Memahami

Salah satu hal yang paling menyenangkan adalah saat seseorang memiliki kemampuan untuk mencoba memahami. Jika mengutip perkataan salah seorang kawan, kita semua terekspos pada kenyataan yang berbeda, dimana hal-hal yang diketahui seseorang belum tentu semuanya diketahui oleh orang lainnya juga. Itu lah yang menyebabkan ada perbedaan pendapat, pandangan, pilihan, dan lain sebagainya. Dan dalam kehidupan, jika satu teori terbukti benar, tidak langsung membuktikan teori yang berkata lain itu salah. Lihat saja cahaya, yang terbukti merupakan gelombang, tapi juga terbukti merupakan partikel, meski kedua teori itu secara sepintas terkesan berlawanan dan saling meniadakan, coba saja bandingkan gelombang suara dan partikel debu, jauh berbeda bukan? Bagaimana cahaya bisa merupakan keduanya? Yah, memang Dia lebih tahu.

Maka itu, terhenti pada sebuah teori atau menyangkal teori yang berkata lain walau buktinya belum cukup kuat hanya karena satu teori terbukti benar mungkin dapat dinyatakan sebagai sebuah kesalahan dalam berlogika. Agak disayangkan hal ini sedang marak terjadi, khususnya di dunia maya saat ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini ada dua topik yang sedang marak dibahas, yaitu piala dunia dan pemilihan presiden. Dan kelihatannya, topik belakangan telah menyulut ratusan atau bahkan ribuan perdebatan di dunia maya, entah siapa dalangnya, cyber army lah, pasukan nasi bungkus lah, ah pokoknya itu lah. Namun, agak disayangkan hal diatas terlupakan. Kampanye hitam marak, satu buah berita buruk membuat subjek berita terlihat sangat buruk seolah tak punya kebaikan, dan satu buah berita baik membuat subjek berita terlihat sangat baik seolah sempurna tanpa cela. Mungkin munculnya pendukung fanatik yang selalu meramaikan perdebatan itu disebabkan oleh ketidakmampuan memilah fakta dan opini atau fitnah sehingga saat telah memutuskan satu pilihan akan menganggap semua berita yang mengatakan subjek itu baik adalah fakta dan semua berita yang mengatakan subjek itu buruk merupakan opini atau fitnah. Yah, mungkin juga disebabkan karena tidak ingin mengakui kesalahan dirinya atau memang hanya keras kepala. Padahal, jika kita mengingat teori diatas, saat sebuah teori dinyatakan benar, belum tentu teori lain yang bertentangan itu salah, dan belum tentu teori lain yang agak mirip itu benar.

Entah apakah memang bersikap objektif itu sulit, atau kita saja yang tidak mau mencaritahu mana yang fakta dan mana yang opini, membenarkan apapun yang kita pikirkan tanpa berusaha mencaritahu kebenaran dan kevalidannya. Atau mungkin kita memang hanya tidak tahu bagaimana cara mencaritahunya.

Karena itulah kemampuan untuk melihat dari dan mencoba memahami sudut pandang yang berbeda merupakan kemampuan yang menarik. Karena sebuah sudut pandang terbentuk dari berbagai macam fakta dan opini yang membekas dalam diri seseorang, dan melalui sebuah sudut pandang kita dapat mengetahui atau setidaknya menebak beberapa fakta atau opini yang membekas dalam diri seseorang, yang kemudian dapat dibandingkan dan dievaluasi dengan fakta dan opini yang membekas pada diri kita, yang dapat menambah wawasan terkait fakta yang terjadi dan opini yang mempengaruhi, mana yang benar dan mana yang salah serta mengapa itu benar dan mengapa itu salah.

Namun kadang hal itu terlupakan. Saat manusia tidak lagi mencari kebenaran, hanya ingin pembenaran atas tingkah lakunya atau pilihannya. Suporter klub sepak bola yang tidak segan untuk baku hantam saat tim kesayangannya kalah dan pendukung calon presiden yang terus-terusan membela pilihannya mungkin sebagiannya merupakan orang-orang yang menginginkan pembenaran bahwa pilihannya lah yang paling kuat dan pantas untuk jadi juara, sedangkan sebagian sisanya mungkin hanya terbawa suasana. Entah bagaimana nasib orang-orang yang mencaritahu atau menyuarakan kebenaran. Salah satu teori yang agak mengerikan terkait nasib para pencari kebenaran ini dipaparkan oleh Plato–seorang filsuf pada zaman Yunani kuno–dengan perumpamaan sekelompok manusia yang dikurung dan dikekang di sebuah gua. Bagi yang belum tahu tapi penasaran silahkan googling, karena memang malam ini aku tidak berminat membahas itu, hahaha. Yang jelas, di akhir ceritanya, orang yang mengetahui kebenaran pada akhirnya dikucilkan atau dibunuh oleh orang-orang yang tidak tahu karena adanya perbedaan wawasan yang jauh, mungkin ditambah dengan kegagalan mengkomunikasikan kebenaran.

Perumpamaan gua plato ini agak ironis jika mengingat belasan abad setelahnya Galileo dihukum mati oleh gereja karena melakukan klaim bahwa teori geosentris (dimana semua benda langit berputar mengitari bumi) itu salah dan teori heliosentris (dimana benda langit termasuk bumi mengitari matahari) lah yang benar. Oke, mungkin penjelasan teorinya tidak sesederhana itu. Entah, teori zaman dahulu banyak yang masuk akal tapi tidak terbukti saat ini, seperti bumi berbentuk seperti pizza dan punya sebuah ujung berupa jurang dimana yang terjatuh dari sana akan terjerumus di kegelapan tanpa dasar; makhluk hidup tercipta dari benda mati seperti ayam muncul dari telur; dunia hanya tersusun dari lapisan api sebagai lapisan teratas, udara, air dan tanah sebagai lapisan terbawah, dan saat ada benda yang tidak berada dalam lapisannya mereka akan pindah secara alami sebagaimana asap api unggun naik ke atas udara, batu yang tenggelam jika dilemparkan ke air dan air hujan dari udara turun ke laut; dan masih banyak lagi. Padahal seperti yang kita ketahui saat ini, bumi mengelilingi matahari. Galileo mengungkapkan kebenaran, dan beliau terbunuh karena itu. Dalam garis sejarah almamaterku pun tercatat bahwa kegiatan kemahasiswaan di kampusku dulu sempat dikekang oleh militer pada tahun 1978 karena buku putih yang berisi keburukan pemerintah saat itu dikeluarkan. Entah kenapa di zaman dahulu kebenaran yang menyangkut hajat hidup orang banyak seolah sulit sekali untuk diungkapkan tanpa konsekuensi.

Entah bagaimana dengan hajat hidup orang yang lebih sedikit, seperti kebenaran dari kalimat “Aku cinta kamu” yang diutarakan dua insan. Dan sama saja, meskipun kebenaran dan (mungkin?) layak diperjuangkan, ada konsekuensinya. Lihatlah cerita macam Romeo dan Juliet, Laila dan Majnun–ah, sial, judul cerita cinta yang pernah kudengar tidak banyak–yaaah, pokoknya judul-judul serupa itu lah. Mungkin cerita-cerita itu tidak akan populer pada masanya jika kebenaran cinta yang hanya menyangkut hajat hidup setidaknya dua insan (yah, setelah dipikir lagi, mungkin dua keluarga lebih tepat) tidak memiliki konsekuensi dalam memperjuangkannya. Entah apakah sejak jaman dahulu semangat untuk melanggar aturan yang berlaku seperti kasta memang sangat tinggi sehingga cerita-cerita yang populer merupakan cerita perjuangan melepaskan diri dari penguasa atau sistem yang jahat dengan konsekuensi yang berat jika gagal, bentuk keinginan dari orang-orang yang ingin mengubah sistem atau propaganda bahwa memperjuangkan kebenaran memiliki konsekuensi yang sangat berat agar tidak banyak yang melakukannya, atau apa alasan lain yang mungkin menyebabkannya? Hahaha, sulit untuk mengetahui kebenaran selama hanya sebagian kecil dari fakta yang terungkap.

Entah bagaimana dalam pemilihan presiden kali ini aku lumayan senang, tergabung di dua buah grup yang saling mengkritisi (entah memang kritis atau hanya sekedar berusaha menjatuhkan) dua pasangan calon presiden yang berbeda. Hanya membaca artikel dalam sunyi, membandingkan karakter orang-orang yang tergabung dan berkomentar serta melihat dan memikirkan tentang fakta-faktanya. Satu grup berisi mahasiswa berlatar sains, seni dan teknik yang mengritisi feasibilitas program salah satu calon berdasarkan birokrasi yang ada, sementara grup satu lagi merupakan grup lintas universitas yang didominasi mahasiswa berlatar sosial dan politik meski ada juga mahasiswa sains dan teknik yang tergabung dan mengritisi sikap dan teknik politik dari calon lainnya. Setidaknya jauh lebih baik begini daripada hanya dijejali bahwa ini pasti baik dan ini pasti buruk dari satu kubu yang dapat mengarahkan pada fanatisme, atau bahkan menganggap remeh orang lain yang tidak sepandangan, padahal sepenangkapku alasan kedua grup itu memilih satu calon dibandingkan yang lain itu sangat berbeda.

Entah bagaimana hasil pemilihan presiden kali ini, mari berharap yang terbaik saja untuk negeri ini🙂

Dan dari topik satu lagi, semoga Jerman mampu merengkuh gelar juara dunia. Agak berharap kesuksesan sebuah negeri di bidang olahraga akan meningkatkan turis yang berkunjung, yang akan memudahkan orang dari negeri lain untuk masuk kesana dan pada gilirannya akan mempermudah mahasiswa yang masih belum lancar dalam berbahasa jerman sepertiku untuk melanjutkan studi disana. Mungkin saja syarat sertifikasi bahasa jermannya bisa diturunkan dari level B1 menjadi A2, hahaha *ngarep tingkat tinggi*

Yah, berdoa untuk yang terbaik saja lah ya, dalam semua hal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s