Sekali-sekali, mahasiswa memang perlu digampar!

Jleb

Sekali-sekali, mahasiswa memang perlu digampar!.

Iklan

Flat-Livetune

Akhir-akhir ini lumayan banyak melihat anime, dan lumayan beruntung berhasil menemukan beberapa anime yang “inspiratif”.

Atau menemukan beberapa lagu yang menarik, seperti ini šŸ™‚

If I Die Young

A penny for my thoughts, oh, no, I’ll sell ’em for a dollar
They’re worth so much more after I’m a goner
And maybe then you’ll hear the words I been singin’
Funny when you’re dead how people start listenin’

Eargasm.

Karya


Enchanted-Owl City

Lagu yang ditemukan belum lama ini saatĀ sedang mengikuti serial Hyouka. It’s a bit of romance, but I really like how it shows a simple detective story. This shows proved that you don’t always have to show a murder to create a good mystery. Oke, agar disayangkan bagian misterinya tidak tergambar di dalam karya fan ini, tapi musiknya lumayan juga. Dan, menemui anime yang sederhana dalam bercerita seperti Hyouka saat ini mungkin tidak terlalu mudah. Anime recommended lainnya: Kino no Tabi (Kino’s Journey), kisah tentang perjalanan Kino bersama sepeda motornya,Ā Hermes, ke berbagai negeri.

Menemukan informasi menarik saat mencari lagu ini. Lagu ini merupakanĀ aransemen dari lagu berjudul sama karya penyanyi lain, yang dibuat untuk menyampaikan jawaban dan pesan kepada penyanyi tersebut. Jawaban dan pesan dalam sebuah karya.

Mengingat sekarang sedang ada beberapa kebijakan pemerintah yang ramai diperbincangkan dan dipertanyakan, jadi terpikir, kenapa tidak menjawab dengan karya? Bisa dengan mengaransemenĀ musik yang mengkritisi, menciptakanĀ hal yang membantu beradaptasi, mengembangkan teknologi dan lain sebagainya untuk kehidupan yang lebih baik?

Setidaknya jauh lebih menyenangkan melihat hal itu dibandingkan dengan perdebatan tanpa dasar dengan sumber fakta yang diragukan, bukan?

Random: Pikiran Asal selama Pasar Seni

Hari ini pasar seni. Acara meriah di itb yang diselenggarakan tiap 4 tahun sekali. Aku tidak mengerti banyak tentang seni, bukan pengagum maupun penikmat, hanya orang yang numpang lewat sekalian melihat-lihat. Semua hal yang heboh dan ramai dibicarakan selalu mampu menimbulkan rasa penasaran, bukan?

Sudah berencana untuk pergi pagi, agar sempat menikmati seluruh lokasi tanpa harus antri. Setidaknya kali ini rencana bukan sekedar wacana, meski ternyata hasilnya tidak banyak berbeda. Limabelas menit sebelum acara resmi dimulai–rekor kedatangan terawal pribadi setelah resmi menjadi pengangguran–pun massa sudah ramai. Oke, skenario ideal tidak terwujud, umum terjadi dalam kehidupan. Tetap nikmati saja lah, toh terlanjur sudah.

Salah satu hal yang menyenangkan dari pergi sendiri: dapat menikmati pemandangan dan menyerap informasi dengan efisien karena minimnya distraksi dari konvensi untuk basa-basi serta tiadanya kekhawatiran akan terpisah dari orang yang menemani kita pergi, atau yang kita temani pergi. Bahkan mungkin akan ada kebebasan untuk beraksi karena tidak ada urgensi untuk menjaga persepsi orang lain. Heran juga dengan beberapa kawan yang mempertanyakan kesendirianku dalam event ini. Dari menjawab “iya, cuma sendiri” hingga bosan menjawab demikian dan menemukan jawaban default baru, “Gak sendirian kok, kiri-kanan ada malaikat.” Yah, sulit mengajak orangtua dan adik-adik selama pintu kemana saja doraemon belum diproduksi, yang biasanya mendampingi seperti tosh dan lumi pun sedang mengisi tenaga di rumah karena baterai keduanya sekarat, kawan kosan pun antara sudah angkat kaki dari sini atau masih tidur di pagi hari. Ada pilihan, seperti menghubungi kontak yang disimpan lumi atau mengajak kawan di media sosial dengan tosh, tapi kelihatannya sendiri masih nyaman kok.

9.45, 2 jam berlalu, massa sudah membludak. Kasihan juga pada walikota setempat yang hadir karena sulitnya mobilisasi di tempat, akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Bukan karena benci pada keramaian, tidak nyaman saja. Ruang pribadi terlalu terbatas dan tingkah laku massa sulit untuk diprediksi. Meminimalisir kemungkinan buruk juga, meski tosh dan lumi ditinggal tapi dompet masih di kantong, kemungkinan jatuh atau berpindahtangan jelas tidak nol.

Akhirnya kembali ke kosan. Tidur-tiduran sampai bosan, lalu internetan. Lalu…. Hujan. Yah, pawang hujan kelihatannya gagal. Bukan hal yang aneh, bahkan di negara maju pun selalu ada rubrik weather forecast, ramalan cuaca. Even the developed just able to forecast the weather, controlling it means we’re on a different level. Jika pawang hujan sehandal itu, kenapa tidak digunakan untuk menuntaskan masalah banjir dengan memindahkan hujannya ke laut sana? Atau mengatasi masalah kekurangan energi dengan membuat petir menyambar hanya di satu lokasi untuk kemudian disimpan? Ah, terpikir topik skripsi bagi mahasiswa tingkat (semoga) akhir dari program studi meteorologi, klimatologi atau semacamnya yang berminat: Pengujian efisiensi metode pawang hujan … (bisa dari mazhab atau golongan apa saja) dalam mengendalikan cuaca (bisa juga dispesifikkan cuaca macam apa yang ingin dihasilkan). Jika ada yang akan atau telah melakukan riset serupa mungkin mau sekalian mempublikasikan hasilnya disini?

Terlepas dari semuanya, inilah bandung. Kota yang unik, kadang menakutkan seperti saat suporter klub bola ricuh, tak jarang merepotkan dengan banyaknya one-way, trotoar pejalan kaki yang rusak, apalagi maraknya galian yang menyebabkan lumpur di mana-mana. Tapi tetap saja kota ini selalu ramai, entah dengan acara besar, ataupun dengan kegiatan kecil yang kita lakukan bersama. Dan, setiap momennya bisa dikenang, bagi yang menginginkan.

Terima kasih atas segala hal yang terjadi selama 4 tahun ini, bandung šŸ˜€

Random: Pemerintahan

Oke, sekarang waktunya random kembali, tuangkan isi pikiran agar tidak merusak ingatan. Terlalu lama rehat untuk belajar bahasa tambahan, kelihatannya keren aja. Dan progress saat ini: tahap denial, untuk apa mengingat hal yang bisa dicatat? Aku tidak berpikir bahwa membawa kamus untuk berkomunikasi dengan orang asing merupakan tindakan yang buruk, haruskah kamus dilarang untuk digunakan saat ujian sertifikasi bahasa? Haha, harus diakui, aku lebih suka meracau dengan bahasa ibu dibandingkan dengan menulis 4 buah pesan terstruktur dalam bahasa asing dimana perbendaharaankataku tidak terlalu banyak. Ah, sudahlah, sudah malam, waktunya meracau!

Sebuah pertanyaan dari seorang sahabat: Bagaimana pendapatku terhadap pemerintahan pada saat ini? Baik atau buruk? Dunia maya sedang penuh dengan argumen, dari tuduhan jualan negara hingga hilangnya subsidi bahan bakar, dari argumen orang indonesia terlalu malas hingga berbagai perandaian, kekhawatiran akan tuduhan boneka dan lain sebagainya.

Wajar dia ingin berdiskusi tentang itu. Entah kenapa timeline facebookku sedang penuh dengan berita serupa, dan sulit untuk mengetahui apa tujuan kabar tersebut disebarluaskan. Menyetir opini dan menghancurkan persatuan bangsa jelas merupakan kemungkinan yang tidak bisa diabaikan, karena itu aku heran kenapa belum ada teori konspirasi–yang ramai bermunculan saat prosesi pemilihan presiden lalu–yang muncul saat ini. Yang biasanya membuat sedang kehabisan ide mungkin, atau jangan-jangan mereka sekarang sedang berkonspirasi dengan menyetir opini publik?

Hahaha, bukan bermaksud menuduh, hanya memberikan contoh. Kesimpulan yang diambil dari data yang sangat sedikit jelas tidak dapat digolongkan sebagai kesimpulan yang valid, terlepas dari seindah apapun diksi yang digunakan penulisnya. Itulah mengapa kemampuan untuk membedakan opini dan fakta penting. Bisa saja orang-orang yang menyebarkan berita merupakan orang-orang yang khawatir akan nasib bangsanya. Bukan tidak mungkin juga bahwa naiknya harga bbm merupakan cara pemerintahan saat ini untuk menyelamatkan nasib rakyat. Kedua opini itu mungkin luput dari pikiran kita, namun hanya karena itu luput dari pikiran bukan berarti kita dapat langsung membenarkan pendapat apapun yang ada di pikiran kita tanpa pembuktian. Oke, kasus pertama dapat menimbulkan perpecahan di dunia maya jika disampaikan dengan cara yang tidak etis, dan kasus kedua dapat menyusahkan rakyat jika tidak di-follow up dengan baik. Jika mereka sama-sama peduli walaupun berbeda perspektif, bukankah itu hal yang baik?

Yah, mohon maaf, mungkin beberapa oknum memang bisa langsung menarik kesimpulan dari informasi dalam media bahwa sang presiden jualan negara dan tidak peduli rakyat kecil. Namun karena aku tidak secerdas mereka, aku perlu jauh lebih banyak waktu dan informasi untuk menyimpulkan, termasuk info kevalidan berita dan media, keuntungan-kerugian negara yang dijual dan pembeli negara, “kecil”nya masalah yang dihadapi golongan dengan kemampuan finansial rendah setelah subsidi dialihkan, sektor yang mengalami perbaikan dari subsidi yang dialihkan dan lain sebagainya. Yaaah, menurutmu bagaimana lagi orang-orang yang miskin pengetahuan akan negara sepertiku mampu menarik kesimpulan? Tidak mungkin orang-orang terlalu malas menggunakan otaknya sendiri sehingga mencatut pendapat orang lain tanpa dikaji ulang untuk bersikap. Iya kan?

Karena kemiskinan wawasanku akan negara, kepada siapapun yang saat ini sedang tidak punya urusan penting sehingga memilih untuk membaca tulisan ini, mari doakan pemimpin kita–siapapun beliau–agar amanah dalam menjalankan tugasnya. Tentu kritikan dan pengawasan tetap perlu dilakukan, bagaimana lagi kita tahu doa kita terkabul atau tidak? Yah, kecuali jika ada yang berpikir kritikan tanpa solusi–terlebih jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat sehingga berpotensi menghancurkan persatuan bangsa–yang dibuat dan hanya disebar di dunia maya tanpa pernah sampai dan dibaca pemerintah yang saat ini berkuasa mampu menjadikan negara ini lebih baik. Katanya doa adalah senjata terhebat muslim yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini, bukan begitu? šŸ™‚

Mari jabarkan dulu kubu-kubu yang sedang aktif beradu argumen di dunia maya, presiden lovers dan presiden haters. Perlu diakui bahwa kedua kubu sama-sama memiliki kekurangan dalam argumennya, atau setidaknya pada argumen sebagian anggota dari kedua kubu di timeline facebookku, kalau ada yang tidak ingin digeneralisir. Ya ya, manusia selalu tidak ingin disamakan dengan manusia lain dalam tingkah yang menurut publik buruk, meskipun tidak banyak perbedaan yang terlihat. Terserah lah. Yang jelas, satu kubu terkesan terlalu mengecilkan kesulitan sejumlah oknum dan menstereotype masalah yang ada, sementara kubu lainnya terkesan terlalu buruk prasangkanya hingga sampai pada tingkat seolah pihak yang mereka kritisi sama sekali tidak punya kebaikan dan pasti bermotif buruk. Setelah dipikir lagi, aku mulai bisa memaklumi kondisi rapat wakil rakyat yang waktu itu beredar di youtube, menurut kalian wakil seperti apa yang paling tepat untuk rakyat yang seperti ini?

Meski tidak semua, tapi tidak sedikit juga yang taqlid pada tokoh, kelompok atau argumen tertentu, seolah itu satu-satunya tokoh, kelompok atau argumen yang benar, bahkan hingga menggunakan berbagai perandaian jika begini pasti begitu yang hanya terwujud dalam imajinasi mereka dan entah bagaimana jika diimplementasikan di dunia nyata. Dulu kupikir Arsenal akan mampu mendominasi liga primer jika Sanchez pindah kesana atas dasar performa awal musim lalu, dan imajinasiku itu tidak terbukti di dunia nyata. Well, I’m still a gooners at least. VCC! >:D

Oh iya, bahasan tentang partai politik saat ini kelihatannya lebih baik dilupakan, tidak ada partai yang bisa dimengerti saat ini. Ada partai yang berjanji subsidi tidak akan dialihkan dan lihatlah apa yang terjadi baru-baru ini, ada juga partai yang anggotanya sibuk mencaci pemerintahan saat ini meski koalisinya mengatakan akan memberi waktu bagi pemerintahan untuk menstabilkan diri sebelum berkomentar. Oke, tepatnya, tidak ada partai yang bisa kumengerti saat ini. Hebat ya usaha mereka mencitrakan diri mereka sebagai golongan yang paling mengerti masalah rakyat pada awal tahun, dan akhirnya malah memusingkan rakyat–baca: aku. Aku bagian dari rakyat juga kan?–di akhir tahun seperti saat ini. Kelihatannya aku mulai mengerti alasan keberadaan golongan putih -_-

Oke, sekian komentar atas tingkah laku unik yang sedang marak di negeri ini, waktunya menjawab pertanyaan temanku itu: Aku belum punya pendapat.

Bagaimana pendapat kalian terhadap bayi yang baru lahir? Bayi tersebut akan jadi orang yang baik atau akan jadi orang yang buruk? Menanyakan pendapat terhadap hal yang munculnya belum lama menurutku tidak jauh berbeda dengan menanyakan pertanyaan tersebut: Belum bisa dijawab karena informasi belum cukup.

Ayolah, realistis sedikit, informasi apa yang bisa kujadikan dasar untuk menjawab pertanyaan itu? Daftar nama, twitter, nomor handphone dan fitur unik para menteri? Aktivitas presiden “berjualan negara” yang persyaratan kontrak kerjanya saja belum jelas berapa besar keuntungan bagi “pembeli negara”, mengingat dana untuk mengembangkan negara tidak sedikit dan tidak banyak manusia di negeri ini yang mampu berinvestasi di dalamnya? Subsidi BBM yang dialihkan namun belum diketahui ke sektor mana dan apa manfaatnya bagi bangsa?

Sudah kukatakan di awal, aku bukan orang yang cerdas, terlebih dalam wawasan akan negara. Kesimpulan macam apa yang mampu kubuat dari informasi yang hanya sejumlah itu? Kuakui, kalian pasti sangat cerdas jika mampu menarik kesimpulan dari informasi sejumlah itu. Mau menceritakan kesimpulan kalian di kolom komentar, berbagi ilmu kenegaraan bagi yang miskin dan (mungkin akan) membutuhkan sepertiku? šŸ™‚

Tambahan, baru-baru ini aku membaca artikel tentang pilihan dan produktivitas. “No matter how rational and high-minded you try to be, you canā€™t make decision after decision without paying a biological price.” Bagi yang tertarik silahkan buka web berikut: http://knote.com/2014/11/12/too-many-decisions-killing-your-brain/, kira-kira artikel tersebut meminta kita untuk memaklumi oknum-oknum dalam posisi yang sangat berhubungan dengan decision making, karena banyaknya keputusan yang dibuat dapat berpengaruh kepada kualitas keputusan yang dibuat, khususnya di masa depan saat oknum tersebut sudah terlalu banyak membuat keputusan.

Hei kalian yang sibuk menulis kritikan, memang kita perlu untuk mengritisi dan mengawasi jalannya pemerintahan yang ada, tapi apa kalian yakin kalau kalian tidak tertarik untuk ikut mendoakan pemimpin kalian? Siapatau mengritisi dan mengawasinya dapat dilakukan dengan lebih tenang, bukan? šŸ™‚