Rezeki

Percayakah kamu bahwa tiap makhluk memiliki jatah tersendiri atas rezekinya?

Pada liburan akhir tahun lalu kebetulan aku sedang berada di sebuah kota saat ada seseorang yang membutuhkan pendonor bergolongandarah sama sepertiku, dan karena saat itu aku memang sedang luang, akhirnya aku yang menjadi pendonor. Tawaran apa yang lebih menggiurkan bagi mahasiswa di perantauan selain makanan gratis dalam jumlah yang cukup banyak? Yah, setidaknya biskuit regal yang disajikan secara prasmanan bagi pendonor di kantor pmi itu bisa mengisi perut untuk sekali makan, bahkan mungkin bisa mencukupi kebutuhan dua hingga tiga hari jika pendonor terkait tidak malu membawa plastik untuk mebawanya pulang. Hahaha. Dan pada liburan ini saat aku sedang tidak berada di kota itu, skenario yang sama terulang dua kali, mungkin karena liburan pergantian tahun ajaran memang lebih lama. Dan saat kuhubungi, mereka menjawab telah mendapat pendonor masing-masing. Dan sekarang jadi terpikir, siapa nama yang tertulis sebagai pendonor mungkin merupakan ajang bagi para manusia untuk berlomba dalam kebaikan, tapi kepastian sang pasien mendapatkan transfusi mungkin merupakan bagian dari rezekinya.

Pengemis dan pengamen di persimpangan jalan atau warung makan pun begitu. Banyak yang mempropagandakan untuk tidak memberikan uang kepada mereka karena dikhawatirkan akan memberikan mental atau pola pikir yang salah untuk hanya meminta-minta tanpa perlu bekerja kepada mereka, tapi tetap saja ada yang memberikan. Beberapa orang lebih memilih menyumbang ke badan amal yang dianggap kredibel dalam mengurus sedekah karena tidak tahu mana yang membutuhkan dan mana yang sekedar malas untuk bekerja, dulu ada juga kawanku yang memilih menyumbangkan uang dalam bentuk makanan seperti roti untuk meminimalisir kemungkinan uang yang didapat digunakan untuk hal yang kurang baik bagi mereka seperti rokok dan lem untuk dihirup baunya, sayang gerakan itu saat ini sudah tidak terdengar lagi.

Mungkin itu juga yang menyebabkan masih banyak hewan yang bisa hidup. Memang jumlah spesies yang terancam kepunahan jauh lebih banyak daripada jumlah jari pada manusia, tapi tetap saja banyak yang menemukan makanan untuk bertahan, entah berupa pemberian alam, rasa kasihan orang, atau rasa tanggungjawab petugas kebun binatang. Kadang aku mempertanyakan terkait kematian seekor binatang, apakah itu karena binatang terkait merupakan rezeki bagi binatang lain yang kelaparan atau pengingat bagi beberapa oknum yang sibuk mengoleksi jasad atau bagian tubuh binatang demi keuntungan atau kepuasan pribadi jika makhluk terakhir dari sebuah spesies telah mati. Mungkin juga keduanya.

Belum lama ini ada seorang juniorku yang menanyakan tentang keadilan akan rezeki dariNya. Dia bertanya mengapa apakah adil jika perempuan memiliki waktu dimana dia tidak dapat berpuasa tapi wajib menggantinya di bulan yang pahalanya belum tentu sama dengan Ramadhan, dan dia mempertanyakan bagaimana kabar pahala dari amalannya. Jelas pertanyaan ini ditujukan kepada orang yang salah, mengingat yang ditanya bukanlah ahli dalam hal fiqih wanita ataupun pengatur besar-kecilnya pahala dari sebuah amal.

Dan aku pun teringat bahwa di bulan ini ada malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, Lailatul Qadar. Fakta bahwa panjang malam di tiap daerah berbeda-beda, ada yang sampai belasan jam, dan mungkin ada juga daerah yang tidak pernah merasakan malam. Ada situs yang menyebutkan bahwa di Argentina puasa hanya berlangsung selama 9 jam, berbanding dengan 21 jam di Islandia. Berhakkah untuk merasa iri pada mereka di daerah Argentina? Bisa karena waktu puasa yang lebih pendek, bisa juga karena kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar yang lebih besar, atau apapun itu, dingin tidak akan berpengaruh banyak jika disikapi dengan baik atau sudah beradaptasi, kan?

Jika dilihat dari sudut pandang lain, tetap ada potensi kebaikan yang dapat diraih perempuan ataupun orang yang berpuasa lebih lama. Yang perempuan dapat memberi bahan untuk berbukanya orang-orang yang berpuasa, yang berpuasa lebih lama pun memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal seperti bekerja atau berbelanja tanpa mengurangi waktu malamnya, dan mungkin mereka bisa memfokuskan waktu malamnya untuk beribadah semata. Sulit untuk melihat apakah ini rezeki atau bukan dan apakah ini adil atau tidak jika hanya berfokus pada satu argumen atau sudut pandang saja, lagipula, bukankah Dia Maha Pemberi Rezeki lagi Maha Adil?

Yah, walau ada beberapa makhluk yang mungkin mempertanyakan sifat-sifatNya itu, tetap saja Dia menyempurnakan rezekiNya bagi semua makhluk. Mungkin mempertanyakan merupakan salah satu langkah menuju kepercayaan. Terlepas dari itu, tiap makhluk mungkin juga menyikapi rezeki yang diterima dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri meski dalam pandangan orang lain apa yang dia dapat sangat sedikit, ada juga yang memaki dan meminta tambah meski rezekinya sudah sangat banyak menurut orang yang lain lagi.

Mungkin sekarang yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita menyikapi rezeki yang kita terima, akankah kita menggunakan rezeki kita untuk hal yang baik? Dan, masih ingatkah akan hak-hak orang lain dalam harta kita? Yah, itu salah satu fungsi zakat fitrah di akhir bulan ini, kan?🙂

Selamat berjuang mendapatkan lailatul qadar di malam-malam terakhir Ramadhan, jangan lupa memberikan hak orang lain dalam harta kita kepada mereka yang berhak menerimanya.

Dan waktunya kembali fokus menyelesaikan perkuliahan laks, secepatnya. Tambahan biaya untuk menunda tidak sedikit, berusahalah agar itu menjadi rezeki pribadi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s