Maaf mas, saya tidak punya uang kembalian…..

Allah punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.

Yang jelas, keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.

Ceritanya bagus 🙂

Maaf mas, saya tidak punya uang kembalian…...

Iklan

Sokola Rimba

Baru aja dari bioskop, dan ternyata ada film bagus yang lagi diputar disana, karya anak bangsa lagi, judulnya sokola rimba. Itu kisah (atau terinspirasi dari kisah ya?) Butet Manurung–atau Saur Marlina Manurung-dalam usahanya merintis Sokola pada hilir (dan kelak merambat ke hulu) sungai makekal di tengah hutan bukit duabelas jambi, dengan orang-orang rimba (orang-orang yang bertempattinggal di dalam hutan tersebut) sebagai muridnya. Kisah yang menarik, sekaligus kritik sosial dan sebuah pandangan yang unik terhadap kehidupan dan realita saat ini.

Oiya, sekedar memberitahu, tulisan ini akan membahas beberapa adegan dalam film tersebut yang kuanggap menarik, dan mungkin ini akan jadi spoiler bagi yang belum menonton, jadi bagi yang ingin menonton filmnya dalam waktu dekat tidak terlalu disarankan membaca artikel ini lebih lanjut. Dan ini juga merupakan perspektif pribadi terhadap sebuah karya, tiap orang berhak punya interpretasi tersendiri kan? 🙂 Yah, sekedar memberitahu, karena bagaimanapun juga ini hanyalah sebuah tulisan, dan meskipun tulisan bisa memotivasi ataupun menjatuhkan, tulisan tidak cukup kuat untuk mengatur apa yang sedang atau akan kalian lakukan bukan?

Keep Out! (Or Enter)

Ada beberapa adegan yang kuanggap menarik dalam film ini. Adegan pertama adalah adegan saat dialog antara warga rimba dan orang kota, dimana orang kota menyerahkan surat perjanjian kepada orang desa untuk ditandatangani oleh orang desa tersebut, padahal orang desa yang ada disana tidak ada yang bisa membaca. Somehow, adegan ini seolah menggambarkan penyalahgunaan ilmu, menggunakan cara yang tidak dimengerti oleh orang lain untuk memenuhi hajat pribadinya sendiri. Entah lah, kesannya seperti fungsi perjanjian telah bergeser, dari mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi parasitisme yang menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lainnya. Ini juga yang menjadi topik diskusiku saat bermain ke jogja (hm, mungkin harusnya yogyakarta karena nama provinsinya D.I.Y, bukan D.I.J., tapi aku lebih suka menyebut kata “jogja” daripada “yogya”, entah mengapa) sekitar 1.5 bulan yang lalu, ketika bahasa inggris unik seorang artis  (atau tokoh mungkin? Ah, apapun lah, toh bukan profesi dia yang akan dibahas disini) yang katanya pernah kuliah di amerika menjadi populer karena tidak mengikuti kaidah yang berlaku secara umum. Menurutku bahasanya lucu, tapi agak miris juga ngeliatnya. Dan itu juga yang menyebabkan percakapan berlangsung, dimulai dari pertanyaan singkatku mengenai apakah tingkah laku orang-orang cerdas saat ini seperti itu–menggunakan bahasa sulit agar dihormati walau tidak dimengerti masyarakat? Bukankah seharusnya orang cerdas mampu berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, atau malah membantu mencerdaskan masyarakat? Percakapannya menarik sih, tapi berhubung kami berdua bukan tipikal orang yang mau memanfaatkan orang lain (setidaknya sampai saat ini, dan semoga tetap terjaga sampai akhir hayat nanti 🙂 ), kami masih belum dapat pandangan langsung dari orang-orang seperti itu.

Oiya, terkait sahabatku ini ada informasi menarik bagi para pembaca yang berdomisili di jogja atau sering main kesana. Sahabatku ini merintis sebuah program bernama “Sedekah Hijau”. Konsepnya sederhana, program ini mengukur emisi motor-motor yang berada di jogja, lalu pengguna yang terdaftar sebagai anggota akan membayarkan sedekah berupa harga dari beda emisi yang dikeluarkan motor pengguna tersebut dengan emisi standar motor sebagai “iuran”. Kemudian uang yang terkumpul akan digunakan untuk menanam bakau untuk penghijauan, lengkapnya bisa dilihat di http://www.sedekahhijau.org/, yang sayangnya udah agak lama gak di-update. Memang program ini gak sedikit yang menentang, tapi orang-orang yang berniat membantu juga nggak setengah-setengah saat diminta “iuran”nya.

Entah kenapa aku selalu takjub kalau ngeliat orang-orang yang terus berjuang meski lingkungannya itu apatis atau destruktif. Dan mungkin masalah yang paling perlu diselesaikan di Indonesia adalah bagaimana cara menyadarkan bahwa kita semua punya masalah. Yaa, dan memang masalah bagi seseorang belum tentu dianggap orang lain sebagai masalah juga. Seperti hasil tes pisa tahun 2012 ini, dimana Indonesia berada di peringkat diatas peringkat terakhir, seperti yang bisa dilihat di http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf atau di webnya langsung, http://www.oecd.org/ atau kalau mau mencoba tesnya (dan aku berencana mencobanya di akhir pekan ini, setelah kuliah berakhir dan mulai masuk pekan uas) http://www.oecd.org/pisa/test/. Tapi bagaimanapun, seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin ini bukan masalah bagi sebagian orang, haha.

Kembali ke topik, adegan kedua yang kuanggap menarik adalah sosok Bungo, anak dari kaum di desa itu yang merasa bahwa perjanjian itu salah dan mereka dirugikan karenanya, namun karena tidak ada yang bisa membaca perjanjian tersebut, tidak ada yang bisa disanggah (mengingat sifat orang rimba, atau mungkin mayoritas orang indonesia, yang segan). Dan karena itu dia membawa surat perjanjian tersebut kemana-mana, seolah mencari orang yang bisa membacakan surat tersebut, atau ingin belajar membaca agar tidak dibodohi orang-orang luar lagi. Agak kontras dengan kondisi pelajar di kota besar yang, kelihatannya sangat identik dengan tawuran, geng motor dan hal-hal negatif lainnya. Bukan berprasangka buruk, memang pelajar indonesia yang berprestasi ada banyak, dengan karya yang unik (cobalah cari info tentang karya siswa atau mahasiswa di lomba-lomba, yang sayangnya tidak banyak yang perkembangannya berkelanjutan sampai sekarang), namun entah kenapa berita buruk itu jauh lebih populer dibandingkan dengan berita-berita baik yang ada. Sayang sih, tapi kayaknya menarik juga kalau orang-orang yang identik dengan berita negatif seperti itu mau meluangkan waktunya untuk menonton film ini, semoga hikmah kenapa belajar itu penting bisa mereka ambil 🙂

Berikutnya adalah adegan saat butet bertengkar dengan atasannya terkait ideologi yang butet pegang dan cara kerja organisasinya. Ini adegan yang paling kusuka, karena aku juga sering berpikiran seperti itu. Saat berkegiatan sosial, dana merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk diperjuangkan, dan salah satu cara memperjuangkannya adalah dengan mencari pendonor yang bisa mendanai. Namun, mendokumentasikan kegiatan seolah bersandiwara dengan menjadi sosok pahlawan yang dibutuhkan semua orang, hm, mungkin hal ini tidak sesuai dengan ideologi para pekerja sosial yang memang ikhlas dan tulus ingin memberi manfaat. Cuma sayangnya, keinginan untuk memberi belum tentu saling melengkapi dengan kenyataan apa yang kita dapatkan. Dan mungkin kita memang perlu belajar untuk menyesuaikan diri agar tetap bisa memberi manfaat dalam situasi seperti apapun 🙂

Dan adegan terakhir yang menurutku menyindir adalah kalimat terakhir mengenai pendidikan, bagaimana pendidikan itu seharusnya mempersiapkan para murid didiknya untuk menghadapi perubahan, bukan sekedar hafalan rumus dan latihan soal, ataupun bekerjasama dalam kecurangan agar lulus dari ujian. Karena faktanya memang seperti itu, anak rimba tidak memerlukan dunia dengan cahaya teknologi ataupun bangunan-bangunan tinggi, mereka dapat hidup dengan tenang di dalam hutan. Mereka juga tidak perlu dikasihani, toh bukan itu masalah mereka. Itu bagus jika kita mencari-cari alasan untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, tapi mungkin bukan alasan yang baik jika kita ingin menganggap diri kita sebagai pahlawan revolusi perubahan dan berbagai julukan keren lannya. Lagipula, hal yang penting adalah bagaimana mereka menghadapi perubahan, seperti digusur akibat rencana pembangunan taman nasional. Mungkin ini juga sindiran bagi kurikulum yang terus berganti namun anak-anak didiknya pun belum terbukti siap dalam menghadapi perubahan dalam bentuk apapun. Yah, semoga kedepannya Indonesia akan jadi lebih baik lagi lah ya 🙂

Selain adegan-adegan tersebut, tempat pengambilan filmya bagus loh, di tengah-tengah hutan gitu, berasa petualang lah, hahaha. Oke, dan secara keseluruhan, menurutku ini film karya anak bangsa yang sangat kurekomendasikan untuk ditonton, apalagi bagi para guru, calon guru, pengamat pendidikan di indonesia, atau bahkan sekedar anak-anak yang peduli atau penasaran mengenai nasib bangsanya. Worth it kok, coba saja buktikan sendiri 🙂

Oiya, sekedar tambahan, maaf karena tidak mencantumkan gambar atau foto apapun dari film tersebut. Bukan kenapa-napa sih, hanya saja karena pemeran utamanya wanita–tanpa bermaksud mendiskriminasi gender, dan aku tidak terlalu berminat untuk mengunggah foto wanita apapun disini melihat ada beberapa situs yang suka main comot foto wanita (entah dari blog, facebook atau apa) dan dimanfaatkan untuk tujuannya yang mungkin belum tentu bener, hehe. Setidaknya karena tidak bisa menghentikan, usaha menjaga kehormatan kaum hawa bisa dilakukan dengan menahan diri dari mengunggah gambar-gambar seperti itu ke internet, bukan? 🙂

Dua Serigala

Dua Serigala

Satu ilustrasi dan quotes keren (lagi) dari zenpencils 😀 Mungkin memang udah lumayan ramai di dunia maya, tapi tetap worthed buat di-repost :3

Bahwa setiap orang punya potensi untuk memiliki sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk. Dan potensi mana yang akan terwujud semuanya tergantung pada diri orang tersebut, mau membiarkan potensi mana yang mendominasi sifatnya :3

(Sumber: http://zenpencils.com/comic/94-the-two-wolves/)

Calvin and Hobbes

Kali ini sedikit bercerita mengenai komik strip kesukaanku, Calvin and Hobbes, sangat disayangkan komik strip ini belum dapat kutemukan dalam koran-koran di Indonesia 😀

Image

Komik strip ini menceritakan kehidupan anak kecil bernama Calvin, anak berusia 6 tahun yang imajinatif, suka berpetualang dan dewasa sebelum waktunya (dapat dilihat dari komentar-komentarnya yang kritis), dengan Hobbes, boneka macannya dan teman imajinasinya yang sering diajak bermain, berdiskusi dan tak jarang menjadi pengamat yang suka menyindir Calvin.

Image

Umumnya, topik dari komik ini pun merupakan kehidupan sehari-hari Calvin–interaksi bersama Hobbes, keluarganya, sekolahnya, dan semacamnya–yang dikemas dalam bentuk humor dan (tak jarang) mengandung kritik bagi pola pikir masyarakat atau sindiran terhadap isu-isu sosial.

Image

Meski begitu, tetap saja, dunia yang diangkat komik strip ini adalah dunia anak-anak, mungkin ada saatnya kita perlu kembali memandang hal sebagaimana saat kita kanak-kanak dulu untuk mengikuti beberapa bagian dari komik ini

Image

Tapi, alasan utamaku menyukai komik strip ini adalah, karena komik strip ini bercerita mengenai kehidupan dalam dunia yang penuh imajinasi, dunia bagi anak-anak yang tidak dimengerti oleh orang-orang sekitarnya tapi tidak terpengaruh oleh lingkungannya (dan kurasa kita semua pernah merasakan seperti itu pada umumnya, atau mungkin sebagian, haha). Dunia dengan monster dibawah tempat tidur, pengelana luar angkasa, permainan ciptaan sendiri, dan banyak lagi 😀

Image

Image

Image

Image

Image

 

Gambar-gambar banyak yang kuambil dari google web, karena memang semua yang kupost disini merupakan hak cipta dari Bill Waterson. Kalau ada yang tertarik untuk membaca versi online dari komik ini, gocomics adalah salah satu alamat web yang menyediakan komik ini, seperti http://www.gocomics.com/calvinandhobbes/2013/11/01#.UnRF9ChRE3E

 

Semoga bermanfaat dan selamat menikmati 😀

Shay (Kisah kemanusiaan)

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu. Ayah tersebut melanjutkan: “Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia”

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,”Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?” Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, “kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg seperti ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset, Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tersebut kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke basement pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir. Sebaliknya, pitcher tersebut melempar bola melewati basement pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, “Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!”. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, “Lari ke base dua, lari ke base dua!” Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, “Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay” Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, “Shay, larilah ke home, lari ke home!”. Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia. Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Sebuah pepatah bijak yang mungkin seringkali kita dengar: sekelompok masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

¤¤¤¤¤

Dikutip dari : http://1001motivations.blogspot.com/

Sang Roda

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia tak menyadari ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemanakah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu? Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah ia tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap,akan ditemukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei… semuanya tampak lain.

Ya, sewaktu sang roda melintasi titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah. Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda.

Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah, harum , dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya.

Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan serangga itu pun memberikan salam dan doa pada sang roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Bahan Renungan:
Begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan ada saat indah yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil yang sebetulnya meneyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita kadang terlalu penuh dangan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni. Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut, dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Cobalah menyusuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati.

¤¤¤¤¤

Seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.
Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya,
“Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Bahan Renungan :
Sebagai manusia, tanpa sadar, mungkin kita pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?
Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan
Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.