Puasa Asyura di Bulan Muharram

Baru saja mendapatkan informasi dari kawan terkait puasa pada tanggal 10 Bulan Muharram, puasa asyura. Dan teringat juga cerita seorang panutan bahwa kurang dari setahun sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, ada sahabat yang berkata pada beliau bahwa Kaum Yahudi pun berpuasa pada tanggal 10 Muharram, maka beliau pun mengatakan untuk turut berpuasa sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram) untuk membedakan kedua umat tersebut.

Berikut merupakan beberapa hadits yang disampaikan kawanku tersebut:

Dari Abi Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Lebih utamanya puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah Muharram …” (H.R. Muslim)

Dari Abi Qatadah, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Puasa hari Asyura, sesungguhnya aku mengharapkan pada Allah supaya menghapus (dosa) setahun sebelum puasa”. (H.R. Tirmidzi) (Shahih)

Abu Qatadah berkata “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Dari Ibn Abbas, dia berkata,”Rasulullah SAW memerintahkan puasa Asyura’ pada hari tanggal 10”. (H.R. Tirmidzi) (Shahih)

 

Dari Abdillah ibn Abbas r.a. dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada tanggal 9 Asyura’ ”. (H.R. Muslim)

 

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, dia berkata, “Berpuasalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram dan selisihilah orang Yahudi”. (H.R. Tirmidzi)

 
In syaa Allah 9 dan 10 Muharram 1436 H bertepatan dengan  2 dan 3 November 2014. Meskipun belum sempat puasa hari ini, esok masih ada kesempatan lah ya. Dan bagi yang ingin menambah puasa sunnah, dapat juga berpuasa tengah bulan pada tanggal 13-15 tiap bulan hijriyah, atau pada Muharram 1436H bertepatan dengan 6-8 November 2014 🙂

Semoga puasanya berkah dan bermanfaat 😀

Random: Guru SMA

Bertemu kembali dengan guru-guru sma selalu punya kesan tersendiri, terlebih jika guru yang ditemui merupakan orang yang dianggap penting atau punya peranan krusial dalam perjalanan kehidupan. Dan begitulah kegiatanku kemarin, berkunjung ke rumah beberapa orang guru bersama para alumni lainnya. Menyenangkan juga mendengar kabar sma tercinta setelah lama ditinggalkan, dari kebijakan kepala sekolah baru hingga wacana akan kebijakan pemerintah provinsi di dunia pendidikan.

Sedikit menceritakan tentang SMAN 47 Jakarta, atau beberapa kawan menyebutnya Semi-MAN 47 Jakarta, entah karena apa. Kebetulan aku belum berkesempatan mengikuti kegiatan belajar di sma atau institusi sederajat lainnya untuk membuat perbandingan, mungkin itu hanya julukan dari beberapa sahabat yang belum terbiasa mengikuti pengajian. Memang dulu tiap jumat ada sesi khusus ceramah dan mengaji bagi muslim/ah, dan kabar terakhir yang kudengar adalah sekarang sesi itu dijadikan tiap hari oleh kepala sekolah yang baru, entah bagaimana jika kepala sekolahnya telah berganti lagi. Yah, itu urusan nanti.

Hm, apa lagi ya? Oh. Selain itu, tiap selesai shalat fardhu berjamaah, ada pembacaan hadits bergilir dari kitab Riyadush-Shalihin, entah siapa yang memulai tapi saat zamanku dulu umumnya anak rohis yang mengisi, sistemnya sederhana: siapa yang tercepat bangkit menuju mimbar dialah yang berkesempatan memilih bab hadits untuk dibacakan–sekaligus mengingatkan sesama muslim dalam kebenaran dan kesabaran. Dan saat bulan Ramadhan, atau kadang pada hari disunnahkannya berpuasa, jika masih ada sekelompok murid atau guru yang berada di lingkungan sekolah, biasanya mereka akan patungan untuk membeli makanan lalu memakannya bersama-sama di atas nampan. Makan berjamaah, mengingat makanan untuk dua orang cukup untuk bertiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan seterusnya. Meski mungkin bagi para anak lelaki dalam masa pertumbuhan, kegiatan ini dapat disalahartikan menjadi lomba-adu-cepat-makan-sebelum-jatahmu-dihabiskan-orang, atau mungkin juga kegiatan ini dilakukan untuk mendapat porsi lebih karena pemilik rumah makan seringkali berbaikhati jika pelanggannya membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, hahaha.

Oke, setelah dipikir kembali, julukan Semi-MAN mungkin agak terjustifikasi disini, hahaha. Entah bagaimana smaku saat ini, tapi aku lumayan senang masuk kesana di angkatan 2010. Memang ada juga beberapa siswa yang suka nongkrong, merokok, dan lain sebagainya, tapi mereka juga tak jarang terlibat di kegiatan serupa. Kadang jadi tenaga sukarela saat mengurus persiapan perayaan hari besar islam, kadang ikut-ikutan beraktivitas bersama. Yah, terlepas dari dimana tongkrongannya atau siapa sahabat dekatnya, apa salahnya berbuat kebaikan bersama-sama? Hanya karena seseorang melakukan perbuatan yang dicap negatif, bukan berarti dia tidak punya sisi positif kan? 🙂

Dan ini adalah cerita mengenai seorang guru di SMAN itu. Namanya Pak Ahnaf, nama yang lebih baik dari namaku, Hanif. Atau setidaknya itu tebakanku, analisis setelah mendengar penjelasan bahwa Akbar (Maha Besar) berasal dari kata Kabir (Besar), aku menebak bahwa itu merupakan contoh kalimat Superlative dalam Bahasa Arab. Hanya tebakan sayangnya, semoga bisa belajar Bahasa Arab setelah dua bahasa asing lain yang tengah kupelajari tersertifikasi baik, bismillaah 🙂

Satu kata untuk mendeskripsikan beliau: Baik. Oh, mungkin bisa ditambah satu kata lagi: Banget. Entah ya, kadang beberapa manusia yang kita temui sulit untuk dideskripsikan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, dan akan lebih sulit lagi jika kita membatasi keterbatasan itu, seperti meminta mendeskripsikannya dengan satu atau dua patah kata. Yah, mungkin memang sebagian manusia punya hobi untuk mempersulit diri sendiri. Terserah saja, toh aku hanya punya wewenang atas kehidupanku. Mungkin sedikit berharap jika aku akan mengikuti seleksi, entah seleksi apapun, tidak ada pertanyaan yang meminta mendeskripsikan sesuatu dalam beberapa kata, terlebih jika sesuatu itu merupakan makhluk kompleks seperti manusia.

Kemarin aku berkunjung ke rumahnya lagi. Kelihatannya sudah tidak lagi mengingatku, bukan hal yang aneh karena tiap tahun beliau perlu mengingat lebih dari 250 siswa sebagai penanggungjawab mata pelajaran agama di kelas 12. Kelihatannya beberapa senior yang datang bersamaku juga berpendapat demikian, hingga salah satu dari mereka berkata, “Meski bapak sudah tidak ingat saya lagi, saya akan tetap ingat bapak kok pak”. Berlebihan? Mungkin, tapi kelihatannya tidak sedikit dari para pengunjung yang sepakat akan kalimat tersebut, termasuk aku. Yang penting bukan apakah orang yang berperan penting dalam kehidupan kita mengingat kita atau tidak, mungkin dia punya peranan penting dalam hidup banyak manusia, atau mungkin juga dia menjadi peran penting dalam hidup kita tanpa sengaja, dan tidak perlu waktu lama untuk melupakannya. Pertanyaannya, masih ingatkah kita akan peranan penting dan jasa-jasa dari orang itu? Atau pertanyaan yang setingkat lebih sulit: Apa yang telah kita lakukan untuk membalas, atau meneruskan, kebaikan-kebaikan yang telah kita terima?

Beliau masih sama. Pembawaannya tenang, kata-kata dan nasihatnya mengena. Dan silaturahmi ke rumah beliau pun diisi dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal terkait agama. Masih ingat sebagian dari nasihatnya.

Saat sahabatku bertanya tentang sistem di sebuah perusahaan yang menyebabkan shalat jumat antar karyawannya digilir, beliau menjawab:
“Ati’ullaaha wa ati’urrasuula wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, dan taatilah RasulNya, dan pemimpin-pemimpin di antara kamu. Dan pemimpin-pemimpin di antara kamu, bukan dan ‘taatilah’ pemimpin-pemimpin di antara kamu, yang artinya ketaatan terhadap pemimpin itu relatif, salah satunya tergantung dari apa yang disuruh dikerjakan. Kemudian beliau meminta salah seorang sahabatku yang hafal 7 juz lebih untuk melanjutkan ayat “Alladzii khalaqal mawta wal hayaata…”, dari Surat Al-Mulk ayat 2, yang lanjutannya “liyabluwakum ayyukum ahsanu amala”. Kemudian beliau menjelaskan arti ayat tersebut, Allah menciptakan yang mati dan yang hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Yang mati, dan yang hidup, keduanya ujian untuk kita, untuk memeriksa siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Beliau juga berwasiat tentang kejujuran, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga”. Kali ini lupa dari pertanyaan apa tapi berhasil menemukan versi lengkapnya setelah bertanya pada master google, bagi yang penasaran silahkan buka http://salafy.or.id/blog/2012/04/08/ash-shidq-akhlaq-yang-akan-mengantarkan-ke-surga/

Isi dari sebuah nasihat memang penting, tapi penyampaiannya tidak kalah penting. Jika mengacu pada komik karya vbi djenggoten, maka isi dari sebuah nasihat ibarat sebuah berlian. Tapi jika berlian itu diberikan kepada seseorang dengan melenparnya hingga dia terluka, apakah orang itu sadar bahwa yang dilemparkan adalah berlian?

Baru beli buku baru, “The Five People You Meet In Heaven” karya Mitch Albom, setelah karyanya “Tuesday With Morrie” memberi banyak konsep pemikiran. Kali ini pun konsepnya menarik, “Ada lima orang yang akan kau temui di alam baka. Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu apa alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia”.

Mempertemukan dengan 5 orang untuk menjelaskan peranan seseorang di dunia. Yah, tiap makhluk memiliki peranannya tersendiri, tidak ada hal yang diciptakan dengan sia-sia. Mungkin tidak sedikit manusia yang mempertanyakan untuk apa mereka tercipta dan lain sebagainya. Sebagian mungkin memutuskan memberi makna sendiri pada hidup mereka. Yah, mungkin para muslim yang berilmu pun akan langsung menjawab bahwa manusia tercipta untuk menyembahNya. Tapi dari banyaknya yang mengetahui dan menyatakan, mungkin hanya Dia yang mengetahui berapa banyak yang bersungguh-sungguh menyatakannya dengan melibatkan tindakannya–entah tindakan seperti apa yang benar.

Dan sekarang jadi agak penasaran, sebagaimana beliau yang mungkin mengetahui bahwa pada gambaran besarnya beliau bertugas untuk mengajarkan dan mengenalkan anak muda terhadap agama, kira-kira dimana perananmu, dan dimana perananku dalam gambaran besar? Kupikir kita tidak perlu ke alam baka terlebih dahulu untuk mengetahuinya cukup memulainya dengan membuat beberapa pilihan, sejak saat ini 🙂

Idul Fitri

Tak terasa ramadhan kembali berlalu, bulan kembali berganti. Mungkin tidak sedikit manusia yang merasa kurang memaksimalkan kesempatan kali ini, yah, manusia selalu menginginkan lebih–terlepas dari apakah dia punya kapabilitas untuk berbuat lebih ataupun tidak–bukan?

Sekedar mengingatkan bahwa berandai-andai apa yang terjadi jika melakukan hal yang berbeda di waktu yang telah lampau bukanlah hal yang bijak. Kita bisa mengambil pelajaran darinya, jelas, tapi apa gunanya pelajaran yang diambil jika kita terperangkap di tempat, tidak bisa bergerak maju karena sibuk memikirkan masa lalu?

Saat usaha telah maksimal, selalu ada saat untuk berdoa. Setidaknya, pahala merupakan sebuah privilege khusus milikNya, kan? Mari berdoa agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia di sisiNya 🙂

Taqabbalallahu minna wa minkum, ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.
Semoga Allah menerima amalan kita, dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung 🙂

Selamat idul fitri semuanya, entah apakah kita termasuk golongan yang menang ataupun tidak–aku masih kesulitan menentukan standar menang itu–tapi semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu memperbaiki diri, juga golongan orang-orang yang selalu memberi manfaat bagi orang lain. Bisa dimulai dari bertukar rantang masakan ataupun sekedar bersilaturahmi dengan tetangga, anggaplah amplop berisi uang dari tetangga yang dermawan sebagai hadiah tambahan untuk menjaga silaturahmi. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? 🙂

Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan? 🙂

Rezeki

Percayakah kamu bahwa tiap makhluk memiliki jatah tersendiri atas rezekinya?

Pada liburan akhir tahun lalu kebetulan aku sedang berada di sebuah kota saat ada seseorang yang membutuhkan pendonor bergolongandarah sama sepertiku, dan karena saat itu aku memang sedang luang, akhirnya aku yang menjadi pendonor. Tawaran apa yang lebih menggiurkan bagi mahasiswa di perantauan selain makanan gratis dalam jumlah yang cukup banyak? Yah, setidaknya biskuit regal yang disajikan secara prasmanan bagi pendonor di kantor pmi itu bisa mengisi perut untuk sekali makan, bahkan mungkin bisa mencukupi kebutuhan dua hingga tiga hari jika pendonor terkait tidak malu membawa plastik untuk mebawanya pulang. Hahaha. Dan pada liburan ini saat aku sedang tidak berada di kota itu, skenario yang sama terulang dua kali, mungkin karena liburan pergantian tahun ajaran memang lebih lama. Dan saat kuhubungi, mereka menjawab telah mendapat pendonor masing-masing. Dan sekarang jadi terpikir, siapa nama yang tertulis sebagai pendonor mungkin merupakan ajang bagi para manusia untuk berlomba dalam kebaikan, tapi kepastian sang pasien mendapatkan transfusi mungkin merupakan bagian dari rezekinya.

Pengemis dan pengamen di persimpangan jalan atau warung makan pun begitu. Banyak yang mempropagandakan untuk tidak memberikan uang kepada mereka karena dikhawatirkan akan memberikan mental atau pola pikir yang salah untuk hanya meminta-minta tanpa perlu bekerja kepada mereka, tapi tetap saja ada yang memberikan. Beberapa orang lebih memilih menyumbang ke badan amal yang dianggap kredibel dalam mengurus sedekah karena tidak tahu mana yang membutuhkan dan mana yang sekedar malas untuk bekerja, dulu ada juga kawanku yang memilih menyumbangkan uang dalam bentuk makanan seperti roti untuk meminimalisir kemungkinan uang yang didapat digunakan untuk hal yang kurang baik bagi mereka seperti rokok dan lem untuk dihirup baunya, sayang gerakan itu saat ini sudah tidak terdengar lagi.

Mungkin itu juga yang menyebabkan masih banyak hewan yang bisa hidup. Memang jumlah spesies yang terancam kepunahan jauh lebih banyak daripada jumlah jari pada manusia, tapi tetap saja banyak yang menemukan makanan untuk bertahan, entah berupa pemberian alam, rasa kasihan orang, atau rasa tanggungjawab petugas kebun binatang. Kadang aku mempertanyakan terkait kematian seekor binatang, apakah itu karena binatang terkait merupakan rezeki bagi binatang lain yang kelaparan atau pengingat bagi beberapa oknum yang sibuk mengoleksi jasad atau bagian tubuh binatang demi keuntungan atau kepuasan pribadi jika makhluk terakhir dari sebuah spesies telah mati. Mungkin juga keduanya.

Belum lama ini ada seorang juniorku yang menanyakan tentang keadilan akan rezeki dariNya. Dia bertanya mengapa apakah adil jika perempuan memiliki waktu dimana dia tidak dapat berpuasa tapi wajib menggantinya di bulan yang pahalanya belum tentu sama dengan Ramadhan, dan dia mempertanyakan bagaimana kabar pahala dari amalannya. Jelas pertanyaan ini ditujukan kepada orang yang salah, mengingat yang ditanya bukanlah ahli dalam hal fiqih wanita ataupun pengatur besar-kecilnya pahala dari sebuah amal.

Dan aku pun teringat bahwa di bulan ini ada malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, Lailatul Qadar. Fakta bahwa panjang malam di tiap daerah berbeda-beda, ada yang sampai belasan jam, dan mungkin ada juga daerah yang tidak pernah merasakan malam. Ada situs yang menyebutkan bahwa di Argentina puasa hanya berlangsung selama 9 jam, berbanding dengan 21 jam di Islandia. Berhakkah untuk merasa iri pada mereka di daerah Argentina? Bisa karena waktu puasa yang lebih pendek, bisa juga karena kesempatan mendapatkan Lailatul Qadar yang lebih besar, atau apapun itu, dingin tidak akan berpengaruh banyak jika disikapi dengan baik atau sudah beradaptasi, kan?

Jika dilihat dari sudut pandang lain, tetap ada potensi kebaikan yang dapat diraih perempuan ataupun orang yang berpuasa lebih lama. Yang perempuan dapat memberi bahan untuk berbukanya orang-orang yang berpuasa, yang berpuasa lebih lama pun memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal seperti bekerja atau berbelanja tanpa mengurangi waktu malamnya, dan mungkin mereka bisa memfokuskan waktu malamnya untuk beribadah semata. Sulit untuk melihat apakah ini rezeki atau bukan dan apakah ini adil atau tidak jika hanya berfokus pada satu argumen atau sudut pandang saja, lagipula, bukankah Dia Maha Pemberi Rezeki lagi Maha Adil?

Yah, walau ada beberapa makhluk yang mungkin mempertanyakan sifat-sifatNya itu, tetap saja Dia menyempurnakan rezekiNya bagi semua makhluk. Mungkin mempertanyakan merupakan salah satu langkah menuju kepercayaan. Terlepas dari itu, tiap makhluk mungkin juga menyikapi rezeki yang diterima dengan cara yang berbeda. Ada yang mensyukuri meski dalam pandangan orang lain apa yang dia dapat sangat sedikit, ada juga yang memaki dan meminta tambah meski rezekinya sudah sangat banyak menurut orang yang lain lagi.

Mungkin sekarang yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita menyikapi rezeki yang kita terima, akankah kita menggunakan rezeki kita untuk hal yang baik? Dan, masih ingatkah akan hak-hak orang lain dalam harta kita? Yah, itu salah satu fungsi zakat fitrah di akhir bulan ini, kan? 🙂

Selamat berjuang mendapatkan lailatul qadar di malam-malam terakhir Ramadhan, jangan lupa memberikan hak orang lain dalam harta kita kepada mereka yang berhak menerimanya.

Dan waktunya kembali fokus menyelesaikan perkuliahan laks, secepatnya. Tambahan biaya untuk menunda tidak sedikit, berusahalah agar itu menjadi rezeki pribadi 🙂

Di Bawah LangitMu

Baru sadar tampilan wordpress di laptop beda, hahaha.

Sedang suka dengan lagu ini, lumayan menentramkan hati, sangat berguna apalagi setelah melihat masih saja ada yang meributkan pemilihan presiden beberapa hari yang lalu. Sayang belum berhasil menemukan video klipnya yang official, hahaha.

Di Bawah LangitMu
Bersujud Semua
Memuji Memuja AsmaMu

Dan Bertasbih Semua
MakhlukMu Tunduk
Mengharap Cinta Dan KasihMu

Kadang aku ragu, benarkah kita semua mengharap cinta dan kasihNya? Kelihatannya selalu ada sengketa. Perkataan bahwa “Kubu ini lebih baik”, “Kubu ini lebih bersih”, “Kami lebih tegas”, “Kami lebih merakyat”, dan lain sebagainya diungkapkan berulang kali hingga entah mana yang benar. Kondisi yang berakhir dengan kedua kubu melakukan klaim tersendiri atas kemenangannya, di saat harusnya hanya ada satu kubu yang menang. Kelihatannya siapapun yang menang nanti kondisinya akan tidak mengenakkan. Mungkin saja malah akan timbul masalah baru, entah apakah kita memang mengusahakan cinta dan kasihNya atau malah mencoba menentang keputusan takdirNya dengan berbuat hal demikian.

Entah apa yang salah dengan politik, yah, memang itu bukan hal yang menyenangkan. Tidak paham politik pun menyebalkan, yah, meski jelas juga bahwa hanya memperhatikan fenomena yang terjadi saat pemilihan legislatif atau eksekutif tanpa peduli, mengritisi dan mengevaluasi kinerja saat yang terpilih bekerja tidak dapat disebut paham bagaimana politik dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Setidaknya mereka bisa paham karakteristik manusia negeri ini, seperti isu apa yang membuatnya sensitif, reaksi apa yang diberikan dalam kondisi seperti sedang bergerombol–apalagi jika bertemu dengan gerombolan pendukung dari kubu lain–atau sedang sendirian, bagaimana–dan sesantun apa–cara orang berpendapat,

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Kelihatannya ada sebagian makhluk yang mempersengketakan kekuasaan dan hak yang lupa akan janji untuk selalu mengagungkanMu dalam kondisi apapun, dengan ataupun tanpa kekuasaan dan hak yang berlebih itu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Umat yang kau utus kelihatannya lupa bahwa mereka diutus untuk seluruh semesta alam, bukan hanya untuk golongannya saja, sehingga mereka memperjuangkan golongan mereka itu dengan segala cara yang dapat menimbulkan pertengkaran dan memutuskan tali silaturahmi, hal yang Kau minta untuk dijaga agar tetap tersambung. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Saat ini sebagian besar umatMu ragu, tidak tahu golongan mana yang benar-benar memperjuangkan agamaMu dan golongan mana yang sekedar mencatut namaMu demi kepentingan pribadi mereka, dan saling mengklaim bahwa golongan lain lah yang menghinakan dan memperjualbelikan agamaMu bahkan sampai pada tahapan saling mengklaim bahwa golongan lain itu hanya berpura-pura menjadi golonganMu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Ada beberapa orang yang tidak segan meminta dipendekkan umurnya untuk menggugatMu atau rela mempermalukan diriNya jika hal yang Kau inginkan tidak sesuai dengan hal yang mereka inginkan.

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Sulit untuk membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, yah, ada asap kereta api yang berwarna putih dan ada asap pabrik yang berwarna hitam, namun keduanya tetap asap. Jika melihatnya begitu, maka hitam dan putih sudah tidak ada bedanya, semuanya mematikan jika terlalu banyak dihirup, apalagi jika sampai terlena berada di tengah-tengahnya.

Atau, yah, mungkin juga ini bukanlah kesalahan. Mungkin ini ujian untuk orang-orang yang mengaku beriman. Bukankah Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ya’qub alaihissalam pun mengatakan bahwa yang berputusasa dari rahmatNya hanyalah orang-orang yang sesat?

Lakukanlah yang terbaik yang dapat dilakukan, dan biarkanlah skenarioNya berjalan, semoga semua akan menjadi lebih baik kelak di masa depan 🙂

Semua Berawal dari Suatu Hari di Bulan Ramadhan…

Menurutmu, bagaimana Dia mendokumentasikan skenarioNya? Bagaimana malaikat mencatat kebaikan dan keburukan? Apakah dicatat poin per poin, yang mungkin ditambah dengan deskripsi singkat dibawahnya? Atau mungkin menguntai kata-kata berima, merangkai cerita tentang kelakuan kita?

Ramadhan, bulan penuh berkah telah kembali. Mungkin dalam skenarioNya yang sudah tersusun rapi, atau pada catatan perbuatan kita kelak, akan ada sebuah poin atau kisah yang diawali dengan kalimat berikut, “Semua berawal dari suatu hari di Bulan Ramadhan…”

Apa yang berawal? Bisa apa saja. Dari hal baik seperti perjalanan menuju taqwa, perjuangan menebus dosa, perbuatan baik yang berujung dengan balasan yang sama–atau bahkan jauh lebih–baiknya, atau bahkan awal mula cerita hidup baru yang lebih mulia, walau entah mulia di mata siapa.

Meski begitu bukan mustahil juga Ramadhan ini menjadi awal dari sebuah cobaan yang dapat meninggikan derajat atau menghancurkan mental kita,yah, semua tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Mampukah kita bersabar dan terus berusaha atau akankah kita malas melanjutkan dan putus asa?

Yah, bisa juga Ramadhan ini malah menjadi awal dari sebuah keburukan. Mungkintidak ada manusia yang menginginkannya, tapi itu bukan hal yang tidak mungkin. Entah karena menyia-nyiakan kesempatan, terjerumus karena sebuah ketidaksengajaan, atau mungkin tidak peduli pada kedatangan bulan ini, entah menganggapnya sama saja atau mungkin melihat kesempatan mengganggu atau berbuat kerusakan yang sulit ditemukan di bulan lain.

Dan selalu ada kemungkinan bahwa Ramadhan ini merupakan awal dari sebuah akhir. Akhir kehidupan kita? Akhir dunia? Siapa yang tahu? Yah, karena itu memaksimalkan kesempatan di bulan ini meski mungkin kesempatan-kesempatan di tahun-tahun sebelumnya terlewatkan tidak salah kan?

Yah, mari lihat bulan ini sebagai waktu yang tepat untuk melanjutkan dan membiasakan kebaikan yang telah atau pernah dilakukan, melatih kesabaran yang mungkin akan diperlukan, dqn tentunya melakukan amalan dengan mengharapkan keutamaan ramadhan. Mungkin perlu persiapan juga untuk menghadapi cobaan dan kesadaran untuk menghindari keburukan. Dan dengan begitu, bukan mustahil Ramadhan ini bisa menjadi Ramadhan yang paling berkesan.

Siapa yang tahu skenario macam apa yang Dia ingin kita jalankan? Bahkan mungkin dalam lembaran rencanaNya, terselip sebuah cerita tentang kita. Dan bukan tidak mungkin cerita tersebut dibuka dengan “Semua berawal dari suatu hari di Bulan Ramadhan…”

Dan karena kita tidak punya hak untuk mengetahui suratan, tidakkah lebih baik kita jalankan saja ramadhan ini, dan memanfaatkannya untuk kebaikan diri di masa depan nanti? Bukankah manusia bisa beramal dan berbuat sebaik mungkin, atau setidaknya mencoba melakukannya? Bagaimana hasilnya bisa kita serahkan padaNya, bukan? 🙂

Selamat beramal 😀

*teringat keperluan untuk menebus dosa melalaikan tugas akhir di beberapa waktu silam* ._.

Waktunya Bersyukur

Waktunya bersyukur, ternyata dua jumat kemarin yang penuh dengan perjuangan, lelah, kantuk, keringat dan keberanian telah mengeluarkan hasil yang baik. Yeay! Senang mengetahui ternyata tidak semua hal akan terjadi sebagaimana worst-case situation dalam benak. Sekarang tinggal menyelesaikan tiga tugas besar dan ujian take-home sebelum bisa mencurahkan fokus penuh untuk mengurus skripsi, yang belum ada kejelasan juga kapan selesainya, haha. Bismillaah lah ya 😀

Setidaknya selalu ada hal yang patut disyukuri tiap hari. Hal-hal yang mungkin sering terlupakan, seperti jantung yang masih berdetak, udara yang masih dapat dinikmati dan bebas biaya, tubuh yang masih sehat, waktu yang masih luang, teman-teman yang baik, keluarga yang utuh, wah, banyak.

Jadi ingat sebuah kisah pada jaman Nabi Musa as, saat ada orang miskin dan orang kaya yang bercerita tentang masalahnya secara bergiliran. Yang miskin ingin menjadi kaya karena tidak tahan dengan kemiskinannya, yang kaya ingin menjadi miskin karena hartanya merepotkannya.

Nabi Musa as menganjurkan orang yang miskin untuk lebih banyak bersyukur, dan menganjurkan orang yang kaya untuk mengurangi rasa syukurnya. Mereka berdua pun menjawab itu mustahil. Orang yang miskin merasa dirinya tidak punya apa-apa untuk disyukuri, dan orang kaya merasa keterlaluan jika banyaknya nikmat yang sampai padanya tidak disyukuri. Mereka pun berlalu.

Padahal itu semua sesuai dengan janjiNya dalam surat Ibrahim (14): 7, barangsiapa yang bersyukur akan ditambahkan, dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya azabNya sangat pedih.

Mungkin ada waktu kita perlu berhenti sejenak, mengenang apa yang terjadi, dan mensyukuriNya. Entah bagaimana cara Dia menambah, aku bahkan tidak pernah mengerti bagaimana cara Dia bekerja. Dan mungkin memang tidak ada yang perlu mengerti. Kalau Dia bisa kita prediksi dengan berbagai ilmu dan pengetahuan statistik, probabilitas, logika atau ilmu-ilmu lain, membuatNya kehilangan keagunganNya dengan memanipulasiNya bukan hal yang mustahil kan?

Mungkin memang ada beberapa hal yang belum perlu kita ketahui, mungkin juga tidak perlu diketahui. Bukan berarti tidak perlu dipertanyakan, bukankah dahulu para Sahabat juga bingung kenapa Perjanjian Hudaibiyah disetujui? Kenapa begini, kenapa begitu? Kalau tidak ada yang mempertanyakan dan hanya tunduk buta semata, mungkin umat muslim tidak akan pernah menjadi imperium di masa apapun. Astronomi, kedokteran, matematika, berapa banyak bidang yang sempat dikuasai ilmuwan muslim? Mungkinkah ada ilmuwan jika semua tidak mempertanyakan dan menerima apa adanya, entah itu perintah atasan, gejala alam, konflik sosial, konspirasi, apa pun lah. Bahkan Dia juga menegaskan bahwa dalam penciptaan bumi, bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Tapi, tidak perlu mempertanyakan sampai ke tingkatan dimana kita menuhankan berbagai skenario atau hal yang ada di benak kita juga, seolah kita dapat menjadi Tuhan yang lebih baik apabila ada kesempatan, padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari masalah. Benarkah semua akan lebih baik jika begini atau begitu? Apakah itu memang baik?

Yah, setidaknya bersyukurlah karena masih bisa melakukan banyak hal. Memang ada banyak hal yang belum dimengerti, tapi lebih baik saat ini berdoa saja, semoga Dia memberitahu jawabnya, atau membukakan pintu ilmu saat waktunya telah tiba. Tidak semua pertanyaan harus langsung terjawab bukan? Bagaimana dengan proses pencarian jawaban yang mungkin akan memberikan kita hikmah dan pelajaran yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jika semua jawaban langsung muncul secara spontan? 🙂

Dan bersyukurlah jika masih ada pertanyaan yang membuat kita berpikir, setidaknya masih ada topik yang menarik bagi kita untuk dipikirkan, untuk dipertanyakan, dan untuk dipermasalahkan. Jika kita sudah tidak mempertanyakan apapun, apa bedanya kita dengan robot berbalut daging dan bernyawa dalam hal menjalani kehidupan? Mungkin hanya perasaan yang membedakan, hm, entah lah, mungkin robot juga punya perasaan yang tak pernah terucap karena sibuk menjalankan perintah.

Ah, sudah lah, yang jelas, bersyukur lah 🙂