What’s Next?

Lega! Akhirnya perjuangan dua bulan terakhir ini berakhir sudah, dengan catatan yang sangat positif. Setelah kesibukan seleksi beasiswa, persiapan keberangkatan, adaptasi dengan dunia perkuliahan, hingga dijebak jadi penanggungjawab acara kebudayaan indonesia di kota Enschede tempatku berdomisili, Indonesian Evening 2015 yang berlangsung 27 November kemarin, oleh ketua PPIE yang kamarnya kutempati saat ini, akhirnya ada waktu dan kemauan juga untuk membersihkan sarang laba-laba dari website yang tertinggalkan ini.

Senang mengetahui bahwa acara ini dinilai positif dari berbagai elemen pengunjung, entah dari komentar hasil wawancara PPI Belanda yang dapat dilihat di http://ppibelanda.org/indonesian-evening-2015-3/ ataupun dari komentar di page event facebook yang telah dibuat, seperti dalam screenshot berikut.

Bahkan KBRI datang dengan penari papua dari Politeknik Negeri Semarang dalam rangka meramaikan suasana.

12314155_10208278761790994_6351772872034728933_o

Dan, seperti biasa, semakin besar acaranya semakin lama durasi mengendap di kamar setelahnya. Tepar. Sulit untuk mengatakan procrastinating kali ini sebab meskipun dua minggu kedepan akan diisi dengan dua ujian oral dan satu presentasi grup, kegiatan pembelajaran tidak efektif untuk dilakukan saat ini. Mungkin juga sekedar pembenaran untuk sekedar beristirahat dari proses memahami yang masih berlangsung, tapi semoga uang rakyat yang saat ini ada di saku masih mencapai tujuannya.

Jadi, sebagaimana manusia yang selalu berproses dari satu hal ke hal lainnya, apa berikutnya? Entah lah, masa depan itu tidak pasti, biarkan saja menjadi misteri Ilahi. Selamat untuk Jamie Vardy dari Leicester City yang baru saja memecahkan rekor saat artikel ini ditulis. Mari beraktivitas kembali, semoga makin banyak pelajaran di hari esok untuk mengembangkan pribadi dan mampu memberi lebih, dan bermanfaat lebih.

3 ujian dalam 10 hari kedepan ditambah kegiatan lain dari PPI kota. Well, life can get worse any time, so just enjoy the show for now~

Random: Guru SMA

Bertemu kembali dengan guru-guru sma selalu punya kesan tersendiri, terlebih jika guru yang ditemui merupakan orang yang dianggap penting atau punya peranan krusial dalam perjalanan kehidupan. Dan begitulah kegiatanku kemarin, berkunjung ke rumah beberapa orang guru bersama para alumni lainnya. Menyenangkan juga mendengar kabar sma tercinta setelah lama ditinggalkan, dari kebijakan kepala sekolah baru hingga wacana akan kebijakan pemerintah provinsi di dunia pendidikan.

Sedikit menceritakan tentang SMAN 47 Jakarta, atau beberapa kawan menyebutnya Semi-MAN 47 Jakarta, entah karena apa. Kebetulan aku belum berkesempatan mengikuti kegiatan belajar di sma atau institusi sederajat lainnya untuk membuat perbandingan, mungkin itu hanya julukan dari beberapa sahabat yang belum terbiasa mengikuti pengajian. Memang dulu tiap jumat ada sesi khusus ceramah dan mengaji bagi muslim/ah, dan kabar terakhir yang kudengar adalah sekarang sesi itu dijadikan tiap hari oleh kepala sekolah yang baru, entah bagaimana jika kepala sekolahnya telah berganti lagi. Yah, itu urusan nanti.

Hm, apa lagi ya? Oh. Selain itu, tiap selesai shalat fardhu berjamaah, ada pembacaan hadits bergilir dari kitab Riyadush-Shalihin, entah siapa yang memulai tapi saat zamanku dulu umumnya anak rohis yang mengisi, sistemnya sederhana: siapa yang tercepat bangkit menuju mimbar dialah yang berkesempatan memilih bab hadits untuk dibacakan–sekaligus mengingatkan sesama muslim dalam kebenaran dan kesabaran. Dan saat bulan Ramadhan, atau kadang pada hari disunnahkannya berpuasa, jika masih ada sekelompok murid atau guru yang berada di lingkungan sekolah, biasanya mereka akan patungan untuk membeli makanan lalu memakannya bersama-sama di atas nampan. Makan berjamaah, mengingat makanan untuk dua orang cukup untuk bertiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan seterusnya. Meski mungkin bagi para anak lelaki dalam masa pertumbuhan, kegiatan ini dapat disalahartikan menjadi lomba-adu-cepat-makan-sebelum-jatahmu-dihabiskan-orang, atau mungkin juga kegiatan ini dilakukan untuk mendapat porsi lebih karena pemilik rumah makan seringkali berbaikhati jika pelanggannya membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, hahaha.

Oke, setelah dipikir kembali, julukan Semi-MAN mungkin agak terjustifikasi disini, hahaha. Entah bagaimana smaku saat ini, tapi aku lumayan senang masuk kesana di angkatan 2010. Memang ada juga beberapa siswa yang suka nongkrong, merokok, dan lain sebagainya, tapi mereka juga tak jarang terlibat di kegiatan serupa. Kadang jadi tenaga sukarela saat mengurus persiapan perayaan hari besar islam, kadang ikut-ikutan beraktivitas bersama. Yah, terlepas dari dimana tongkrongannya atau siapa sahabat dekatnya, apa salahnya berbuat kebaikan bersama-sama? Hanya karena seseorang melakukan perbuatan yang dicap negatif, bukan berarti dia tidak punya sisi positif kan? 🙂

Dan ini adalah cerita mengenai seorang guru di SMAN itu. Namanya Pak Ahnaf, nama yang lebih baik dari namaku, Hanif. Atau setidaknya itu tebakanku, analisis setelah mendengar penjelasan bahwa Akbar (Maha Besar) berasal dari kata Kabir (Besar), aku menebak bahwa itu merupakan contoh kalimat Superlative dalam Bahasa Arab. Hanya tebakan sayangnya, semoga bisa belajar Bahasa Arab setelah dua bahasa asing lain yang tengah kupelajari tersertifikasi baik, bismillaah 🙂

Satu kata untuk mendeskripsikan beliau: Baik. Oh, mungkin bisa ditambah satu kata lagi: Banget. Entah ya, kadang beberapa manusia yang kita temui sulit untuk dideskripsikan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, dan akan lebih sulit lagi jika kita membatasi keterbatasan itu, seperti meminta mendeskripsikannya dengan satu atau dua patah kata. Yah, mungkin memang sebagian manusia punya hobi untuk mempersulit diri sendiri. Terserah saja, toh aku hanya punya wewenang atas kehidupanku. Mungkin sedikit berharap jika aku akan mengikuti seleksi, entah seleksi apapun, tidak ada pertanyaan yang meminta mendeskripsikan sesuatu dalam beberapa kata, terlebih jika sesuatu itu merupakan makhluk kompleks seperti manusia.

Kemarin aku berkunjung ke rumahnya lagi. Kelihatannya sudah tidak lagi mengingatku, bukan hal yang aneh karena tiap tahun beliau perlu mengingat lebih dari 250 siswa sebagai penanggungjawab mata pelajaran agama di kelas 12. Kelihatannya beberapa senior yang datang bersamaku juga berpendapat demikian, hingga salah satu dari mereka berkata, “Meski bapak sudah tidak ingat saya lagi, saya akan tetap ingat bapak kok pak”. Berlebihan? Mungkin, tapi kelihatannya tidak sedikit dari para pengunjung yang sepakat akan kalimat tersebut, termasuk aku. Yang penting bukan apakah orang yang berperan penting dalam kehidupan kita mengingat kita atau tidak, mungkin dia punya peranan penting dalam hidup banyak manusia, atau mungkin juga dia menjadi peran penting dalam hidup kita tanpa sengaja, dan tidak perlu waktu lama untuk melupakannya. Pertanyaannya, masih ingatkah kita akan peranan penting dan jasa-jasa dari orang itu? Atau pertanyaan yang setingkat lebih sulit: Apa yang telah kita lakukan untuk membalas, atau meneruskan, kebaikan-kebaikan yang telah kita terima?

Beliau masih sama. Pembawaannya tenang, kata-kata dan nasihatnya mengena. Dan silaturahmi ke rumah beliau pun diisi dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal terkait agama. Masih ingat sebagian dari nasihatnya.

Saat sahabatku bertanya tentang sistem di sebuah perusahaan yang menyebabkan shalat jumat antar karyawannya digilir, beliau menjawab:
“Ati’ullaaha wa ati’urrasuula wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, dan taatilah RasulNya, dan pemimpin-pemimpin di antara kamu. Dan pemimpin-pemimpin di antara kamu, bukan dan ‘taatilah’ pemimpin-pemimpin di antara kamu, yang artinya ketaatan terhadap pemimpin itu relatif, salah satunya tergantung dari apa yang disuruh dikerjakan. Kemudian beliau meminta salah seorang sahabatku yang hafal 7 juz lebih untuk melanjutkan ayat “Alladzii khalaqal mawta wal hayaata…”, dari Surat Al-Mulk ayat 2, yang lanjutannya “liyabluwakum ayyukum ahsanu amala”. Kemudian beliau menjelaskan arti ayat tersebut, Allah menciptakan yang mati dan yang hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Yang mati, dan yang hidup, keduanya ujian untuk kita, untuk memeriksa siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Beliau juga berwasiat tentang kejujuran, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga”. Kali ini lupa dari pertanyaan apa tapi berhasil menemukan versi lengkapnya setelah bertanya pada master google, bagi yang penasaran silahkan buka http://salafy.or.id/blog/2012/04/08/ash-shidq-akhlaq-yang-akan-mengantarkan-ke-surga/

Isi dari sebuah nasihat memang penting, tapi penyampaiannya tidak kalah penting. Jika mengacu pada komik karya vbi djenggoten, maka isi dari sebuah nasihat ibarat sebuah berlian. Tapi jika berlian itu diberikan kepada seseorang dengan melenparnya hingga dia terluka, apakah orang itu sadar bahwa yang dilemparkan adalah berlian?

Baru beli buku baru, “The Five People You Meet In Heaven” karya Mitch Albom, setelah karyanya “Tuesday With Morrie” memberi banyak konsep pemikiran. Kali ini pun konsepnya menarik, “Ada lima orang yang akan kau temui di alam baka. Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu apa alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia”.

Mempertemukan dengan 5 orang untuk menjelaskan peranan seseorang di dunia. Yah, tiap makhluk memiliki peranannya tersendiri, tidak ada hal yang diciptakan dengan sia-sia. Mungkin tidak sedikit manusia yang mempertanyakan untuk apa mereka tercipta dan lain sebagainya. Sebagian mungkin memutuskan memberi makna sendiri pada hidup mereka. Yah, mungkin para muslim yang berilmu pun akan langsung menjawab bahwa manusia tercipta untuk menyembahNya. Tapi dari banyaknya yang mengetahui dan menyatakan, mungkin hanya Dia yang mengetahui berapa banyak yang bersungguh-sungguh menyatakannya dengan melibatkan tindakannya–entah tindakan seperti apa yang benar.

Dan sekarang jadi agak penasaran, sebagaimana beliau yang mungkin mengetahui bahwa pada gambaran besarnya beliau bertugas untuk mengajarkan dan mengenalkan anak muda terhadap agama, kira-kira dimana perananmu, dan dimana perananku dalam gambaran besar? Kupikir kita tidak perlu ke alam baka terlebih dahulu untuk mengetahuinya cukup memulainya dengan membuat beberapa pilihan, sejak saat ini 🙂

Kapan Puasa?

Pertanyaan yang sering terdengar sekarang: “Kapan mulai puasa? Hari ini atau besok?” Cukup menunggu selang sekitar (hampir) sebulan sebelum pertanyaannya berganti menjadi “Kapan lebaran? Hari ini atau besok?”

Orang-orang yang menggunakan perhitungan sebagai landasan akan puasa hari ini, dan orang-orang yang menggunakan penglihatan di beberapa daerah strategis akan mulai puasa besok karena tadi malam bulan baru dikabarkan belum terlihat. Skenario yang akan terulang lagi bulan depan, kelihatannya ini hampir selalu menjadi skenario default tiap tahun, entah mengapa.

Dan jika pertanyaan itu diajukan padaku, jawabanku tergantung. Tergantung pada kesepakatan dari masjid di dekat rumah–kebetulan memutuskan untuk mengikuti pemerintah–yang in syaa Allah akan memulai puasa lusa. Mungkin jika masjid di dekat rumahku memutuskan untuk menggunakan perhitungan aku pun akan ikut puasa besok.

Kedua metode berbeda, tiap metode memiliki landasannya tersendiri, dan dari yang kubaca kelihatannya sama-sama kuat. Yah, hidup selalu begitu bukan? Dimana benarnya satu pilihan bukan berarti pilihan lain yang berbeda itu salah. Aku bukan ahli agama dan hal yang membuatku berpendapat begitu hanyalah sebuah pikiran yang terlintas sesaat:

“Apa asyiknya merayakan hari raya sendirian?”

Aku tahu bahwa orang yang mengambil pilihan berbeda dari lingkungannya tidak khawatir, berkendara ke lingkungan yang sependapat dengan mereka untuk merayakan hari raya bukan hal yang sulit, apalagi dengan teknologi transportasi saat ini. Mungkin ini hanya karena sudah terbiasa merasakan suasana hari raya yang sama sejak kecil, selalu ada teriakan riuh anak-anak dari jalan di sekitar rumah, sapaan ramah dari beberapa tetangga yang meski tidak terlalu akrab tapi tetap menularkan kebahagiaan, kunjungan dari tetangga–meski kadang anak-anak hanya berkunjung sembari berharap pemilik rumah bermurah hati dan bersedia berbagi rezeki–dan kerabat. Setidaknya bagi diriku yang telah terbiasa, itulah hari raya. Mengingat kedua metode memiliki landasan yang kuat, apakah itu salah?

Semua orang punya pilihan, dan kupikir itu tidak masalah selama landasan yang digunakan tidak salah. Mungkin pilihan yang diambil berbeda, tapi disitulah peran toleransi, bukan?

Selamat berpuasa, semoga ramadhan ini dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik 🙂

Profile Picture

Tetiba buka catatan-catatan lama yang belum dihapus selagi blog belum aktif lagi. Dan kebetulan menemukan tulisan ini, yang entah bagaimana sangat sesuai dengan topik bahasan tadi. Setidaknya di tengah kesibukan saat turun dari organisasi, ada dokumentasi selain pemikiran tentang ciTA, cinTA, air maTA, dan perjuangan untuk harTA, tahTA dan waniTA. Ck, sebenarnya bukan cuma itu topik yang ada, namun di tengah kesibukan TA yang mencakup semua pemikiran itu, topik-topik itu malah sering terlintas dalam pikiran. Haruskah aku menggalaukan TA yang kukerjakan sekarang? ._.

Ah, sudah lah.

————————————————————————————–

Orang yang terhubung denganku di dunia maya mungkin akan sadar bahwa aku punya kecenderungan menggunakan profile picture yang sama di tiap media sosial.

164645_10200169267927402_1433309774_n

Dan sempat ada sahabatku yang menanyakan kenapa aku menyukai gambar yang suram seperti ini, hahaha.

Entah kenapa, aku menyukainya. Aku masih menganggap sosok yang keren itu tidak selalu merupakan tokoh yang selalu tampil menjadi pusat perhatian dengan semua cahaya menyorot padanya, dimana tingkahlakunya diperhatikan dan dicontoh oleh banyak orang, kata-katanya mampu menginspirasi dan menggerakkan ribuan aksi, kharismanya mampu mempengaruhi semua khalayak di sekitarnya. Ya, mereka memang keren dalam caranya tersendiri, tapi aku menganggap ada yang lebih keren daripada mereka, setidaknya menurut pendapat pribadiku. Hei, tiap orang punya kebebasan untuk berpendapat kan?

Orang-orang yang kumaksud adalah mereka yang terus berjuang di tempat yang tidak tersorot cahaya. Mereka yang terus berjuang walaupun minim mendapat apresiasi dari massa, mereka yang menyembunyikan sebagian besar tindakan baiknya dan mungkin hanya menampilkan sebagian kecil untuk dijadikan pelajaran bagi orang yang memperhatikan, mereka yang terus memberikan manfaat yang dinikmati oleh banyak orang tanpa disadari keberadaannya, mereka yang berjuang dengan caranya tersendiri untuk menebar kebaikan.

Dan mereka sering kita temui atau lewati. Sebagaimana jantung yang tak terlihat tapi terus berdetak dan memberikan kesempatan untuk memberi makna pada kehidupan, coba lihat penyapu jalan atau pengemudi truk sampah yang terus memperjuangkan kebersihan kota, para pekerja di tempat daur ulang sampah dan para penguji batas emisi yang berusaha menekan jumlah polusi, para guru dan dokter yang mengabdikan dirinya di tempat terpencil demi kesejahteraan hidup warga disana, orang-orang dengan tindakan heroik yang tidak terpublikasi, orang-orang yang bertahan memperjuangkan apa yang dia percaya saat orang-orang mulai kehilangan harapan dan mundur satu persatu, dan itu hanya sebagian kecil dari sosok-sosok hebat yang mungkin terlewatkan dari penglihatan kita.

Tidak sedikit yang berkata bahwa saat ini kegiatan baik harus terus dipublikasikan, untuk mengimbangi jumlah kegiatan buruk yang sudah tercatat di media. Ada benarnya. Tapi semua orang punya caranya tersendiri untuk memberikan manfaat, tidak masalah jika cara mereka adalah memperlihatkan kebaikannya agar bisa ditiru oleh orang lain, tapi mungkin tidak semua menyukai metode tersebut. Dan dalam kasus itu, bagaimana jika orang-orang yang mampu menunjukkan kebaikan menambah jumlah kebaikannya untuk menutupi orang-orang yang tidak ingin terungkap amalan baiknya? Memang mungkin akan muncul berbagai kesan seperti pencitraan dan mencari muka, namun apa salahnya melakukannya dalam kebaikan?

Yang kusuka dari gambar tersebut adalah keberadaan sosokku di tengah cahaya yang suram, melihat ke arah orang-orang baik yang sedang tersorot cahaya terang. Aku sudah kehilangan minat untuk mengikuti mereka masuk ke dalam sorotan cahaya itu, sudah bukan waktunya. Tapi aku yakin mereka yang berada di tempat dengan intensitas cahaya yang tinggi akan mengalami kesulitan untuk melihat segala hal yang ada di tempat dengan intensitas cahaya yang lebih rendah, berbeda denganku yang sudah terbiasa dan mampu melihat segala hal yang ada di tempat dengan intensitas cahaya yang setara atau lebih tinggi. Seperti bagaimana pencahayaan sebuah ruangan memberikan privasi bagi orang-orang di zona yang lebih suram dibandingkan dengan zona lain yang mengelilingi zona tersebut. Setidaknya aku bisa membantu mereka membereskan masalah yang luput dari pandangan mereka, membiarkan mereka berfokus menyelesaikan masalah yang mereka sadari.

Mungkin itu penyebab aku menyukai gambar tersebut. Sebagai pengingat terhadap hal yang bisa kulakukan. Dan juga sebagai pengingat bahwa ada orang yang berjuang dalam kegelapan yang lebih pekat dan memperhatikanku dengan pikiran serupa.

And The Mountains Echoed

Sedang membaca And The Mountains Echoed. Yap, judul dari novel ketiga yang ditulis oleh Khaled Hosseini. Kebetulan aku lumayan menyukai karya beliau. Selain mampu mempermainkan emosi para pembaca, pembelajaran terkait situasi politik di Afghanistan, dan, hm. Dia tahu bagaimana cara untuk bercerita. Dan buku ini menarik, tiap bab diceritakan dari sudut pandang orang yang berbeda, menceritakan suatu lini masa. Serupa dengan gaya novel Six Suspects karya Vikas Swarup, yang juga menulis novel Slumdog Millionaire. Ceritanya juga menarik, meskipun mungkin Hosseini telah terkenal dengan tokoh protagonis berupa anak-anak dan cerita diawali dari kondisi afghanistan sebelum pergolakan politik Afghanistan, tapi cerita tentang saudara yang terpisah karena penjualan anak ini menarik juga. Agak sedih melihat bagaimana mereka berjanji tidak akan pernah berpisah saat resensi di balik buku menuliskan bahwa sang adik akan dijual tidak lama setelah itu. Yah, memang selalu ada kemungkinan yang jauh lebih buruk dapat terjadi, seperti yang dikatakan Bill Watterson, pencipta komik strip Calvin and Hobbes dalam karyanya,

That’s one of the remarkable things about life. It’s never so bad that it can’t get worse.

Seperti biasa, aku selalu menyukai buku yang bisa memberikan sudut pandang yang baru, atau menyadarkan, dan karena itu aku lumayan menyukai buku ini. Setidaknya banyak kejadian (walaupun fiktif) yang menarik, sebagaimana yang kutemukan dalam kedua karya sebelumnya, The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns.

Ya, aku selalu menyukai cerita. Entah apa yang menyebabkannya, menganggap kehidupan lain lebih menarik, ingin mempercayai bahwa akhir yang bahagia pasti ada, entah apa. Aku tergolong mudah masuk ke dalam alur cerita yang digunakan oleh penulis, ataupun media. Dan itulah penyebab aku tidak menyukai media, aku terlalu mudah untuk mereka giring, terutama jika mereka benar-benar pandai dalam bercerita.

Dan ada satu pola pikir yang menarik yang kutemukan dari mencari kutipan dari Khaled Hosseini di google, haha.

“It’s a funny thing but people mostly have it backward. They think they live by what they want. But really, what guides them is what they’re afraid of. What they don’t want.

Mungkin ada benarnya. Orang-orang yang supel dan aktif berorganisasi mungkin didorong oleh rasa ketakutan akan tidak punya sahabat atau tidak mampu mengatur orang lain. Orang-orang yang bisa melakukan banyak hal mungkin didorong oleh ketakutan akan tidak punya orang yang dapat diandalkan saat dibutuhkan, karena itu dia menjadi orang tersebut. Orang yang mengikuti berbagai pelatihan mungkin didorong oleh ketakutan akan rasa gagal, ketakutan tidak disukai orang lain jika dia tetap bertahan sebagaimana dirinya atau ketakutan tidak akan sukses saat memulai apa yang ingin dia lakukan. Orang yang mengungkapkan perasaan mungkin takut dia tidak akan mendapatkan kesempatan berikutnya untuk mengutarakannya, dan orang-orang yang memendamnya mungkin takut akan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi jika hal tersebut diutarakan, atau mereka takut akan konsekuensi dari pengucapan hal tersebut.

Tapi mungkin juga tidak semuanya seperti itu. Aku juga telah melihat beberapa orang yang bergerak berdasarkan passionnya, berdasarkan apa yang ingin dia lakukan. Ada orang yang matanya berbinar saat melihat perkembangan atau potensi muridnya dan tersenyum miris saat melihat hal yang berbahaya bagi muridnya. Ada yang menjadikan seseorang sebagai teladan dan berusaha untuk meniru hal-hal baik yang dia lakukan tanpa rasa takut orang-orang tidak akan menerima dirinya. Entah apakah mereka diarahkan oleh ketakutan tidak dapat menerima diri sendiri jika tidak melakukannya, aku meragukan hal itu. Ah, sudah lah, siapa kita untuk berhak menilai orang tanpa tahu mengapa?

Ada yang berkata aku agak unik, dan agak aneh. Yah, aku sendiri tidak menganggap aku mampu menyusun berbagai kalimat menjadi runut dan koheren tanpa menuliskannya terlebih dahulu di selembar kertas, dan semua tulisan yang ada di dalam blog ini hanyalah caraku mengeluarkan apa yang terpikirkan di dalam otak, percayalah, terlalu banyak pikiran itu merepotkan. Sulit untuk fokus kepada segolongan orang jika kita terlalu terpaku pada gambaran besar dari kehidupan dan kesengsaraan, dan karena aku tergolong pendiam di hadapan orang yang belum kukenal atau orang yang kuhormati, yah, pikiranku sangat berisik. Seperti apa yang dikatakan Stephen Hawking.

“Quite people have the loudest mind”

Ada benarnya. Dan jika hanya menilai dari apa yang ada di dalam pikiran, pikiranku sangat acak. Berbagai sudut pandang dan gagasan berdebat memperebutkan posisi gagasan yang akan kugunakan dan kuterapkan dalam kehidupan. Dari gagasan yang jelas kebenarannya sampai yang jelas salah. Yah, mungkin aku hanya suka meracau tentang kehidupan, terlepas dari mana yang benar dan mana yang salah. Dan aku masih berpikir melepas Godzilla di tengah kota merupakan hal yang tepat untuk dilakukan.

Ah, mungkin karena itu juga aku menyukai kata-kata Rumi yang terletak di awal buku.

Out beyond ideas
of wrongdoing and rightdoing,
there is a field.
I’ll meet you there.

And right now I’m just sitting here for hours and just mouth off about the world…

Playlist 2-The Riddle

Aku seorang penikmat musik. Bukan jenis yang selalu penasaran akan kabar terbaru mengenai musisi idolanya, jenis yang selalu mengetahui kapan lagu terbaru dari sebuah grup band akan keluar, jenis yang selalu mengikuti konser grup band ternama yang singgah di Indonesia, jenis yang mendewakan musik sampai melupakan segala hal yang ada di lingkungannya atau segala hal yang menjadi tanggungjawabnya karena terlalu asyik mendengarkan musik, ataupun jenis yang memiliki semua lagu yang ada dalam Top Charts atau apapun itu yang dikategorikan sebagai lagu-lagu terbaik. Bagiku itu merepotkan, lagipula apa gunanya? Aku cuma orang yang suka menikmati musik yang, entah diperkenalkan oleh saudaraku atau tetiba ditemukan saat sedang melihat-lihat youtube, tidak ada alasan tertentu, hanya mendengarkan musik yang kurasa tepat denganku.

Terlepas dari hak cipta yang sering diperdebatkan, aku mengoleksi lagu dalam jumlah yang tidak sedikit, hm, aku tidak mengetahui standar yang tepat untuk mengatakan banyak dalam hal ini. Meskipun di playlist ada lebih dari seribu lagu yang kalau diputar semua dapat menghabiskan lebih dari tiga hari, selalu ada temanku yang mengoleksi jauh lebih banyak, dimana lama playlistnya dapat mencapai berminggu-minggu. Yah, yang jelas lebih dari seribu itu bukan jumlah yang sedikit kan?

Aku mengoleksi lumayan banyak lagu dari berbagai musisi dan grup band, mungkin cukup membahas lagu dari luar Indonesia mengingat aku sempat membahas lagu yang menurutku enak didengar karya anak bangsa. Dari Band terkenal seperti Blink 182, Coldplay, Fall Out Boy, Green Day, Linkin Park, Maher Zain, My Chemical Romance, One Republic, Owl City, Panic! At the Disco, Simple Plan dan Sum 41, hingga Musisi dan Band yang tidak terlalu terkenal (setidaknya yang banyak kawanku tidak tahu atau jarang kudengar di Indonesia) seperti All Time Low, Bowling For Soup, Five For Fighting, Keane dan The Red Jumpsuit Apparatus. Masih banyak yang tidak disebutkan dalam daftar tersebut, tapi memang yang ada di daftar tersebut merupakan mayoritas yang ada di dalam Playlistku. Dan salah satu lagu yang kusuka justru berasal dari Band yang tidak terlalu terkenal, Five For Fighting. Mungkin lagu yang berjudul “100 Years” kadang diputar di acara musik, namun lagu yang kusuka justru jarang diputar dan kadang hanya dijadikan BackGround Music pada beberapa program seperti On The Spot, One Stop Football dan acara-acara serupa. Lagu yang kusuka berjudul “The Riddle” dari Five For Fighting, lumayan menyenangkan dan menenangkan didengar, haha. Membuat penasaran dan tertarik untuk memikirkan kehidupan 🙂

Berdasarkan http://www.azlyrics.com/lyrics/fiveforfighting/theriddle.html, berikut liriknya:

There was a man back in ’95
Whose heart ran out of summers but before he died
I asked him, “Wait, what’s the sense in life?”
Come over me, Come over me

He said, “Son why you got to sing that tune
Catch a Dylan song or some eclipse of the moon
Let an angel swing and make you swoon
Then you will see… You will see”

Then he said,

“Here’s a riddle for you
Find the Answer
There’s a reason for the world
You and I…”

Picked up my kid from school today

“Did you learn anything cause in the world today?
You can’t live in a castle far away
Now talk to me, come talk to me”

He said, “Dad I’m big but we’re smaller than small
In the scheme of things, well we’re nothing at all
Still every mother’s child sings a lonely song
So play with me, come play with me”

“And Hey Dad
Here’s a riddle for you
Find the Answer
There’s a reason for the world
You and I…”

I said,

“Son for all I’ve told you
When you get right down to the
Reason for the world…
Who am I?”

There are secrets that we still have left to find
There have been mysteries from the beginning of time
There are answers we’re not wise enough to see

He said… You looking for a clue I Love You free…

The batter swings and the summer flies
As I look into my angel’s eyes
A song plays on while the moon is high over me
Something comes over me

I guess we’re big and I guess we’re small
If you think about it man you know we got it all
Cause we’re all we got on this bouncing ball
And I love you free
I love you freely

Here’s a riddle for you
Find the Answer
There’s a reason for the world
You and I…

Entah kenapa aku selalu mendapat kesenangan tersendiri dalam memikirkan berbagai hal, haha. Meski memang entah apa manfaatnya, tapi biar lah, haha. Bagi yang penasaran dengan musiknya dapat melihat disini:

Nice, isn’t it?

Random: Prioritas

Oke, tiba-tiba tertarik untuk membahas masalah prioritas. Diawali dari hobi iseng-isengku untuk mengikuti tes kepribadian enneagram, ada yang menganjurkanku dan mengatakan tesnya lumayan tepat dan sesuai dengan dirinya. Entah ini bagian dari hobi mencari jati diri atau apa, tapi aku ingat di manhwa (manga korea) bertemakan psikologi yang pernah kubaca, “Dr. Frost”, dikatakan bahwa ada fase dimana orang-orang, khususnya remaja akan mencari jati dirinya dengan memirip-miripkan atau menyama-nyamakan dirinya dengan artis terkenal, tokoh kartun, binatang atau apapun. Dan hal ini normal, mungkin ini salah satu penyebab kenapa facebookku penuh dengan undangan ke kuis “What …… are you?”, dimana titik-titik itu dapat diisi oleh berbagai kalimat seperti binatang, karakter film kartun dan semacamnya, dan lumayan banyak yang kuikuti. Tapi seiring berjalannya waktu, aku lebih tertarik pada tes psikologi yang lebih spesifik, seperti disc, mbti, dan semacamnya. Yah, apa salahnya menambah satu tes lagi?

Dan tes menunjukkan aku termasuk tipe sembilan, hm. Peacemaker, aku lumayan suka dengan namanya. Hm, deskripsinya agak panjang. Tapi mari lihat hal-hal utamanya, hal mendasar yang ditakuti adalah kehilangan dan perpisahan (hmm…), keinginan mendasarnya adalah ketenangan pikiran (yap, lumayan tepat), dan motivasi utamanya adalah keinginan untuk menciptakan harmoni atau keteraturan di lingkungannya, menghindari konflik dan tensi, menjaga hal-hal sebagaimana yang biasa terjadi dan menolak apapun yang dapat mengganggunya atau membuatnya kesal (oke, tepat, itu aku). Oke, kekuatan dari tipe ini yang tertulis adalah fleksibel dan mudah beradaptasi, perilaku yang bersahabat dan menyenangkan serta kesiapan untuk menerima ide atau kesan, kemampuan untuk melihat sebuah isu dari segala sisi, kesabaran, sikap yang tidak menuntut dan rileks, dan kemampuan untuk berkompromi dan menerima terhadap manusia atau kehidupan. Hm, beberapa ngena, khususnya yang terakhir disebut, tapi sisanya entah, kesan orang lain bukan masalahku kan?

Lalu kelemahan dari tipe ini adalah keinginan berlebih untuk kehidupan yang nyaman dan mudah (ok, ini ngena, awalnya kupikir ini impian semua orang, kelihatannya aku terlalu menggeneralisir manusia ya), ketidakmampuan untuk memutuskan dan menentukan prioritas, ketidaknyamanan dengam perdebatan meskipun diperlukan, mudah terdistraksi ke hal-hal yang tidak penting (again, ngena, ini hobi burukku yang terjadi hampir di tiap rapat), dan bisa mengikuti orang meskipun penolakan dalam hati sangat kuat. Ada hal yang menarik dibahas di kelemahan kedua, ketidakmampuan untuk memutuskan dan menentukan prioritas.

Saat pertama kali aku ditunjuk sebagai ketua skhole, itu masalahku, tidak mampu memutuskan dan menentukan prioritas. Setidaknya begitulah awalnya, rapat diisi dengan pengambilan keputusan yang, aku sendiri sulit untuk memutuskan. Salah satu penyebabnya mungkin karena dari dulu aku tidak suka menjadi pusat perhatian, orang yang memegang kendali, orang yang perkataannya ditunggu-tunggu dan berbagai beban lainnya. Aku lebih suka bertindak bebas tanpa pengaruh dari persepsi orang terhadap tindakanku, dan aku tidak menyukai punya beban, hidup bebas di bayanganku jauh lebih menyenangkan daripada itu. Mungkin itu yang menyebabkan aku suka menyendiri dan tergolong menjaga jarak dengan orang lain, hingga sekarang, aku perlu ruang untuk menikmati kehidupanku di sela kesibukan dan tugas-tugas yang diharapkan dapat membuat kehidupanku kelak lebih nyaman dan mudah, khususnya kehidupan akhirat. Tapi seiring waktu semuanya berubah, apalagi karena aku melihat ketidakmampuan memutuskan hanya menambah masalah. Ditambah lagi kondisi skhole yang anggotanya mayoritas perempuan yang perlu dipikirkan penjagaan dan keselamatannya (kalau malam setelah pulang ngajar ada yang tiba-tiba hilang, percayalah, beban psikologis akan sangat berat, apalagi kalau orangtuanya marah dan minta pertanggungjawaban meskipun bukan aku yang menghilangkan. Kalau digabungkan dengan beban akademis, kelihatannya aku perlu sekop untuk mengubur diri dan menghilang dari kenyataan -_-), dan tenaga yang kurang mengharuskan persiapan acara dilakukan lebih lama, dan mengharuskan keputusan diambil lebih cepat kalau tidak ingin terlibat masalah yang lebih besar. Pada awalnya menyebalkan memang, tapi seiring waktu setidaknya aku mulai terbiasa mengambil keputusan, meski aku masih tidak menyukai diperhatikan orang. Dan perlahan aku mulai mengerti apa yang temanku katakan saat aku mendapatkan amanah, “amanah bukan memilih yang pantas, tapi memantaskan yang dipilih.” Dan itu masih menjadi quotes favoritku sampai saat ini.

Berbeda dengan masalah prioritas, sampai saat ini aku hanya menentukan prioritas berdasarkan deadline dari tugas atau amanah tersebut. Dan memang harus diakui, tugas atau amanah tersebut baru akan kukerjakan saat waktunya sudah mepet dengan mempertimbangkan kemampuan dan keunikanku. Aku dapat menurunkan tugas menjadi beberapa langkah sederhana, menyebabkan aku lumayan dapat memperkirakan estimasi waktu dan langkah pengerjaan riilnya. Tapi sayangnya kemampuan ini hanya aktif saat waktu yang tersisa sudah sangat mendesak. Bukan karena tidak minat mengerjakan, tapi seperti yang telah diketahui secara umum, banyak jalan menuju roma, ada berbagai variasi langkah yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan. Dan sayangnya, aku sulit untuk menentukan metode mana yang ingin kugunakan dalam menyelesaikan tugas saat waktu yang tersisa masih banyak, tiap metode punya kekurangan dan kelebihannya tersendiri, bagaimana mengetahui metode mana yang hasilnya paling baik jika tiap metode butuh waktu yang lumayan banyak? Dan untuk apa mengerjakan hal yang sama lebih dari sekali untuk tujuan yang sama? Namun, jika waktu sudah sangat mendesak, aku tidak akan pikir panjang dan memilih metode secara asal, hahaha. Entah kenapa mood last-minute panic itu sangat bermanfaat di saat seperti ini. Di komik tentang golongan darah yang pernah kubaca, golongan darah A memang gampang panik saat kondisi normal tapi tergolong kuat menghadapi situasi yang menyebalkan. Oke, aku mudah panik saat kondisi normal dan kuat saat kondisi panik karena banyak masalah, fakta yang berhasil membuatku menganggap mimpi hidup nyaman dan mudah itu akan sangat sulit kualami -_-

Yah, intinya deadline merupakan satu-satunya pertimbanganku dalam menentukan skala prioritas. Nah, kemarin sore aku bertanya terkait dengan tugas di salah satu organisasiku di saat grup itu sedang membahas tentang nikah, entah kenapa topik ini selalu hangat dan direspon dengan cepat disaat yang kutanyakan tidak direspon sama sekali, tertimpa bahasan nikah tersebut. Karena agak kesal tidak dipedulikan, aku sih menyindir saja dengan sopan, menyayangkan perilaku mereka yang terlalu sibuk membicarakan hal yang waktu terjadinya masih merupakan rahasia ilahi, di saat bahasan yang kubawa penting bagi kegiatan pekan depan. Ah, menyindir dengan kata-kata yang menusuk itu efeknya lebih ngena daripada marah, apapun alasannya, habis meskipun pernikahan itu bagian dari masa depan yang penting dan harus dipersiapkan, mungkin waktu yang diberikan untuk mempersiapkannya lebih lama dari 7 hari yang ada untuk mempersiapkan acara pekan depan. Jadi ingat cerita kawan di sebuah universitas di depok, bahwa ketua bem disana sempat “ngambek” karena kajian pra-nikah selalu penuh disaat kajian terkait isu negara tergolong kosong. Ada beberapa waktu dimana kita perlu mempertanyakan apakah prioritas kita benar, dan mungkin sekarang salah satu waktu yang tepat untuk mempertanyakannya.

Yah, kalau ditanya prioritas jangka panjang pun aku juga bingung apa yang mau kuprioritaskan. Berdasarkan target harusnya mencari beasiswa s2 di luar negeri dahulu, lalu cari penghasilan sampingan selagi kuliah, lanjut dengan menikah dan s3 (tetap di luar negeri kelihatannya sebelum kembali ke indonesia, dosen-dosenku berkata lebih baik studi magister dan doktor dilakukan di negeri lain yang lebih bagus sistem dan kualitas akademisinya) atau kerja. Semuanya kondisional, bahkan aku sudah membayangkan beberapa situasi yang mengharuskan aku melamar anak orang sebelum waktu targetku, dari situasi yang mengerikan, tak terprediksi sampai situasi yang absurd dan hampir tak mungkin terjadi. Sayangnya, hampir tak mungkin terjadi tidak sama dengan tak mungkin terjadi, ah, sudah lah, simpan saja skenarionya di pikiran dan berdoa supaya bukan itu yang tertulis di suratanku.

Dan akhirnya malam ini kuakhiri dengan membuat malam dari tepung, garam dan air. Oke, ini kubuat agak asal dari segi takaran, dengan mengandalkan feeling dari melihat orang itu yang sudah pernah membuat hal serupa, haha. Oke, pada awalnya takaran yang kumasukkan justru menghasilkan adonan lem. Ah, kelihatannya aku punya bakat terpendam untuk menghasilkan produk lain dari bahan-bahan dan metode yang sama, saat tahun pertama dulu juga begitu, pada tantangan bisnis sebagai salah satu pengenalan unit kelompokku berniat untuk berjualan brownies yang kami berdua buat dengan ricecooker dan resep miliknya, namun kelihatannya meskipun kedua laki-laki yang terlibat ini bernama hanif, jalan yang mereka tempuh tidaklah lurus. Karena makanan yang dihasilkan dari mengikuti resep brownies itu adalah martabak berwarna coklat, hal yang sampai sekarang masih kupertanyakan dimana kesalahannya. Entah bagaimana orang lain dapat membuatnya terlihat mudah, dan entah bagaimana cara dia melakukannya sehingga pekerjaannya terlihat mudah saat waktu itu kita melakukannya bersama 😐

Ah, sudah lah, beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk diketahui kan? Mungkin aku akan meminta copy dari lembar enneagram saja untuk memastikan hasil tes ini benar atau tidak, aku agak ragu dengan tes dari versi hp seperti ini. Dan sekarang waktunya membuat malam yang bermanfaat 🙂