Mempertahankan

Mempertahankan niat dan semangat kelihatannya bukan hal yang mudah ._.

Hampir sepekan berada di rumah dan, hal akademik yang seharusnya dikerjakan menunjukkan hampir tidak ada kemajuan. Terkait ibadah harian juga menurun jika dibandingkan dengan sebelum lebaran. Dan sekarang lebih memilih untuk menikmati bermacam wahana permainan yang ada di rumah. Unik juga bagaimana perubahan suasana, entah dari kota tempat berada, kondisi cuaca ataupun siapa yang berada di sekitarnya, dapat membuat sikap seseorang berubah, entah sedikit ataupun total. Psikologi sosial.

Jadi teringat cerita seorang sahabat penghafal quran, terkait seorang hafizh–penghafal–Quran yang telah hafal ke30 juz di dalamnya kehilangan hafalannya karena melihat betis perempuan yang tersingkap. Mungkin memang keburukan dapat mengurangi kebaikan, tapi yang digarisbawahi sahabatku adalah bahwa meski memulai bukan merupakan hal yang mudah, mempertahankannya jauh lebih susah, entah apakah itu hafalan, niat baik, ataupun hal-hal lainnya.

Ah, sudahlah, lebih baik menikmati saja dahulu pembelajaran yang ada disini. Toh pekan depan mau datang lamaran. Hahaha, agak lucu melihat satu kalimat dapat disalahartikan hanya karena minimnya informasi yang disampaikan. Yap, minggu depan kakak sepupuku yang perempuan lamaran, dan aku dibawa untuk menyaksikan prosedurnya, sekaligus memenuhi konvensi dalam keluarga besar, dan mungkin juga untuk pembelajaran, haha.

Dan bagi yang sudah berpengalaman, selamat ulang tahun pernikahan kepada kedua orangtuaku. Semoga keluarganya makin berkah, dan lebih kuat dan mampu mempertahankan ikatannya. 😀 Sedikit klarifikasi, aku tidak mengucapkannya terlambat sehari, tapi lebih awal 364 hari 🙂

Dan ingin menitipkan sebuah doa kepada mereka yang sedang memiliki sesuatu untuk dipertahankan, entah itu hal pribadi seperti ideologi dan niat berbuat baik ataupun hal krusial seperti hidup manusia, semoga diberi kekuatan yang mencukupi untuk mempertahankan hal yang benar, dan diberi pemahaman untuk berhenti mempertahankan hal yang salah. Setidaknya tetaplah bersyukur, memiliki hal untuk dipertahankan juga memberi arti bagi kehidupan kok 😀

Waktunya mengembalikan niat untuk melanjutkan tugas, semoga cepat kembali

Iklan

Idul Fitri

Tak terasa ramadhan kembali berlalu, bulan kembali berganti. Mungkin tidak sedikit manusia yang merasa kurang memaksimalkan kesempatan kali ini, yah, manusia selalu menginginkan lebih–terlepas dari apakah dia punya kapabilitas untuk berbuat lebih ataupun tidak–bukan?

Sekedar mengingatkan bahwa berandai-andai apa yang terjadi jika melakukan hal yang berbeda di waktu yang telah lampau bukanlah hal yang bijak. Kita bisa mengambil pelajaran darinya, jelas, tapi apa gunanya pelajaran yang diambil jika kita terperangkap di tempat, tidak bisa bergerak maju karena sibuk memikirkan masa lalu?

Saat usaha telah maksimal, selalu ada saat untuk berdoa. Setidaknya, pahala merupakan sebuah privilege khusus milikNya, kan? Mari berdoa agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia di sisiNya 🙂

Taqabbalallahu minna wa minkum, ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.
Semoga Allah menerima amalan kita, dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung 🙂

Selamat idul fitri semuanya, entah apakah kita termasuk golongan yang menang ataupun tidak–aku masih kesulitan menentukan standar menang itu–tapi semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu memperbaiki diri, juga golongan orang-orang yang selalu memberi manfaat bagi orang lain. Bisa dimulai dari bertukar rantang masakan ataupun sekedar bersilaturahmi dengan tetangga, anggaplah amplop berisi uang dari tetangga yang dermawan sebagai hadiah tambahan untuk menjaga silaturahmi. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? 🙂

Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan? 🙂

Rezeki

Percayakah kamu bahwa tiap makhluk memiliki jatah tersendiri atas rezekinya?

Pada liburan akhir tahun lalu kebetulan aku sedang berada di sebuah kota saat ada seseorang yang membutuhkan pendonor bergolongandarah sama sepertiku, dan karena saat itu aku memang sedang luang, akhirnya aku yang menjadi pendonor. Tawaran apa yang lebih menggiurkan bagi mahasiswa di perantauan selain makanan gratis dalam jumlah yang cukup banyak? Yah, setidaknya biskuit regal yang disajikan secara prasmanan bagi pendonor di kantor pmi itu bisa mengisi perut untuk sekali makan, bahkan mungkin bisa mencukupi kebutuhan dua hingga tiga hari jika pendonor terkait tidak malu membawa plastik untuk mebawanya pulang. Hahaha. Dan pada liburan ini saat aku sedang tidak berada di kota itu, skenario yang sama terulang dua kali, mungkin karena liburan pergantian tahun ajaran memang lebih lama. Dan saat kuhubungi, mereka menjawab telah mendapat pendonor masing-masing. Dan sekarang jadi terpikir, siapa nama yang tertulis sebagai pendonor mungkin merupakan ajang bagi para manusia untuk berlomba dalam kebaikan, tapi kepastian sang pasien mendapatkan transfusi mungkin merupakan bagian dari rezekinya.

Pengemis dan pengamen di persimpangan jalan atau warung makan pun begitu. Banyak yang mempropagandakan untuk tidak memberikan uang kepada mereka karena dikhawatirkan akan memberikan mental atau pola pikir yang salah untuk hanya meminta-minta tanpa perlu bekerja kepada mereka, tapi tetap saja ada yang memberikan. Beberapa orang lebih memilih menyumbang ke badan amal yang dianggap kredibel dalam mengurus sedekah karena tidak tahu mana yang membutuhkan dan mana yang sekedar malas untuk bekerja, dulu ada juga kawanku yang memilih menyumbangkan uang dalam bentuk makanan seperti roti untuk meminimalisir kemungkinan uang yang didapat digunakan untuk hal yang kurang baik bagi mereka seperti rokok dan lem untuk dihirup baunya, sayang gerakan itu saat ini sudah tidak terdengar lagi.

Mungkin itu juga yang menyebabkan masih banyak hewan yang bisa hidup. Memang jumlah spesies yang terancam kepunahan jauh lebih banyak daripada jumlah jari pada manusia, tapi tetap saja banyak yang menemukan makanan untuk bertahan, entah berupa pemberian alam, rasa kasihan orang, atau rasa tanggungjawab petugas kebun binatang. Kadang aku mempertanyakan terkait kematian seekor binatang, apakah itu karena binatang terkait merupakan rezeki bagi binatang lain yang kelaparan atau pengingat bagi beberapa oknum yang sibuk mengoleksi jasad atau bagian tubuh binatang demi keuntungan atau kepuasan pribadi jika makhluk terakhir dari sebuah spesies telah mati. Mungkin juga keduanya.

Belum lama ini ada seorang juniorku yang menanyakan tentang keadilan akan rezeki dariNya. Dia bertanya mengapa apakah adil jika perempuan memiliki waktu dimana dia tidak dapat berpuasa tapi wajib menggantinya di bulan yang pahalanya belum tentu sama dengan Ramadhan, dan dia mempertanyakan bagaimana kabar pahala dari amalannya. Jelas pertanyaan ini ditujukan kepada orang yang salah, mengingat yang ditanya bukanlah ahli dalam hal fiqih wanita ataupun pengatur besar-kecilnya pahala dari sebuah amal.

Dan aku pun teringat bahwa di bulan ini ada malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, Lailatul Qadar. Fakta bahwa panjang malam di tiap daerah berbeda-beda, ada yang sampai belasan jam, dan mungkin ada juga daerah yang tidak pernah merasakan malam. Ada situs yang menyebutkan bahwa di Argentina puasa hanya berlangsung selama 9 jam, berbanding dengan 21 jam di Islandia. Berhakkah untuk merasa iri pada mereka di daerah Argentina? Bisa karena waktu puasa yang lebih pendek, bisa juga karena kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar yang lebih besar, atau apapun itu, dingin tidak akan berpengaruh banyak jika disikapi dengan baik atau sudah beradaptasi, kan?

Jika dilihat dari sudut pandang lain, tetap ada potensi kebaikan yang dapat diraih perempuan ataupun orang yang berpuasa lebih lama. Yang perempuan dapat memberi bahan untuk berbukanya orang-orang yang berpuasa, yang berpuasa lebih lama pun memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal seperti bekerja atau berbelanja tanpa mengurangi waktu malamnya, dan mungkin mereka bisa memfokuskan waktu malamnya untuk beribadah semata. Sulit untuk melihat apakah ini rezeki atau bukan dan apakah ini adil atau tidak jika hanya berfokus pada satu argumen atau sudut pandang saja, lagipula, bukankah Dia Maha Pemberi Rezeki lagi Maha Adil?

Yah, walau ada beberapa makhluk yang mungkin mempertanyakan sifat-sifatNya itu, tetap saja Dia menyempurnakan rezekiNya bagi semua makhluk. Mungkin mempertanyakan merupakan salah satu langkah menuju kepercayaan. Terlepas dari itu, tiap makhluk mungkin juga menyikapi rezeki yang diterima dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri meski dalam pandangan orang lain apa yang dia dapat sangat sedikit, ada juga yang memaki dan meminta tambah meski rezekinya sudah sangat banyak menurut orang yang lain lagi.

Mungkin sekarang yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita menyikapi rezeki yang kita terima, akankah kita menggunakan rezeki kita untuk hal yang baik? Dan, masih ingatkah akan hak-hak orang lain dalam harta kita? Yah, itu salah satu fungsi zakat fitrah di akhir bulan ini, kan? 🙂

Selamat berjuang mendapatkan lailatul qadar di malam-malam terakhir Ramadhan, jangan lupa memberikan hak orang lain dalam harta kita kepada mereka yang berhak menerimanya.

Dan waktunya kembali fokus menyelesaikan perkuliahan laks, secepatnya. Tambahan biaya untuk menunda tidak sedikit, berusahalah agar itu menjadi rezeki pribadi 🙂

Di Bawah LangitMu

Baru sadar tampilan wordpress di laptop beda, hahaha.

Sedang suka dengan lagu ini, lumayan menentramkan hati, sangat berguna apalagi setelah melihat masih saja ada yang meributkan pemilihan presiden beberapa hari yang lalu. Sayang belum berhasil menemukan video klipnya yang official, hahaha.

Di Bawah LangitMu
Bersujud Semua
Memuji Memuja AsmaMu

Dan Bertasbih Semua
MakhlukMu Tunduk
Mengharap Cinta Dan KasihMu

Kadang aku ragu, benarkah kita semua mengharap cinta dan kasihNya? Kelihatannya selalu ada sengketa. Perkataan bahwa “Kubu ini lebih baik”, “Kubu ini lebih bersih”, “Kami lebih tegas”, “Kami lebih merakyat”, dan lain sebagainya diungkapkan berulang kali hingga entah mana yang benar. Kondisi yang berakhir dengan kedua kubu melakukan klaim tersendiri atas kemenangannya, di saat harusnya hanya ada satu kubu yang menang. Kelihatannya siapapun yang menang nanti kondisinya akan tidak mengenakkan. Mungkin saja malah akan timbul masalah baru, entah apakah kita memang mengusahakan cinta dan kasihNya atau malah mencoba menentang keputusan takdirNya dengan berbuat hal demikian.

Entah apa yang salah dengan politik, yah, memang itu bukan hal yang menyenangkan. Tidak paham politik pun menyebalkan, yah, meski jelas juga bahwa hanya memperhatikan fenomena yang terjadi saat pemilihan legislatif atau eksekutif tanpa peduli, mengritisi dan mengevaluasi kinerja saat yang terpilih bekerja tidak dapat disebut paham bagaimana politik dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Setidaknya mereka bisa paham karakteristik manusia negeri ini, seperti isu apa yang membuatnya sensitif, reaksi apa yang diberikan dalam kondisi seperti sedang bergerombol–apalagi jika bertemu dengan gerombolan pendukung dari kubu lain–atau sedang sendirian, bagaimana–dan sesantun apa–cara orang berpendapat,

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Kelihatannya ada sebagian makhluk yang mempersengketakan kekuasaan dan hak yang lupa akan janji untuk selalu mengagungkanMu dalam kondisi apapun, dengan ataupun tanpa kekuasaan dan hak yang berlebih itu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Umat yang kau utus kelihatannya lupa bahwa mereka diutus untuk seluruh semesta alam, bukan hanya untuk golongannya saja, sehingga mereka memperjuangkan golongan mereka itu dengan segala cara yang dapat menimbulkan pertengkaran dan memutuskan tali silaturahmi, hal yang Kau minta untuk dijaga agar tetap tersambung. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Saat ini sebagian besar umatMu ragu, tidak tahu golongan mana yang benar-benar memperjuangkan agamaMu dan golongan mana yang sekedar mencatut namaMu demi kepentingan pribadi mereka, dan saling mengklaim bahwa golongan lain lah yang menghinakan dan memperjualbelikan agamaMu bahkan sampai pada tahapan saling mengklaim bahwa golongan lain itu hanya berpura-pura menjadi golonganMu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Ada beberapa orang yang tidak segan meminta dipendekkan umurnya untuk menggugatMu atau rela mempermalukan diriNya jika hal yang Kau inginkan tidak sesuai dengan hal yang mereka inginkan.

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Sulit untuk membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, yah, ada asap kereta api yang berwarna putih dan ada asap pabrik yang berwarna hitam, namun keduanya tetap asap. Jika melihatnya begitu, maka hitam dan putih sudah tidak ada bedanya, semuanya mematikan jika terlalu banyak dihirup, apalagi jika sampai terlena berada di tengah-tengahnya.

Atau, yah, mungkin juga ini bukanlah kesalahan. Mungkin ini ujian untuk orang-orang yang mengaku beriman. Bukankah Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ya’qub alaihissalam pun mengatakan bahwa yang berputusasa dari rahmatNya hanyalah orang-orang yang sesat?

Lakukanlah yang terbaik yang dapat dilakukan, dan biarkanlah skenarioNya berjalan, semoga semua akan menjadi lebih baik kelak di masa depan 🙂

Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi telah usai, namun entah mengapa perdebatan yang ada masih belum selesai. Kedua kubu melakukan klaim bahwa kubunya lah yang diberikan mandat pada pesta demokrasi kali ini. Padahal, kita tahu bahwa mandat yang dipertaruhkan hanya akan diberikan pada satu kubu saja. Entah kubu mana yang memang menang dan kubu mana yang melakukan manipulasi pada data hasil rekapitulasi, biar lah, toh semuanya akan terungkap pada saatnya nanti. Tunggulah, bukankah kita semua menunggu skenarioNya menyusun kisah terbaik dalam kehidupan kita? 🙂

Entah sudah berapa lama aku mengasingkan diri di rumah, hanya keluar sesekali untuk berjalan-jalan bersama teman atau menuntaskan urusan singkat, lebih asyik bermain games atau mengejar targetan. Lagipula, aku masih menganggap berita tentang piala dunia lebih menarik daripada berita tentang pesta demokrasi kali ini: Hanya ada data dan fakta yang dikeluarkan oleh lembaga yang kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan, bukan data atau berita yang diragukan kebenaran dan sumbernya. Turut bersukacita atas kemenangan die Mannschaft tadi malam dan Klose yang berhasil mencetak rekor baru serta membalas kekalahan tahun 2002 lalu, agak disayangkan pemain bernomorpunggung 8 gagal memaksimalkan peluang di menit terakhir, semoga kontribusi untuk klub asalnya di musim depan lebih banyak lagi. Dan tetap perlu ada apresiasi bagi tuan rumah, selain karena kehilangan dua pemain andalan, menjadi panitia sekaligus peserta dalam sebuah perlombaan memang bukan hal yang mudah, kan?

Kemarin sore pun aku baru saja menghadiri sebuah reuni, kelompok persahabatan yang terbentuk dari beberapa orang yang pernah terlibat dalam sebuah social media. Di kelompok ini, terdapat pendukung dari kedua kubu yang sedang bersaing. Agak senang karena tiap membuka media tersebut aku bisa mendapatkan informasi terkait kedua kubu tersebut. Memang tiap kubu saling melakukan serangan kepada kubu lain dan pembelaan kepada serangan yang ditujukan kepada kubunya, namun jika kita dapat memilah data dan opini yang ada, tiap berita akan menjadi data yang objektif dan bermanfaat dalam menentukan pilihan. Karena itu aku agak heran dengan orang yang menginginkan kedua kubu dibahas dengan adil, entah kebaikan keduanya ataupun keburukan keduanya, kenapa tidak membahasnya sendiri?

Meskipun kelompok persahabatan ini diisi oleh orang-orang yang pernah terlibat pada sebuah organisasi berlatar agama tertentu, ini bukan kelompok agama. Tak jarang kata asal terucap ataupun sembarangan bersikap, bercanda seenaknya ataupun berbuat semaunya. Kadang ada kisah tentang pengalaman atau masa lalu, kadang ada diskusi tentang topik yang sedang hangat dibahas, kadang semuanya hanya berkumpul begitu saja, entah melakukan apa. Tapi aku suka dengan prinsip yang diterapkan kelompok ini, yang ditegaskan kembali pada reuni kemarin: Apapun pilihan kita, persahabatan tetaplah hal yang utama. Ya, pilihan dibuat berdasarkan informasi yang diterima oleh seseorang, kepribadian dan latar belakang tiap orang pun turut mempengaruhi pilihannya. Dan kita tahu bahwa ketiga hal tersebut berbeda pada tiap orang, untuk apa kita mengharapkan semua orang akan membuat pilihan yang sama?

Kupikir hal ini lah yang memang perlu diingat kembali oleh semua pendukung dari kubu mana pun, toh siapapun yang mendapat mandat, semua perlu bekerjasama untuk mewujudkan negeri yang lebih baik, bukan?

Oh iya, aku punya pendapat terkait orang yang tidak memilih. Tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan, kan? Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa mereka merupakan orang yang buta politik, tidak menyadari haknya dan lain sebagainya. Ya, mungkin ada benarnya. Beberapa sahabatku juga memilih untuk tidak memilih, dan alasannya beragam. Ada yang tidak percaya pada keduapasang calon dan menganggap mereka sama saja buruknya, tidak ada yang keburukannya lebih sedikit; Ada yang merasa siapapun yang diberi mandat kondisi negara ini tidak akan jauh berubah; Ada yang merasa tidak perlu, toh semuanya tetap diakui sebagai warga negara jika membayar pajak, dan itu lah yang mereka lakukan; Ada yang memang tidak tertarik pada perebutan kekuasaan; Ada banyak alasan. Pendukung kedua kubu pasti akan berusaha menarik kelompok tersebut agar kubu yang mereka dukung berhasil, tapi kadang aku menganggap argumen yang dikeluarkan untuk tujuan tersebut terlalu asal.

Salah satu argumen asalnya adalah buta politik itu. Agak unik saat mendengar argumen tersebut dikeluarkan kepada orang yang lumayan aktif mengritisi kebijakan pemerintahan dan akhirnya memutuskan untuk tidak memilih, mungkin karena kecewa dengan kedua kubu. Apalagi karena orang yang mengeluarkannya baru berpendapat seperti itu tahun ini, saat pesta demokrasi terlaksana. Agak mempertanyakan definisi dari buta politik yang dimaksud, bagaimanapun, politik bukan sekedar berpartisipasi untuk memilih legislatif dan eksekutif kemudian lepas tangan dan menyerahkan segala urusan dan masalah yang ada pada mereka yang terpilih bukan?

Saat pesta ini dimulai aku juga termasuk orang yang memilih untuk tidak memilih. Dan ada beberapa sahabat yang mempertanyakan hal itu, apakah akan ada perubahan dengan tidak memilih? Dan aku juga mempertanyakan balik tentang apakah memilih bisa merubah sesuatu? Sahabatku itu bercerita panjang lebar tentang bagaimana perlunya memilih yang keburukannya paling sedikit, sayang data yang digunakan menurutku tidak valid. Karena masalah yang kuhadapi saat itu memang bukan terkait meminimalkan keburukan, tapi lebih kepada dua hal: mempertanggungjawabkan pilihan dan hilangnya kepercayaan. Sayang waktu diskusinya kurang banyak untuk mengimbangi kecepatanku dalam menganalisis, mengambil keputusan dan memberikan respon, diskusi pun terhenti setelah sahabatku puas memberikan kuliah tentang pilihan.

Jika sosok yang dipilih malah membawa kehancuran bangsa, mengingat kita merupakan bagian dari orang-orang yang memberikan mandat pada sosok tersebut, bagaimana kita mempertanggungjawabkan pilihan itu kelak? Oke, memang kita tidak dapat mengetahui masa depan dengan pasti, mungkin saja pilihan lain akan membawa pada kehancuran yang lebih parah, yang sayangnya sulit untuk dibuktikan. Heran dengan orang-orang yang fanatik pada satu oknum atau kubu, seyakin apa mereka oknum atau kubu itu tidak akan merusak bangsa? Tidak ada metode untuk membuktikannya selain dengan menebak-nebak, kan?

Jika kepercayaan seseorang telah musnah, apakah orang tersebut bersalah? Yaaah, mungkin maraknya pemberitaan negatif di media membuat beberapa orang kehilangan kepercayaan pada para oknum tersebut, mengetahui kabar kurang menyenangkan dari mereka yang terpilih lumayan membantu untuk mengevaluasi kinerja mereka. Meskipun kabar yang diterima pun perlu diperiksa lagi. Kadang ada oknum yang hanya memeriksa ulang kabar tentang keburukan golongannya, berteriak bahwa itu dusta, dan berkoar bangga jika golongannya terbukti tak bersalah sehingga mereka menjadi sorotan media sebagai golongan yang baik. Entah jika golongan lain terkena fitnah yang sama, meskipun satu bangsa tapi mereka berbeda golongan. Kadang fanatisme terhadap golongan yang berlebih menjadikan hanya satu atau beberapa golongan terlihat sangat baik dan golongan sisanya terlihat sangat buruk, dimana kabar tentang keburukan golongan sisanya tidak perlu diklarifikasi, keburukan mereka dianggap telah jelas dari awal, entah atas dasar apa. Ada juga koruptor yang menyangkal berita keburukannya, mempersilahkan dirinya diberi hukuman yang berat jika terbukti korupsi dan ditangkap beberapa pekan setelahnya. Ada juga wakil rakyat yang terkesan tidak terlalu peduli pada rakyat, sehingga waktu sidang mereka gunakan untuk melakukan hal lain seperti tidur, menonton video entah apa, dan lain sebagainya. Bukankah wajar jika ada yang kehilangan kepercayaan pada wakil rakyat?

Ada temanku yang mengingatkan untuk tidak terlalu berharap pada sistem demokrasi, toh sistem ini bukanlah segalanya. Ada benarnya. Tapi bukankah saat ini masyarakat terlalu berharap, bahwa kubu yang mereka pilih dapat memperbaiki kondisi negara ini? Banyak yang percaya bahwa negara dapat berubah melalui perantara beberapa orang saja, yang juga akan menjadi tumbal untuk dicaci jika ada kebijakan yang merusak negara dan mungkin akan lupa diapresiasi jika hidup rakyat menjadi lebih sejahtera. Ada juga temanku yang menyayangkan sistem suara yang diberikan oleh mereka yang mengerti dan mereka yang tidak dihitung sama, yah, mungkin itu salah satu penyebab politisi identik dengan kebohongan, mereka perlu suara dari rakyat kan? Meski penjagaan terhadap suara tersebut mungkin akan terlupakan setelah mereka terpilih, entah lah. Tapi temanku itu sayangnya juga tidak membahas apa yang bisa dilakukan untuk membuat orang-orang yang dianggap tidak mengerti itu lebih mengerti, seolah mereka tidak perlu dipedulikan suaranya, cukup menghitung suara yang mengerti saja. Padahal entah juga apakah yang mengerti masih dapat dipercaya atau hanya sekedar mengambil keuntungan saja.

Ah, bosan membahas semuanya. Lebih baik menikmati waktu saja, skenarioNya akan indah pada saatnya kan?

Dan akan lebih indah jika Jerman berhasil menaklukkan Argentina, harapan pribadi, hahaha.