Mahasiswa Tingkat Akhir dan Manusia Lanjut Usia (Manula)

Open house unit kelima selama berada di Bandung. Masa-masa dimana para unit, kegiatan ekstrakurikuler di kampus, berusaha menarik minat generasi muda untuk bergabung, meski entah berapa banyak yang akan bertahan dari sejumlah besar yang mendaftar.

Setiap tahun melangkah ke acara ini selalu punya tujuan yang berbeda. Tahun pertama masih dipenuhi dengan kepolosan dan rasa penasaran terhadap kehidupan mahasiswa, di tahun kedua terlepas dari pengetahuan yang terbatas–tentang unit apa melakukan apa–diminta jadi pemandu dari sebagian kecil mahasiswa tahun pertama, di tahun ketiga (terpaksa) ikut berebut massa untuk mempertahankan keberjalanan kegiatan yang–setidaknya kuanggap–memberikan manfaat pada sekitar, di tahun keempat masih sedikit membantu kegiatan itu mencari massa. Dan di tahun kelima, meski masih sempat berkunjung ke beberapa stand dan wahana dari unit dan kegiatan itu, lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari wajah yang masih dikenal, khususnya wajah sahabat sejawat setingkat. Mungkin ditambah dengan tiga patah kata untuk menyapa sekaligus bertanya, “Loh, masih disini?”

Dalam beberapa hal, mahasiswa tingkat akhir tidak jauh berbeda dengan para manula, beberapa mungkin menjadi yang tertua di lingkungan atau lingkaran pergaulannya, atau mengalami kesulitan dalam bergaul atau mencari topik obrolan dengan insan-insan yang lebih muda. Meski dosen merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, tapi tetap saja mereka golongan yang berbeda. Golongan A adalah Tuhan yang tahu segalanya, golongan B adalah dosen yang berusaha mencaritahu apa yang diketahui golongan A dan golongan C adalah mahasiswa yang menerima ilmu dari golongan B. Penggolongan berdasarkan indeks prestasi, begitulah perkataan salah satu dosenku tentang kehidupan mahasiswa jaman dahulu. Jadi mahasiswa yang memiliki transkrip rantai karbon (tahu kan? C-C-C-C-C-C-C-…) tidak perlu khawatir, memang itu level kita. Oh, dan kata “beberapa” perlu ditekankan mengingat tidak semua mahasiswa tingkat akhir mengalami masalah serupa, seperti aku misalnya, hahaha.

Tapi jika ada kesamaan antara mahasiswa tingkat akhir dan manula, mungkin banyaknya sahabat sejawat setingkat yang telah pergi meninggalkan akan menjadi renungan bersama bagi semua. Pergi untuk mencari kerja, melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi, ataupun menganggur, apapun lah. Mereka telah pergi dan kita pun akan begitu, tidak lama lagi. Meski entah apakah kelulusan itu akan berlalu secara terhormat dengan mengenakan toga dan mungkin menerima rangkaian bunga yang selalu dijual di gerbang depan saat wisuda–entah dari siapa–atau tidak, yang mungkin diiringi dengan duka dan penyesalan akan kurangnya usaha. Kedengarannya tidak jauh berbeda dengan para manula yang telah ditinggal pergi teman-temannya ke alam lain, dan menunggu gilirannya. Akhir yang terhormat bagi mereka bukanlah toga, tapi surga, dan akhir yang tidak terhormat mungkin berupa harapan terlahir sebagai tanah saja saat sampai di neraka, setidaknya itu bagi mereka yang percaya.

Mungkin itu salah satu alasan yang mendeskripsikan kenapa curhatan “merasa tua” mulai bergulir, yah, terlepas dari apa yang terpikirkan, terucapkan ataupun terkhayalkan, beberapa hal pantas untuk diperjuangkan, bukan?

Oh, untuk menyemangati kawan seperjuangan jika ada, filosofi toga menarik juga. Berwarna gelap dan menyelimuti tubuh untuk mengingatkan kita bahwa meski kita telah–sedikit lebih–tercerdaskan, lingkungan yang menyelimuti kita mungkin belum sampai pada tahap itu. Kira-kira apa yang dapat kita lakukan? 🙂

Setidaknya untuk saat ini, fokus pada tugas akhir dulu saja lah, mungkin akan terpikirkan saat waktunya tiba, analisis hampir beres dan deadline kurang dari dua pekan, waktunya berusaha 😀

Iklan

Racau-Khutbah Jumat

Khutbah Jumat kali ini agak, hm, subjektif. Terkait dengan keputusan MK kemarin, membahas tentang pemimpin. Kemarin para anggota labku pun tidak sedikit yang tertarik untuk menyaksikan detik-detik keputusannya, penasaran plot twist apa lagi yang akan terjadi dalam keberlanjutannya, terutama akan respon dari beberapa pihak terkait.

Sang penceramah dengan lantang mengobarkan semangat menolak kebangkitan suatu kaum kiri dan berhati-hati terhadap pemimpin yang menipu masyarakat dengan memperlihatkan sosok bahwa dirinya baik. Aku tidak punya dendam atau masalah pribadi dengan para sosok yang dicalonkan, tapi jika semua informasi diterima begitu saja, agak sulit menilai apakah semua calon itu sama baiknya atau sama buruknya. Mungkin juga sama-sama handal dalam hal tipu-menipu, entah lah, aku hanya bisa menilai hal yang terlihat, bukan hal yang tersirat. Dan aku juga memprioritaskan informasi yang kupastikan sendiri dibandingkan dari informasi simpang siur yang diberikan orang lain, apa salahnya memeriksa ulang fakta? Karena itu aku agak kesulitan dalam mencerna kenapa kita perlu berhati-hati dan membangun opini negatif terhadap suatu sosok, tidakkah lebih baik kita menyelipkan nama sosok tersebut dalam doa agar Yang Maha Kuasa menjadikan beliau pemimpin yang adil, baik dan menyejahterakan rakyatnya? Kupikir terlepas dari siapapun yang terpilih, tidak ada salahnya melakukan hal demikian, bukan? Terlebih jika semuanya sama mengkhawatirkannya.

Tapi saat ini tertarik aku tertarik untuk membahas poin pertama, tentang kebangkitan kaum tersebut. Aku tidak terlalu mengerti tentang kebencian berlebih pada mereka, yang jelas aku mendengar bagaimana orang yang diketahui–atau hanya sekedar dituduh meski tuduhannya hanya persepsi tanpa bukti–merupakan bagian dari atau punya hubungan dengan golongan itu dia akan kehilangan haknya sebagai manusia. Entah apakah itu hanya terjadi di orde lama atau bagaimana, karena aku juga pernah membaca artikel dimana Nelson Mandela bingung–atau marah, aku tidak ingat redaksi tepatnya–karena saat berkunjung ke Museum Konferensi Asia-Afrika pada masa orde lama, tidak terlihat adanya peran tokoh dari golongan tersebut dalam museum tersebut saat itu. Sejarah tentang golongan itu di negeri ini memang tidak berakhir dengan baik, tapi sampai sekarang aku masih penasaran apakah bagian awal dan tengah dari sejarah tersebut sama buruknya atau tidak.

Apa hubunganku dengan golongan tersebut? Hm, hampir tidak ada. Ada seorang sahabatku yang penghafal Quran–seingatku terakhir bertemu dia sudah hafal belasan juz lebih–yang terlibat dalam gerakan kiri di sebuah universitas terkemuka di depok. Ada juga sahabat jauh yang, meski perkenalannya merupakan salah satu kesalahan dalam pemanfaatan jejaring media sosial, merupakan bagian dari komunitas pembelajaran alternatif yang lumayan terkemuka di Salatiga, yang di salah satu artikel yang sempat kubaca menyatakan bahwa komunitasnya mirip golongan itu. Ada juga seorang sahabat dan seorang (mantan) guru sma yang berpaham kiri meski jumlahnya bisa dihitung jari. Empat orang. Kelihatannya itu saja.

Dan sekarang aku tertarik untuk meracau tentang yahudi. Sedikit pembenaran atas tindakanku, aku tidak terlalu tertarik pada teori konspirasi yang berusaha mencocok-cocokkan hal agar semuanya dapat masuk ke dalam teori tersebut, aku lebih suka mengambil beberapa hal sebagaimana adanya dan memikirkan apa yang mungkin terjadi berdasarkan itu. Membuat hipotesis, yang mungkin akan sangat sulit untuk dibuktikan, itu pun kalau dapat dilakukan.

Aku lumayan suka menonton film tentang apa yang terjadi saat perang dunia kedua, seperti “The King’s Speech”, “The Book Thief”, “The Railway Man”, dan kemarin malam saat istirahat sejenak dari TA, “The Boy In The Striped Pajamas”. Dan pada film yang mengambil latar jerman seperti “The Book Thief” dan “The Boy In The Striped Pajamas”, kaum yahudi merupakan kaum yang tertindas. Sementara sekarang, yang kita lihat di berbagai berita, kaum yahudi (khususnya mungkin yang berpaham zionis) merupakan kaum yang menindas. Sementara dalam film “The Railway Man”, aku menemukan kemungkinan bahwa orang yang sempat mengalami penyiksaan dapat tumbuh menjadi orang yang, hm, dapat dikatakan mengerikan dan melampiaskan amarahnya ke sembarang orang dalam beberapa kesempatan. Dan jadi terpikir, jika tidak ada perang dunia kedua dimana sebagian besar kaum yahudi mengalami penyiksaan dan lain sebagainya, akankah ada israel (mungkin dan paham zionis) yang menindas?

Dan agak terpikir, jika golongan tersebut mendapat kesempatan untuk berkuasa kelak, akankah mereka juga menjadi kaum yang menindas?

Aku lumayan suka dengan akhir cerita dari “The Railway Man”. Dimana setelah sang veteran berhadapan langsung dengan orang yang pernah menyiksanya, akhirnya dia memutuskan: “Sometimes, the hating has to stop”. Bukan hanya dari satu kubu, tapi dari semua pihak yang terlibat. Sikap saling membenci lah yang perlu dihentikan.

Entah bagaimana di Palestina sana, akankah perang berhenti atau tidak. Berdamai bukan berarti menghilangkan perbedaan diantara keduanya. Membenci dan tidak setuju terhadap pandangan orang lain jelas merupakan hal yang berbeda. Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, dan penyiksaan pun bukan hal yang sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Lagipula, bukankah hidayah hanyalah milikNya? Meski orang yang mendapat–atau mengaku-ngaku telah mendapatkan–hidayah memaksakan pemahamannya kepada orang lain, tetap saja hanya Dia yang punya kekuatan untuk membolak-balikkan hati makhlukNya. Yah, setidaknya mereka yang mengingatkan telah mendapatkan alasan untuk berlepas diri dari kewajibannya bukan?

Racauan ini jauh dari kata selesai, dan mungkin lebih jauh lagi dari kata jelas. Sebagaimana tugas yang harusnya kukerjakan sekarang meski deadline telah semakin dekat. Yah, tidak salah menyimpan sisanya untuk diri sendiri dan kembali mengerjakan kewajiban kan? Jika penasaran, lanjutkan saja sendiri. Bukankah kita telah diberi akal untuk berpikir? Selama dasarnya benar, seharusnya tidak akan ada yang salah dengan pemikiran tersebut, kan? 😀

Catatan Akhir Mahasiswa

“Saat kamu mahasiswa, kastamu masih Brahmana. Tapi setelah lulus, sejam berlalu pun kamu sudah turun kasta jadi Pariya.”

Kutipan dari salah seorang dosen teman, yang menyindir sarjana yang belum punya pekerjaan. Saat belajar sih memang harapan bangsa, tapi repot juga jika setelah lulus malah jadi beban negara :/

Temanku yang menceritakan itu memang baru saja lulus dari jurusan hukum, baru beres sidang dua hari yang lalu tepatnya. Dan pesan yang dia berikan padaku setelah dua hari menikmati kelulusannya adalah: “Laks, jangan cepat-cepat lulus.”

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sudah ditinggal teman-temannya terlebih dahulu memang, harus diakui, kelulusan bukanlah kepastian mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, ataupun kepastian memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak. Semua bergantung pada diri sang sarjana, dari kecakapan dan kesungguhan terutama, dan mungkin dengan sedikit percikan idealismenya. Beberapa sahabat dan senior pun tidak segan menyatakan kerinduannya pada masa kuliah ataupun berbagai kendala dan tes untuk mendapatkan pekerjaan atau beasiswa yang diincar. Lalala~

Oke, berstatus mahasiswa memang memiliki keuntungan tersendiri. Tidak sedikit kesempatan mahasiswa untuk menambah pengalaman di berbagai bidang, entah itu melalui internship dalam sebuah perusahaan, kegiatan sosial bersama mahasiswa lainnya, pertukaran pelajar antar negara, riset mandiri, kesempatan berkompetisi dan banyak keuntungan lainnya. Meski ada juga kekurangannya seperti dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak karena belum cukup pengalaman dan usia.

Entah apakah pernyataan temanku (dan dosennya) itu ditujukan untuk menghibur, menjatuhkan mental atau sekedar memaparkan fakta lapangan pada mahasiswa yang terlalu banyak mempelajari skenario ideal. Tapi… Tapi… Aku juga mau lulus 😐

*langsung lanjut ngeplot grafik dan analisis*

Random: Guru SMA

Bertemu kembali dengan guru-guru sma selalu punya kesan tersendiri, terlebih jika guru yang ditemui merupakan orang yang dianggap penting atau punya peranan krusial dalam perjalanan kehidupan. Dan begitulah kegiatanku kemarin, berkunjung ke rumah beberapa orang guru bersama para alumni lainnya. Menyenangkan juga mendengar kabar sma tercinta setelah lama ditinggalkan, dari kebijakan kepala sekolah baru hingga wacana akan kebijakan pemerintah provinsi di dunia pendidikan.

Sedikit menceritakan tentang SMAN 47 Jakarta, atau beberapa kawan menyebutnya Semi-MAN 47 Jakarta, entah karena apa. Kebetulan aku belum berkesempatan mengikuti kegiatan belajar di sma atau institusi sederajat lainnya untuk membuat perbandingan, mungkin itu hanya julukan dari beberapa sahabat yang belum terbiasa mengikuti pengajian. Memang dulu tiap jumat ada sesi khusus ceramah dan mengaji bagi muslim/ah, dan kabar terakhir yang kudengar adalah sekarang sesi itu dijadikan tiap hari oleh kepala sekolah yang baru, entah bagaimana jika kepala sekolahnya telah berganti lagi. Yah, itu urusan nanti.

Hm, apa lagi ya? Oh. Selain itu, tiap selesai shalat fardhu berjamaah, ada pembacaan hadits bergilir dari kitab Riyadush-Shalihin, entah siapa yang memulai tapi saat zamanku dulu umumnya anak rohis yang mengisi, sistemnya sederhana: siapa yang tercepat bangkit menuju mimbar dialah yang berkesempatan memilih bab hadits untuk dibacakan–sekaligus mengingatkan sesama muslim dalam kebenaran dan kesabaran. Dan saat bulan Ramadhan, atau kadang pada hari disunnahkannya berpuasa, jika masih ada sekelompok murid atau guru yang berada di lingkungan sekolah, biasanya mereka akan patungan untuk membeli makanan lalu memakannya bersama-sama di atas nampan. Makan berjamaah, mengingat makanan untuk dua orang cukup untuk bertiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan seterusnya. Meski mungkin bagi para anak lelaki dalam masa pertumbuhan, kegiatan ini dapat disalahartikan menjadi lomba-adu-cepat-makan-sebelum-jatahmu-dihabiskan-orang, atau mungkin juga kegiatan ini dilakukan untuk mendapat porsi lebih karena pemilik rumah makan seringkali berbaikhati jika pelanggannya membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, hahaha.

Oke, setelah dipikir kembali, julukan Semi-MAN mungkin agak terjustifikasi disini, hahaha. Entah bagaimana smaku saat ini, tapi aku lumayan senang masuk kesana di angkatan 2010. Memang ada juga beberapa siswa yang suka nongkrong, merokok, dan lain sebagainya, tapi mereka juga tak jarang terlibat di kegiatan serupa. Kadang jadi tenaga sukarela saat mengurus persiapan perayaan hari besar islam, kadang ikut-ikutan beraktivitas bersama. Yah, terlepas dari dimana tongkrongannya atau siapa sahabat dekatnya, apa salahnya berbuat kebaikan bersama-sama? Hanya karena seseorang melakukan perbuatan yang dicap negatif, bukan berarti dia tidak punya sisi positif kan? 🙂

Dan ini adalah cerita mengenai seorang guru di SMAN itu. Namanya Pak Ahnaf, nama yang lebih baik dari namaku, Hanif. Atau setidaknya itu tebakanku, analisis setelah mendengar penjelasan bahwa Akbar (Maha Besar) berasal dari kata Kabir (Besar), aku menebak bahwa itu merupakan contoh kalimat Superlative dalam Bahasa Arab. Hanya tebakan sayangnya, semoga bisa belajar Bahasa Arab setelah dua bahasa asing lain yang tengah kupelajari tersertifikasi baik, bismillaah 🙂

Satu kata untuk mendeskripsikan beliau: Baik. Oh, mungkin bisa ditambah satu kata lagi: Banget. Entah ya, kadang beberapa manusia yang kita temui sulit untuk dideskripsikan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, dan akan lebih sulit lagi jika kita membatasi keterbatasan itu, seperti meminta mendeskripsikannya dengan satu atau dua patah kata. Yah, mungkin memang sebagian manusia punya hobi untuk mempersulit diri sendiri. Terserah saja, toh aku hanya punya wewenang atas kehidupanku. Mungkin sedikit berharap jika aku akan mengikuti seleksi, entah seleksi apapun, tidak ada pertanyaan yang meminta mendeskripsikan sesuatu dalam beberapa kata, terlebih jika sesuatu itu merupakan makhluk kompleks seperti manusia.

Kemarin aku berkunjung ke rumahnya lagi. Kelihatannya sudah tidak lagi mengingatku, bukan hal yang aneh karena tiap tahun beliau perlu mengingat lebih dari 250 siswa sebagai penanggungjawab mata pelajaran agama di kelas 12. Kelihatannya beberapa senior yang datang bersamaku juga berpendapat demikian, hingga salah satu dari mereka berkata, “Meski bapak sudah tidak ingat saya lagi, saya akan tetap ingat bapak kok pak”. Berlebihan? Mungkin, tapi kelihatannya tidak sedikit dari para pengunjung yang sepakat akan kalimat tersebut, termasuk aku. Yang penting bukan apakah orang yang berperan penting dalam kehidupan kita mengingat kita atau tidak, mungkin dia punya peranan penting dalam hidup banyak manusia, atau mungkin juga dia menjadi peran penting dalam hidup kita tanpa sengaja, dan tidak perlu waktu lama untuk melupakannya. Pertanyaannya, masih ingatkah kita akan peranan penting dan jasa-jasa dari orang itu? Atau pertanyaan yang setingkat lebih sulit: Apa yang telah kita lakukan untuk membalas, atau meneruskan, kebaikan-kebaikan yang telah kita terima?

Beliau masih sama. Pembawaannya tenang, kata-kata dan nasihatnya mengena. Dan silaturahmi ke rumah beliau pun diisi dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal terkait agama. Masih ingat sebagian dari nasihatnya.

Saat sahabatku bertanya tentang sistem di sebuah perusahaan yang menyebabkan shalat jumat antar karyawannya digilir, beliau menjawab:
“Ati’ullaaha wa ati’urrasuula wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, dan taatilah RasulNya, dan pemimpin-pemimpin di antara kamu. Dan pemimpin-pemimpin di antara kamu, bukan dan ‘taatilah’ pemimpin-pemimpin di antara kamu, yang artinya ketaatan terhadap pemimpin itu relatif, salah satunya tergantung dari apa yang disuruh dikerjakan. Kemudian beliau meminta salah seorang sahabatku yang hafal 7 juz lebih untuk melanjutkan ayat “Alladzii khalaqal mawta wal hayaata…”, dari Surat Al-Mulk ayat 2, yang lanjutannya “liyabluwakum ayyukum ahsanu amala”. Kemudian beliau menjelaskan arti ayat tersebut, Allah menciptakan yang mati dan yang hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Yang mati, dan yang hidup, keduanya ujian untuk kita, untuk memeriksa siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Beliau juga berwasiat tentang kejujuran, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga”. Kali ini lupa dari pertanyaan apa tapi berhasil menemukan versi lengkapnya setelah bertanya pada master google, bagi yang penasaran silahkan buka http://salafy.or.id/blog/2012/04/08/ash-shidq-akhlaq-yang-akan-mengantarkan-ke-surga/

Isi dari sebuah nasihat memang penting, tapi penyampaiannya tidak kalah penting. Jika mengacu pada komik karya vbi djenggoten, maka isi dari sebuah nasihat ibarat sebuah berlian. Tapi jika berlian itu diberikan kepada seseorang dengan melenparnya hingga dia terluka, apakah orang itu sadar bahwa yang dilemparkan adalah berlian?

Baru beli buku baru, “The Five People You Meet In Heaven” karya Mitch Albom, setelah karyanya “Tuesday With Morrie” memberi banyak konsep pemikiran. Kali ini pun konsepnya menarik, “Ada lima orang yang akan kau temui di alam baka. Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu apa alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia”.

Mempertemukan dengan 5 orang untuk menjelaskan peranan seseorang di dunia. Yah, tiap makhluk memiliki peranannya tersendiri, tidak ada hal yang diciptakan dengan sia-sia. Mungkin tidak sedikit manusia yang mempertanyakan untuk apa mereka tercipta dan lain sebagainya. Sebagian mungkin memutuskan memberi makna sendiri pada hidup mereka. Yah, mungkin para muslim yang berilmu pun akan langsung menjawab bahwa manusia tercipta untuk menyembahNya. Tapi dari banyaknya yang mengetahui dan menyatakan, mungkin hanya Dia yang mengetahui berapa banyak yang bersungguh-sungguh menyatakannya dengan melibatkan tindakannya–entah tindakan seperti apa yang benar.

Dan sekarang jadi agak penasaran, sebagaimana beliau yang mungkin mengetahui bahwa pada gambaran besarnya beliau bertugas untuk mengajarkan dan mengenalkan anak muda terhadap agama, kira-kira dimana perananmu, dan dimana perananku dalam gambaran besar? Kupikir kita tidak perlu ke alam baka terlebih dahulu untuk mengetahuinya cukup memulainya dengan membuat beberapa pilihan, sejak saat ini 🙂