Racau-Khutbah Jumat

Khutbah Jumat kali ini agak, hm, subjektif. Terkait dengan keputusan MK kemarin, membahas tentang pemimpin. Kemarin para anggota labku pun tidak sedikit yang tertarik untuk menyaksikan detik-detik keputusannya, penasaran plot twist apa lagi yang akan terjadi dalam keberlanjutannya, terutama akan respon dari beberapa pihak terkait.

Sang penceramah dengan lantang mengobarkan semangat menolak kebangkitan suatu kaum kiri dan berhati-hati terhadap pemimpin yang menipu masyarakat dengan memperlihatkan sosok bahwa dirinya baik. Aku tidak punya dendam atau masalah pribadi dengan para sosok yang dicalonkan, tapi jika semua informasi diterima begitu saja, agak sulit menilai apakah semua calon itu sama baiknya atau sama buruknya. Mungkin juga sama-sama handal dalam hal tipu-menipu, entah lah, aku hanya bisa menilai hal yang terlihat, bukan hal yang tersirat. Dan aku juga memprioritaskan informasi yang kupastikan sendiri dibandingkan dari informasi simpang siur yang diberikan orang lain, apa salahnya memeriksa ulang fakta? Karena itu aku agak kesulitan dalam mencerna kenapa kita perlu berhati-hati dan membangun opini negatif terhadap suatu sosok, tidakkah lebih baik kita menyelipkan nama sosok tersebut dalam doa agar Yang Maha Kuasa menjadikan beliau pemimpin yang adil, baik dan menyejahterakan rakyatnya? Kupikir terlepas dari siapapun yang terpilih, tidak ada salahnya melakukan hal demikian, bukan? Terlebih jika semuanya sama mengkhawatirkannya.

Tapi saat ini tertarik aku tertarik untuk membahas poin pertama, tentang kebangkitan kaum tersebut. Aku tidak terlalu mengerti tentang kebencian berlebih pada mereka, yang jelas aku mendengar bagaimana orang yang diketahui–atau hanya sekedar dituduh meski tuduhannya hanya persepsi tanpa bukti–merupakan bagian dari atau punya hubungan dengan golongan itu dia akan kehilangan haknya sebagai manusia. Entah apakah itu hanya terjadi di orde lama atau bagaimana, karena aku juga pernah membaca artikel dimana Nelson Mandela bingung–atau marah, aku tidak ingat redaksi tepatnya–karena saat berkunjung ke Museum Konferensi Asia-Afrika pada masa orde lama, tidak terlihat adanya peran tokoh dari golongan tersebut dalam museum tersebut saat itu. Sejarah tentang golongan itu di negeri ini memang tidak berakhir dengan baik, tapi sampai sekarang aku masih penasaran apakah bagian awal dan tengah dari sejarah tersebut sama buruknya atau tidak.

Apa hubunganku dengan golongan tersebut? Hm, hampir tidak ada. Ada seorang sahabatku yang penghafal Quran–seingatku terakhir bertemu dia sudah hafal belasan juz lebih–yang terlibat dalam gerakan kiri di sebuah universitas terkemuka di depok. Ada juga sahabat jauh yang, meski perkenalannya merupakan salah satu kesalahan dalam pemanfaatan jejaring media sosial, merupakan bagian dari komunitas pembelajaran alternatif yang lumayan terkemuka di Salatiga, yang di salah satu artikel yang sempat kubaca menyatakan bahwa komunitasnya mirip golongan itu. Ada juga seorang sahabat dan seorang (mantan) guru sma yang berpaham kiri meski jumlahnya bisa dihitung jari. Empat orang. Kelihatannya itu saja.

Dan sekarang aku tertarik untuk meracau tentang yahudi. Sedikit pembenaran atas tindakanku, aku tidak terlalu tertarik pada teori konspirasi yang berusaha mencocok-cocokkan hal agar semuanya dapat masuk ke dalam teori tersebut, aku lebih suka mengambil beberapa hal sebagaimana adanya dan memikirkan apa yang mungkin terjadi berdasarkan itu. Membuat hipotesis, yang mungkin akan sangat sulit untuk dibuktikan, itu pun kalau dapat dilakukan.

Aku lumayan suka menonton film tentang apa yang terjadi saat perang dunia kedua, seperti “The King’s Speech”, “The Book Thief”, “The Railway Man”, dan kemarin malam saat istirahat sejenak dari TA, “The Boy In The Striped Pajamas”. Dan pada film yang mengambil latar jerman seperti “The Book Thief” dan “The Boy In The Striped Pajamas”, kaum yahudi merupakan kaum yang tertindas. Sementara sekarang, yang kita lihat di berbagai berita, kaum yahudi (khususnya mungkin yang berpaham zionis) merupakan kaum yang menindas. Sementara dalam film “The Railway Man”, aku menemukan kemungkinan bahwa orang yang sempat mengalami penyiksaan dapat tumbuh menjadi orang yang, hm, dapat dikatakan mengerikan dan melampiaskan amarahnya ke sembarang orang dalam beberapa kesempatan. Dan jadi terpikir, jika tidak ada perang dunia kedua dimana sebagian besar kaum yahudi mengalami penyiksaan dan lain sebagainya, akankah ada israel (mungkin dan paham zionis) yang menindas?

Dan agak terpikir, jika golongan tersebut mendapat kesempatan untuk berkuasa kelak, akankah mereka juga menjadi kaum yang menindas?

Aku lumayan suka dengan akhir cerita dari “The Railway Man”. Dimana setelah sang veteran berhadapan langsung dengan orang yang pernah menyiksanya, akhirnya dia memutuskan: “Sometimes, the hating has to stop”. Bukan hanya dari satu kubu, tapi dari semua pihak yang terlibat. Sikap saling membenci lah yang perlu dihentikan.

Entah bagaimana di Palestina sana, akankah perang berhenti atau tidak. Berdamai bukan berarti menghilangkan perbedaan diantara keduanya. Membenci dan tidak setuju terhadap pandangan orang lain jelas merupakan hal yang berbeda. Penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, dan penyiksaan pun bukan hal yang sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Lagipula, bukankah hidayah hanyalah milikNya? Meski orang yang mendapat–atau mengaku-ngaku telah mendapatkan–hidayah memaksakan pemahamannya kepada orang lain, tetap saja hanya Dia yang punya kekuatan untuk membolak-balikkan hati makhlukNya. Yah, setidaknya mereka yang mengingatkan telah mendapatkan alasan untuk berlepas diri dari kewajibannya bukan?

Racauan ini jauh dari kata selesai, dan mungkin lebih jauh lagi dari kata jelas. Sebagaimana tugas yang harusnya kukerjakan sekarang meski deadline telah semakin dekat. Yah, tidak salah menyimpan sisanya untuk diri sendiri dan kembali mengerjakan kewajiban kan? Jika penasaran, lanjutkan saja sendiri. Bukankah kita telah diberi akal untuk berpikir? Selama dasarnya benar, seharusnya tidak akan ada yang salah dengan pemikiran tersebut, kan?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s