Random: Pemerintahan

Oke, sekarang waktunya random kembali, tuangkan isi pikiran agar tidak merusak ingatan. Terlalu lama rehat untuk belajar bahasa tambahan, kelihatannya keren aja. Dan progress saat ini: tahap denial, untuk apa mengingat hal yang bisa dicatat? Aku tidak berpikir bahwa membawa kamus untuk berkomunikasi dengan orang asing merupakan tindakan yang buruk, haruskah kamus dilarang untuk digunakan saat ujian sertifikasi bahasa? Haha, harus diakui, aku lebih suka meracau dengan bahasa ibu dibandingkan dengan menulis 4 buah pesan terstruktur dalam bahasa asing dimana perbendaharaankataku tidak terlalu banyak. Ah, sudahlah, sudah malam, waktunya meracau!

Sebuah pertanyaan dari seorang sahabat: Bagaimana pendapatku terhadap pemerintahan pada saat ini? Baik atau buruk? Dunia maya sedang penuh dengan argumen, dari tuduhan jualan negara hingga hilangnya subsidi bahan bakar, dari argumen orang indonesia terlalu malas hingga berbagai perandaian, kekhawatiran akan tuduhan boneka dan lain sebagainya.

Wajar dia ingin berdiskusi tentang itu. Entah kenapa timeline facebookku sedang penuh dengan berita serupa, dan sulit untuk mengetahui apa tujuan kabar tersebut disebarluaskan. Menyetir opini dan menghancurkan persatuan bangsa jelas merupakan kemungkinan yang tidak bisa diabaikan, karena itu aku heran kenapa belum ada teori konspirasi–yang ramai bermunculan saat prosesi pemilihan presiden lalu–yang muncul saat ini. Yang biasanya membuat sedang kehabisan ide mungkin, atau jangan-jangan mereka sekarang sedang berkonspirasi dengan menyetir opini publik?

Hahaha, bukan bermaksud menuduh, hanya memberikan contoh. Kesimpulan yang diambil dari data yang sangat sedikit jelas tidak dapat digolongkan sebagai kesimpulan yang valid, terlepas dari seindah apapun diksi yang digunakan penulisnya. Itulah mengapa kemampuan untuk membedakan opini dan fakta penting. Bisa saja orang-orang yang menyebarkan berita merupakan orang-orang yang khawatir akan nasib bangsanya. Bukan tidak mungkin juga bahwa naiknya harga bbm merupakan cara pemerintahan saat ini untuk menyelamatkan nasib rakyat. Kedua opini itu mungkin luput dari pikiran kita, namun hanya karena itu luput dari pikiran bukan berarti kita dapat langsung membenarkan pendapat apapun yang ada di pikiran kita tanpa pembuktian. Oke, kasus pertama dapat menimbulkan perpecahan di dunia maya jika disampaikan dengan cara yang tidak etis, dan kasus kedua dapat menyusahkan rakyat jika tidak di-follow up dengan baik. Jika mereka sama-sama peduli walaupun berbeda perspektif, bukankah itu hal yang baik?

Yah, mohon maaf, mungkin beberapa oknum memang bisa langsung menarik kesimpulan dari informasi dalam media bahwa sang presiden jualan negara dan tidak peduli rakyat kecil. Namun karena aku tidak secerdas mereka, aku perlu jauh lebih banyak waktu dan informasi untuk menyimpulkan, termasuk info kevalidan berita dan media, keuntungan-kerugian negara yang dijual dan pembeli negara, “kecil”nya masalah yang dihadapi golongan dengan kemampuan finansial rendah setelah subsidi dialihkan, sektor yang mengalami perbaikan dari subsidi yang dialihkan dan lain sebagainya. Yaaah, menurutmu bagaimana lagi orang-orang yang miskin pengetahuan akan negara sepertiku mampu menarik kesimpulan? Tidak mungkin orang-orang terlalu malas menggunakan otaknya sendiri sehingga mencatut pendapat orang lain tanpa dikaji ulang untuk bersikap. Iya kan?

Karena kemiskinan wawasanku akan negara, kepada siapapun yang saat ini sedang tidak punya urusan penting sehingga memilih untuk membaca tulisan ini, mari doakan pemimpin kita–siapapun beliau–agar amanah dalam menjalankan tugasnya. Tentu kritikan dan pengawasan tetap perlu dilakukan, bagaimana lagi kita tahu doa kita terkabul atau tidak? Yah, kecuali jika ada yang berpikir kritikan tanpa solusi–terlebih jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat sehingga berpotensi menghancurkan persatuan bangsa–yang dibuat dan hanya disebar di dunia maya tanpa pernah sampai dan dibaca pemerintah yang saat ini berkuasa mampu menjadikan negara ini lebih baik. Katanya doa adalah senjata terhebat muslim yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini, bukan begitu?🙂

Mari jabarkan dulu kubu-kubu yang sedang aktif beradu argumen di dunia maya, presiden lovers dan presiden haters. Perlu diakui bahwa kedua kubu sama-sama memiliki kekurangan dalam argumennya, atau setidaknya pada argumen sebagian anggota dari kedua kubu di timeline facebookku, kalau ada yang tidak ingin digeneralisir. Ya ya, manusia selalu tidak ingin disamakan dengan manusia lain dalam tingkah yang menurut publik buruk, meskipun tidak banyak perbedaan yang terlihat. Terserah lah. Yang jelas, satu kubu terkesan terlalu mengecilkan kesulitan sejumlah oknum dan menstereotype masalah yang ada, sementara kubu lainnya terkesan terlalu buruk prasangkanya hingga sampai pada tingkat seolah pihak yang mereka kritisi sama sekali tidak punya kebaikan dan pasti bermotif buruk. Setelah dipikir lagi, aku mulai bisa memaklumi kondisi rapat wakil rakyat yang waktu itu beredar di youtube, menurut kalian wakil seperti apa yang paling tepat untuk rakyat yang seperti ini?

Meski tidak semua, tapi tidak sedikit juga yang taqlid pada tokoh, kelompok atau argumen tertentu, seolah itu satu-satunya tokoh, kelompok atau argumen yang benar, bahkan hingga menggunakan berbagai perandaian jika begini pasti begitu yang hanya terwujud dalam imajinasi mereka dan entah bagaimana jika diimplementasikan di dunia nyata. Dulu kupikir Arsenal akan mampu mendominasi liga primer jika Sanchez pindah kesana atas dasar performa awal musim lalu, dan imajinasiku itu tidak terbukti di dunia nyata. Well, I’m still a gooners at least. VCC!>:D

Oh iya, bahasan tentang partai politik saat ini kelihatannya lebih baik dilupakan, tidak ada partai yang bisa dimengerti saat ini. Ada partai yang berjanji subsidi tidak akan dialihkan dan lihatlah apa yang terjadi baru-baru ini, ada juga partai yang anggotanya sibuk mencaci pemerintahan saat ini meski koalisinya mengatakan akan memberi waktu bagi pemerintahan untuk menstabilkan diri sebelum berkomentar. Oke, tepatnya, tidak ada partai yang bisa kumengerti saat ini. Hebat ya usaha mereka mencitrakan diri mereka sebagai golongan yang paling mengerti masalah rakyat pada awal tahun, dan akhirnya malah memusingkan rakyat–baca: aku. Aku bagian dari rakyat juga kan?–di akhir tahun seperti saat ini. Kelihatannya aku mulai mengerti alasan keberadaan golongan putih -_-

Oke, sekian komentar atas tingkah laku unik yang sedang marak di negeri ini, waktunya menjawab pertanyaan temanku itu: Aku belum punya pendapat.

Bagaimana pendapat kalian terhadap bayi yang baru lahir? Bayi tersebut akan jadi orang yang baik atau akan jadi orang yang buruk? Menanyakan pendapat terhadap hal yang munculnya belum lama menurutku tidak jauh berbeda dengan menanyakan pertanyaan tersebut: Belum bisa dijawab karena informasi belum cukup.

Ayolah, realistis sedikit, informasi apa yang bisa kujadikan dasar untuk menjawab pertanyaan itu? Daftar nama, twitter, nomor handphone dan fitur unik para menteri? Aktivitas presiden “berjualan negara” yang persyaratan kontrak kerjanya saja belum jelas berapa besar keuntungan bagi “pembeli negara”, mengingat dana untuk mengembangkan negara tidak sedikit dan tidak banyak manusia di negeri ini yang mampu berinvestasi di dalamnya? Subsidi BBM yang dialihkan namun belum diketahui ke sektor mana dan apa manfaatnya bagi bangsa?

Sudah kukatakan di awal, aku bukan orang yang cerdas, terlebih dalam wawasan akan negara. Kesimpulan macam apa yang mampu kubuat dari informasi yang hanya sejumlah itu? Kuakui, kalian pasti sangat cerdas jika mampu menarik kesimpulan dari informasi sejumlah itu. Mau menceritakan kesimpulan kalian di kolom komentar, berbagi ilmu kenegaraan bagi yang miskin dan (mungkin akan) membutuhkan sepertiku?🙂

Tambahan, baru-baru ini aku membaca artikel tentang pilihan dan produktivitas. “No matter how rational and high-minded you try to be, you can’t make decision after decision without paying a biological price.” Bagi yang tertarik silahkan buka web berikut: http://knote.com/2014/11/12/too-many-decisions-killing-your-brain/, kira-kira artikel tersebut meminta kita untuk memaklumi oknum-oknum dalam posisi yang sangat berhubungan dengan decision making, karena banyaknya keputusan yang dibuat dapat berpengaruh kepada kualitas keputusan yang dibuat, khususnya di masa depan saat oknum tersebut sudah terlalu banyak membuat keputusan.

Hei kalian yang sibuk menulis kritikan, memang kita perlu untuk mengritisi dan mengawasi jalannya pemerintahan yang ada, tapi apa kalian yakin kalau kalian tidak tertarik untuk ikut mendoakan pemimpin kalian? Siapatau mengritisi dan mengawasinya dapat dilakukan dengan lebih tenang, bukan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s