Merasa Benar

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya akan kebenaran bagi diri kita, apakah benar-benar benar? Benar secara keseluruhan, bukan hanya benar substansi, benar menyikapi, benar perilaku, ataupun benar dalam aturan yang berlaku. Bukan ataupun, melainkan dan. Sudahkah kita benar-benar benar?

Kelihatannya sekarang sedang ramai pemberitaan tentang dusun di Jawa Tengah yang “dibinasakan”, begitu pun tentang kaum yang dibicarakan disana, setidaknya itu kesimpulan sementara dari observasi media sosial melalui metode skimming di lini masa. Sayangnya aku tidak bisa mengonfirmasi kebenaran cerita tersebut, bukan terkait bencananya melainkan terkait kemaksiatan di desa tersebut, benarkah demikian?

Kata-kata guru SD, yang tidak kuingat tapi sekarang sangat kusyukuri karena pernah menjadi muridnya, selalu terngiang, “Bencana alam itu adalah fenomena yang dapat dijelaskan. Allah yang ibu percaya adalah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Kata-kata tersebut diucap saat membahas tsunami aceh, saat aku sering mendengar bahwa tsunami itu adalah azab Allah di khutbah Jumat. Kalau guru itu tidak memberi penjelasan serupa, bisa jadi aku akan lebih heran lagi akan alasan rusaknya reaktor nuklir di Fukushima dan tsunami Tohoku yang adem ayem dari sebutan azab. Standar ganda, padahal sih fenomena alam yang terjadi ya terjadilah, kun fayakun. Soal ujian dan azab bukan urusan makhluk.

Teringat perbincangan lama, tentang ormas islam garis keras. Ada kawan yang pernah berkata, bahwa mereka mungkin benar dalam mencontoh orang arab, tapi bisa jadi orang arab yang dicontoh itu salah, dan pengaruh distorsi informasi dari abad ke abad bisa jadi besar disini. Rasulullah saw berwelasasih kepada semua makhluk ciptaan Allah. Meskipun kisah beliau saat memberi makan pengemis Yahudi buta itu tidak berdasar (karena topik diskusi-tanpa-topik saat itu adalah tentang kebenaran kisah Rasulullah), tidak ada juga dasar akan beliau memaksakan Islamnya dengan kekerasan seperti yang mereka lakukan pada rumah makan di bulan Ramadhan. Gegabah dalam kafir-mengkafirkan apalagi, mengingat Rasulullah bertugas untuk meng”islam”kan, menyelamatkan. Marah-marah sih, kerjaannya Abu Lahab.

Dulu aku tertawa saat mendengarkannya. Berbeda dengan sekarang.

Belum lama saat grup tugas di universitas bertemu untuk ngopi-ngopi dan kongkow-kongkow melepas penat setelah ujian, well, hanya aku sih yang ngopi. Sisanya ngebir. Agak takjub dengan para rambut pirang (2 Dutch, 1 Finlandish) yang bisa menghabiskan  sampai 80EUR dalam semalam minum-minum sementara aku yang baru menghabiskan sekitar 10EUR untuk kopi sudah enggan untuk menambah, bahkan sudah mulai berharap uang dalam dompet mampu berkembangbiak secara mandiri. Setidaknya keinginan memesan lagi sedikit teralihkan oleh hangatnya diskusi, dari teori evolusi dan masa kini, dimana “survival of the fittest” tidak lagi berlaku kini karena “even the unfittest survive” dengan bantuan teknologi, sampai pada pertanyaan kenapa aku selalu terlambat di kelas Jumat siang. Yaaa, sebenarnya masuk kelas itu pilihan sih, gak perlu titip absen segala, cuma absen dari kelas karena alasan apapun terasa sangat rugi disini. Dan kalau kelas mulai jam 13.45 sementara shalat Jumat masih jam 14.00, apa mau dikata?

Ketika aku menjelaskan tentang agamaku dan ritual shalat Jumat, salah satu Dutch merespon dengan mengonfirmasi agamaku sebagai agama Gandhi. Yang kukonfirmasi bukan, dan menjelaskan beda India dan Indonesia, negeri yang pernah pendahulu mereka jajah selama 3.5 abad pada masa keemasannya tapi rakyat jelata tidak ketahui dengan jelas dimana keberadaannya dan bagaimana keadaannya. Oh, banyak dari mereka yang tahu Bali, tapi sedikit yang tahu kalau Bali itu bagian dari Indonesia. Dutch satu lagi kemudian mengonfirmasi, “Oh, the ISIS one.” Jleb. Si Dutch satu lagi ini langsung mengonfirmasi dengan mengatakan aku baik dan bukan bagian dari mereka, oke, setidaknya aku tidak pernah menyebarkan teror disini. Diskusi pun berlanjut tentang perbuatan ISIS dan pembenarannya dengan nama Islam, yang berujung pada si Ducth satu lagi berkata yang kira-kira begini, meskipun kita sangat membenci tindakan ISIS, kalian pasti lebih membencinya, ya?

Sekarang cerita serupa pun menjadi miris untuk didengar.

Diskusi makin menarik sih setelahnya, saat aku ditanya tentang puasa di negara yang mataharinya tidak pernah terbenam seperti di skandinavia, juga tentang persepsi bangsa Indonesia kepada orang-orang Belanda yang pernah menjajah. Tapi bagian tersebut merupakan hal yang menarik, yang teringat kembali setelah diskusi dengan beberapa kawan saat menjenguk istri mahasiswa indo S3 yang baru melahirkan disini. Tentang Syria’s refugee, yang sedang didemo keberadaannya disini. Awalnya yang kudengar masalahnya terkait pembangunan tempat tinggal untuk para refugee, padahal para Dutch sendiri ada yang masih belum punya rumah. Dan memang, negara di semenanjung arab macam Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain yang notabene “saudara seagama” juga tidak terlalu terdengar penerimaannya terhadap para refugee. Masalahnya bertambah ketika dikatakan beberapa refugee yang tidak baik turut berbuat onar disini. Sayangnya persepsi yang ada pun menjadikan stereotype sebagai sebuah kesimpulan instan. Semuanya buruk. Padahal banyak dari mereka yang mungkin juga tidak punya gambaran luas akan hal ini, sehingga penilaian dilakukan atas ketakutan terhadap yang tidak diketahui. Dan mereka merasa benar dengan penilaian yang tidak menyeluruh itu.

Begitupun lini masa media sosialku, terkait kaum itu tadi. Aku sama sekali tidak mendukung perilaku demikian, namun ada beda yang nyata antara membenci pelakunya dan membenci perilakunya. Tugas muslim hanyalah mengingatkan, dan hidayah hak mutlak milik Allah. Jadi kenapa perlu bersikukuh akan menjadikan si target mendapat hidayah, bahkan sampai menekan melalui berbagai postingan tentang dosa dan kafir, bahkan sampai tingkatan ancaman fisik kepada pelakunya, untuk demikian? Teringat juga cerita seorang (yang katanya) pendakwah, ketika dia mengajak “diskusi” orang-orang dari kaum itu. Katanya susah deh kalau ngomong sama mereka, bebal dan berbagai alasan lainnya. Seolah saat Rasulullah berdakwah semua yang mendengar langsung dapat hidayah. Mungkin masalah dirinya ada pada pola pikir instan dan keinginan yang harus terwujud, tanpa diiringi kesabaran.

Jadi ingat cerita seorang Ustad disini, ada muslimah Turki yang minta diislamkan lagi oleh muslimah Indonesia, katanya karena shalatnya muslim Indonesia lebih sedikit, yang setelah diselidiki merupakan produk dari perbedaan mazhab. Jadi ternyata penyebabnya terkait hukum shalat sunnah di mazhab Hanafi yang dianut Turki dan mazhab Syafii yang dianut Indonesia, dimana orang Turki selalu mengerjakan shalat wajib beserta shalat sunnah sebelum dan sesudahnya (dan shalat sunnahnya empat rakaat, bukan hanya dua), sementara orang Indonesia hanya shalat sunnah dua rakaat dan itupun sunnah muakkad yang (kelihatannya) bisa ditinggalkan.

Yaaa, ini bukan tulisan siapa-siapa sih, cuma pengamat biasa yang minim ilmu, yang tidak setuju terhadap perilaku namun juga gagal paham atas tindakan berlebihan terhadap si pelaku. Padahal bisa jadi ada hikmah yang dapat diambil dari mereka, mengingat orang beriman harusnya bisa mengambil hikmah dari mana saja, termasuk dari ketidakmampuan pikiran dalam menghadapi perkuliahan. Dan meskipun memang ada baiknya kita berhitung sebelum hari perhitungan, tetap saja perhitungan yang benar milik Yang Maha Menghitung, karena memberi minum seekor anjing yang haus pun dapat menjadi ampunan bagi dosa besar. Jadi kenapa tidak sibukkan diri dengan berbuat kebaikan dan memberi pemahaman agar orang-orang yang dicinta tidak terkena? Toh jika dasar argumen kita benar dan kuat, meyakinkan orang lain, terutama kerabat sendiri, harusnya dapat dilakukan, kan?

Setidaknya Einstein berhasil melakukannya, terutama setelah penemuan “gravitational wave” baru-baru ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s