Random: Kekhawatiran

“Kawan2 mohon doanya, biar lamaran saya diterima oleh gadis idaman saya malam ini ya.
Beneran minta bantuan doa, terutama yang punya hubungan dekat dgn Allah.
Jazaakumullaah!”
“Minta tolong doain saya jd org yg soleh, dan dia jd wanita solehah. Kalau diterima agar dilancarkan urusan pernikahannya dan setelah menikah punya keterunan yg soleh dan solehah.
Jazaakumullaah!”

Message di sebuah grup, dikirim dari sahabat yang lebih tua enam bulan, lalalalalalalalalalalalalalala. Yang dikirim tidak berapa lama dari pesan curhat seorang sahabat yang khawatir tidak mendapat pasangan. Entah mengapa jadi merasa salah angkatan, perasaan yang telah lama hilang sejak memutuskan memanggil kawan sma di kelas sepuluh yang lebih tua tanpa embel-embel “kak” karena terasa aneh setelah lulus dari akselerasi -_-

Oke, aku tahu cepat atau lambat akan dapat pesan serupa, terlepas dalam bentuk curhatan, permohonan doa atau langsung dalam bentuk undangan. Tapi agak mempertanyakan kenapa sekarang, saat baru merasa diusir dari kampus karena muka-muka familiar mulai menghilang, untuk membuatku merasa terusir dari dunia jomblo juga. Seperti kata Calvin, “That’s one remarkable thing about life: it never get so bad that it couldn’t get worse.” -_-

Agak unik apa yang dilakukan otak saat recovery setelah bekerja dalam waktu lama. Baru saja sidang kamis lalu, mengurus persyaratan wisuda–yang awalnya terkesan sulit karena masalah administrasi–jumat lalu, mengikuti pelatihan kebencanaan sabtu lalu, membantu junior mengadakan pelatihan mengajar ahad lalu, dan secara teknis tidak memiliki kesibukan sama sekali hingga saat ini. Di saat sedang terpikir tidak bergunanya diri saat ini, melihat teman-teman yang sudah mendapat pekerjaan, melanjutkan studi, dan bahkan mengirim pesan seperti diatas, seolah membenarkan pemikiran negatif yang telah ada, hebat -_-

Bukannya nyampah sih, saat ini juga aku harusnya mencari informasi studi dan beasiswa serta belajar bahasa untuk persiapan sertifikasi kalau ingin melanjutkan studi di luar negeri. Sudah ada beberapa brosur, beberapa jurusan dan universitas hasil googling dan beberapa keterangan beasiswa, yang sama sekali tidak kubuka sejak waktuku luang akibat distraksi dari game dan film di laptop yang selama ini tersegel. Oke, itu berarti aku nyampah. Menyebalkan saat usaha untuk menjustifikasi dan memotivasi diri berakhir dengan kondisi lebih menyalahkan diri seperti ini :/

Tidak berminat untuk hidup di dunia serba cepat dimana semua dikebut seolah besok maut menjemput, tapi penasaran juga seharusnya kehidupan ini berlangsung secepat apa. Dan jadi terpikir, apa mungkin selama ini aku yang menjalani kehidupan selambat siput, sementara yang lain terus bekerja seulet semut ._.

Khawatir, waswas, entah akan apa. Pekerjaan, pasangan, masa depan, tabungan, kelihatannya selalu ada hal yang dapat dikhawatirkan manusia. Dan itu baru sebagian kecil kekhawatiran yang timbul setelah kekhawatiran akan wisuda tidak terbukti, aku bisa lulus dua setengah pekan lagi. Dan mungkin sebagian besar kekhawatiran yang terpikir saat ini pun tidak akan terbukti. Agak heran kenapa sering sekali terpikir demikian meski tau kenyataan, pertanda terikat pada dunia? Kelihatannya perlu mengikuti saran guruku dulu: baca An-Nas, mohon perlindungan dari perasaan waswas yang dibisikkan jin ataupun manusia.

Ah, sudah lah. Kelihatannya kalau dilanjutkan perasaan tidak berguna itu akan menjadi fungsi yang terus melakukan iterasi, nilainya akan terus bertambah besar selama prosesor masih beroperasi. Waktunya untuk berhenti dan mengistirahatkan diri, sembari berharap semuanya akan membaik suatu hari nanti. Cause to be fair, it also never get so good that it couldn’t get better, depend on what your focus is, right?

Iklan

Good Riddance (Time of Your Life)

It’s something unpredictable, but in the end is right,
I hope you had the time of your life.

Entah kenapa akhir-akhir ini jadi agak berpaling ke musik. Kelihatannya benar perkataan beberapa kawan, terlepas dari mau wisuda kapan, bereskan semua tugas secepatnya. Karena kalau dibiarkan terlalu lama kamu sendiri akan jenuh mengurusnya. Dan kejenuhan terhadap dunia perkuliahan, terutama di saat tugas akhir hampir–tapi belum–selesai, itu memang bukan hal yang menyenangkan :/

Berhasil bertahan selama 15 tahun dalam menghadapi kejenuhan di dunia institusi formal, penasaran berapa lama bisa bertahan dari kejenuhan jika berada di dunia yang penuh rutinitas seperti dunia kerja sebelum mulai bosan dan abai :/

Setelah semua beres, istirahat, kumpulkan niat, perbaharui wawasan seputar teknologi terkini dan mulai cari informasi lagi untuk bersiap menuntut ilmu dengan lebih baik.

It’s something unpredictable, but in the end is right. I hope we have the time of our life 😀

Sidang Skripsi

I might need to consider this option

Penyerangan yang baik adalah pertahanan terbaik, hm.

Yah, semakin dekat ke hari persidangan skripsi, semakin absurd apa yang ada dalam pikiran.

Haha, sudah lah, toh masih banyak juga yang harus dilakukan.

Bismillah 🙂

Rasa Takut

Kadang seseorang berdoa ke Allah memohon diberi yang terbaik untuk dia, dan saat Allah memberi yang terbaik untuknya, orang tadi memiliki kesedihan walau sedikit, karena yang terbaik untuknya bukan seperti yang dia harapkan.

Mengutip dari seorang senior, lumayan benar sih. Yap, sudah agak lama sampai ke tahap acceptance dalam 5 stages of grief, tapi baru mulai bisa berpikir jernih sekarang, setelah menghabiskan waktu lumayan lama di depan laptop dengan film dan update komik terbaru. Hahaha, ya sudah lah.

Dan sekarang jadi mempertanyakan kenapa harus lulus 4 tahun? Angkatanku mungkin salah satu anomali dalam sejarah program studi, dan tergolong taat aturan mengingat angkatan sebelumku meluluskan mahasiswa di bulan oktober tidak sebanyak tahun ini. Batas waktu untuk angkatan dibawahku (atau 2 angkatan dibawahku ya? Hm, entah, aku lupa) adalah 5 tahun, menyusut setahun dari batas waktu di angkatanku, yang juga menyusut setahun dibandingkan dengan angkatan swasta saat aku baru masuk kampus ini. Kelihatannya kita hidup di dunia yang serba cepat, dan kadang aku mempertanyakan, seberapa cepat sih kita perlu hidup? Dan sekarang jadi terpikir bahwa lulus terlambat bukan contoh yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kategori grief, kelihatannya aku hanya terbawa suasana saja. Toh setelah lulus pun rencanaku adalah istirahat setahun sembari mencari informasi dan bersiap untuk melanjutkan studi di luar negeri, dan kelihatannya itu tetap dapat kulakukan baik tanpa maupun dengan status mahasiswa. Meski memang terbawa suasana itu tidak sepenuhnya salah, setidaknya tugasku akhirnya selesai, bahaya jika aku mengabaikan tugasku terlalu lama, kan?

Aku bukan orang yang percaya pada pepatah “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dalam urusan dunia, siapa yang menjamin kita masih hidup saat harusnya kita bersenang-senang? Oke, beberapa berkata dunia itu penjara, namun bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menikmati keberadaan di dalam penjara, bukan? Setidaknya masih banyak hal yang bisa dipelajari, dilakukan, dan bahkan ditinggalkan. Menuntut ilmu bisa dilakukan dimana saja, penjara atau bukan, dan begitu pula berbuat baik dan meninggalkan cinderamata, meski yang ditinggalkan hanyalah hal seperti coretan asal di beberapa tembok atau dinding toilet umum, setidaknya ada yang bisa ditinggalkan bukan?

Dan sekarang agak terpikir, kelihatannya aku hanya takut. Takut pada ketidaktahuan apa yang akan terjadi jika terlambat lulus, takut akan tertinggal dari sahabat lainnya dalam hal studi dan karir, takut pada ketidakpastian akan masa depan. Kelihatannya aku perlu sering membaca Surat An-Nas, memohon perlindungan dari bisikan waswas yang dibisikkan jin dan manusia. Masa depan bisa dipersiapkan, namun hasilnya bagaimana bukan sepenuhnya urusan kita, bukan?

Tapi, terkait rasa takut, lumayan suka kutipan ini

Let me tell you about scared. Your heart is beating so hard, I can feel it through your hands. There is so much blood and oxygen pumping through your brain, it’s like rocket fuel. Right now you could run faster, and you could fight harder and jump higher than ever in your life, and you are so alert it’s like you can slow down time. What’s wrong with scared? Scared is a superpower–it’s your superpower

12th Doctor-Listen

Rasa takut normal untuk dimiliki, bahkan itu memberikan kekuatan lebih, setidaknya cukup kuat untuk menyelesaikan tugasku disini, hahaha. Tapi seperti kata Paman Ben di Spiderman,

With great power, comes great responsibilities

Kelihatannya rasa takut juga membebankan beberapa tanggungjawab kepada kita, bukan? 🙂

Yah, terlepas dari bagaimana hari esok, nikmati saja hari ini terlebih dahulu. Teringat perkataan Lao Tzu

If you are depressed you are living in the past.
If you are anxious you are living in the future.
If you are at peace you are living in the present.

Tambahan pengingat dari Dalai Lama

You are so anxious about the future that you do not enjoy the present. You therefore do not live in the present or the future. You live as if you are never going to die, and then die having never really lived.

Yah, tidak ada salahnya mencoba mengambil hikmah dari orang lain, setidaknya pengingat tambahan jika kepanikan melanda dan menyebabkan kita lupa bahwa hidup adalah ujian dan ada yang mengatur segalanya. But for now, just enjoy life in peace, eh? 😀

Crazy-Bahan Pemikiran

Musik apik, lirik epik.

Mempertanyakan logika dari kehidupan saat ini, salah satu lagu favorit dari Simple Plan.

If you open your eyes, you’ll see that something is wrong 

Salah satu lagu yang tepat untuk rehat sejenak dari Tugas Akhir, setidaknya menenangkan diri dengan mempertanyakan kebenaran sistem saat ini, mengingat memang ada beberapa hal yang agak absurd jika dipikir kembali.

Memang beberapa pohon tidak membentuk hutan, dan kejadian yang dibahas tidak dapat digeneralisir terjadi pada semua daerah di muka bumi. Namun, tetap ada beberapa pohon, kejadian itu terjadi, meski entah berapa banyak dan dimana.

 

Ah, sudah lah, mengingat batas waktu tinggal 3 hari, waktunya bekerja kembali 🙂