Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s