Menemukan Keseimbangan

Menemukan keseimbangan yang tepat adalah hal terpenting dalam perkembangan, apapun kasusnya, baik dalam diri sendiri, anak kecil, masyarakat, ataupun makhluk hidup secara keseluruhan.

Seperti analogi kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong untuk menguatkan sayapnya, terlalu banyak bantuan dapat mematikan individu dengan menghalanginya untuk berkembang dan mempelajari keahlian-keahlian tertentu, menjadikannya sangat tidak siap untuk menghadapi dunia nyata saat bantuan yang selalu diberikan menghilang. Di sisi lain, tiadanya bantuan dan dukungan dapat mematahkan semangat dan menghilangkan harapan, terlebih jika pada akhirnya sang makhluk berpikir bahwa kelihatannya apa yang dia lakukan mustahil memang, toh pilihan untuk berpindah jalan selalu terbuka.

Terlalu mementingkan orang lain akan menyebabkan terlalu banyak hal yang harus dikorbankan dan emosi yang perlu ditahan dalam diri, namun terlalu mementingkan diri sendiri pun akan menyebabkan orang lain menjauh, yang dapat menutup beberapa pintu rezeki.

Terlalu bebas dapat menjadikan seseorang tidak punya tujuan, atau tidak tahu aturan. Seperti blog ini, misalnya. Topik yang dibahas asal, mengikuti apa yang ada di pikiran saja, dan entah jika ada aturan dunia maya yang dilanggar. Tapi terlalu terkekang juga mematikan inisiatif dan kreativitas. Seperti aku, yang lebih memilih untuk berhenti menulis kalau tidak bisa bebas, entah dengan penyetiran topik bahasan atau berbagai hal lainnya, dengan berbagai alasan ataupun bualan. Oke, mungkin memang topik bahasan perlu ditambah agar lebih banyak manfaat yang dapat dihasilkan, tapi persetan dengan keinginan pasar ataupun bahan jualan, apa untungnya menjual kepalsuan, membunuh karakter demi keuntungan?

Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan? Hal yang berlebihan dapat menimbulkan kemuakan. Setidaknya bagiku. Muak saja dengan berbagai standar yang terlalu diskriminatif dan memberikan cap, topik ini layak tulis, topik itu sampah, yang ini mahasiswa berprestasi, yang itu mahasiswa tidak berguna. Muak saja dengan dunia yang terlalu penuh dengan bualan dan kebohongan, lakukan ini untuk menambah nilai jual, sembunyikan borok itu agar memperbesar keuntungan, orang-orang tidak peduli dengan kemunafikan, nilai moral sudah tidak relevan. Muak saja dengan strata sosial, temui si ini agar urusan itu dipermudah, jangan kontak dengan si itu agar nama baik terjaga. Muak saja dengan masyarakat, yang kaya punya privasi untuk menikmati berbagai fasilitas, yang berkecukupan harus menerima kenyataan bahwa terjebak dalam rutinitas, yang miskin harus menerima nasib dan mempersiapkan diri untuk tergilas. Yang mengaku beragama sibuk berdoa di tempat ibadahnya, yang mengaku cendekia asyik sendiri dengan data dan teorinya, yang mengaku wakil rakyat lupa akan janji-janjinya, yang mengaku mahasiswa sibuk dengan teman-teman dan tugas-tugasnya, kebanyakan orang sibuk sendiri dengan urusannya. Ada, tapi tidak banyak yang peduli dan beraksi memperbaiki nasib sesamanya, seolah dengan bayar pajak kewajiban sudah lepas, fakir miskin dan anak terlantar sudah ditanggung negara. Oh, bahkan bayar pajak pun tidak semua taat. Hebat. Muak saja dengan segala aturan, alasan, dan mungkin bualan yang meminimalisir manfaat yang dapat diberikan, kalau begini resiko yang berupa skenario perandaian yang entah berapa besar kemungkinan terjadinya begitu lah, berargumen suatu hal tidak feasible tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan lah, ah, sudah lah. Toh kemuakan tidak akan mengubah pola pikir, meski mungkin juga yang membaca berminat untuk mengoreksi diri.

Uniknya, banyak orang tahu tapi tetap saja melakukan hal secara berlebihan. Kritik terhadap oknum tertentu yang berlebih, misalnya, terlebih jika tidak disertai solusi atau aksi untuk memperbaiki kondisi, hanya menghasilkan kontroversi dan debat kusir tanpa arti. Ketergantungan berlebih terhadap subsidi, misalnya, seolah rezeki hanya dapat diperoleh melalui subsidi, seolah kerja keras sudah kehilangan arti. Kebencian atau diskriminasi terhadap kaum atau pendapat lain, misalnya, seolah semua harus sama dan perbedaan adalah nista.

Memang, dapat tidak sama dengan pasti. Berapa besar kadar yang tepat agar semuanya seimbang, entah, tugas kita untuk mencaritahu, atau setidaknya mencoba menjaga kadarnya. Seperti tulisan-tulisan di blog ini misalnya. Mencoba bercerita dan memberi makna, memberitahu apa yang dirasa sembari menunjukkan yang perlu dibenahi yang mana. Bagi orang-orang yang tidak peduli, memang tulisan-tulisan hanya celotehan yang gagal dalam tujuannya. Tapi jika mereka tidak peduli, untuk apa juga kupedulikan? Jelas kepedulian yang kuberikan akan menjadi tidak seimbang dengan kepedulian mereka.

Berbuat salah lah, cobalah hal baru, tak usahlah berpikir terlalu jauh tentang masa depan, bertingkahlah semaunya, ikutilah beberapa masukan dan abaikanlah sisanya, hadapilah konsekuensinya dan belajarlah dari segalanya. Temukan keseimbangan, itu intinya.

Satu pemikiran pada “Menemukan Keseimbangan

  1. lagi-lagi saya suka tulisan anda
    dan saya merasa muak .. hahaha
    mungkin karena seolah ada banyak kesamaan, dan karena “ketertarikan” datang pada mereka yang memiliki kesamaan pandangan
    dan sekarang saya muak, setidaknya pada diri saya sendiri .. hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s