Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi telah usai, namun entah mengapa perdebatan yang ada masih belum selesai. Kedua kubu melakukan klaim bahwa kubunya lah yang diberikan mandat pada pesta demokrasi kali ini. Padahal, kita tahu bahwa mandat yang dipertaruhkan hanya akan diberikan pada satu kubu saja. Entah kubu mana yang memang menang dan kubu mana yang melakukan manipulasi pada data hasil rekapitulasi, biar lah, toh semuanya akan terungkap pada saatnya nanti. Tunggulah, bukankah kita semua menunggu skenarioNya menyusun kisah terbaik dalam kehidupan kita?🙂

Entah sudah berapa lama aku mengasingkan diri di rumah, hanya keluar sesekali untuk berjalan-jalan bersama teman atau menuntaskan urusan singkat, lebih asyik bermain games atau mengejar targetan. Lagipula, aku masih menganggap berita tentang piala dunia lebih menarik daripada berita tentang pesta demokrasi kali ini: Hanya ada data dan fakta yang dikeluarkan oleh lembaga yang kredibilitasnya dapat dipertanggungjawabkan, bukan data atau berita yang diragukan kebenaran dan sumbernya. Turut bersukacita atas kemenangan die Mannschaft tadi malam dan Klose yang berhasil mencetak rekor baru serta membalas kekalahan tahun 2002 lalu, agak disayangkan pemain bernomorpunggung 8 gagal memaksimalkan peluang di menit terakhir, semoga kontribusi untuk klub asalnya di musim depan lebih banyak lagi. Dan tetap perlu ada apresiasi bagi tuan rumah, selain karena kehilangan dua pemain andalan, menjadi panitia sekaligus peserta dalam sebuah perlombaan memang bukan hal yang mudah, kan?

Kemarin sore pun aku baru saja menghadiri sebuah reuni, kelompok persahabatan yang terbentuk dari beberapa orang yang pernah terlibat dalam sebuah social media. Di kelompok ini, terdapat pendukung dari kedua kubu yang sedang bersaing. Agak senang karena tiap membuka media tersebut aku bisa mendapatkan informasi terkait kedua kubu tersebut. Memang tiap kubu saling melakukan serangan kepada kubu lain dan pembelaan kepada serangan yang ditujukan kepada kubunya, namun jika kita dapat memilah data dan opini yang ada, tiap berita akan menjadi data yang objektif dan bermanfaat dalam menentukan pilihan. Karena itu aku agak heran dengan orang yang menginginkan kedua kubu dibahas dengan adil, entah kebaikan keduanya ataupun keburukan keduanya, kenapa tidak membahasnya sendiri?

Meskipun kelompok persahabatan ini diisi oleh orang-orang yang pernah terlibat pada sebuah organisasi berlatar agama tertentu, ini bukan kelompok agama. Tak jarang kata asal terucap ataupun sembarangan bersikap, bercanda seenaknya ataupun berbuat semaunya. Kadang ada kisah tentang pengalaman atau masa lalu, kadang ada diskusi tentang topik yang sedang hangat dibahas, kadang semuanya hanya berkumpul begitu saja, entah melakukan apa. Tapi aku suka dengan prinsip yang diterapkan kelompok ini, yang ditegaskan kembali pada reuni kemarin: Apapun pilihan kita, persahabatan tetaplah hal yang utama. Ya, pilihan dibuat berdasarkan informasi yang diterima oleh seseorang, kepribadian dan latar belakang tiap orang pun turut mempengaruhi pilihannya. Dan kita tahu bahwa ketiga hal tersebut berbeda pada tiap orang, untuk apa kita mengharapkan semua orang akan membuat pilihan yang sama?

Kupikir hal ini lah yang memang perlu diingat kembali oleh semua pendukung dari kubu mana pun, toh siapapun yang mendapat mandat, semua perlu bekerjasama untuk mewujudkan negeri yang lebih baik, bukan?

Oh iya, aku punya pendapat terkait orang yang tidak memilih. Tidak memilih juga merupakan sebuah pilihan, kan? Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa mereka merupakan orang yang buta politik, tidak menyadari haknya dan lain sebagainya. Ya, mungkin ada benarnya. Beberapa sahabatku juga memilih untuk tidak memilih, dan alasannya beragam. Ada yang tidak percaya pada keduapasang calon dan menganggap mereka sama saja buruknya, tidak ada yang keburukannya lebih sedikit; Ada yang merasa siapapun yang diberi mandat kondisi negara ini tidak akan jauh berubah; Ada yang merasa tidak perlu, toh semuanya tetap diakui sebagai warga negara jika membayar pajak, dan itu lah yang mereka lakukan; Ada yang memang tidak tertarik pada perebutan kekuasaan; Ada banyak alasan. Pendukung kedua kubu pasti akan berusaha menarik kelompok tersebut agar kubu yang mereka dukung berhasil, tapi kadang aku menganggap argumen yang dikeluarkan untuk tujuan tersebut terlalu asal.

Salah satu argumen asalnya adalah buta politik itu. Agak unik saat mendengar argumen tersebut dikeluarkan kepada orang yang lumayan aktif mengritisi kebijakan pemerintahan dan akhirnya memutuskan untuk tidak memilih, mungkin karena kecewa dengan kedua kubu. Apalagi karena orang yang mengeluarkannya baru berpendapat seperti itu tahun ini, saat pesta demokrasi terlaksana. Agak mempertanyakan definisi dari buta politik yang dimaksud, bagaimanapun, politik bukan sekedar berpartisipasi untuk memilih legislatif dan eksekutif kemudian lepas tangan dan menyerahkan segala urusan dan masalah yang ada pada mereka yang terpilih bukan?

Saat pesta ini dimulai aku juga termasuk orang yang memilih untuk tidak memilih. Dan ada beberapa sahabat yang mempertanyakan hal itu, apakah akan ada perubahan dengan tidak memilih? Dan aku juga mempertanyakan balik tentang apakah memilih bisa merubah sesuatu? Sahabatku itu bercerita panjang lebar tentang bagaimana perlunya memilih yang keburukannya paling sedikit, sayang data yang digunakan menurutku tidak valid. Karena masalah yang kuhadapi saat itu memang bukan terkait meminimalkan keburukan, tapi lebih kepada dua hal: mempertanggungjawabkan pilihan dan hilangnya kepercayaan. Sayang waktu diskusinya kurang banyak untuk mengimbangi kecepatanku dalam menganalisis, mengambil keputusan dan memberikan respon, diskusi pun terhenti setelah sahabatku puas memberikan kuliah tentang pilihan.

Jika sosok yang dipilih malah membawa kehancuran bangsa, mengingat kita merupakan bagian dari orang-orang yang memberikan mandat pada sosok tersebut, bagaimana kita mempertanggungjawabkan pilihan itu kelak? Oke, memang kita tidak dapat mengetahui masa depan dengan pasti, mungkin saja pilihan lain akan membawa pada kehancuran yang lebih parah, yang sayangnya sulit untuk dibuktikan. Heran dengan orang-orang yang fanatik pada satu oknum atau kubu, seyakin apa mereka oknum atau kubu itu tidak akan merusak bangsa? Tidak ada metode untuk membuktikannya selain dengan menebak-nebak, kan?

Jika kepercayaan seseorang telah musnah, apakah orang tersebut bersalah? Yaaah, mungkin maraknya pemberitaan negatif di media membuat beberapa orang kehilangan kepercayaan pada para oknum tersebut, mengetahui kabar kurang menyenangkan dari mereka yang terpilih lumayan membantu untuk mengevaluasi kinerja mereka. Meskipun kabar yang diterima pun perlu diperiksa lagi. Kadang ada oknum yang hanya memeriksa ulang kabar tentang keburukan golongannya, berteriak bahwa itu dusta, dan berkoar bangga jika golongannya terbukti tak bersalah sehingga mereka menjadi sorotan media sebagai golongan yang baik. Entah jika golongan lain terkena fitnah yang sama, meskipun satu bangsa tapi mereka berbeda golongan. Kadang fanatisme terhadap golongan yang berlebih menjadikan hanya satu atau beberapa golongan terlihat sangat baik dan golongan sisanya terlihat sangat buruk, dimana kabar tentang keburukan golongan sisanya tidak perlu diklarifikasi, keburukan mereka dianggap telah jelas dari awal, entah atas dasar apa. Ada juga koruptor yang menyangkal berita keburukannya, mempersilahkan dirinya diberi hukuman yang berat jika terbukti korupsi dan ditangkap beberapa pekan setelahnya. Ada juga wakil rakyat yang terkesan tidak terlalu peduli pada rakyat, sehingga waktu sidang mereka gunakan untuk melakukan hal lain seperti tidur, menonton video entah apa, dan lain sebagainya. Bukankah wajar jika ada yang kehilangan kepercayaan pada wakil rakyat?

Ada temanku yang mengingatkan untuk tidak terlalu berharap pada sistem demokrasi, toh sistem ini bukanlah segalanya. Ada benarnya. Tapi bukankah saat ini masyarakat terlalu berharap, bahwa kubu yang mereka pilih dapat memperbaiki kondisi negara ini? Banyak yang percaya bahwa negara dapat berubah melalui perantara beberapa orang saja, yang juga akan menjadi tumbal untuk dicaci jika ada kebijakan yang merusak negara dan mungkin akan lupa diapresiasi jika hidup rakyat menjadi lebih sejahtera. Ada juga temanku yang menyayangkan sistem suara yang diberikan oleh mereka yang mengerti dan mereka yang tidak dihitung sama, yah, mungkin itu salah satu penyebab politisi identik dengan kebohongan, mereka perlu suara dari rakyat kan? Meski penjagaan terhadap suara tersebut mungkin akan terlupakan setelah mereka terpilih, entah lah. Tapi temanku itu sayangnya juga tidak membahas apa yang bisa dilakukan untuk membuat orang-orang yang dianggap tidak mengerti itu lebih mengerti, seolah mereka tidak perlu dipedulikan suaranya, cukup menghitung suara yang mengerti saja. Padahal entah juga apakah yang mengerti masih dapat dipercaya atau hanya sekedar mengambil keuntungan saja.

Ah, bosan membahas semuanya. Lebih baik menikmati waktu saja, skenarioNya akan indah pada saatnya kan?

Dan akan lebih indah jika Jerman berhasil menaklukkan Argentina, harapan pribadi, hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s