Random: Pikiran Asal selama Pasar Seni

Hari ini pasar seni. Acara meriah di itb yang diselenggarakan tiap 4 tahun sekali. Aku tidak mengerti banyak tentang seni, bukan pengagum maupun penikmat, hanya orang yang numpang lewat sekalian melihat-lihat. Semua hal yang heboh dan ramai dibicarakan selalu mampu menimbulkan rasa penasaran, bukan?

Sudah berencana untuk pergi pagi, agar sempat menikmati seluruh lokasi tanpa harus antri. Setidaknya kali ini rencana bukan sekedar wacana, meski ternyata hasilnya tidak banyak berbeda. Limabelas menit sebelum acara resmi dimulai–rekor kedatangan terawal pribadi setelah resmi menjadi pengangguran–pun massa sudah ramai. Oke, skenario ideal tidak terwujud, umum terjadi dalam kehidupan. Tetap nikmati saja lah, toh terlanjur sudah.

Salah satu hal yang menyenangkan dari pergi sendiri: dapat menikmati pemandangan dan menyerap informasi dengan efisien karena minimnya distraksi dari konvensi untuk basa-basi serta tiadanya kekhawatiran akan terpisah dari orang yang menemani kita pergi, atau yang kita temani pergi. Bahkan mungkin akan ada kebebasan untuk beraksi karena tidak ada urgensi untuk menjaga persepsi orang lain. Heran juga dengan beberapa kawan yang mempertanyakan kesendirianku dalam event ini. Dari menjawab “iya, cuma sendiri” hingga bosan menjawab demikian dan menemukan jawaban default baru, “Gak sendirian kok, kiri-kanan ada malaikat.” Yah, sulit mengajak orangtua dan adik-adik selama pintu kemana saja doraemon belum diproduksi, yang biasanya mendampingi seperti tosh dan lumi pun sedang mengisi tenaga di rumah karena baterai keduanya sekarat, kawan kosan pun antara sudah angkat kaki dari sini atau masih tidur di pagi hari. Ada pilihan, seperti menghubungi kontak yang disimpan lumi atau mengajak kawan di media sosial dengan tosh, tapi kelihatannya sendiri masih nyaman kok.

9.45, 2 jam berlalu, massa sudah membludak. Kasihan juga pada walikota setempat yang hadir karena sulitnya mobilisasi di tempat, akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Bukan karena benci pada keramaian, tidak nyaman saja. Ruang pribadi terlalu terbatas dan tingkah laku massa sulit untuk diprediksi. Meminimalisir kemungkinan buruk juga, meski tosh dan lumi ditinggal tapi dompet masih di kantong, kemungkinan jatuh atau berpindahtangan jelas tidak nol.

Akhirnya kembali ke kosan. Tidur-tiduran sampai bosan, lalu internetan. Lalu…. Hujan. Yah, pawang hujan kelihatannya gagal. Bukan hal yang aneh, bahkan di negara maju pun selalu ada rubrik weather forecast, ramalan cuaca. Even the developed just able to forecast the weather, controlling it means we’re on a different level. Jika pawang hujan sehandal itu, kenapa tidak digunakan untuk menuntaskan masalah banjir dengan memindahkan hujannya ke laut sana? Atau mengatasi masalah kekurangan energi dengan membuat petir menyambar hanya di satu lokasi untuk kemudian disimpan? Ah, terpikir topik skripsi bagi mahasiswa tingkat (semoga) akhir dari program studi meteorologi, klimatologi atau semacamnya yang berminat: Pengujian efisiensi metode pawang hujan … (bisa dari mazhab atau golongan apa saja) dalam mengendalikan cuaca (bisa juga dispesifikkan cuaca macam apa yang ingin dihasilkan). Jika ada yang akan atau telah melakukan riset serupa mungkin mau sekalian mempublikasikan hasilnya disini?

Terlepas dari semuanya, inilah bandung. Kota yang unik, kadang menakutkan seperti saat suporter klub bola ricuh, tak jarang merepotkan dengan banyaknya one-way, trotoar pejalan kaki yang rusak, apalagi maraknya galian yang menyebabkan lumpur di mana-mana. Tapi tetap saja kota ini selalu ramai, entah dengan acara besar, ataupun dengan kegiatan kecil yang kita lakukan bersama. Dan, setiap momennya bisa dikenang, bagi yang menginginkan.

Terima kasih atas segala hal yang terjadi selama 4 tahun ini, bandungšŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s