Kurikulum 2013

Kelihatannya kurikulum 2013, kurikulum terbaru saat ini sudah terlalu banyak dikritisi sekarang. Dan kemarin baru sempat mendapat pengalaman terkait kurikulum kontroversial itu. Setidaknya aku mulai mengerti kenapa kurikulum ini dihentikan, atau akan diterapkan secara bertahap.

Sudah sekitar dua tahun aku tidak mengamati perkembangan sistem pendidikan di Indonesia, termasuk kurikulumnya. Memang itu disebabkan beberapa faktor, seperti meningkatnya kesibukan yang perlu diurus dan minimnya hal yang mengharuskan untuk terlibat dengan itu. Memang, dulu aku sempat didaulat–secara sepihak–untuk memimpin sebuah organisasi di bidang pendidikan. Awalnya pun aku menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (kbk) 2006 sebagai pembanding untuk bahan ajar di salah satu rumah belajar organisasi tersebut. Atau setidaknya niat awalnya begitu. Karena pada akhirnya, pendidikan informal lah yang digunakan di rumah belajar itu, hahaha. Toh, pesan yang ingin kubawa sebenarnya sederhana: belajar dapat dilakukan dengan siapapun sebagai gurunya. Termasuk kita, dan bahkan anak-anak itu sendiri. Kita bukan guru mereka, kita bukan juga keluarga mereka, tapi kita dapat belajar bersama serta menceritakan dan berdiskusi akan hal-hal yang menarik dengan mereka. Memang pentingnya peran keluarga tidak dapat diabaikan, namun mengambil ilmu dari semua sumber yang ada tidak salah, kan? Entah pesannya sampai atau tidak, sudah lah, sudah kadaluarsa juga masanya, hahaha.

Dan dua tahun ini kegiatanku di bidang pendidikan berpusat untuk membantu atau membimbing penerusku di organisasi tersebut yang, kinerjanya jauh melebihi ekspektasiku sehingga aku pun kadang bingung apa yang dapat kubantu, dan aktif di sektor pendidikan yang tidak dipengaruhi kurikulum baru: pendidikan anak usia dini dan pendidikan kesiapsiagaan bencana anak-anak, dimana kurikulum (jika ada) pun diciptakan oleh organisasi yang terlibat itu sendiri.

Dan kemarin, aku pun terpaksa melihat kurikulum baru disebabkan adik-adik kelas 7 di salah satu rumah belajar pagi ini ujian. Kesan pertama: speechless.

Oke, sedikit pembuka tentang pendidikan. Butet Manurung dalam Sokola Rimba (versi film) mengatakan bahwa pendidikan adalah persiapan anak-anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Ada juga sebuah kamus yang mendefinisikan pendidikan sebagai pengembangan kemampuan dan bakat anak-anak. Dua definisi itu kutulis karena cakupannya lumayan luas. Memang banyak definisi yang belum ditulis, tapi untuk apa sibuk membahas definisi jika pada akhirnya tidak ada kesimpulan yang dapat diambil sebagai kesimpulan?

Terlepas dari apapun definisi pendidikan di dalam kosakata pribadi anda, seharusnya bisa dimirip-miripkan ke satu dari dua definisi tersebut meski mungkin perlu agak dipaksakan. Pertanyaannya adalah, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana?

Jadi, ceritanya pagi ini mereka punya tiga ujian: Baca-Tulis Quran (BTQ), Al-Quran dan Hadits, serta Bahasa Indonesia. Karena kemarin terlambat, jadilah aku didaulat mengajar Quran dan Hadits. Hebat bukan? Menyerahkan amanah kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.

Oke, merepotkan. Latar belakang pengajar adalah institut teknologi, bukan madrasah da’i. Pengajar tidak banyak dan “ustad” yang tadi mengajar hukum bacaan Quran pun mau istirahat, setelah disajikan taksonomi baru dalam hukum bacaan ikhfa. Entah sejak kapan ikhfa aqrab, ikhfa ausath dan ikhfa ab’ad difungsikan. Sebelum kbk 2006 ikhfa yang diajarkan cuma satu jenis, ikhfa hakiki, yang mencakup ketiga golongan tersebut. Entah apa yang menyebabkan mereka membagi diri, ikut-ikutan membentuk golongan tandingan karena tidak puas akan suatu keputusan layaknya politisi Indonesia saat ini mungkin?

Ya sudah lah, ikuti saja. Baca bismillah agar dapat pelajaran dan berkah, sembari do’a agar kalau pun ada penjelasan yang salah tidak sampai pada tingkatan yang menyesatkan.

Dan saat membuka buku, melihat apa yang harus dijelaskan, terpana dengan tiap halaman dari buku yang terbuka. Materinya tidak banyak memang, cenderung singkat, tapi sangat mendalam. Terlebih menghubungkan materi dengan judul bab dan indikator pemahaman yang, menurutku, kurang dapat diukur. Sembari bertanya-tanya apakah indikator pemahaman agama apapun di sekolah manapun tidak memiliki standar yang umum berlaku, aku pun agak penasaran apakah dalamnya materi ini dapat dicerna remaja yang baru masuk smp.

Salah satu judul babnya adalah kebesaran Allah, dengan materi berisikan tafsir dari surat pertama dan tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an. Wah, meskipun kadang mendapatkan materi tentang tafsir ayat atau membaca rangkuman atau pesan satu surat dalam Quran, tafsir satu surat pendek secara mendalam baru kupelajari saat kuliah. Hebat, aku sudah yakin terhadap ketidakmampuanku mengajarkan pelajaran ini tahun depan. Pengingat akan minimnya wawasan, pentingnya mengritisi kebijakan, dan manfaat dari empati pada sesama.

Dan pengajaran pun dilakukan. Anak-anak sangat membantu dalam mengucapkan ayat Qur’an beserta artinya, kelihatannya mereka hafal semua. Namun saat aku mengulang artinya, untuk menghubungkan materi dengan indikator yang entah apakah aku sudah memenuhinya atau belum, mencerna materi masih membutuhkan waktu yang lama. Seusai kegiatan mengajar pun aku berbincang dengan kawan tentang hal ini. Kawanku berargumen bahwa anak-anak masih fokus pada menghafal meskipun materinya sejauh ini dan khawatir hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pemahamannya di masa depan. Aku pun juga berpendapat itu buruk berdasarkan kedalaman materi yang diperlukan dalam pengajaran.

Memang, pada kenyataannya kita tidak mengetahui apakah itu baik atau buruk, jangankan metode mengembangkan kemampuan, kami pun tidak tahu kemampuan macam apa yang harusnya dimiliki oleh remaja kelas 7 smp. Entah bagaimana pendidikan saat ini, tapi jika persepsi kami tepat, kelihatannya memang kurang baik.

Aku sudah membaca tujuan dari kurikulum 2013 dari http://samparona.blogspot.com/2013/10/karakteristik-dan-tujuan-kurikulum-2013.html?m=1, dan aku juga pernah mendengar banyak hal dari tujuan kurikulum tersebut, seperti menjadikan anak-anak aktif, inisiatif, senang belajar dan lain sebagainya. Mohon dikoreksi jika ada yang salah. Dan mari berikan apresiasi terhadap orang-orang yang mengharapkan kebaikan bagi kita seperti demikian. Tapi kita tetap perlu kembali kepada pertanyaan tadi, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana? Karena saya khawatir tidak🙂

Saat ini masih banyak faktor yang perlu dibenahi jika persepsiku terhadap kurikulum 2013 itu benar, dari anak-anak yang masih terlalu pasif dalam mencari materi sehingga masih mengandalkan kakak-kakak meski latar belakangnya tidak sesuai dengan materi kurikulum, kegiatan belajar masih dilihat sebagai kegiatan kurang menyenangkan yang hanya dilakukan di sekolah, penjelasan dari guru yang berusaha menafsirkan kurikulum dianggap beberapa murid kurang jelas, peran keluarga yang masih minim dalam mendidik anak atau mengajarkan anaknya aktif mencari informasi, indikator ketercapaian materi yang agak sulit diukur, dan mungkin masih ada–dan mungkin masih banyak–faktor yang belum terpikirkan dan ditulis saat ini. Dengan kondisi seperti itu, apakah kurikulum ini memang tepat untuk dijalankan?

Kuakui, sulit untuk kurikulum 2013 ini dengan kbk 2006 tanpa bias, karena dahulu aku merupakan sasaran didik dan sekarang aku bukan. Dan memang, semua kebenaran dalam tulisan ini relatif, bergantung pada sebenar apa pandanganku terhadap kurikulum baru ini. Hm, jika ada yang mengetahui atas dasar apa kurikulum 2013 diterapkan, bisakah tolong bantu jelaskan apa dasar tersebut? Mohon maklumi insan yang minim wawasan ini, karena meskipun aku tahu peraturan yang berlaku, sulit untuk memahami latar belakang keputusan pemerintah dibuat jika keputusan tersebut merupakan hal yang tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan insan terkait🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s