H-18

Mengisi hari-hari terakhir di bandung dengan melakukan kegiatan yang sama dengan saat baru sampai disini: berjalan entah kemana sesuka hati. Fatalis mungkin menyebutnya berjalan mengikuti suratan takdir. Memang alasannya berbeda, sekarang lebih untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan atau terjadi di berbagai lokasi dalam kota ini dibandingkan dengan dahulu yang lebih difokuskan pada mengetahui bangunan dan lokasi yang akan berperan selama kehidupanku berlangsung di bandung. Sisa hari di Bandung: 18. H-18.

Banyak hal yang, entah mengapa, baru terjadi padaku disini. Mungkin karena profil manusianya berbeda dengan profil manusia jabodetabek pada umumnya. Seperti kemarin, saat pergi ke game master yang harga permainannya tergolong murah dibandingkan dengan pusat permainan lain–setidaknya sehari sebelum tulisan ini dibuat–di Baltos (Balubur Town Square) lantai atas. Setelah kemarin kawan dari zaman mahasiswa baru berkunjung ke kosan dan bercerita tentang dirinya yang mulai pergi pijat ke sebuah tempat refleksi–atau relaksasi mungkin, entah, terlalu banyak kata yang mirip dengan beda arti yang lumayan jauh–tak jauh dari kosan, aku yang lelah bermain–lelah hati akibat kalah terus karena kemampuan menumpul setelah terlalu banyak menghabiskan waktu mengerjakan TA/Skripsi tepatnya–akhirnya memutuskan untuk mencoba kursi pijat disana. 2 koin atau 2500 rupiah untuk 5 menit, lebih murah dibandingkan tempat pijat temanku yang mematok tarif 80000 rupiah untuk 90 menit.

Mungkin memang kursi pijat di game master tidak menggunakan tangan manusia, tapi, terlepas dari siapa yang memijat, kenapa ada yang mau menyerahkan tubuhnya pada orang lain untuk dielus-elus, diusap-usap, dipukul-pukul? Kalau itu terjadi di dalam kereta, kemungkinan besar teriakan, tamparan atau tinjuan telah merefleks lebih dahulu di saat pikiran belum memutuskan respon yang akan dilakukan. Apa bedanya? Diberi izin dan tidak? Bayar dan gratis? Atau standar ganda?

Yang jelas, saat aku di kursi pijat itu lah mereka bertiga datang. Tiga bocah perempuan, kelas 2 sd atau kurang, datang menghampiri kursiku, memandang dengan penuh takjub akan apa yang kursi itu sedang lakukan padaku. Bayangkan kalian sedang makan di restoran ber-franchise terkenal. Entah itu Pizza Hut, McDonald, KFC, Domino, atau apapun. Ketika kalian baru mulai melahap makanan kalian, muncullah tiga anak kecil entah dari mana yang memandang tindakan kita dengan penuh rasa ingin mencoba. “Gimana rasanya, kak? Enak?”, tanya mereka penasaran. Bayangkan saja pertanyaan itu turut diucapkan pada perandaian situasi tadi. Perasaannya sama. Aku sekilas mempertimbangkan baik-buruk antara jujur mengatakan, “Enak kok, sebelum kalian datang tapi. Jadi gak enak karena kalian liatin.” dan pura-pura tidur. Tapi tetap saja, kedua opsi tersebut tidak dapat menghilangkan rasa ketidaknyamanan menjadi pusat perhatian. Akhirnya ya, terpaksa, opsi ketiga. Sembari mencoba tersenyum ajukan pertanyaan, “Mau coba?” lalu bangkit dari kursi.

Dan betul, mereka senang, dan kursi pijatnya menjadi pusat perhatian. Semua senang. Usai mereka bertiga memenuhi rasa keingintahuannya masih ada waktu sekitar 1 menit lagi, dan mereka menyerahkannya kembali padaku. Setidaknya mereka tahu diri, pikirku.

“Kak, minta uang,” pinta bocah yang sama. Oke, beberapa tahun aktif kegiatan mengajar, beberapa kali menemukan anak-anak serupa juga. Pelajaran: jangan menyimpulkan terlalu cepat, jangan menggeneralisir tanpa mempertimbangkan data outlier. Hebat juga bagaimana waktu sekitar 3 menit mampu menaikkan pangkatku di mata anak itu, dari “kakak yang duduk di kursi pijat” menjadi “kakak yang bisa dimintain uang”. Karena aku gagal menemukan logika dari tindakannya tersebut, aku berasumsi dia masih belum mampu berlogika. Karena itu untuk menolaknya jangan menggunakan logika. Oke, asumsi yang dibuat oleh mantan mahasiswa teknik terhadap psikologi perkembangan anak-anak sangat mungkin tidak tepat, tapi tetap saja perlu dibuat untuk merumuskan respon yang akan diberikan. Dan respon yang akan kuberikan jelas: ngotot menolak, dengan gaya anak-anak.

“Nggak mau.”
“Kakak nggak punya uang?”
“Ada, tapi bukan buat kamu.”
“Ih, kakak mah.”
Beruntung kedua temannya tidak lama kemudian mengajak sang anak dengan pinta itu pulang. Mereka melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya, membatin semoga kita tidak berjumpa lagi, perempuan muda.

Mengingat kejadian kemarin memang hanya membuat tertawa, heran dan geli terhadap tindakan anak-anak. Senang jadi anak-anak, bebas mengutarakan keinginan, tanpa perlu khawatir terhadap persepsi orang lain, dampak di masa depan dan lain sebagainya. Oke, beruntung juga mereka tidak idealis. Saat aku sd dahulu, pergaulan dengan lawan jenis masih merupakan hal yang nista. Bahaya kan jika penerus bangsa tidak ada akibat dari generasi muda memandang lawan jenis dengan hina?

Terlalu banyak berpikir membuat lapar juga. Akhirnya mampir ke minimarket dan membeli roti, lebih disebabkan tiadanya pilihan daripada tingginya keinginan. Setelah itu keluar, duduk di emperan jalan, makan. Seharusnya tidak ada larangan selain membeli benda dari pedagang kaki lima di zona merah. Lagipula para pedagang kaki lima atau pengguna kendaraan pun berlaku seenaknya di trotoar dengan tenda atau kendaraan yang mengganggu pejalankaki. Mungkin polusi menjadi masalah di beberapa lokasi, karena itu hindarilah dengan melakukannya di pagi hari🙂

Oke, sejak di bandung memang kadang ada tingkahlaku abnormal yang kambuh di lokasi umum. Atau tepatnya mood untuk melakukan suatu hal di suatu lokasi. Tetiba ingin duduk dan makan, tetiba ingin memperhatikan, ingin menghitung jumlah kendaraan, tetiba ingin melakikan sesuatu, itu saja. Mungkin pengaruh dari minimnya hal yang mendesak untuk dilakukan. Dan berdasarkan pengalaman, kenalanku yang melihat tindakanku akan terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah yang penasaran atau sekedar menghormati. Bertanya sedang melakukan apa atau mencoba mengikuti tindakan abnormal yang sama. Terlihat juga perbedaan antara orang yang hanya berbasa-basi dan orang yang memang penasaran. Orang yang berbasa-basi cenderung memperhalus kalimat, seperti bertanya “sedang apa?” setelah melihat aku sedang makan roti di daerah tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang. Kupikir gestur mengunyah sembari memegang roti dengan bekas gigitan di tangan bukanlah gestur yang ambigu. Dan kadang aku hanya menatap makananku, kemudian memandang sang penanya dan bertanya balik, “Itu pertanyaan retorika?” Yah, tidak dijawab pun jawabannya jelas bukan? -_-

Kadang kalau sedang mood bercanda ingin menjawab sedang memancing pembunuh berantai keluar dari sarang persembunyiannya, sayang tidak pernah terucap. Kata-kata itu kan, doa. Kalau kata-kata itu terwujud, kelihatannya nyawaku dalam bahaya ._. Opsi lain: mengklasifikasikan manusia yang ada di bandung, demi tujuan akhir menguasai dunia. Sayangnya opsi ini perlu diucap dengan sound system dan sound effect yang baik, otherwise you’ll sound like a delusional lunatic. Well, even if you’re a delusional lunatic, what’s wrong with making it sounds convincing?

Kelompok kedua adalah kelompok yang sedang ada urusan lain, dan mungkin terburu-buru. Sebagian dari mereka sekedar memberi salam sebagai tindakan untuk menjaga hubungan dan silaturahmi. Beberapa merasa perlu untuk turut memberi komentar seperti, “galau?” sebelum pergi, dan sisanya lebih memilih untuk berpura-pura tidak lihat atau tidak kenal.

Entah apa yang berbeda di kota ini, suasananya selalu nyaman untuk membuat berpikir, meracau, bertingkah asal, dan berbagai hal. Satu sore dan satu pagi pun memiliki banyak cerita, banyak pemikiran, dan banyak inspirasi untuk bertingkahlaku, terlepas dari seabsurd apapun itu tentunya.

Ada yang menyebut bandung itu cantik, romantis, kuliner. Terserah lah, toh kebebasan berpendapat diatur undang-undang. Yang jelas bagiku yang agak sulit mengagumi keindahan, minim pengalaman dalam roman asmara, dan kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk mencoba berbagai jenis masakan bandung, kota ini aktif dan inspiratif.

Banyak cerita tercipta disini, banyak hal terjadi disini. Meski tinggal 18 hari lagi, kelihatannya saat ini lebih baik aku memikirkan apa yang akan kulakukan atau pengalaman apa yang kucari disini selama sisa waktu yang kupunya. This story hasn’t end yet, has it?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s