Marah

Hari ini bener-bener tidak terprediksi lah, pas praktikum sebuah mata kuliah tadi, ada sebuah kejadian yang bikin dosenku marah. Padahal dosen ini bukan tipikal orang yang suka (atau pernah terlihat) marah.

Jadi, saat itu ada 3 kelompok praktikum, kelompokku yang sedang membereskan sisa-sisa praktikum dan 2 kelompok yang sedang mulai praktikum, tapi kasusnya beberapa anggota kelompok itu terlambat, dan saat praktikum pun ada beberapa orang yang tidak punya pekerjaan. Lalu, dosenku itu mengumpulkan mahasiswa yang sedang praktikum ke tempat di dekat kelonpokku dan berkata kira-kira seperti ini (agak lupa redaksi lengkapnya)

Kalian disini mau praktikum dengan serius? Kalau terus telat seperti ini, nanti waktu praktikum kita kepotong shalat jumat lagi, lama lagi jadinya. Kalau kalian nggak serius, lebih baik pulang saja. Toh saya juga ngajar disini karena saya bosan ngeliat kualitas tugas-tugas akhir yang sampah seperti yang sudah-sudah.

Harusnya kalian mensyukuri kesempatan ini untuk belajar, bukan cuma bengong ngeliatin teman kalian ngerjain. Soalnya kalau bukan sekarang, kapan lagi kalian mau belajar? Pas sudah masuk perusahaan besar? Pas sudah lulus dengan ipk yang bagus? Bullshit itu.

Udah, sekarang kalian buka laptop masing-masing dan cobalah kerjakan apa yang ada di modul

Setelah itu, mahasiswa di ruangan itu langsung diam dan nurut semua. Entah tersindir kata-katanya, atau mungkin juga kaget dan takut ngeliat dosen yang biasanya baik, penyayang dan pengertian bisa menyampaikan kalimat yang *jleb* gitu, meski tanpa meninggikan suara tapi kelihatannya beliau memang marah.

Tak lama kemudian, setelah kami selesai membereskan praktikum, temanku bertanya, tadi dosen itu marah ke kita juga nggak ya? Soalnya pada awalnya aku juga terlambat, meski syukurnya di kelompokku nggak ada yang sempat gabut. Tapi bagaimanapun, mendengar kata-kata itu dari dosen seperti beliau rasanya jleb banget sih. Kelihatannya benar, orang yang jarang marah itu punya wibawa lebih saat marah.

Setiap orang punya hak untuk marah, tergantung pada apa yang orang tersebut anggap penting, dan pada seberapa parah orang tersebut merasa kecewa. Dan kelihatannya ini memang alasan yang valid untuk marah, bagaimanapun juga jika mahasiswanya seperti ini, masa depan seperti apa yang bisa kita harapkan? Bukankah (seharusnya) mahasiswa itu menjadi agen perubahan, pengganti sosok penting di masyarakat, contoh yang dapat ditiru dan penjaga nilai-nilai baik pada masyarakat? Masihkah hal ini berlaku?

Yah, setidaknya biarlah ini menjadi sindiran dan motivasi bagi kaum mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa senior yang sedang bersiap meninggalkan tempat perkuliahan menuju dunia nyata. Kalau begini terus, yakin bisa mengubah dunia sesuai dengan ideologi yang masih tersisa? Kalau begini terus, yakin bisa bertahan di dunia nyata? Kalau begini terus, yakin setelah lulus masih ada manfaat yang bisa kita berikan?

Kalau belum yakin, yuk mulai berubah, tak perlu drastis, perlahan saja, membenahi diri agar kita lebih yakin. Berhenti jadikan jam karet sebagai kebudayaan dan mulai tertarik atau serius dalam menekuni pelajaran mungkin akan jadi awal yang baik bagi kita. Karena waktu yang tersisa bagi kita sebelum terjun ke dunia nyata tidaklah lama, karena itu mulailah berubah, agar pertanggungjawaban kehidupan kita nantinya juga lebih mudah, semoga 🙂

Dua Pekan Terakhir Perkuliahan

Dua pekan terakhir perkuliahan disini itu selalu jadi pekan dimana semua tugas menumpuk dan menunggu untuk dikumpulkan. Jadi, jika dibuat grafik jumlah tugas terhadap waktu, sekarang adalah titik puncaknya. Gak selalu menyenangkan memang, justru kadang cenderung menyebalkan kalau tugasnya terlalu banyak dan kita malah bingung mau ngerjain tugas yang mana dulu. Kadang skenario ini berakhir pada situasi deadline dan gak ada tugas yang beres karena tidur dan abai lebih menyenangkan, hahaha.

Tapi harus diakui, 2 pekan ini juga biasanya merupakan pekan yang penuh dengan hidayah, pintu-pintu ilmu terbuka lebar dan setiap usaha menerima ganjarannya. Sebagai bagian dari angkatan anomali (dalam beberapa hal, 2010 menyalahi standar yang telah dibuat oleh para senior, terutama saat tpb tahun lalu, haha), kita (atau setidaknya, aku) benar-benar mengambil hikmah dari sebuah cerita rakyat, “kalau 1000 candi bisa dibuat dalam 1 malam, kenapa tugas-tugas ini tidak?” Kelihatannya bukan ini nilai moral yang ingin disampaikan oleh generasi zaman dahulu, tapi kalau nilai ini yang kudapatkan mau bagaimana lagi? Oke, pelajaran hari ini, berhati-hatilah dalam menyampaikan sebuah cerita, karena hikmah yang diambil mungkin berbeda.

Tiap orang berbeda, aku punya sahabat yang menyukai kondisi sibuk karena itu membantunya belajar mengendalikan diri dan waktu. Berbeda denganku yang memilih untuk tidak terlalu menganggap serius sebuah masalah dan menikmati kehidupan, meski tetap akan mempertanggungjawabkannya kalau ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Hei, kehidupan cuma sekali kan?

Dan selama 7 semester aku kuliah disini, ini pekan pertama aku menghabiskan 8 jam di lab, berusaha untuk menyelesaikan tugas, atau setidaknya mendapat bahan untuk didiskusikan pada sebuah mata kuliah. Ini pekan, atau setidaknya 3 hari pertama, saat aku benar-benar belajar mempelajari cara untuk mengendalikan jadwal dan menyelesaikan tugas tepat pada waktunya–seabstrak apapun pemahamanku terhadap tugas tersebut, belajar untuk mandiri dalam belajar dan motivasi diri, belajar menggunakan web browser sebagai sarana belajar yang efektif, dan belajar banyak mengenai beberapa bidang keilmuan spesifik dari program studiku yang sangat luas. Tidak terlalu menyenangkan memang, tapi kelihatannya orang yang terlalu banyak bersantai sepertiku membutuhkannya 🙂

Dan kelihatannya akan ada banyak keilmuan kuliah yang dapat kubagi disini saat sudah menemukan waktu untul membaginya. Percayalah, aku gak salah memilih fisika teknik sebagai program studiku. Memang pelajarannya gak mudah, dan gak semuanya menyenangkan untuk dipelajari, tapi dengan menjalankan semua itu justru banyak pelajaran yang kudapat. Dan kegiatan pembelajaran ini benar-benar menyenangkan bagiku 😀

Dan aku juga semakin menyadari kondisi yang ada. Sebagai mahasiswa tingkat 4 (yang sering merasa ketuaan meski umurnya pun belum kepala dua), sebentar lagi akan tiba masaku untuk melanjutkan kehidupan, baik itu melanjutkan studi ke Strata-2 maupun bekerja. Dan itu akan menjadi masa dimana setiap mata kuliah yang telah diambil untuk dipertanggungjawabkan, baik sebagai pre-requisite mata kuliah di Strata-2 ataupun diaplikasikan dalam dunia nyata. Dan, sebagai seorang insinyur keteknikan, yang cepat atau lambat karyanya akan diaplikasikan pada masyarakat, mungkin kesalahan sekecil apapun akan berpengaruh besar pada masyarakat. Dan kelihatannya aku juga gak bisa terus-terusan malas, acuh dan abai begini terhadap keilmuanku kan? Semoga cepat mendapat waktu luang lah untuk membagi ilmu yang kudapat 2 pekan ini, toh cara terbaik untuk mengikat ilmu adalah dengan menuliskannya 🙂

Yah, mungkin memang kesibukan itu tidak selalu menyenangkan, tapi bagaimana kita bisa menghargai waktu luang kalau kita tidak pernah mengalami tekanan ataupun kesibukan? Bukankah ini memang sebuah nikmat yang sering sekali disia-siakan? 🙂

Doctor Who

Tema google hari ini bagus juga, ulang tahun ke-50 dari serial TV BBC berjudul Doctor Who 😀 Gamesnya juga lumayan, menggunakan Doctor untuk mengambil huruf-huruf penyusun kata GOOGLE dengan menghindari musuh bebuyutannya, Dalek. Sayang serial TV sains-fiction ini belum terlalu terkenal di Indonesia, sedikit perhalusan dari fakta bahwa acara ini memang nggak terkenal disini, haha. Berhubung hari ini adalah ulangtahunnya ke-50, yang akan berlangsung pada pukul 17:15 waktu GMT tepatnya, setidaknya aku akan mencoba menjelaskan acara apa ini menurutku. Oh, sekedar info, kalender masehi yang digunakan pada tahun 1963 sama dengan kalender masehi yang akan digunakan pada tahun ini 🙂

Doctor Who

Doctor Who adalah serial TV yang diputar BBC dengan genre science-fiction, mengangkat tema kehidupan seorang alien dari ras Time Lords atau Pengendali Waktu yang memanggil dirinya “Doctor”–setidaknya begitu lah dia memanggil dirinya, dan begitu juga orang-orang lain memanggil dirinya. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi, yang akan mengubah dirinya menjadi orang yang benar-benar berbeda saat kondisi kesehatannya sudah sangat parah, itu caranya “mencurangi kematian”–dan itu juga yang menyebabkan serial ini masih ada sampai sekarang, setiap saat aktor pemeran “Doctor” akan mundur, maka “Doctor” akan melakukan regenerasi dan diperankan oleh aktor baru. Setelah melakukan regenerasi pun sang “Doctor” akan memiliki wajah, kepribadian, sifat, dan selera yang berbeda. Namun, dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang dia pegang, nilai-nilai sebagai seorang “Doctor”. Baginya, nama adalah sebuah janji yang harus dia laksanakan, karena itu pada umumnya, dia bertingkah seperti layaknya seorang “Doctor”, sebagai penyembuh, atau sebagai orang bijak. Saat ini regenerasi yang dia lakukan sudah mendekati selusin, atau mungkin lebih, dan sekarang adalah giliran Matt Smith dalam memerankan “Doctor” kesebelas.

Eleventh Doctor

Dia memiliki alat transportasi bernama TARDIS, singkatan dari Time And Relative Dimension In Space, kombinasi dari pesawat luar angkasa dan mesin waktu dengan bentuk unik, kotak polisi berwarna biru. Meski kelihatannya kecil, namun pintu masuk kotak biru ini merupakan gerbang menuju dimensi lain yang jauh lebih luas dan dapat digunakan untuk berpindah waktu dan tempat dengan cepat. Alasan kenapa menggunakan kotak polisi berwarna biru masih belum diketahui, tapi idenya unik juga. Siapa yang menyangka bahwa benda-benda di sekitar kita yang umum kita lihat (pada zaman dahulu kotak polisi berwarna biru mudah ditemukan di daerah Inggris) memiliki kemampuan melebihi apa yang kita kira?

TARDIS-Blue Police Box

Salah satu alasan utama aku menyukai serial ini adalah karena ini adalah pertunjukan mengenai dua hal yang aku suka dan sering kupertanyakan, sains dan moralitas. Ini adalah tempat yang tepat untuk melihat tentang salah satu kemungkinan bayangan teknologi di masa depan akan jadi seperti apa, kemungkinan mengendalikan gelombang suara untuk membuka pintu atau memeriksa kesehatan makhluk hidup, tamasya ke segala tempat di zaman apapun, material yang sangat kuat dan tidak dapat ditembus, dan lain sebagainya. Dari segi moralitas, serial ini menunjukkan kredibilitas sang aktor dalam menunjukkan keseriusan sang “Doctor” menepati janji sebagai namanya, sebagai orang yang selalu menolong, bijak dan berusaha menyembuhkan situasi yang ada.

Oiya, serial ini berbeda dengan Star Trek dan Star Wars. Meskipun sama-sama mengangkat tema mengenai luar angkasa dan penjelajahan, atau perang dengan ras lain, Doctor Who menurutku memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap hal-hal seperti ini. “Doctor” cenderung memilih untuk lari dari masalah, tidak menyukai aksi kekerasan dalam bentuk apapun, dan sangat jarang terlibat dalam peperangan. “Doctor”, setidaknya dalam serial yang baru di-reboot pada tahun 2005 ini, selalu memberikan pilihan bagi orang-orang yang dia hadapi, untuk pergi dan melupakan rencananya atau hancur saat bertarung, bukan hal yang umum ditemui dalam medan perang. Tokoh “Doctor” pun digambarkan sebagai sosok yang memiliki kegelapan tersendiri yang tidak dimengerti oleh para teman-teman perjalanannya. Ide bagi para musuh “Doctor” pun beragam, dan kadang menyeramkan. Seperti Dalek yang merupakan otak jahat dan bersembunyi dalam baju besi yang kuat (oke, bentuknya memang aneh, dan mungkin gak menyeramkan, tapi serial ini menggambarkannya lumayan menyebalkan), dan hanya punya keinginan untuk menghancurkan segala hal yang berbeda. Bagaimanapun, agak menyeramkan kalau tiba-tiba kita menemukan sosok orang dengan kepribadian seperti itu, menghancurkan semua orang lain hanya karena mereka berbeda, kan? Entah bagaimana, Doctor Who lebih menggambarkan mengenai hal-hal yang mungkin, atau sudah terjadi di dunia nyata. Cerita ini juga melibatkan tokoh-tokoh yang pernah ada, seperti Ratu Elizabeth, Winston Churchill, Vincent van Gogh, Agatha Christie dan masih banyak lagi. Selain itu, serial yang lebih senior dari Star Trek dan Star Wars ini juga kadang menjadi referensi dari kedua serial tersebut.

Dalek

Awalnya, serial ini ditujukan bagi anak-anak. Aku pernah menonton dua seri episode awal dari Doctor Who, seri episode pertama mengenai kegunaan api di sebuah suku saat zaman purba, dimana pemimpin dari suku tersebut adalah orang yang dapat membuat api. Cerita ini muncul setahun setelah kejadian “Cuban Missile Crisis” pada 1962, dan menggunakan “api” sebagai metafor dari “senjata atomik”, yang dapat membawa manfaat ataupun kehancuran massal, tergantung pada penggunaannya. Seri episode kedua adalah pengenalan “Doctor” kepada ras alien yang akan menjadi musuh bebuyutannya, yaitu “Dalek”. Dalek merupakan ras yang tidak menyukai (atau takut) kepada semua hal yang berbeda, akibatnya mereka memutuskan untuk menghancurkan semua hal yang mereka anggap berbeda di semesta ini. Ada yang tahu kaum apa yang menjadi inspirasi bagi alien Dalek ini? Bagi yang belum dapat menebak, Dalek ini terinspirasi dari kelompok “Nazi”, dengan argumen bahwa semua anggota dari ras tersebut memiliki pemikiran yang sama, tidak menyukai perbadaan dan komunis. Aku tidak terlalu menangkap permasalahan dengan komunis, meski mungkin ini memang salah satu kampanye BBC untuk memenangkan ideologi liberal pada saat itu, tapi bagaimanapun, sejarah mengenai kaum Nazi bukanlah suatu hal yang baik. Oiya, tapi aku pun tidak terlalu menganjurkan untuk menonton serial yang jadul tersebut kalau mau having fun, karena jujur, aku sendiri menganggap acting beberapa tokoh saat Doctor Who baru diputar itu jelek, apalagi yang memerankan Susan–cucu dari “Doctor”. Aku merekomendasikan serial hasil reboot yang jauh lebih baik dibandingkan dengan serial zaman dahulu, special effectnya pun lebih keren, namun kalau mau mengetahui story line sesungguhnya dari kehidupan “Doctor”, silahkan cari file film zaman dulu tersebut 🙂

Dalek's Inside

Dan sekarang, serial ini telah di-reboot, setelah berhenti pada akhir tahun 1989, dan dilanjutkan dengan film Bioskop pada 1996, serial ini ditayangkan lagi pada tahun 2005. Dan hasil reboot serial ini pun menjadi lebih terkenal dibandingkan serial ini pada zaman dahulu, yang hanya dapat membangun basis fans pada wilayah Britania Raya saja. Sekarang, Doctor Who juga menjadi serial TV BBC terpopuler di Amerika. Meski memang basis story line, atau garis ceritanya agak rumit karena sang “Doctor” dapat berpindah ke waktu kapanpun dan tempat manapun, namun nilai-nilai yang dibawa, pertualangan dan kisah hidupnya–salah satu yang paling membedakan serial Doctor Who pada zaman dahulu dan saat ini adalah kehidupan asmaranya, dimana dahulu “Doctor” digambarkan sebagai sosok yang tidak peduli dengan urusan asmara dan sekarang menjadi sosok yang lebih terbuka dan peduli, mungkin pengaruh dari generasi galau saat ini yang menyukai sikap romantis–yang memang keren.

Time and Space

Malam ini serial “Doctor Who” akan memutar episode spesial 50 tahunnya, dengan judul “The Day of the Doctor”. Berdasarkan spoilernya, episode ini terkait dengan masa lalunya yang kelam saat terjadi Time War antara kaum Time Lord dan Dalek, kelihatannya menarik :3

Doctor Who Logo

Dan kalau para pembaca belum pernah menontonnya, percaya lah, serial ini seru untuk diikuti. Meski memiliki ciri khas kaum cendekia barat yang mengingkari adanya Tuhan, dan kuakui beberapa hal mungkin kurang berkenan dalam kebudayaan timur, namun nilai yang dapat diambil pun lumayan banyak. Bagaimanapun, kita dapat mengambil hikmah dari mana saja, bukan? Mari kita lihat apakah kelak serial ini bisa menjadi populer di Indonesia atau tidak, setidaknya lebih menyenangkan saat kita punya teman untuk melakukan keanehan bersama-sama 🙂

Kegagalan

Entah kenapa kegagalan itu selalu dinilai sebagai suatu hal yang negatif. Entah apakah saat ini masyarakat terlalu maju dan menuntut keberhasilan sehingga orang-orang yang gagal tidak memiliki tempat atau apa. Pelatih klub sepakbola yang tidak pernah menang tidak akan butuh waktu lama untuk dipecat–atau ditekan para suporter untuk mundur, begitu juga pegawai yang gagal memenuhi ekspektasi atasannya, itu hanya sebagian contoh yang umum terjadi sekarang.

Siang ini ada kejadian yang membuatku merasakan kegagalan, gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain, gagal di bidang yang ingin kukuasai, dan yang paling parah, gagal memenuhi ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Membuatku memandang rendah dan tidak menyukai diriku. Tidak perlu disebutkan detail kejadiannya disini, yang jelas saat ini aku merasa down.

Meski aku diberi waktu tambahan 5 hari untuk membereskan ini dan yang lain mengatakan tidak apa-apa–setidaknya bahasa tubuh mereka menyatakan demikian, kalau aku tidak salah tangkap–aku tetap menyalahkan diriku atas apa yang belum maksimal kukerjakan, keacuhan dan lain sebagainya. Dan masalahku adalah karena sampai sekarang aku tahu.

Aku tahu harus berbuat apa, harus kemana, bagaimana melakukannya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Dan mengetahui itu pun hanya membuat sindiranku terhadap diriku sendiri semakin menyesakkan.

Tapi entah kenapa saat ini aku merasa inilah yang kubutuhkan. Perasaan tidak puas terhadap kondisi saat ini, tidak suka untuk membiarkan kondisi ini tetap berlangsung, keinginan untuk berubah dan keharusan untuk melakukannya. Dan, jujur, aku ingin perasaan ini bertahan terus, untuk memotivasi diriku, meneguhkan tekadku dan menguatkan semangatku untuk terus melakukan tugasku.

Aku heran, kenapa banyak orang yang tidak ingin merasakan kegagalan–setidaknya dari pengalamanku selama beberapa tahun terakhir, orang-orang cenderung menghindar. Mengubah nilai rapot di sekolah agar bisa lanjut kuliah ke kampus yang bagus, menyontek saat smp atau sma karena tidak ingin dianggap gagal oleh masyarakat–atau mungkin ingin secepatnya keluar dari sekolah tanpa pandangan negatif dari lingkungan– serta membiarkan konsep-konsep keren yang ada tetap bertahan sebagai konsep, selalu ada alasan untuk tidak melakukannya, padahal kerugian kalau konsep itu dijalankan tapi tidak terwujud pun menurutku lumayan baik. Segitu rendahnya kah orang-orang yang gagal menurut kita?

Aku juga heran kenapa tidak ada sekolah yang mengajarkan muridnya untuk gagal, atau setidaknya memberi pengetahuan apa yang dapat dilakukan kalau muridnya gagal. Selalu ada resiko untuk gagal, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam masalah akademik, dalam pekerjaan, dalam segala hal. Dan cepat atau lambat itu akan terjadi. Apa yang dapat diharapkan pada orang yang tidak tahu bagaimana menghadapi kegagalan? Akankah diam di tempat saja, depresi, melupakan segalanya atau menghilang dari masalah akan membereskan kegagalan tersebut?

Entah lah, bagaimanapun juga kalau disikapi dengan benar, kegagalan merupakan hal yang bermanfaat. Bukan untuk dilakukan terus-terusan memang, tapi sebagai pelajaran untuk melanjutkan kehidupan, motivasi untuk jadi lebih baik di masa depan nanti, dan pengingat agar selalu membumi dalam kondisi apapun.

Kamu gagal? Ya sudah, setidaknya apa yang kamu telah lakukan jauh lebih baik daripada mereka yang tidak mencoba, bukan?

Dan aku pun masih berharap perasaan seperti saat ini terus ada dalam kehidupanku, tenang lah 🙂

Inter Disiplin

Saat kita memasuki dunia kelak, kita akan dihadapkan dengan berbagai jenis masalah, dan akan sulit untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut jika kita hanya punya satu sudut pandang, terutama sudut pandang satu keilmuan saja. Karena pada faktanya, semua ilmu itu terintegrasi. Sebuah masalah yang terjadi atau solusi yang kita berikan terhadap suatu hal pun akan memiliki pengaruh terhadap hal-hal lain. Misalnya: karena rumah kita jauh dari peradaban seperti listrik pln, kita pun meng-install pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan energi di rumah kita tanpa merepotkan pln. Dan masalah pun belum selesai, kita perlu mempertimbangkan distribusi dan sistem kontrol plts tersebut, lalu kondisi cuaca yang mungkin bisa sampai hujan badai kalau sedang buruk, penempatan plts agar tidak mudah rusak, bahkan limbah yang mungkin ditimbulkan kalau plts tersebut tergores lumayan dalam saat sedang hujan. Dan mungkin ada banyak lagi perubahan yang dapat timbul sebagai reaksi dari sebuah masalah atau sebuah solusi.

 

Bahkan, mungkin setiap hal yang kita lakukan, meskipun hanya sekedar diam tanpa berbuat apa-apa, juga akan membentuk dunia. Seperti efek kupu-kupu Lorentz, saat Lorentz menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer dalam usahanya untuk meramal cuaca. Hasil perhitungannya itu kemudian digambarkan dalam bentuk kurva yang dicetak pada sehelai kertas. Pada awalnya, Lorentz mencetak kurva dalam format enam angka di belakang koma (…, 506127). Kemudian untuk menghemat waktu dan kertas ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas yang sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi dengan menggunakan enam angka di belakang angka. Satu jam kemudian, Lorentz terkejut dengan hasil yang sangat berbeda dari apa yang diharapkan. Pada awalnya, kedua kurva yang tercatat tersebut memang berhimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang sama sekali berbeda. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “efek kupu-kupu” (butterfly effect). Efek ini mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil (setara dengan pengabaian angka sekecil 0.000127) akhirnya mampu memicu terjadinya badai tornado diTexas beberapa bulan kemudian. Artinya, sekecil apa pun tindakan kita sekarang, pasti akan berdampak besar di kemudian hari. Efek ini mengajari kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berbicara, dan bertindak, karena semua hal yang kita lakukan, meski sekecil kepakan sayap kupu-kupu, dapat berpengaruh signifikan kelak, seperti terjadinya badai. Yah, mungkin.

 

Aku selalu kagum dengan para orang-orang cendekia di zaman dahulu, khususnya ilmuwan muslim. Karena mereka semua adalah polymath, ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam kasus ilmuwan muslim, keistimewaan mereka adalah umumnya mereka hafal Al-Qur’an, dan mereka tetap ahli di berbagai bidang. Salah satu contoh ilmuwan muslim yang terkenal adalah Ibnu Sina dengan pengetahuan kedokterannya. Mungkin itu salah satu penyebab perkembangan islam pada zaman dahulu sangat cepat, mereka ahli dalam berbagai bidang dan dapat mempertimbangkan masalah dari berbagai sudut pandang.

 

Dan mungkin ini juga faktor yang melatarbelakangi ada mata kuliah baru bernama Proyek Multidisiplin Teknik Fisika, dimana para mahasiswa Teknik Fisika ITB dikelompokkan bersama dengan mahasiswa sefakultas (Teknik Kimia, Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri) untuk menyelesaikan suatu masalah. Pada semester ini, masalah yang diangkat adalah instalasi pembangkit listrik tenaga gas pada ITB Jatinangor. Mata kuliah ini perlu kuakui sangat membuka wawasan. Aku banyak belajar mengenai bagaimana memandang suatu proyek dari sudut pandang lain, seperti mendeskripsikan masalah dan stakeholder dengan metode fishbone dan catwoe, menentukan alternatif paling baik, serta belajar mengenai proses gasifikasi.

 

Mungkin ada yang bilang kalau jurusan yang kutempuh terlalu luas, kita belajar segala hal fisis, dari pelajaran mesin, elektro, sipil, tata ruang dan berbagai ilmu susah lainnya, dan lain semacamnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bahkan aku masih merasa sudut pandang jurusanku yang luas ini juga belum cukup untuk menyelesaikan suatu masalah, dan pemikiran tersebut terbukti benar saat mata kuliah ini berlangsung.

 

Mungkin banyak yang masih menganggap Fisika Teknik itu jurusan yang susah, ribet, tapi keren. Haha, kalau kau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Memiliki banyak sudut pandang dan wawasan yang luas itu menyenangkan loh 🙂

Konsumtif

Aku bukan orang yang konsumtif, setidaknya pada hal selain buku. Dan sekarang aku bingung hal ini baik atau tidak.

Mungkin pada waktu kecil, kita sering dinasihati, atau bahkan sudah membiasakan diri untuk menabung. Bagaimanapun, hidup akan lebih tenang jika kita punya cadangan devisa yang bisa dipakai kapan saja bukan?

Dan siang ini, aku bertemu dengan penjual makanan ringan. Ilegal kelihatannya, dia tidak membuka lapak, hanya membawa plastik berisi bahan dagangan. Dagangannya berupa makanan ringan kiloan yang dikemas sendiri, seperti snack “kriuk” di jakarta. Awalnya aku tidak berminat membeli dan hanya berlalu ketika ditawarkan, tapi kemudian aku berpikir ulang, apa salahnya menanyakan harga? Setidaknya bisa menjadi cemilan saat tugas atau nonton kan? Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali.

Saat aku menanyakan harga, sang penjual mengatakan awalnya dia menaruh harga Rp3000/bungkus, tapi karena dia khawatir dengan daya beli mahasiswa, harganya diturunkan jadi Rp5000/2 bungkus. Harga ini wajar, setidaknya ketika aku sma dulu harga makanan ringan seperti itu di lingkunganku memang berkisar antara Rp5000/3 bungkus hingga Rp2000/bungkus.

Lalu sang penjual bercerita bahwa dia berjualan tanpa modal, membawa dagangan dari produsen makanan ringan itu, dan kemudian menyetor sesuai dengan jumlah makanan ringan yang terjual. Hal itu disebabkan dia ingin mengobati penyakit kencing manisnya, namun dia tidak punya modal meskipun hanya untuk memulai usaha.

Aku heran kenapa usaha seperti ini yang beliau pilih. Padahal untung usaha ini tidak terlalu besar (kalau harganya Rp5000/2 bungkus, berapa untungnya?), dan harga untuk berobat ke rumah sakit jelas tidak sedikit. Tapi aku menghormati orang-orang seperti ini, yang tetap menahan diri dari meminta-minta meski situasinya sulit dan percaya bahwa Allah mengatur rezeki hambaNya.

Aku tidak tahu apakah orang itu jujur atau tidak, bagaimanapun juga kita bukanlah Allah yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati. Tapi kalau kita fokus pada harta yang kita miliki saja, tanpa memperhatikan faktor seperti kepribadian sang penjual dan lain sebagainya, bukankah dalam harta kita terdapat bagian milik orang lain juga? Entah dalam bentuk sedekah atau transaksi dagang, tapi tidak semua harta yang kita miliki merupakan bagian kita 🙂

Mungkin kita perlu belajar untuk menyeimbangkan keuangan kita, berapa banyak yang kita simpan, dan berapa banyak yang kita gunakan. Bijak lah dalam mengaturnya. Memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi setidaknya itu akan lebih mudah dipertanggungjawabkan 🙂

Lagipula, perekonomian tidak akan sehat jika semua rakyatnya menganggap konsumtif itu buruk. Dan menurutku konsumtif dalam hal seperti makanan ringan ini akan lebih membantu daripada konsumtif pada peralatan mahal seperti mobil murah, yang jelas akan menambah kepadatan jalanan di indonesia 🙂

Ayah

Baru tahu lah kalo ternyata 12 November itu hari ayah. Kalo buru-buru bikin tulisan karena ngejar deadline kayaknya gak bakal sempat sih, tapi ya sudah lah, jalanin aja. Sekalian ngalong lah, hahaha :p

 

Entah kenapa hari ayah ini kelihatannya tidak terlalu populer ya, setidaknya jika dibandingkan dengan hari pendamping hidupnya, hari ibu. Padahal peran keduanya sama penting dalam kehidupan dan pertumbuhan anak. Meski dalam tradisi islam anak harus lebih memuliakan ibunya daripada ayahnya, tradisi yang sama mengharuskan sang ibu lebih memuliakan sang ayah. Sama saja bukan?

 

Berbicara tentang ayah, cuma ada satu sosok di kepalaku yang identik dengan sebutan itu, ayah kandungku. Iya lah, siapa lagi? Meski banyak orang-orang yang kutemui yang jauh lebih dewasa, inspiratif, bijak, dan lain semacamnya, tetap aja sosok tersebut gak bisa digantikan. Meski memang banyak pengalaman yang menyebalkan, pengalaman yang menyenangkan tetap ada kok, meski gak tau kalo dihitung pengalaman mana yang jumlahnya lebih banyak, hehe.

 

Ayah itu sosok yang logis, visioner, tegas, pemimpin, serius dan peduli. Sifat baiknya banyak lah, meski tetap ada pandanganku yang agak berbeda dengannya. Beliau bukan sosok yang selalu sependapat dan memberikan kebebasan. Sebenernya mungkin aku bisa agak bebas kalau menang dalam adu logika dengan beliau, sayangnya, sampai sekarang keseringan kalah. Yah, logis itu bisa positif atau negatif ya, terutama bagi ayah saat anak sulungnya sedang dalam perjalanannya mengenal dunia, huhuhu -_-

 

Memang ada sisi positifnya juga, terutama setelah aku lumayan bebas (baca: pindah ke bandung), haha. Unik ya, orang yang terbiasa sama aturan itu bisa bosan terhadap aturan tersebut, tapi setelah sampai di bandung dan hidup tanpa aturan beberapa saat, aku malah gak tahan sendiri dan akhirnya membuat beberapa aturan pribadi agar kehidupanku (baik kehidupengan baikan akademik maupun kehidupan sosial) terjaga dengan baik.

 

Uniknya, disaat anak-anak lain banyak yang ingin meniru sosok ayahnya, aku malah penasaran apa yang terjadi kalo aku tidak mengikuti sosok beliau. Karena beliau serius, aku mencoba untuk santai dan menikmati kehidupan, sambil menyerap pelajaran saat menjalaninya. Kalo dipikir, mungkin faktor keturunan ini ya yang menyebabkan aku sering diasumsikan orang yang serius kalau lagi diam atau mikir, apalagi sama orang yang belum kenal, padahal nyatanya nggak terlalu sih. Tetap ada hal yang mengharuskanku serius, tapi sayang aku tidak bisa serius terlalu lama kalau masalah yang kuhadapi tidak terlalu sesuai sama minatku. Akibatnya malah kadang dianggap nyebelin sama teman-teman sekelompok tugas, padahal itu cuma kebiasaan ngomong asal biar otakku bisa mikir lagi, hahaha.

 

Ayahku banyak mengenalkanku pada hal-hal baru. Di jaman kecil, aku tidak pernah kekurangan bacaan. Dari buku-buku fiksi seperti Harry Potter sampai cerita sejarah dan biografi kesembilan Wali Songo sudah kulahap dari bangku SD, dan memang buku-buku tersebut lumayan memperluas pandanganku. Ayahku juga mengenalkanku pada dunia abu-abu, saat segala hal yang kulihat masih berupa hitam dan putih, dunia dimana kalau suatu hal tidak benar, maka hal tersebut salah secara mutlak. Dunia baru dimana segala hal yang dilakukan memiliki nilai-nilai positif dan negatif tersendiri, yang sulit digolongkan dalam dunia hitam dan putih.

 

Dan aku juga belajar banyak, meski bukan dari cara yang ayahku inginkan. Ayahku ingin aku fokus di bidang akademik saja, sambil berusaha menjaga kehidupan sosial. Dan aku fokus di bidang sosial sambil berusaha menjaga kehidupan akademik. Aku bahkan mengambil beberapa amanah, yang memang kuanggap penting dan layak untuk diperjuangkan, tanpa persetujuannya. Entah, tapi logikaku waktu itu pun sederhana saja, hanya ada dua sikap yang dapat ayahku tunjukkan, setuju atau tidak setuju. Kalau beliau setuju, aku tidak perlu mengetahuinya, bagaimanapun kelak aku yang akan menjalankan dan mempertanggungjawabkan hal-hal yang akan kulakukan. Dan kalau beliau tidak setuju, aku tidak mau mengetahuinya, bagaimanapun beliau tetap ayahku dan pendapatnya sangat berpengaruh terhadap tindakan-tindakanku, yang menurutku dapat mempengaruhi prioritas hal yang kuanggap penting ini, meskipun aku merasa inilah diriku dan disinilah tempatku setelah menjalani kehidupan selama beberapa lama. Bukan hal yang terlalu bagus untuk ditiru mungkin, setidaknya karena itu aku pun belajar untuk bertanggungjawab dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Hei, ini pilihanku, dan apa yang kukatakan, baik itu janji yang tak sengaja terucap atau perkataan yang terbawa suasana, dan apa yang kulakukan, baik secara sadar ataupun tidak terhadap konsekuensi dan efek jangka panjangnya, akan dimintai pertanggungjawaban kelak bukan?

 

Tapi kalau dipikir-pikir lebih jauh, meski banyak perbedaan pendapat diantara kita, tetap saja semua orang menginginkan yang terbaik bagi keturunannya. Kalau nggak salah ali radiyallahu anhu pernah bilang selama 7 tahun pertama manjakanlah anak-anak seperti raja, 7 tahun kedua tekankanlah nilai-nilai kedisiplinan kepada anak-anak, dan 7 tahun ketiga, perlakukanlah anak-anak seolah sahabat. Kemudian, lepaskanlah mereka.

 

Sekarang usiaku 19 tahun 7 bulan, tinggal 1 tahun 5 bulan lagi menuju batas waktu yang telah ditetapkan. Kemudian, setelah lepas aku akan dituntut untuk mandiri dan perlu mencari nafkah sendiri, mungkin kemudian akan menemukan sosok perempuan yang kuanggap pantas untuk menjadi pendamping hidup, jalan-jalan ke luar negeri untuk menimba ilmu dan pengalaman, menjadi sosok ayah yang punya tanggungan (anak, harta, dsb) untuk diurus dengan baik di dunia, bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan masih banyak lagi. Entah urutan terjadinya akan seperti apa, atau mungkin tidak semuanya sempat terjadi. Tapi meskipun tanggal kematian   tidak dapat diprediksi, rencanakan saja dulu semuanya, siapatau waktunya cukup kok.

 

Sampai sekarang belum kepikiran sih mau kerja sebagai apa (peneliti menarik, guru/dosen juga, sosiopreneur juga sama. Pilihan masih terbuka luas ya) dan belum tau kira-kira sebulan bisa dapat berapa. Kata ayah sih selama pola pikirku baik, itu modal yang sangat mencukupi untuk bisa survive, mari berharap itu benar. Kalau untuk kasus pendamping hidup pun aku belum terlalu mikirin. Masih menikmati sifat introvertku yang menyukai kesendirian :3 Lagian entah jodohku siapa dan bertemu kapan dan dimana, ada juga kemungkinan aku sudah bertemu tapi belum sadar aja jodohku yang mana. Banyak kemungkinan, dari sahabat seperti teman sekelas, seorganisasi atau teman masa kecil, sampai ke orang-orang yang belum pernah kujumpai. Hahaha, spekulasi terkait hal ini selalu asal sih, terlalu banyak faktor yang sulit diperhitungkan, tapi ya sudah lah ya. Toh aku juga gak bakal siap buat ngurus orang lain dalam waktu dekat, biarlah Allah membolak-balikkan hati pada waktunya, jadi tinggal nyiapin diri buat jadi baik secara wawasan, teladan dan finansial, dan berharap semoga dapat perempuan yang baik (target dapet gandengan–dari pembicaraan asal sama kawan sekelompok mentoring–masih sekitar 3-4 tahun lagi sih, semoga lancar lah). 😀

 

Jalan-jalan ke luar negeri itu keharusan! Bukan karena aku bosan sama Indonesia sih, tempat-tempat disini, baik hiburan, wisata atau situs-situs menarik pun belum kujelajahi semua, tapi aku merasa masih perlu ketemu sama orang-orang dari berbagai tempat, dengan berbagai latar belakang, sudut pandang dan mengembangkan pola pikir dan metode komunikasiku. Sekaligus mengembangkan jaringan untuk mempermudah urusan dunia dan akhirat (cari kerja dan silaturahmi maksudnya :p) tentunya. Lalu tentu saja sudah kodrat bagi seorang lelaki untuk memimpin keluarga. Padahal sampai sekarang pun pengen punya keluarga seperti apa belum ada bayangan yang jelas, hahaha. Yah, masih ada waktu juga kok buat figure it out, nikmatin dulu aja lah :3 Untuk bermanfaat jelas sih, sejak awal cita-citaku memang agak general (dan harus diakui, agak abstrak), bermanfaat dalam hal-hal yang baik. Salah satu sebabnya adalah karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, bukan? Hei, mungkin ini bisa jadi salah satu fondasi keluarga 😀 Entah sih bakal bermanfaat dalam hal apa, yang jelas masih ada waktu buat figure it out juga kok.

 

Meski memang kayaknya pekerjaanku panjang dan merepotkan ya kalau diprediksi seperti itu -_- Yang jelas, aku ingin menikmati kehidupanku seperti saat ini dulu, saat semua hal yang perlu dipertanggungjawabkan hanya berkisar pada diri sendiri, dan kemungkinan peran di masa depan masih sangat banyak, sebelum menjalani peran yang spesifik dengan banyak tanggungan. Hei, masih ada 17 bulan yang bisa kumanfaatkan untuk berkembang dan belajar.

 

Bagaimanapun juga, sampai sekarang aku gak pernah kepikiran gimana kalau aku terlahir di keluarga lain, meski munngkin banyak juga anak-anak yang kurang puas dengan situasi yang mereka hadapi dan berharap mereka terlahir di keluarga lain, atau bahkan mati aja. Dan aku gak bisa mengerti apa yang ada di pikiran mereka, beneran, entah orangtua itu harusnya seperti apa buat mereka -_- Karena aku sendiri pun gak bisa membayangkan hidupku, pola pikirku, jalan yang kuambil dan semua aspek dalam hidupku akan seperti apa kalau aku gak terlahir di keluarga ini, dan ayahku bukanlah beliau. Beda pendapat tetap sering, tapi semua itu punya pelajaran sendiri kok. After all, thanks a lot dad. Dan sekarang saatnya untuk menyiapkan diri, agar aku dapat dilepas tanpa rasa khawatir. You’ve done really well in your job, the role I might start playing in the short future, if Allah still gives me a time. Once again, thanks 🙂