Kenangan di Sudut Kamar

Setelah sekian lama tidak bisa mengerjakan tugas akhir secara kondusif, akhirnya memutuskan untuk membereskan kamar. Berharap perubahan situasi dapat membuat semangat dan kinerja menjadi lebih optimal.

Uniknya, saat beberes ini lah baru aku sadar selama ini aku tinggal di dalam kantung ajaib doraemon. Terlalu banyak benda yang tertumpuk, dimana saat tumpukannya dibongkar perlahan akan menimbulkan ilusi seolah volume kamarku tidak cukup untuk memuat semua benda itu.

Dan, ternyata banyak juga benda yang jika dilihat akan membuat otak berpikir terselip disana-sini. Dari memikirkan kenangan saat menerima atau membuat benda itu, mempertanyakan keputusan untuk menyimpannya, atau bahkan sekedar memastikan apakah benda itu memang milik diri sendiri atau bukan.

Dan sekarang telah banyak benda yang terkumpul. Kenangan di sudut kamar yang telah berbaur sedemikian rupa dengan lingkungannya sehingga mudah sekali untuk luput dari perhatian. Dari google lab yang ternyata tidak digunakan sama sekali sejak dibeli empat tahun lalu, tugas pendahuluan modul pertama di laboratorium fisika dasar tingkat satu, buku tugas saat orientasi di program studi, absensi rapat pertama saat diangkat jadi pemimpin, dan berbagai dokumentasi dari apa yang telah kulakukan disini, dari saat memulai petualangan di kampus baru hingga saat berjuang menyelesaikan tugas untuk menyandang gelar baru. Dokumentasi di awal dan di tengah cerita panjang ini sudah banyak tersimpan.

Dan masih ada hal yang kurang, atau tepatnya belum ada. Dokumentasi di ujung cerita ini, dan kelihatannya perlu segera dibuat. Agak enggan memang, mengingat jika bercengkrama dengan para alumni yang umum mereka ceritakan adalah kerinduan pada saat-saat menjadi mahasiswa. Tapi jika tidak ada cerita yang berakhir, bagaimana cerita baru dapat dimulai?

Sudah agak terbayang alur cerita barunya kelak akan seperti apa. Cerita tentang perwujudan janji saat wisuda dari sma, saat ada sahabat yang bercerita panjang lebar tentang citanya untuk indonesia dan mempengaruhiku untuk turut mendeklarasikan asa. Memang saat itu hal yang diharapkan bukan hal yang mudah diukur, mungkin juga hal yang sangat abstrak, hanya harapan dan janji untuk berkontribusi dalam membuat dunia per-energi-an di indonesia menjadi lebih baik, terinspirasi dari pemadaman listrik yang terjadi berulang kali. Sisi positif: tidak mengalami fasa galau dalam memilih jurusan. Sisi negatif: semakin tinggi harapannya, semakin besar usaha yang diperlukan. Memperjuangkannya hingga kondisi ideal dimana energi-baik-dalam-bentuk-listrik-atau-apapun-melimpah-dan-manusia-yang-ada-bijak-dalam-menggunakannya terwujud jelas merupakan hal yang sangat merepotkan, yah, mimpi-mimpi lainnya juga begitu sih. Oke, entah apakah sahabat yang lain masih ingat atau tidak. Beruntunglah hanya perkataanku yang perlu kupertanggungjawabkan.

Waktunya belajar bahasa, mencari beasiswa dan universitas yang punya keunggulan di bidang teknologi terbarukan, lalu berjuang untuk mendapatkan ilmu yang bisa bermanfaat kelak. Memang masih ada beberapa hal yang abstrak dan belum diketahui, tapi selama tujuannya untuk kebaikan, teruskan saja lah ya.

Kadang melongok kenangan di sudut kamar ada baiknya juga, mengingatkan sudah sejauh apa kaki melangkah, menunjukkan kemana harus mengarah, dan mengembalikan semangat untuk memperjuangkan masa depan yang cerah. Bismillah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s