Privasi

Kelihatannya dewasa ini privasi sudah menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir insan. Belum lama ini ada beberapa kawan yang memperbaharui status di halaman facebooknya untuk menolak facebook dari menyimpan data pribadi, foto, video dan beberapa hal lain dari dirinya. Bukankah manusia itu unik? Jika tidak ingin facebook menyimpan data tersebut, mengapa data tersebut diunggah ke facebook?

Facebook, dan media sosial lainnya baik itu twitter, tumblr, instagram, path dan berbagai media sosial yang tak pernah kupedulikan lainnya, hanyalah salah satu wajah dari minimnya privasi dewasa ini. Jarak semakin singkat, informasi semakin membludak. Semua orang dapat mengakses semua file yang ada. Meskipun gambar, video atau data apapun dapat diatur agar hanya bisa dilihat oleh beberapa orang tertentu, orang-orang di luar kelompok tertentu itu pun bisa saja mencari jalan belakang dengan mempelajari cara hacking yang benar, dan tujuannya belum tentu baik. Entah siapa yang patut disalahkan atas hal ini, manusia yang mengunggah data atau manusia yang penasaran untuk melihat data tersebut? Secara logika, harusnya sih keduanya. Entah apakah ini disebabkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang ingin berbagi, kebanyakan manusia belum mengerti, atau memang saat ini sudah tidak banyak yang peduli dengan privasi.

Mungkin dapat dikatakan bahwa saat ini semua orang telah terdeteksi. Perkembangan zaman mengharuskan tidak ada lagi insan yang dapat bersembunyi. Semua orang tau apa yang kita suka, kemana kita semalam, dengan siapa kita berteman, keahlian apa yang kita punya dan kita tidak punya, dan lain sebagainya. Ya sudah, biarkan saja begitu. Kita bisa melawan, tentu, namun untuk apa? Toh keberadaan kita bukanlah hal yang nista.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal yang telah diunggah dan terlanjur tersimpan, tapi jika ada data yang penting dan terlanjur terunggah dan dapat membahayakan seperti alamat rumah atau kontak pribadi–meski aku belum pernah mendengar keberadaan kelompok rampok yang mengidentifikasi calon korban melalui media sosial, apa salahnya waspada?–aku menyarankan untuk meng-update informasi tersebut dengan informasi yang salah. Update lah secara berkala, semoga pihak media sosial di masa depan kebingungan mana update yang paling benar dari sekian banyak informasi yang kalian masukan. Toh pada dasarnya yang kita gunakan adalah media sosial, bukan pendeteksi kebohongan. Tidak dapat bersembunyi tidak sama dengan tidak dapat memanipulasi informasi, kan?

Selain itu untuk insan yang menggunakan master password: 1 password untuk semua akun, mungkin ada baiknya sedikit menambah tingkat kesulitan passwordnya, dengan menambah satu kata yang berbeda di tiap akun misalnya. Seperti dari masterpassword menjadi kerjamasterpassword, masterpasswordfacebook, dan lain sebagainya. Hanya untuk meminimalisir kemungkinan semua akun disalahgunakan hanya karena satu password terbongkar.

Dan tentu saja, jangan lupa berdoa agar keberadaanmu yang terdeteksi itu tidak disalahgunakan orang lain. Katanya sih itu senjata terampuh orang muslim, tidak perlu disia-siakan, bukan?

Hanya mencoba memberikan saran bagi mereka yang ingin memiliki privasi di dunia yang sedang tidak membutuhkannya saat ini. Semoga bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s