Seliter Cahaya

Yak, berhubung malam ini juga sedang gencar publikasi ITB Insight, mungkin aku juga akan berbagi pengalaman tentang apa yang terjadi hari ini di program Liter of Light.

 

Liter of Light adalah program dalam rangkaian acara dies ke-60 Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik-Institut Teknologi Bandung, dimana kita ingin mensosialisasikan penggunaan lampu botol (atau Solar Bottle Light Bulb, bagi yang belum tahu bisa lihat video youtube http://www.youtube.com/watch?v=_zMAWztZ6TI terkait aplikasi lampu botol di negara lain. Terkait latar belakangnya juga bisa dilihat di http://www.itbinsight.com/pengabdian-masyarakat/ tentang gerakan tersebut, sekalian promosi acara itb insight) ke masyarakat yang bertempattinggal di pemukiman yang padat (sehingga memerlukan pencahayaan dari lampu pada siang hari) dan dari segi ekonomi tergolong kurang mampu. Setelah proses survey yang cukup panjang, akhirnya diputuskan dua lokasi yang lumayan sesuai dan terjangkau dari kampus ganesha dengan kategori tersebut adalah Cicukang dan Kampung Jamika.

 

Lampu botol ini memang tergolong sederhana. Ini hanyalah botol aqua 1.5 liter yang diisi air hingga hampir penuh, kemudian sedikit ditambahkan pemutih agar air di dalam botol tidak cepat kotor (seperti karena lumut) dan juga agar cahaya matahari yang diteruskan lampu botol itu lebih terang. Lampu ini memang fungsinya adalah meneruskan cahaya dari matahari masuk langsung ke dalam rumah. Kemudian lampunya dibor untuk dimasukkan ke atas atap dan dilapisi dengan lapisan anti air (aquaproof) agar atap rumah tidak bocor saat hujan.

 

Ok, kembali ke acara. Pagi ini dimulai dengan agak kosong, karena aku datang ke tempat yang salah, menunggu di depan kubus saat yang lain briefing di himpunan. Dan baru sadar salah tempat saat anak-anak hmft pada jalan ke kubus, jadinya gak ikut briefing, haha. Lalu, akhirnya pas ketemu sama anak-anak himpunan, masih harus nyari petinggi acaranya dulu buat tanya-tanya jobdesk. Habis ketemu, barulah ngobrol soal acara. Berdasarkan pembagian tugas yang lama, aku masuk ke tim yang dikirim ke cicukang, dan karena waktu itu gak ada yang bawa pembagian tugas yang baru, akhirnya aku tetap ke cicukang. Setelah ketemu baru lah mulai sibuk (baca: panik), terutama sibuk nyari helm sih, karena tiba-tiba mau jalan dan helm kurang satu.

 

Buru-buru lah nyari helm, ke Salman, angkatan-angkatan tuanya pada gak ada, dan angkatan muda yang dikenal gak banyak (efek kelamaan off dari salman dan keterusan lah ini, haha) dan kebetulan gak ada yang bisa minjemin helm. Yah, balik ke kosan deh, setidaknya teman-teman kosan pada punya dan udah biasa minjemin kok. Dan, akhirnya terpaksa aku balik ke kosan. Uniknya, di perjalanan balik, ada ibu pemilik warung yang manggil aku. Mungkin heran ya ngeliat ada orang yang dari pagi kerjaannya bolak-balik, terus akhirnya ngobrol sebentar. Aku sebenarnya udah sering berbalas sapa dengan beliau, tapi gak dekat banget sih. Terus ibu pemilik warung itu nanya “mau kemana, cep?”, dengan singkat dan mungkin kurang sopan karena buru-buru pun aku menjelaskan aku mau minjam helm dari kosan buat jalan ke cicukang untuk acara ini. Dan ibunya malah bilang gini, “ooh, ya udah, pake helm ibu aja ya cep” dengan nada yang pelan tapi tulus, kemudian beliau memanggil suaminya dan aku dipersilahkan meminjam helm dari keluarga itu.

 

Agak menyesal jadinya atas penjelasanku yang kurang berkenan tadi, apalagi malah ibu pemilik warung ini sampai minjamin helm segala. Yah, pelajaran pertama hari ini, jaga sikap. Setidaknya kalo kejadian kayak gini keulang lagi, gak bakal ngerasa bersalah kayak gini lah 🙂

 

Ok, setelah semuanya siap, angkot yang tujuannya ke kampung jamika diberangkatkan duluan, karena angkot yang tujuannya ke cicukang masih ada urusan sedikit. Dan, setelah itu ada anak himpunan yang nanya kenapa aku gak ikut pergi ke Kampung Jamika, dia pegang list pembagian tugas yang baru dan ternyata aku dipindah. Ah, sudah lah, berpikir positif aja, pasti ada alasan segala sesuatu ini terjadi kan?

 

Dan ternyata benar, aku sama sekali gak menyesali kepergianku ke cicukang. Acara dimulai dengan manggil-manggilin warga dan jajan roti isi es krim rasa stroberi, sekalian meningkatkan pendapatan penjaja makanan di cicukang lah ya, hehe. Lalu acara dibuka secara formal dengan sambutan dari dosen dan warga, yang dilanjutkan dengan proses pembuatan lampu botol tersebut. Namun, kebetulan ada masalah karena tukang yang seharusnya hadir untuk menjebol genteng saat pemasangan lampu botol tidak hadir, aku pun ikut kerja mencari tukang yang bisa diajak kerja bareng dari warga.

 

Meskipun lampu botol ini bukan teknologi yang baru ataupun teknologi yang tidak terkenal, namun para warga antusias sekali dalam membuatnya, setidaknya begitulah pengamatanku secara sekilas. Mungkin memang tidak banyak warga yang ikut dalam proses pembuatan lampu ini, namun saat aku berkeliling mencari tukang yang dimaksud, banyak juga warga yang bertanya tentang lampu botol ini dan bagaimana cara membuatnya. Dan saat menjelaskan pun aku senang saat melihat mereka yang bertanya-tanya tentang lampu botol, bahkan ada yang berkata “oh, lampunya gini cep?” dengan nada nggak percaya. Yaaa, mau diapain lagi, lampunya emang gak sesulit dan semahal jenis led sih, tapi lumayan laah.

 

Dan disini ada kejadian unik lagi, setelah aku sosialisasi singkat mengenai lampu itu, beberapa warga malah inisiatif manggil tukang yang udah berpengalaman yang tinggal di dekat tempat kita ngobrol tadi. Belajar dari kejadian pagi tadi, lebih bersyukur lah 😀 Dan gak lama kemudian, tukang yang dimaksud pun ketemu. Dan setelah ngobrol beberapa lama. syukur lah beliau bersedia bantu kita masang lampu botol itu.

 

Kembali ke acara, gak lama kemudian setelah lampu botol yang sudah tersusun lumayan banyak, waktunya mulai memasang. Kebetulan kita punya 2 buah bor buat ngebolongin atap warga, jadi tugas masang dibagi 2 kelompok. Awalnya aku cuma bantu ngebagi dan ngondisiin kelompok buat shalat dzuhur (karena katanya gak ada kerjaan lagi selain nunggu 2 kelompok awal ini beres), tapi setelah beres shalat dzuhur, di saat anak-anak yang lain pada balik ke tempat awal, aku malah diajak sama beberapa kawan yang jadi panitia inti buat ngecek kondisi salah satu kelompok yang gak ditemani panitia inti, kelompok kedua.

 

Akhirnya kita pun nyari rumah yang dituju kelompok kedua, dan kita pun nyasar. Percayalah, peta daerah ini bukan hal yang mudah untuk diingat bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke daerah ini. Kita nyasar berkali-kali, bolak-balik, sampai akhirnya menemukan seorang warga yang tau rumah mana yang kita tuju. Beneran harus banyak bersyukur lah ini, pertolongan dari warga atas kehendak Allah sangat berlimpah :’)

 

Setelah ketemu, akhirnya malah kita yang bantuin ngebor atap, atau tepatnya satu temanku ngebor atap sementara aku dan anggota kelompok yang lain ngomentarin dan ngasih instruksi, hahaha. Lumayan lama sih prosesnya, tapi ketika ngeliat hasilnya beneran gak jelek. Penerangannya bahkan menurutku jauh lebih bagus daripada lampu pijar yang dipakai di rumah itu (katanya memang setara dengan lampu fluoroscent 55W kalau gak salah), dan kita yang ngerjain (dan ngeliatin) sangat bangga atas pencapaian ini.

 

Dari dulu aku gak pernah ragu kalau Fisika Teknik itu jurusan yang keren, tapi baru kali ini aku dapat kesempatan buat menunjukkan kekerenan itu ke masyarakat luas 🙂

 

Sayangnya, waktu yang terbatas hanya memungkinkan kita menyelesaikan pemasangan lampu di dua rumah dari target awal lima rumah. Akhirnya, lampu-lampu yang sudah jadi itu pun kita berikan langsung ke warga untuk mereka pasang sendiri. Memang gak sesuai sama rencana sih, tapi aku sudah puas banget kok sama apa yang telah kita lakukan hari ini.

 

Sebagai mahasiswa engineer (teknik), kita belajar banyak soal teknologi, dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang murah sampai yang mahal, tapi gak banyak pengetahuan-pengetahuan ini yang kita bagikan ke masyarakat. Padahal, mungkin ada teknologi yang kita pelajari yang murah dari segi biaya, mudah dari segi teknis dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi sayangnya tidak banyak informasi mengenai teknologi seperti itu yang sampai pada masyarakat. Kenapa ya?

 

Terkait ini, ada temanku (atau mungkin dosen temanku) yang nyindir, “calon engineernya banyak, tapi kok bangsanya gini-gini aja? udah berguguran sebelum melepas titel ‘calon’ ya?” Yah, memang sih, kalo bangsanya gak berubah-berubah juga meski engineernya banyak, manfaat atau bahkan keseriusan kita dalam menjalankan profesi sebagai engineer jelas akan dipertanyakan.

{sumber: http://kacamatazia.wordpress.com/2013/08/06/calon-engineer-wejangan-yang-menampar/ }

 

Hari ini, banyak warga yang sudah tahu bagaimana cara untuk membuat lampu tersebut, dan beberapa bahkan sudah memasangnya sendiri, mungkin ini bisa merintis pergerakan irit listrik secara bottom-up. Selain itu, semoga teknologi yang sederhana ini juga mengembangkan minat anak-anak di bidang sains dan teknologi, karena nyatanya banyak hal yang hebat kok yang bisa kita lakukan dengan peralatan-peralatan sederhana yang ada di sekitar kita.

 

Untuk acara kali ini, standing ovation lah buat semua pihak yang terlibat, terutama semua anak FT angkatan 2010-2012 yang telah membantu mensukseskan acara ini, all of us did a fantastic work guys, give applause to ourselves! 😀

 

Karena teknologi itu tidak harus sulit dimengerti ataupun mahal harganya untuk dapat memberi manfaat bagi masyarakat, semoga yang kita lakukan ini bermanfaat dan bisa memberikan efek yang berkelanjutan. Bahkan seliter cahaya pun dapat menjadi sangat berharga. Dan inilah salah satu hal yang bisa Fisika Teknik lakukan untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Vivat FT! Dan Salam ganesha!

 

H-19 ITB Insight, waktunya menggemparkan Bandung, kunjungi web ini ya :3

http://www.itbinsight.com/insight-festival/

Review Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA)

Berikut reviewku mengenai apa itu SCADA, sesuai dengan tugas dari salah satu mata kuliahku, semoga bermanfaat, terutama bagi yang tertarik pada bidang kontrol 🙂

1.1      Pengertian SCADA

         Sistem SCADA umumnya menggunakan teknologi OPC dalam mengawasi dan mengendalikan data. Untuk mengenal SCADA dan OPC, kita perlu mengenal OLE terlebih dahulu. OLE adalah singkatan dari Object Linking and Embedding, teknologi yang dikembangkan oleh Microsoft untuk menghubungkan (linking) beberapa program komputer agar dapat berbagi informasi, sehingga informasi dari suatu program dapat dimasukkan sebagai informasi yang diolah di program lain (embedding) tanpa menghilangkan program yang informasinya dimasukkan tersebut.

         Teknologi OLE awalnya diciptakan untuk menghubungkan informasi antara compound document, dokumen yang mendukung beberapa jenis data. Salah satu contoh penggunaan OLE adalah dokumen pada Microsoft Word. Saat kita memasukkan gambar dari program internet atau photo-editing, atau memasukkan grafik atau tabel dari program Microsoft Excel, kita telah menggunakan OLE. 

Image

Gambar 1.1 Contoh Penggunaan OLE pada Microsoft Word

         OPC—OLE for Processing Control atau Open Platform Communications jika mengacu pada revisi akronim OLE pada tahun 2011—adalah pemanfaatan teknologi OLE pada Proses Kontrol, berupa standar perangkat lunak antarmuka—software interface—yang memungkinkan program Windows untuk berkomunikasi hardware device pada industri.

Image  

Gambar 1.2 OPC Server 

         OPC beroperasi dalam pasangan server-klien. OPC Server adalah software yang mengubah protokol komunikasi hardware yang digunakan oleh PLC ke dalam protokol OPC. Sementara OPC Client Software adalah program apapun yang perlu terhubung dengan hardware dari industri. OPC client menggunakan OPC server untuk mendapat data dari hardware atau memberi perintah pada hardware dengan komunikasi melalui kontroler proses.

         Hal yang penting pada OPC adalah open standard, yang berarti biaya yang lebih rendah bagi produsen dan lebih banyak pilihan bagi pengguna. Produsen hardware hanya perlu menyediakan satu OPC server untuk perangkat mereka untuk berkomunikasi dengan OPC client apapun. Vendor software hanya perlu memasukkan kemampuan OPC client dalam produk mereka agar produk itu dapat terhubung dengan ribuan hardware device. Pengguna dapat memilih OPC client software yang mereka butuhkan, dan produk itu akan berkomunikasi secara lancar dengan OPC-enabled hardware mereka, dan sebaliknya.

         Seperti yang kita lihat bahwa OPC Server dikendalikan oleh PLC—Programmable Logic Controller. PLC adalah sistem kontrol komputer industri yang terus mengawasi keadaan input device dan membuat keputusan berdasarkan program yang telah disetel untuk mengendalikan keadaan pada output device. PLC digunakan di banyak industri dan mesin. Tidak seperti komputer pada umumnya, PLC dirancang untuk pengaturan input/output (I/O) dalam jumlah banyak, beroperasi di kisaran suhu yang lebih panjang, bebas dari electrical noise, dan tahan terhadap getaran dan benturan. PLC adalah contoh dari sistem real time karena output yang dihasilkan harus merespon kondisi input dalam waktu yang terbatas, jika tidak operasi yang tidak diinginkan akan terjadi. Salah satu contoh PLC adalah PLC Allen-Bradley.

 Image

Gambar 1.3 PLC Allen-Bradley

         Untuk memprogram PLC tersebut, diperlukan software programming. Dalam mata kuliah SCADA ini, software programming yang digunakan adalah RSLogix 5000 yang dibuat oleh Rockwell Software dan mendukung PLC Allen-Bradley. Tapi pada umumnya bahasa pemrograman yang digunakan pada PLC adalah sama, dan yang paling umum digunakan saat ini adalah Ladder Logic. Ladder Logic adalah bahasa pemrograman yang menggambarkan program dengan diagram grafis berdasarkan pada diagram sirkuit logic hardware berbasis relay. Bahasa ini umumnya digunakan untuk mengembangkan software untuk PLC gunakan dalam aplikasi kontrol industri.

 Image

Gambar 1.4 Contoh Ladder Logic pada PLC Allen-Bradley

         SCADA adalah singkatan dari Supervisory Control And Data Acquisition. Sistem SCADA mengoperasikan beberapa fungsi. Tiga fungsi dasar SCADA adalah monitoring (pengawasan), control (control) dan fungsi user interface (UI). Fungsi pengawasan mengumpulkan data dan mengirimkannya ke komputer central. Fungsi control mengumpulkan data dari sensor pada fungsi pengawasan, memproses data tersebut dan mengirimkan sinyal kontrol kembali kepada peralatan sesuai yang diarahkan program software. UI umumnya berupa ruang kontrol yang besar dimana pengguna dapat mengawasi input SCADA serta respon outputnya secara real-time.

         SCADA digunakan dalam berbagai proses dan sistem, misalnya sistem lalu lintas, atau dalam proses industri seperti pembuatan baja, pembangkit dan distribusi listrik (konvensional dan nuklir) serta perusahaan minyak dan gas. SCADA juga digunakan pada sistem eksperimental seperti proses fusi nuklir. Berikut adalah beberapa contoh studi kasus yang menggunakan SCADA.

         Pada tahun 2010, Campbell Scientific menyatakan bahwa Trenton dan Amalga, dua kota di utara Utah, Amerika, yang terpisah beberapa mil membuat rencana untuk mendesain dan membangun interkoneksi antara kedua sistem perairan di kota tersebut, memungkinkan air secara otomatis mengalir dari Trenton ke Amalga atau sebaliknya, sehingga kedua kota tersebut dapat berbagi air dalam situasi yang darurat. Tiap kota memiliki sumber air, pompa tangki dan sistem distribusi yang terpisah, jadi tantangannya adalah menemukan cara untuk menghubungkan mereka yang akan memudahkan kedua kota itu berbagi air. Dalam hal ini kedua kota tersebut bekerjasama dengan JUB Engineers of Logan untuk meng-install sistem SCADA yang memungkinkan kedua kota tersebut melihat status sistem perairan kedua kota tersebut dan mengendalikan sistem interkoneksi sesuai kebutuhan.

         Contoh lainnya adalah Laboratorium Uji Lingkungan yang dimiliki perusahaan manufaktur Ford di Dunton, UK yang digunakan untuk menguji mobil berukuran kecil dan sedang yang dihasilkan Ford dalam berbagai jenis lingkungan yang disimulasikan. Lab ini punya beberapa kamar tes seperti “climatict test chambers” yang dapat mensimulasikan tekanan dari rentang 91.4 mdpl (meter diatas permukaan laut) hingga 3658 mdpl, 4-WD dynamometer yang mensimulasikan kecepatan hingga 250 km/jam, dan berbagai jenis kamar lainnya dengan temperature yang dapat dikendalikan dari suhu -40oC hingga 55oC. Sebelumnya Ford menggunakan paket MS-DOS RTM untuk mengawasi kamar tes dan ingin menggantinya dengan software dan interface PC yang lebih kompatibel dengan versi terbaru Windows sambil tetap mempertahankan kemampuan pengawasan hardware di tiap kamar. Dalam kasus ini, sistem SCADA dipakai untuk mengakuisisi data dari modul akuisisi data Solartron Imp dan data terkait manajemen sistem enjin tiap ada kendaraan yang diuji. Hasilnya merupakan sistem pengawasan yang familiar dengan para engineer, menyediakan informasi secara real-time selama pengujian, menyediakan fitur data logging yang komprehensif untuk menyimpan semua informasi yang dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, serta menyediakan trend secara real-time maupun historical yang memungkinkan operator focus pada bidang keahliannya dan meng-export data tersebut menjadi format standar Microsoft Excel. Keuntungan yang didapatkan adalah hasil dari proses yang lebih baik karena akurasi dan tingkat kepercayaan yang tinggi pada kapabilitas pengukuran real-time SCADA, masalah pada sensor yang digunakan dapat diketahui dengan mudah, sistem dapat dikembangkan untuk mengawasi lebih banyak daerah laboratorium, dan mengurangi biaya pelatihan operator karena UI Windows merupakan UI yang familiar.

1.2    Keuntungan Penggunaan SCADA

Beberapa keuntungan dari SCADA bagi suatu perusahaan adalah:

  • Sistem SCADA dirancang menghemat waktu dan uang dengan menghilangkan kebutuhan petugas servis mengunjungi setiap tempat untuk pemeriksaan, pengumpulan data/logging atau melakukan penyesuaian.
  • Pengawasan dan simulasi real-time terhadap sistem
  • Input berupa berbagai jenis sensor yang dapat dihubungkan pada sistem dapat mencapai ribuan jumlahnya
  • Troubleshooting (salah satu bentuk pemecahan masalah dengan mencari sumber masalah secara logis dan sistematis)
  • Meningkatan umur peralatan
  • Meningkatkan efisiensi dan kinerja sistem
  • Memberikan pengetahuan langsung dari kinerja sistem
  • Mengurangi jumlah jam kerja (biaya tenaga kerja) yang diperlukan untuk pemecahan masalah atau jasa dan membebaskan tenaga kerja untuk tugas penting lain
  • Jumlah data yang dapat disimpan oleh komputer sangat besar, dan dapat ditampilkan dengan berbagai cara sesuai yang pengguna inginkan yang dapat dilihat dari mana saja

            Namun walaupun banyak keuntungan dari SCADA, tetap ada beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan, sehingga para pengguna harus ketahui dan perhatikan dalam penggunaannya. Karena hal ini dapat dianggap sebagai drawback dari SCADA. Hal tersebut adalah:

  • Sistem menjadi lebih kompleks
  • Diperlukan beberapa kemampuan operasi, seperti analis sistem dan programmer
  • Ribuan jumlah sensor berarti jumlah kabel yang dibutuhkan sangat panjang
  • Apa yang dapat dilihat operator hanyalah sejauh apa yang terdata pada PLC

1.3      Contoh Arsitektur SCADA

            Sistem SCADA umumnya mencakup subsistem Human Machine Interface (HMI)—peralatan yang memperlihatkan data proses ke operator dan melalui ini sang operator mengawasi dan mengendalikan proses, sistem (komputer) Supervisory—yang mengumpulkan data proses dan mengirimkan perintah pada proses, Remote Terminal Unit (RTU)—yang menghubungkan sensor-sensor dalam proses dan mengubah sinyal-sinyal sensor menjadi data digital yang akan dikirimkan ke sistem Supervisory, PLC—sebagai perlengkapan lapangan, dan infrastruktur komunikasi—yang menghubungkan RTU dengan sistem Supervisory. Ini merupakan arsitektur sistem SCADA yang sempat digunakan di CERN7.

 Image

Gambar 1.5 Contoh Arsitektur Sistem SCADA

            Arsitektur Hardware

                  Dalam arsitektur hardware, pengendali proses seperti PLC terhubung ke server data, baik secara langsung atau tidak. Server-server data yang ada terhubung satu sama lain dan terhubung ke OPC Client melalui Ethernet LAN. RTU terhubung ke physical equipment, lalu mengubah sinyal listrik yang dihasilkan equipment tersebut menjadi nilai-nilai digital seperti open atau closed pada switch atau valve, atau besaran seperti tekanan, laju aliran, beda potensial atau arus listrik. Sinyal inilah yang menyebabkan RTU dapat mengendalikan equipment yang ada.

 Image

Gambar 1.6 Contoh Arsitektur Hardware Sistem SCADA

            Dalam arsitektur hardware ada istilah Supervisory Station—Stasiun Pengawas—yang mengacu pada server dan software yang fungsinya berkomunikasi dengan peralatan lapangan (RTU, PLC, dan sebagainya), dan kemudian ke software HMI yang bekerja pada workstation—komputer yang didesain untuk keperluan teknis atau saintifik—yang terletak di ruang kontrol atau di tempat lain. Dalam sistem SCADA yang lebih kecil, workstation dapat terdiri dari satu PC. Dalam sistem SCADA yang lebih besar, workstation dapat mencakup beberapa server, aplikasi software yang terdistribusi, dan situs pemulihan kerusakan.

            Arsitektur Software

            Produk ini multi-tasking dan didasarkan pada real-time database (RTDB) yang terletak di satu server atau lebih. Server bertanggung jawab untuk akuisisi data dan penanganan (seperti pengecekan alarm, kontroler polling—kecepatan pencacahan/sampling data, perhitungan, data logging dan pengarsipan) pada set parameter, yang khusus terhubung pada server. Namun, memiliki dedicated server—server yang digunakan secara penuh tanpa dibagi dengan fungsi lain—untuk tugas-tugas tertentu dapat dilakukan.

 Image

Gambar 1.7 Contoh Arsitektur Software Sistem SCADA

Komunikasi

            Komunikasi antara server-client atau server-server pada umumnya menggunakan TCP/IP protocol dengan berbasis event-driven (dimana laju program ditentukan oleh event atau kejadian seperti klik pada mouse) dan publish-subscribe (dimana pengirim pesan atau publisher tidak memprogram pesan kepada penerima atau subscriber yang spesifik, melainkan menggolongkan pesan-pesan tersebut ke beberapa kelas, dimana tiap subscriber pun akan menerima semua pesan yang termasuk dalam kelas yang di-subscribe atau diikuti).

            Data server mengendalikan kontroler sesuai dengan polling rate yang ditentukan pengguna, yang mungkin berbeda untuk parameter yang berbeda. Kontroler melewatkan parameter yang diminta menuju server data. Produk yang menyediakan communication driver yang umum digunakan oleh PLC adalah Modbus. Satu server data dapat mencakup beberapa protokol komunikasi, sebanyak jumlah slot untuk interface cards—penghubung komputer dengan jaringan ethernet.

 

Referensi Terkait

  1. http://academic.pgcc.edu/~bspear/IntroMsOffice/AUTOptn/word3/Web%20Page%20and%20Exam/word/lesson1.htm
  2. http://www.opcdatahub.com/WhatIsOPC.html
  3. http://accelconf.web.cern.ch/accelconf/ica99/papers/mc1i01.pdf
  4. http://www.amci.com/tutorials/tutorials-what-is-programmable-logic-controller.asp
  5. http://www.epgco.com/scada-system-assessment.html
  6. http://www.campbellsci.com/water-scada
  7. http://www.measuresoft.com/case-studies/manufacturing-pharmaceutical-medical/ford.aspx
  8. http://www.controlscada.com/advantages-plc-dcs-scada-system
  9. http://www.eeweb.com/blog/purnendu_kumar/scada-systems-introduction-architecture-functionality-and-other-aspects

Menilai Manusia

Dan kali ini kebiasaan procrastinating kembali beraksi -_- Disaat seharusnya lagi hectic tugas dan fokus, malah buka media sosial dan nemu status menarik yang sedikit menggelitik dan membuatku penasaran, jika kita harus menilai manusia, apakah yang akan kita nilai?

 

Akankah kita menilai dari berapa negara yang sudah disinggahi, untuk mengagumi kesempatan yang dia dapatkan, berkenalan dengan orang-orang hebat di luar negeri, bersantap makanan tradisional yang mungkin belum pernah kita dengar atau lihat, berinteraksi dengan orang-orang dari suku, agama, dan ras yang berbeda dan berbagai pengalaman yang mungkin tak akan pernah kita alami lainnya?

 

Atau akankah kita melihat dari kedekatannya dengan alam, berapa gunung yang sudah didaki, tempat apa saja yang sudah dikunjungi, binatang dan tumbuhan apa saja yang ditemui, pengalaman ter-ekstrim apa yang sudah dihadapi, dan berbagai pengalaman mengesankan lainnya?

 

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi orang-orang seperti itu, kelihatannya sekarang kita sudah bisa mendapatkan semua pengetahuan yang ada di internet, bahkan untuk melihat permukaan pluto tanpa perlu jauh-jauh pergi kesana pun sudah dapat dilakukan (coba tulis “the surface of pluto” di google). Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk melihat dan mengetahui segala hal, dari kebudayaan, makanan tradisional, statistik dan data, dan masih banyak lagi, jadi bagaimana bisa hal ini membedakan?

 

Oke, mungkin bakal ada argumen bahwa “merasakan sendiri itu beda”. Untuk menjawab itu, ada novel menarik berjudul “Measuring the World” yang dibuat oleh Daniel Kehlmann. Ceritanya merupakan bayangan seorang penulis mengenai 2 orang jerman yang mengukur dunia dengan caranya masing-masing, yaitu Carl Friedrich Gauss, matematikawan jerman yang tertutup dan sangat jarang bersosialisasi namun dapat membuktikan bahwa ruang angkasa itu melengkung tanpa perlu meninggalkan rumahnya, dengan Alexander von Humboldt, ahli ilmu bumi jerman yang naturalis dan aristokrat, hobi berpetualang, bahkan dikatakan tak ada gua dan bukit yang ditinggalkan tanpa terjelajah dan terukur. Kesimpulan yang diambil novel ini menarik, mengutip dari buku tersebut, “sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa yang sudah mengukur dunia lebih jauh” Bagi yang penasaran terhadap alasannya, silahkan baca sendiri :p

 

Bagi yang berargumen, “yang penting itu kan perjalanannya, perjuangan selama kita melangkah. Lagian banyak pelajaran yang didapat di sepanjang perjalanan kok”, aku sepakat, toh aku juga orang yang menyukai perjalanan. Cuma, semua kembali ke orangnya. Jadi ingat, setelah film “5 cm” keluar, dikatakan jumlah pendaki gunung semeru meningkat. Sayangnya, peningkatan ini diiringi dengan peningkatan jumlah sampah yang dibawa oleh para pendaki baru dan dibuang disana, dan aku tidak melihat itu sebagai tingkah laku orang yang mendapatkan pelajaran dari perjalanannya. Kembali lagi ke tujuan awal kita, untuk kebanggaan, atau untuk pelajaran?

 

Yah, semoga memang ada pelajaran yang didapatkan oleh para pendaki yang bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya 🙂

 

Oiya, untuk yang menyukai perjalanan, ada perkataan yang bagus dari shawn spencer di film “psych”:

 

Take lots of pictures. Not of sights. Don’t take pictures of buildings. Take pictures of moments, ’cause that’s what matters. Capture ‘em here [points to his head], and hold on to ‘em here [points to his heart]… At least that’s what I would do.

 

Ambillah gambar yang banyak, tapi jangan ambil gambar pemandangan, jangan juga ambil gambar bangunan. Ambillah gambar dari momen-momen yang ada, kejadian-kejadian yang istimewa, karena itu lah yang penting. Masukkanlah gambar-gambar itu ke kepala, dan simpanlah mereka di dalam hati, setidaknya itu yang akan kulakukan 🙂

 

Oke, kembali ke topik. Apa lagi yang dapat kita nilai dari seseorang?

 

Akankah kita menganggap kecerdasan lah yang utama, bagaimana dia selalu mendapat nilai tinggi di sekolah, bagaimana dia selalu menjadi juara dalam olimpiade, bagaimana dia menyelesaikan pendidikan lebih cepat daripada orang-orang seusia dia, dan menilai segala penghargaan yang telah dia dapatkan?

 

Atau akankah kita mengagumi pola pikirnya, bagaimana dia bisa menghadapi masalah dengan tenang meski masalah itu belum pernah dihadapi siapapun sebelumnya, bagaimana tingkah lakunya yang dewasa dapat menenangkan orang-orang saat terjadi masalah, bagaimana kebijaksanaannya menginspirasi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan tingkah laku menakjubkan lain yang pernah kita lihat pada dirinya?

 

Bagi orang-orang yang tertarik pada dunia psikologi atau pernah membaca mengenai multiple intelligence atau talent mapping, seharusnya pengetahuan bahwa setiap orang itu berbeda dan punya kelebihannya masing-masing merupakan pengetahuan umum, sehingga sulit untuk menilai manusia hanya dengan melihat tanpa mendalami alasan yang menyebabkan seseorang berlaku seperti itu, bukan? Tapi ini hal yang bagus kok, toh aku bisa membayangkan hambarnya dunia kalo semua orang itu sama, hehe.

 

Oke, lalu apa lagi yang dapat kita nilai?

 

Akankah kita menganggap tinggi hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia selalu menyapa para tetangganya dengan rendah hati, bagaimana orang-orang yang mengenal dia memperlakukannya dengan baik, dan takjub pada interaksi yang terjadi antara dirinya dan lingkungannya yang terkesan selalu positif?

 

Akankah kita takjub pada apa yang telah dia lakukan untuk masyarakat, bagaimana dia mengatur waktunya sedemikian rupa hingga dapat tetap menebar manfaat pada sekitar, apa saja yang dia korbankan untuk kebaikan orang lain, apa saja yang telah dia lakukan dan berikan meski mungkin tidak ada orang yang tahu, dan berbagai aktivitas mengagumkan lain yang kita lihat dari dirinya?

 

Akankah kita terpukau dengan pengetahuan agamanya serta kemampuannya untuk konsisten dalam menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupannya, bagaimana orang-orang belajar dari caranya beribadah, bagaimana dia mengingatkan orang-orang yang salah dan menjelaskan mengapa hal ini dilarang, bagaimana tingkah lakunya terhadap manusia dan alam, dan berbagai hal menakjubkan lainnya yang ada pada dirinya?

 

Entah lah.

 

Sudah hampir 2 dekade aku berada di dunia ini, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana cara menilai manusia?

Sistem Hibrid Energi Terbarukan

Ya, kali ini aku akan sedikit memberi gambaran tentang apa yang kukerjakan sebagai tugas akhir jurusanku, yaitu Sistem Hibrid Energi Terbarukan 😀

Energi merupakan kebutuhan yang vital bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri, dewasa ini kita memang sangat tergantung pada teknologi, yang membutuhkan energi untuk menjalankannya. Untuk transportasi jarak dekat sering kita menggunakan sepeda motor pribadi atau mobil angkutan umum, dan untuk transportasi jarak jauh umumnya kita menggunakan kereta, yang sampai saat ini masih menggunakan energi fosil seperti bensin, solar, dan aftur sebagai sumber energinya. Saat di kantor, kita mengerjakan pekerjaan kita dengan menggunakan komputer, printer, dan berbagai teknologi canggih bagi yang bekerja dalam dunia engineer–keinsinyuran. Dan saat di rumah, kita juga men-charge hp kita, menyalakan televisi, memasak dengan kompor gas, kompor listrik atau microwave, dan sumber energi dari semua kegiatan kita di rumah dan di kantor umumnya berasal dari listrik yang dibangkitkan dengan berbagai metode. Dan pada umumnya pembangkit listrik yang ada di indonesia menggunakan tenaga dari pembakaran bahan bakar fosil juga (seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam) untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik digunakan karena bentuk energi inilah yang paling praktis dan mudah untuk didistribusikan ke berbagai tempat.

 

Sementara hibrid adalah sesuatu yang berupa campuran dari beberapa hal atau suatu hal yang memiliki 2 komponen yang berbeda tapi hal yang dihasilkan itu sama. Misalnya jagung hibrida, itu adalah jagung yang merupakan hasil perkawinan silang antar 2 jenis bibit jagung. Atau contoh lainnya dalam Al-Quran sering disebutkan hewan bernama bagal yang merupakan keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan. Ada juga hewan bernama liger, atau singkatan dari lion-tiger, yang merupakan keturunan dari singa jantan dan harimau betina, sesuai dengan namanya.

 

Energi baru terbarukan merupakan salah satu alternatif baru dalam dunia energi yang menawarkan jumlah energi yang dapat diambil secara terus-menerus, karena energi tersebut bersumber dari proses alam yang berkelanjutan. Misalnya, ada yang pernah mendengar sel photovoltaic (sel surya), fuel cell atau pembangkit listrik tenaga air? Itu merupakan beberapa contoh energi baru terbarukan. Sel photovoltaic menggunakan proton dalam sinar matahari yang terpancar dan menyebabkan terjadi beda potensial antara 2 semikonduktor pada sel surya yang siap untuk dialirkan sebagai energi listrik, fuel cell menggunakan reaksi antara hidrogen dan oksigen yang menghasilkan energi listrik (karena pasangan ini merupakan sel galvani, yang menghasilkan listrik secara alami) dan kalor (reaksi eksoterm, kalor dilepas ke lingkungan), sementara pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan air yang mengalir turun untuk memutar turbin yang tersambung dengan generator yang akan mengubah energi kinetik putaran menjadi energi listrik. Sayangnya saat ini regulasi pemerintah, harga yang tergolong mahal jika dibandingkan dengan energi fosil dan proses maintenance yang agak sulit menjadikan banyak sistem EBT (Energi Baru Terbarukan) yang belum berkembang di Indonesia. Jika ada yang tertarik dengan kondisi EBT di Indonesia dan mengapa ini juga penting untuk dikembangkan, silahkan buka http://energibarudanterbarukan.blogspot.com/ 🙂

 

Sistem Hibrid Energi Terbarukan (SHET)–atau Hybrid Renewable Energy Systems (HRES) dalam bahasa inggris–merupakan perpaduan dari dua buah sistem EBT atau lebih. Tujuan SHET ini adalah memanfaatkan sumber-sumber EBT yang ada untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari kita. Penggabungan ini dilakukan sebab tidak semua energi baru terbarukan dapat bekerja dengan maksimal. Sebagai contoh, sel photovoltaic tidak akan menghasilkan listrik saat malam hari, karena tidak ada cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan. Pembangkit listrik tenaga air pun akan menghasilkan daya yang maksimal di musim hujan, namun pada musim kemarau daya yang dihasilkan mungkin tidak seberapa. Nah, karena kebutuhan energi kita tidak bisa dipenuhi secara setengah-setengah, tentu akan sulit untuk mengandalkan satu sistem saja. Apalagi jika satu-satunya sistem yang kita andalkan itu rusak.

 

SHET ini menjadi aplikasi yang banyak dibutuhkan untuk pembangkit listrik, terutama di daerah terpencil yang jauh dari sumber listrik Perusahaan Listrik Negara. Dosen Pembimbing dan Seniorku di Fisika Teknik juga sempat terlibat proyek untuk memasang SHET di jembatan suramadu, dimana EBT yang akan digunakan untuk menghasilkan listrik adalah pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga arus laut, pembangkit listrik tenaga gelombang dan sel surya. Energi dari keempat sistem EBT tersebut akan dikelola sehingga mampu mencukupi kebutuhan energi jembatan tersebut, terutama untuk penerangan dan monitoring–pengawasan–kondisi jembatan. Sistem seperti ini sangat cocok bagi Indonesia yang memiliki banyak pulau terpencil, apalagi mengingat cerita dosen-dosenku bahwa rasio elektrifikasi (jumlah penduduk yang mendapatkan energi listrik) di Indonesia masih sekitar 70% pada 2010 lalu.

 

Yang sedikit membedakan TA ini dari proyek di suramadu adalah kita juga akan mengintegrasikannya dengan listrik dari PLN. Hal ini disebabkan sumber energi yang akan digunakan adalah pembangkit listrik tenaga diesel dan sel surya, dan aku berencana mengaplikasikannya di salah satu labtek itb, dimana kebutuhan energi saat siang hari sangat besar dan dikhawatirkan energi dari kedua sistem EBT itu tidaklah mencukupi, sehingga listrik PLN tetap diperlukan sebagai back-up power jika energi dari kedua sistem EBT itu tidak mencukupi.

 

Ada 4 orang termasuk aku yang mengambil topik TA ini, dan uniknya di kampusku sendiri aku belum berhasil menemukan TA angkatan atas yang mengerjakan TA tentang ini sebelumnya, sehingga kami menjadi 4 orang pioneer di bidang ini, hahaha *bangga* 😀 Padahal sistem ini juga sudah berkembang pesat di dunia luar, tapi sayangnya banyak hal perkembangan di dunia luar yang tidak terlalu diperhatikan di Indonesia, padahal manfaatnya tidak sedikit. Yah, semoga apa yang kukerjakan ini dapat berguna di masa depan nanti. Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Salam Ganesha 🙂

Kemampuan Berkomunikasi

Setelah sekian lama blog ini terabaikan, kelihatannya aku akan mencoba untuk mengaktifkannya lagi, bismillaah 🙂

Siang ini, di kuliah Metode Penelitian dan Perancangan, ada cerita yang menarik dari dosen. Beliau bercerita, dari pengalaman beliau ke luar negeri dan pergaulannya dengan teman-teman dari asia tenggara seperti filipina, bahwa masalah para pelajar indonesia bukanlah masalah kecerdasan, tapi lebih mengenai masalah dalam berkomunikasi. Saat diminta untuk memecahkan masalah, kita mungkin unggul, tapi saat diminta mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan atau dialog, kita kurang baik, kira-kira begitulah pendapat beliau, meski aku lupa redaksi lengkapnya.

 

Mungkin ada benarnya, sebagai orang indonesia, aku sendiri menganggap minat kita dalam membaca dan menulis tergolong kurang. Karena aku sendiri lebih menyukai hal-hal yang instan. Daripada membaca jurnal penelitian untuk mencari sebuah data yang penting, aku lebih suka bertanya pada google dan melihat headline atau judul dari hasil pencarian. Dan daripada menulis, aku lebih suka menghabiskan waktuku berkutat dengan kegiatan yang kuanggap bermanfaat. Aku juga lebih suka berdialog dan berdiskusi daripada menulis, karena menurutku pribadi, hal-hal seperti ini lah yang membuka pengetahuan 🙂

 

Sayangnya, mungkin hal seperti ini lah yang menyebabkan orang indonesia kurang mampu mengekspresikan dirinya. Kita mungkin memang punya banyak hal untuk diutarakan. Tapi ketika mengutarakannya, banyak hal yang mungkin terlupa. Ketika menulisnya, banyak hal yang mungkin kita pertanyakan–entah pengaruh karena tulisannya dipublikasikan ke khalayak ramai atau apa–sehingga akhirnya kita urung untuk menulisnya. Entah ini hanya dialami oleh aku yang introvert atau tidak, tapi mungkin ada benarnya bahwa kita kurang handal dalam mengkomunikasikan maksud dan mengekspresikan diri kita.

 

Kalau mau merunut sedikit ke belakang, kembali ke jaman sma, sebagai siswa sma di jakarta selatan, aku bersyukur masuk ke SMA Negeri 47 Jakarta Selatan. Alasannya sebenarnya simpel, selama 3 tahun yang kuhabiskan disana, aku tidak pernah menjumpai kegiatan seperti tawuran, dan di perpustakaan ada komputer yang saat itu di-install game oleh kawanku, setidaknya aku bisa ansos selama di sma, hahaha :p Entah bagaimana, ketika mengingat saat-saat seperti itu sekarang, mungkin hal-hal ini juga disebabkan kekuranghandalan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Mungkin saja tawuran diawali dengan niat untuk mengajak sekolah bermain bersama yang disalahartikan, dan akhirnya terjadi kericuhan. Entah ya, tapi saat melihat kejadian seperti tawuran antar sma atau kericuhan antar suporter bola, apalagi sebagai siswa sma di jakarta yang sekarang kuliah di bandung, aku masih belum tahu, apakah ini disebabkan kita gampang terprovokasi atau kita kurang mampu berkomunikasi.

 

Ada artikel menarik mengenai komunikasi bagi anak-anak, jika kita mau merunut sedikit lebih jauh ke bidang pendidikan: http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/27/anak-kelas-1-sd-di-indonesia-vs-inggris-595432.html

Tiap orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda setelah membaca artikel tersebut, dan menurutku, mungkin kasus seperti pendidikan indonesia di artikel ini turut berperan dalam menghambat kemampuan kita dalam berkomunikasi. Kenapa? Karena yang dilihat hanyalah benar dan salah, dan dilihatnya juga hanya dari satu sudut pandang. Padahal, dalam berkomunikasi, kita pasti akan bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai latar belakang, dan dengan berbagai pendapatnya mengenai kehidupan. Pasti akan ada perbedaan, dan kalau kita tidak berani mengkomunikasikan perbedaan tersebut, jelas sudutpandang dan pemikiran kita tidak akan berkembang.

 

Dan inilah yang sedang kucoba kembangkan sekarang, dengan mulai menulis dan berbagi cerita 🙂 Meskipun katanya orang introvert itu jago nulis, tapi kayaknya belajar nulis tetap diperlukan ya, haha.

Untuk tambahan, baru-baru ini aku baru diberi hadiah dari seorang sahabat seperjuangan di sebuah organisasi, semacam gantungan kunci berisikan quotes dari Mahatma Gandhi yang menurutku lumayan pas dengan konteks bahasan ini:

A language is an exact reflection of the character and growth of its speakers.

Mungkin memang ada perlunya seperti ini. Sebagai seorang engineer yang kemungkinan besar akan bekerja di tengah masyarakat, kemampuan untuk mengkomunikasikan ide merupakan hal yang krusial, karena saat kamu ingin mengimplementasikan sebuah solusi yang kamu tawarkan, pasti diperlukan bantuan masyarakat untuk itu. Sebagai orang yang pernah mencoba untuk turun ke masyarakat dengan membawa sebuah ide, aku lumayan mengerti itu. Saat itu aku pernah mencoba mempraktekkan cara belajar yang menarik di sebuah daerah di Bandung, karena dari survey singkat yang kulakukan anak-anak disana memang sedang bosan dengan sekolah, jadi kita mencoba untuk bermain sambil belajar saja. Namun, kesalahanku saat itu adalah kurangnya komunikasi untuk meyakinkan orangtua anak-anak tersebut bahwa kegiatan yang kulakukan dapat memberi manfaat, sehingga para orangtua kurang mempercayakan anaknya untuk ikut kegiatan dan akhirnya tidak terlalu baik, karena masyarakat justru menjadi tidak peduli. Begitu pula dengan dunia kerja kelak. Jika kamu tidak bisa meyakinkan masyarakat mengenai apa yang baik bagi mereka dari dasar keilmuanmu, mungkin hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan pengalamanku.

And that’s why language is an exact growth of its speaker. Dengan berkomunikasi, kita belajar banyak mengenai aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat, yang akan menjadi pelajaran bagi kita untuk mengembangkan diri kita. Salah satu dosenku, pak budi, menekankan pentingnya bermain. Karena dengan bermain kita akan berinteraksi dengan teman sepermainan, dan itu lah pembelajaran kita mengenai nilai-nilai sosial masyarakat yang berlaku. Renungan sejenak. Andai kita semua mengingat masa kecil, dimana kita menghentikan permainan karena ada satu anak yang menangis, mungkin saat ini korupsi sudah berhenti dilakukan karena masyarakat yang menangis sudah terlalu banyak, bukan begitu?

Untuk melanjutkan blog ini, berhubung aku orangnya mudah lupa kalau tidak ada motivasi, mungkin aku akan membuat artikel tentang hal-hal ini yang menurutku menarik untuk dibagi. Aku mendeklarasikan ini setidaknya biar punya motivasi untuk melanjutkan dan tidak kehilangan fokus dalam belajar menulis dan mengekspresikan diri. I’m not good at keeping my promise, I’m just bad at forgetting it, especially if it is about something I truly care. And living without fulfill it just made me worse 🙂

Oke, topik artikel berikutnya yang sempat terlintas di pikiran:

  1. Introvert
  2. Segala hal yang terjadi adalah yang terbaik
  3. Sistem Hibrid Energi Terbarukan
  4. Pendidikan dan Manfaat
  5. Doctor Who
  6. Seleksi Untuk Berbagi

 

Entah kenapa dalam beberapa minggu belakangan ini, banyak hal yang seolah memintaku untuk menulis, baik sharing dari seorang pengajar muda, kawan di himpunan, anak-anak skhole, lalu juga persiapan untuk sesi writing tes ielts dan berikutnya cerita dari dosen seperti ini. Meskipun wordpress terkesan sebagai blog bagi artikel-artikel serius, aku hanya memanfaatkannya untuk belajar. Semoga bisa konsisten 🙂

Bagi yang mau ikut menulis tapi ragu karena masih pemula, ada quotes yang bagus:

Just do what you want to do. Remember, the arc was built by amateur, but the titanic was built by professional.

Kalau ada saran dan kritik jangan segan berkomentar ya 😀

Sekolah

Sekolah itu unik. Bisa kita lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Sekolah, disana disebutkan bahwa “Sekolah is a powerful devil [1]:49 and the primary deity worshipped by the sahuagin race. His sacred animal is the shark. His holy symbol is a white shark or a dorsal fin rising from the water.”

Ups, kelihatannya saya salah memasukkan link disini :p

Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin yaitu: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Oke, mungkin definisi tersebut terkesan kurang sesuai dengan fungsi sekolah yang kita lihat saat ini. Setidaknya, begitulah awal dari sekolah.

Menurut KBBI, sekolah artinya  bangunan  atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran  (menurut tingkatannya). Tentu saja semua orang punya pandangan yang berbeda tentang definisi sekolah, seperti saya yang merasa bahwa makna sekolah harusnya tidak sesempit ini 🙂

 

Untuk info mengenai sekolah saat ini, saya sempat meminta sahabat-sahabat di tempat saya menuntut ilmu untuk mengisi pendapat mereka mengenai apa yang mereka sukai dan apa yang tidak mereka sukai dari sekolah (sebetulnya tema utamanya pendidikan sih, tapi berhubung saat ini pendidikan sangat identik dengan sekolah, apa salahnya kalau kita juga membahas sekolah?). Yah, ada sekitar 20 orang yang memberikan respons. Hasilnya? Mari kita bahas satu-satu.

 

Mengenai hal yang disukai :

Ilmu pengetahuan yang beragam jenisnya jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi sekolah. Yap, disana kita belajar banyak sekali ilmu, baik dari sains, seni, sejarah, budaya, belum lagi ragam ekstrakurikuler yang variatif dan teman-teman yang enak diajak ngobrol. Tempat yang asyik untuk memuaskan dahaga ilmu dan bersosialisasi bukan? Itu belum memperhitungkan faktor guru yang keren banget cara ngajarnya, belum lagi kalo tugasnya cocok banget sama kita. Yap, bagi orang-orang dengan rasa keingintahuan besar, sekolah (harusnya) merupakan tempat yang paling tepat untuk menuntut ilmu 😀

Tapi, ada juga respon yang unik ketika ditanya apa yang disukai dari sekolah, responnya gini:
“Yang kusuka dari sekolah itu pas nggak ada guru, jam istirahat, ngobrol sama teman, pulang cepat dan pengumuman besok libur.” Haha, sebenernya miris juga sih kalo ngeliat pertanyaan ini direspon kayak gini. Tapi mungkin respon kayak gini juga merupakan salah satu mindset bagi pelajar saat ini. Kita lihat poin negatifnya yuk 🙂

 

Mengenai hal yang tidak disukai :

Dari tulisan-tulisan yang saya baca tersebut, ada yang kecewa terhadap sekolah, terutama kesan yang ditimbulkan saat mendengar kata tersebut. Misalnya beban yang diberikan kepada anak, teori yang banyak dan terkesan kurang aplikatif (karena pemahaman konsep kurang diperhatikan), image komersialisasi pendidikan, perkelahian dalam bentuk bullying (meskipun mungkin secara verbal dan tak disadari yang melakukan) hingga kontak fisik dengan senjata, subjektivitas nilai guru (dan nilai inilah yang terkesan diincar oleh murid), beberapa tipe guru (terutama yang mengajar tanpa mempedulikan tingkat pemahaman muridnya, apalagi kalo ditanya malah ngebentak murid yang bertanya dengan kata-kata yang kurang enak didengar), labelisasi pelajar (mungkin di sekolah labelisasi ini terbagi berdasarkan nilai ujian), dan yang paling banyak disuarakan adalah peran sekolah yang hampir tidak dirasakan dalam pengembangan karakter siswa.

 

Wah, kayaknya pe er pendidikan di indonesia buat mendikbud banyak banget ya?
Eits, jangan salah. Mungkin sekarang sekolah memang punya banyak hal yang belum berfungsi dengan optimal, tapi tempat belajar itu bukan cuma di sekolah aja loh. Seperti yang kusebutkan di awal, definisi sekolah di KBBI menurutku terlalu sempit. Karena, kita dapat mengajar atau menerima pelajaran dimana saja, dan kapan saja. Kita punya waktu 24 jam dalam 1 hari yang bisa digunakan untuk itu bukan? 🙂

Lagian, sebenernya belum tentu semua salah sekolah sih. Kalo aku diminta memilih siapa yang salah, aku mau sedikit mengingatkan bahwa media punya andil disini. Hah, kok media? Yap, ini salah media, media yang lebih sering melakukan publikasi terhadap berita-berita yang terkesan negatif. Dalam 24 jam yang kita gunakan, kalau kita sisihkan saja 1 jam saja tiap harinya buat nonton berita atau baca koran yang isinya berita negatif semua (baik itu berita anarkis, korupsi, pelecehan, dsb), yaah, siapa yang gak tertarik buat nyoba sih? Hehe, soalnya jujur, pas kasus 6.7T lagi rame, aku sempat kepikiran jadi koruptor itu enak loh (ayo lah, jelas-jelas itu cara cari duit yang instan, cepat dan mudah gitu, berapa banyak dana negara yang gak ketauan hilang kemana?). Beruntungnya, aku diingatkan bahwa korupsi itu mengambil hak orang lain yang bukan milikku, banyak loh orang-orang yang bakal menderita kalau aku melakukan itu. Yang mengingatkan itu ekskul keagamaan yang berbasis di masjid, oh, kayaknya baru-baru ini ada juga media yang menyebutkan ekskul itu sarang teroris deh.

Hehe, maaf ya, habis siapa juga yang nggak kesal kalau semua permasalahan dilihat dari sudut pandang negatif saja. Temanku sampe ada yang pernah menyatakan begini, “Media di Indonesia yang paling netral itu cuma Media Player” hehehe :p

Kalo ada kawan-kawan dari media yang tertarik dan ikut membaca sampai sini, aku mohon maaf ya, mungkin ini salah satu kritikan bagi media di Indonesia sekarang. Oiya, tenang, aku bukan orang yang anti media kok. Setidaknya aku suka membaca kolom berita olahraga dan kolom opini, hehe, kelihatannya saat ini aku belum bisa mencerna berita-berita di topik yang lain. Kalo emang benar ada, titip saran, tinjaulah semua informasi baik dan buruknya, serta tolong tuliskan dengan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan, termasuk kalangan awam seperti aku 🙂

Nah, salah satu yang perlu diperhatikan disini adalah tempat kita menerima pembelajaran. Sebenarnya selalu ada pelajaran yang kita terima loh dalam tiap detik kehidupan kita. Tapi, mungkin kita juga gak sadar bahwa kita juga mengajarkan begitu banyak ilmu. Pada siapa? Pada lingkungan sekitar kita, terutama adik-adik yang lebih muda usianya.

Nah, karena itu, yuk. Gak ada salahnya kan kalo kita menjaga perkataan dan perbuatan kita agar adik-adik kita tidak melakukan hal-hal yang salah. Karena bukan mustahil kalo mereka melakukan suatu perbuatan buruk, terus pas orangtua nanyain dari siapa mereka belajar untuk berbuat atau berkata seperti itu, dengan muka polosnya mereka mengacungkan jari dan menunjuk kita 🙂

Karena kita semua adalah murid dan guru dalam kehidupan ini 😀

Surat untuk Ikhwan…

Wahai ikhwan……
Dengarkanlah pula sejenak pesan kami barisan akhwat
untuk kalian..

Wahai ikhwan…………
Sungguh kami itu senang jika diperhatikan,
apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa,
atau ikhwan yang alim, atau ikhwan yang cool, atau ikhwan yang cerdas
padahal kami belum mampu berhijab secara baik,
karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya,
dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.

Jangan pernah kautatap kami penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihat kami.
Bukan, bukan karena kami terlalu indah,
tapi karena kami seorang yang masih kotor.
kami biasa memakai topeng keindahan pada wajah buruk kami,
mengenakan pakaian sutra emas yang akan bisa memalingkan diri kalian.

Wahai Akhi,
berhati-hatilah ketika kalian menyapa kami dengan chating didunia maya,
diskusi dengan hal-hal yang tidak perlu,
katanya dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah

Duhai Akhi……
Kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan,
tapi maaf…bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami,
meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini,
terkadang kami pun terlepas kata dan tingkah laku,
yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas,
karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami

Akhi….
Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi.
Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tapi itu fakta.
Sangat mudah membuat wanita bermimpi.

Akhi,
Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami.
Mungkin kami akan melengos kalau disapa.
Atau membuang muka kalau dipuji.
Tetapi, jujur saja, ada perasaan bangga.
Bukan kami suka pada antum (mungkin)..
Tapi suka karena diperhatikan “lebih”.

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri.
Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.
Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta’aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya.
Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan
tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Duhai akhi,
Tolong, kami hanya ingin menjaga diri.
Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti.
Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.

Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu,
jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu,
jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu
jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu,
jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu

Wahai akhi,
kalian Sebagai saudara kami,
tolong, jaga kami.
Karena kami akan kuat menolak rayuan preman,
Tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.
Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahiNYA?
Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoiNYA?

Karenanya saudaraku…
Janganlah kita berbuka sebelum waktunya
Memanen sebelum masanya
Bersabarlah, tunggulah hingga saatnya tiba

Allahu a’lam bish shawwab…

~Peringatan buat sahabat2 dan jua pada diri ini yg sentiasa khilaf padaNya,
Akhir kata aku memohon Ampun kepada Allah..
Robb yang Maha Penyayang dan Maha Pemberi Petunjuk~

*copas from message FKPI kab.muna

Untuk sahabatku yang sekedar mengingatkanku…
Terima kasih atas peringatanmu padaku…
Jangan ragu, teruslah ingatkan aku…
Karena aku juga manusia biasa yang tak lepas dari khilaf sepertimu…

Untuk para pembaca blogku yang ingin mengkritik sesuatu padaku silahkan, karena kritikan itulah yang bisa membantuku memperbaiki diri… 🙂