Or a thought, or a word, or a sentence.

There ain’t no reason things are this way.
Its how they’ve always been and they intend to stay.
I don’t know why I say the things I say,
But I say them anyway.

But love will come set me free.
Love will come set me free, I do believe.
Love will come set me free, I know it will.
Love will come set me free, yes.

Prison walls still standing tall.
Some things never change at all.
Keep on building prisons, gonna fill them all.
Keep on building bombs, gonna drop them all.

Working your fingers bare to the bone.
Breaking’ your back, make you sell your soul.
Like a lung, it’s filled with coal,
Suffocating slow.

The wind blows wild and I may move.
But politicians lie and I am not fooled.
You don’t need no reason or a three piece suit,
To argue the truth.

The air on my skin and the world under my toes
Slavery stitched into the fabric of my clothes
Chaos and commotion wherever I go,
Love I try to follow.

Love will come set me free
Love will come set me free, I do believe
Love will come set me free, I know it will
Love will come set me free, yes

There ain’t no reason things are this way.
Its how they’ve always been and they intend to stay.
I can’t explain why we live this way.
We do it every day.