What’s Next?

Lega! Akhirnya perjuangan dua bulan terakhir ini berakhir sudah, dengan catatan yang sangat positif. Setelah kesibukan seleksi beasiswa, persiapan keberangkatan, adaptasi dengan dunia perkuliahan, hingga dijebak jadi penanggungjawab acara kebudayaan indonesia di kota Enschede tempatku berdomisili, Indonesian Evening 2015 yang berlangsung 27 November kemarin, oleh ketua PPIE yang kamarnya kutempati saat ini, akhirnya ada waktu dan kemauan juga untuk membersihkan sarang laba-laba dari website yang tertinggalkan ini.

Senang mengetahui bahwa acara ini dinilai positif dari berbagai elemen pengunjung, entah dari komentar hasil wawancara PPI Belanda yang dapat dilihat di http://ppibelanda.org/indonesian-evening-2015-3/ ataupun dari komentar di page event facebook yang telah dibuat, seperti dalam screenshot berikut.

Bahkan KBRI datang dengan penari papua dari Politeknik Negeri Semarang dalam rangka meramaikan suasana.

12314155_10208278761790994_6351772872034728933_o

Dan, seperti biasa, semakin besar acaranya semakin lama durasi mengendap di kamar setelahnya. Tepar. Sulit untuk mengatakan procrastinating kali ini sebab meskipun dua minggu kedepan akan diisi dengan dua ujian oral dan satu presentasi grup, kegiatan pembelajaran tidak efektif untuk dilakukan saat ini. Mungkin juga sekedar pembenaran untuk sekedar beristirahat dari proses memahami yang masih berlangsung, tapi semoga uang rakyat yang saat ini ada di saku masih mencapai tujuannya.

Jadi, sebagaimana manusia yang selalu berproses dari satu hal ke hal lainnya, apa berikutnya? Entah lah, masa depan itu tidak pasti, biarkan saja menjadi misteri Ilahi. Selamat untuk Jamie Vardy dari Leicester City yang baru saja memecahkan rekor saat artikel ini ditulis. Mari beraktivitas kembali, semoga makin banyak pelajaran di hari esok untuk mengembangkan pribadi dan mampu memberi lebih, dan bermanfaat lebih.

3 ujian dalam 10 hari kedepan ditambah kegiatan lain dari PPI kota. Well, life can get worse any time, so just enjoy the show for now~

Iklan

H-18

Mengisi hari-hari terakhir di bandung dengan melakukan kegiatan yang sama dengan saat baru sampai disini: berjalan entah kemana sesuka hati. Fatalis mungkin menyebutnya berjalan mengikuti suratan takdir. Memang alasannya berbeda, sekarang lebih untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan atau terjadi di berbagai lokasi dalam kota ini dibandingkan dengan dahulu yang lebih difokuskan pada mengetahui bangunan dan lokasi yang akan berperan selama kehidupanku berlangsung di bandung. Sisa hari di Bandung: 18. H-18.

Banyak hal yang, entah mengapa, baru terjadi padaku disini. Mungkin karena profil manusianya berbeda dengan profil manusia jabodetabek pada umumnya. Seperti kemarin, saat pergi ke game master yang harga permainannya tergolong murah dibandingkan dengan pusat permainan lain–setidaknya sehari sebelum tulisan ini dibuat–di Baltos (Balubur Town Square) lantai atas. Setelah kemarin kawan dari zaman mahasiswa baru berkunjung ke kosan dan bercerita tentang dirinya yang mulai pergi pijat ke sebuah tempat refleksi–atau relaksasi mungkin, entah, terlalu banyak kata yang mirip dengan beda arti yang lumayan jauh–tak jauh dari kosan, aku yang lelah bermain–lelah hati akibat kalah terus karena kemampuan menumpul setelah terlalu banyak menghabiskan waktu mengerjakan TA/Skripsi tepatnya–akhirnya memutuskan untuk mencoba kursi pijat disana. 2 koin atau 2500 rupiah untuk 5 menit, lebih murah dibandingkan tempat pijat temanku yang mematok tarif 80000 rupiah untuk 90 menit.

Mungkin memang kursi pijat di game master tidak menggunakan tangan manusia, tapi, terlepas dari siapa yang memijat, kenapa ada yang mau menyerahkan tubuhnya pada orang lain untuk dielus-elus, diusap-usap, dipukul-pukul? Kalau itu terjadi di dalam kereta, kemungkinan besar teriakan, tamparan atau tinjuan telah merefleks lebih dahulu di saat pikiran belum memutuskan respon yang akan dilakukan. Apa bedanya? Diberi izin dan tidak? Bayar dan gratis? Atau standar ganda?

Yang jelas, saat aku di kursi pijat itu lah mereka bertiga datang. Tiga bocah perempuan, kelas 2 sd atau kurang, datang menghampiri kursiku, memandang dengan penuh takjub akan apa yang kursi itu sedang lakukan padaku. Bayangkan kalian sedang makan di restoran ber-franchise terkenal. Entah itu Pizza Hut, McDonald, KFC, Domino, atau apapun. Ketika kalian baru mulai melahap makanan kalian, muncullah tiga anak kecil entah dari mana yang memandang tindakan kita dengan penuh rasa ingin mencoba. “Gimana rasanya, kak? Enak?”, tanya mereka penasaran. Bayangkan saja pertanyaan itu turut diucapkan pada perandaian situasi tadi. Perasaannya sama. Aku sekilas mempertimbangkan baik-buruk antara jujur mengatakan, “Enak kok, sebelum kalian datang tapi. Jadi gak enak karena kalian liatin.” dan pura-pura tidur. Tapi tetap saja, kedua opsi tersebut tidak dapat menghilangkan rasa ketidaknyamanan menjadi pusat perhatian. Akhirnya ya, terpaksa, opsi ketiga. Sembari mencoba tersenyum ajukan pertanyaan, “Mau coba?” lalu bangkit dari kursi.

Dan betul, mereka senang, dan kursi pijatnya menjadi pusat perhatian. Semua senang. Usai mereka bertiga memenuhi rasa keingintahuannya masih ada waktu sekitar 1 menit lagi, dan mereka menyerahkannya kembali padaku. Setidaknya mereka tahu diri, pikirku.

“Kak, minta uang,” pinta bocah yang sama. Oke, beberapa tahun aktif kegiatan mengajar, beberapa kali menemukan anak-anak serupa juga. Pelajaran: jangan menyimpulkan terlalu cepat, jangan menggeneralisir tanpa mempertimbangkan data outlier. Hebat juga bagaimana waktu sekitar 3 menit mampu menaikkan pangkatku di mata anak itu, dari “kakak yang duduk di kursi pijat” menjadi “kakak yang bisa dimintain uang”. Karena aku gagal menemukan logika dari tindakannya tersebut, aku berasumsi dia masih belum mampu berlogika. Karena itu untuk menolaknya jangan menggunakan logika. Oke, asumsi yang dibuat oleh mantan mahasiswa teknik terhadap psikologi perkembangan anak-anak sangat mungkin tidak tepat, tapi tetap saja perlu dibuat untuk merumuskan respon yang akan diberikan. Dan respon yang akan kuberikan jelas: ngotot menolak, dengan gaya anak-anak.

“Nggak mau.”
“Kakak nggak punya uang?”
“Ada, tapi bukan buat kamu.”
“Ih, kakak mah.”
Beruntung kedua temannya tidak lama kemudian mengajak sang anak dengan pinta itu pulang. Mereka melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya, membatin semoga kita tidak berjumpa lagi, perempuan muda.

Mengingat kejadian kemarin memang hanya membuat tertawa, heran dan geli terhadap tindakan anak-anak. Senang jadi anak-anak, bebas mengutarakan keinginan, tanpa perlu khawatir terhadap persepsi orang lain, dampak di masa depan dan lain sebagainya. Oke, beruntung juga mereka tidak idealis. Saat aku sd dahulu, pergaulan dengan lawan jenis masih merupakan hal yang nista. Bahaya kan jika penerus bangsa tidak ada akibat dari generasi muda memandang lawan jenis dengan hina?

Terlalu banyak berpikir membuat lapar juga. Akhirnya mampir ke minimarket dan membeli roti, lebih disebabkan tiadanya pilihan daripada tingginya keinginan. Setelah itu keluar, duduk di emperan jalan, makan. Seharusnya tidak ada larangan selain membeli benda dari pedagang kaki lima di zona merah. Lagipula para pedagang kaki lima atau pengguna kendaraan pun berlaku seenaknya di trotoar dengan tenda atau kendaraan yang mengganggu pejalankaki. Mungkin polusi menjadi masalah di beberapa lokasi, karena itu hindarilah dengan melakukannya di pagi hari 🙂

Oke, sejak di bandung memang kadang ada tingkahlaku abnormal yang kambuh di lokasi umum. Atau tepatnya mood untuk melakukan suatu hal di suatu lokasi. Tetiba ingin duduk dan makan, tetiba ingin memperhatikan, ingin menghitung jumlah kendaraan, tetiba ingin melakikan sesuatu, itu saja. Mungkin pengaruh dari minimnya hal yang mendesak untuk dilakukan. Dan berdasarkan pengalaman, kenalanku yang melihat tindakanku akan terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah yang penasaran atau sekedar menghormati. Bertanya sedang melakukan apa atau mencoba mengikuti tindakan abnormal yang sama. Terlihat juga perbedaan antara orang yang hanya berbasa-basi dan orang yang memang penasaran. Orang yang berbasa-basi cenderung memperhalus kalimat, seperti bertanya “sedang apa?” setelah melihat aku sedang makan roti di daerah tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang. Kupikir gestur mengunyah sembari memegang roti dengan bekas gigitan di tangan bukanlah gestur yang ambigu. Dan kadang aku hanya menatap makananku, kemudian memandang sang penanya dan bertanya balik, “Itu pertanyaan retorika?” Yah, tidak dijawab pun jawabannya jelas bukan? -_-

Kadang kalau sedang mood bercanda ingin menjawab sedang memancing pembunuh berantai keluar dari sarang persembunyiannya, sayang tidak pernah terucap. Kata-kata itu kan, doa. Kalau kata-kata itu terwujud, kelihatannya nyawaku dalam bahaya ._. Opsi lain: mengklasifikasikan manusia yang ada di bandung, demi tujuan akhir menguasai dunia. Sayangnya opsi ini perlu diucap dengan sound system dan sound effect yang baik, otherwise you’ll sound like a delusional lunatic. Well, even if you’re a delusional lunatic, what’s wrong with making it sounds convincing?

Kelompok kedua adalah kelompok yang sedang ada urusan lain, dan mungkin terburu-buru. Sebagian dari mereka sekedar memberi salam sebagai tindakan untuk menjaga hubungan dan silaturahmi. Beberapa merasa perlu untuk turut memberi komentar seperti, “galau?” sebelum pergi, dan sisanya lebih memilih untuk berpura-pura tidak lihat atau tidak kenal.

Entah apa yang berbeda di kota ini, suasananya selalu nyaman untuk membuat berpikir, meracau, bertingkah asal, dan berbagai hal. Satu sore dan satu pagi pun memiliki banyak cerita, banyak pemikiran, dan banyak inspirasi untuk bertingkahlaku, terlepas dari seabsurd apapun itu tentunya.

Ada yang menyebut bandung itu cantik, romantis, kuliner. Terserah lah, toh kebebasan berpendapat diatur undang-undang. Yang jelas bagiku yang agak sulit mengagumi keindahan, minim pengalaman dalam roman asmara, dan kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk mencoba berbagai jenis masakan bandung, kota ini aktif dan inspiratif.

Banyak cerita tercipta disini, banyak hal terjadi disini. Meski tinggal 18 hari lagi, kelihatannya saat ini lebih baik aku memikirkan apa yang akan kulakukan atau pengalaman apa yang kucari disini selama sisa waktu yang kupunya. This story hasn’t end yet, has it? 🙂

Random: Kekhawatiran

“Kawan2 mohon doanya, biar lamaran saya diterima oleh gadis idaman saya malam ini ya.
Beneran minta bantuan doa, terutama yang punya hubungan dekat dgn Allah.
Jazaakumullaah!”
“Minta tolong doain saya jd org yg soleh, dan dia jd wanita solehah. Kalau diterima agar dilancarkan urusan pernikahannya dan setelah menikah punya keterunan yg soleh dan solehah.
Jazaakumullaah!”

Message di sebuah grup, dikirim dari sahabat yang lebih tua enam bulan, lalalalalalalalalalalalalalala. Yang dikirim tidak berapa lama dari pesan curhat seorang sahabat yang khawatir tidak mendapat pasangan. Entah mengapa jadi merasa salah angkatan, perasaan yang telah lama hilang sejak memutuskan memanggil kawan sma di kelas sepuluh yang lebih tua tanpa embel-embel “kak” karena terasa aneh setelah lulus dari akselerasi -_-

Oke, aku tahu cepat atau lambat akan dapat pesan serupa, terlepas dalam bentuk curhatan, permohonan doa atau langsung dalam bentuk undangan. Tapi agak mempertanyakan kenapa sekarang, saat baru merasa diusir dari kampus karena muka-muka familiar mulai menghilang, untuk membuatku merasa terusir dari dunia jomblo juga. Seperti kata Calvin, “That’s one remarkable thing about life: it never get so bad that it couldn’t get worse.” -_-

Agak unik apa yang dilakukan otak saat recovery setelah bekerja dalam waktu lama. Baru saja sidang kamis lalu, mengurus persyaratan wisuda–yang awalnya terkesan sulit karena masalah administrasi–jumat lalu, mengikuti pelatihan kebencanaan sabtu lalu, membantu junior mengadakan pelatihan mengajar ahad lalu, dan secara teknis tidak memiliki kesibukan sama sekali hingga saat ini. Di saat sedang terpikir tidak bergunanya diri saat ini, melihat teman-teman yang sudah mendapat pekerjaan, melanjutkan studi, dan bahkan mengirim pesan seperti diatas, seolah membenarkan pemikiran negatif yang telah ada, hebat -_-

Bukannya nyampah sih, saat ini juga aku harusnya mencari informasi studi dan beasiswa serta belajar bahasa untuk persiapan sertifikasi kalau ingin melanjutkan studi di luar negeri. Sudah ada beberapa brosur, beberapa jurusan dan universitas hasil googling dan beberapa keterangan beasiswa, yang sama sekali tidak kubuka sejak waktuku luang akibat distraksi dari game dan film di laptop yang selama ini tersegel. Oke, itu berarti aku nyampah. Menyebalkan saat usaha untuk menjustifikasi dan memotivasi diri berakhir dengan kondisi lebih menyalahkan diri seperti ini :/

Tidak berminat untuk hidup di dunia serba cepat dimana semua dikebut seolah besok maut menjemput, tapi penasaran juga seharusnya kehidupan ini berlangsung secepat apa. Dan jadi terpikir, apa mungkin selama ini aku yang menjalani kehidupan selambat siput, sementara yang lain terus bekerja seulet semut ._.

Khawatir, waswas, entah akan apa. Pekerjaan, pasangan, masa depan, tabungan, kelihatannya selalu ada hal yang dapat dikhawatirkan manusia. Dan itu baru sebagian kecil kekhawatiran yang timbul setelah kekhawatiran akan wisuda tidak terbukti, aku bisa lulus dua setengah pekan lagi. Dan mungkin sebagian besar kekhawatiran yang terpikir saat ini pun tidak akan terbukti. Agak heran kenapa sering sekali terpikir demikian meski tau kenyataan, pertanda terikat pada dunia? Kelihatannya perlu mengikuti saran guruku dulu: baca An-Nas, mohon perlindungan dari perasaan waswas yang dibisikkan jin ataupun manusia.

Ah, sudah lah. Kelihatannya kalau dilanjutkan perasaan tidak berguna itu akan menjadi fungsi yang terus melakukan iterasi, nilainya akan terus bertambah besar selama prosesor masih beroperasi. Waktunya untuk berhenti dan mengistirahatkan diri, sembari berharap semuanya akan membaik suatu hari nanti. Cause to be fair, it also never get so good that it couldn’t get better, depend on what your focus is, right?

Bahagia

Bukankah bahagia itu sederhana?

Sesederhana keju bubuk yang bertaburan dan memberi warna kuning seolah emas diatas selembar roti ataupun semangkuk mi instan, yang selalu kupandang dengan takjub meski belum tahu bagaimana rasanya kelak.

Sesederhana tarian patung yang keluar dari jam saat jarum panjang melalui angka 12 yang seolah menyihir siapapun yang melihat untuk larut dalam kegembiraan yang tergambar pada tiap dentang nadanya.

Sesederhana sebuah lahan kosong dan sebuah bola, dengan sepasang alas kaki sebagai tiang gawang yang tinggi kita imajinasikan menyesuaikan tinggi lompatan sang penjaganya, dengan keputusan masuk atau tidak berdasarkan apa yang kita rasa.

Sesederhana keindahan panorama alam yang kulalui saat sedang berjalan-jalan random ketika sedang ingin, selalu ada keindahan dan pelajaran kemanapun kaki ini melangkah.

Sesederhana diskusi kita tentang berbagai hal, entah itu masa depan, pendidikan, perkembangan teknologi, kondisi dunia energi saat ini, politik, sistem, apa yang kita bisa lakukan, dan berbagai topik serupa. Sangat mungkin daftar topik ini akan bertambah panjang seiring banyaknya diskusi yang melibatkanku, dengan siapapun itu.

Sesederhana saat-saat kita bersama, mencoba memberi manfaat kepada orang lain, meski aku tak menyangkal perlu tingkat kesabaran dan komitmen yang tinggi untuk dapat terus melakukannya. Dan aku senang ada beberapa orang yang memilikinya dan mampu bertahan, beberapa orang yang kuhormati dan kukagumi dalam beberapa hal yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi di kala lelah dan bosan.

Sesederhana menghargai hal-hal sederhana yang biasa muncuk di kehidupan sehari-hari kita seperti itu.

Jadi teringat sebush vocab baru dari pelajaran bahasa inggris tadi, exotic, atau eksotis. Sahabatku berkata bahwa definisi eksotis dalam KBBI adalah memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum. Dalam hal itu, kelihatannya butiran keju, tarian patung di dalam jam dan berbagai hal sederhana lainnya pasti lah eksotis.

Mungkin orang-orang yang paling berbahagia adalah orang-orang yang paling sederhana dalam menjalani kehidupannya. Bukan orang-orang yang terjebak dalam rutinitas harian yang itu-itu saja, tapi orang-orang yang mengatakan apa yang dia ingin katakan, melakukan apa yang dia ingin lakukan, dan melaksanakan tindakannya dengan sepenuh hati. Bukankah bahagia itu sederhana?

Hari Terakhir

Belum lama ini saat ditelpon orangtua, aku diingatkan, besok ulang tahun. Haha, bahkan diriku yang harusnya peduli saja tidak setertarik seharusnya. Ingat, tapi tidak merasa itu hal yang penting. Seolah satu malam ini, atau satu hari besok, dapat mengubah segalanya.

Ya, ini hari terakhirku untuk hidup dalam masa teen-age, sebelum memasuki usia kepala dua. Mereka bilang mulai besok aku sudah harus peduli pada umurku sebelum bertindak asal tanpa sebab sebagaimana yang biasa kulakukan. Mereka bilang mulai besok aku harus mulai bersiap mempertanggungjawabkan kehidupanku mengingat banyak hal yang sering kuabaikan atau kubiarkan terbengkalai. Mereka bilang mulai besok aku harus memikirkan masa depan lebih serius. Mereka bilang ini, mereka bilang itu, ah, perkataan manusia memang banyak sekali, seolah tak pernah habis bukan?

Andai sebuah malam pergantian usia dapat membuat manusia menjadi jauh lebih dewasa, bijaksana, cerdas, bermanfaat, serius dan hal-hal positif lain sebagainya, mungkin kita tidak akan pernah peduli pada bagaimana cara orang yang kita kagumi atau hormati mengembangkan diri mereka. Lagipula, jika begitu untuk apa ada ujian kehidupan? Tidak usah belajar, cukup bersabar, masalah akan terselesaikan pada ulang tahun berikutnya.

Yah, memang aku tidak menganggap besok merupakan hari yang istimewa, usiaku hanya bertambah sedetik demi sedetik, sehari demi sehari, hanya kali ini memasuki dekade baru saja. Ah, sudah lah, meski bertambah tua itu adalah pasti, bertambah dewasa itu adalah pilihan. Hal-hal positif dalam diri seseorang tidak dapat diukur hanya dari melihat usianya bukan? 🙂

Dan malam ini pun kuisi dengan berandai-andai, menghabiskan waktu sambil membayangkan hal yang tidak relevan dan yang pasti tidak akan terjadi. Jika aku punya kesempatan untuk mengubah satu pilihan saja yang pernah kuambil, akan jadi seperti apa hidupku sekarang?

Beragam jawaban sudah terpikir, mahasiswa jurusan arsitektur, pemain piano muda, tim kampanye dari sebuah partai politik, defender atau kiper di tim sepak bola liga amatir, peserta kompetisi game online, sosok tambun dan pemalas di depan televisi atau internet, mahasiswa yang terbiasa dengan hedonisme, penulis muda, mahasiswa yang tugas akhirnya merakit hovercraft atau membuat prototype mobil terbang, wah, banyak hal yang mungkin lebih baik, dan banyak juga hal yang mungkin lebih buruk daripada kondisi saat ini. Sebuah pilihan yang terkesan kecil dapat mengubah kehidupan dalam skala besar, yang dianalogikan sebagai The Butterfly Effect, dimana kepakan sayap seekor kupu-kupu dapat menysbabkan badai besar di tempat yang berlokasi ratusan kilometer jauhnya. Bahkan mungkin perbedaan dalam mengambil jalan di sebuah persimpangan dapat menentukan nasib dunia. Hei, siapa tahu kan?

Tapi setelah dipikir kembali, jika pertanyaannya diganti menjadi pilihan mana yang ingin kuubah, jawabannya jelas. Tidak ada pilihan yang ingin kuubah. Aku lumayan suka dengan kehidupanku saat ini. Tak peduli seberapa repot, seberapa lelah, seberapa rumit ataupun seberapa sulit konsekuensi yang kuhadapi setelah menentukan pilihan, tak ada hal yang ingin kuubah. Jika tiap situasi merupakan sebuah persimpangan dan tiap pilihan merupakan jalan, bukankah jalan ini adalah tempat kita dipertemukan? Aku, dan beberapa orang yang kuhormati, kusegani, sahabat baik, dan… Hm, mungkin yang ini tidak usah disebutkan.

Mungkin manusia memang selalu merasa kurang. Tidak salah, itu lah penyebab teknologi berkembang pesat dan dunia maju seperti saat ini. Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya tetap dibiarkan seperti apa adanya bukan? Seperti pilihan-pilihan yang telah kuambil 🙂

Bersujudlah

Teringat perkataan seorang senior, dan seorang sahabat, dahulu saat aku menceritakan masalahku padanya dan alasanku segan meminta pertolongan pada orang lain sehingga memilih bercerita ke dia.

Dalam Surat Al-Fatihah di ayat ke-5, ada pernyataan “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” Kakak bukan ahli tafsir yang bisa berbicara banyak tentang hal ini. Tapi mungkin ini pengingat, bahwa tak peduli sehebat apapun seorang manusia, dia pasti akan membutuhkan pertolongan. Tapi, kakak menganggap kakak bukan orang yang pantas untuk memberikan saran dalam hal ini. Kakak tidak tahu kondisi lengkap dari masalahmu dan kakak juga tidak punya pengalaman di bidang ini, coba lah memohon pada-Nya. Siapa lagi yang lebih pantas memberikan pertolongan selain Dia? Dia Maha Kuasa, Maha Menghitung, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kamu tahu bahwa dalam penciptaan alam semesta Dia tidak bermain dadu kan, tidak asal-asalan? Semuanya penuh perhitungan, dan kakak yakin Dia juga lebih tahu bagaimana masalahmu dapat diselesaikan.

Saat aku menceritakan kepenatanku dalam menghadapi masalah dan mempertanyakan kapan masalahku akan terselesaikan, mengingat cara kerja Dia lumayan “misterius”, dia pun menjawab.

Bersujudlah, kamu hanya lelah karena terlalu banyak masalah yang dipikirkan. Memang sekedar bersujud tidak akan menyelesaikan apapun, tapi setidaknya kamu dapat melepas penat sejenak dan mengumpulkan kekuatan sebelum mulai menyelesaikan masalah. Memang nasib suatu kaum tidak akan berubah selama kaum itu tidak mau merubahnya, karena itu kau bisa melanjutkan pertempuranmu setelah itu. Bertanya lah pada orang lain, cari lah orang-orang yang punya pengalaman dan tanyakanlah apa yang waktu itu mereka lakukan, pelajari lah lagi detail masalahmu mengingat mungkin ada beberapa hal yang terlewatkan, dan berusahalah sebisa dirimu dalam menjalani masalah ini. Berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, bukankah itu yang dinamakan ikhtiar?

Dan sekarang sedang bingung, kenapa ya kemarin-kemarin lupa dengan konsep ikhtiar ini saat kondisi sedang banyak masalah? Hahaha, sudah lah. Ada masalah? Bersujudlah 🙂

Trip to Kansai-Documentation Day 1-2

Sesuai yang dijanjikanl, berikut merupakan dokumentasi kegiatanku selama di Jepang beberapa waktu yang lalu. Oiya, dokumentasi yang ada disini juga menumpang jasa kamera dan kesediaan seorang sahabat yang ikut dan mendapatkan foto yang bagus. Half of the credits for Soraya Rizka atas beberapa fotonya yang di-update disini, karena fotonya diambil langsung dari Facebook umumnya foto yang kuambil darinya berukuran kecil jika ada penasaran mana yang kuambil dan mana yang tidak kuambil. Sekaligus mempromosikan blognya sebagai kompensasi: http://dengeeky.wordpress.com 😀

Kansai International Airport (KIX)

Ini dokumentasi saat terpaksa harus bermalam di bandara karena tertinggal bis terakhir, yah, meskipun suhunya belasan Celsius setidaknya memang jauh lebih baik daripada harus menghabiskan malam di luar yang suhunya 4 derajat Celsius kebawah.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000516

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000517

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000518

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000519

Trip to Kobe — Sunrise in The Land of The Rising Sun

Dan ini dokumentasi perjalanan dari Bandara KIX ke Kota Kobe, berangkat saat matahari terbit di negeri matahari terbit, pengalaman lah ya.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000524

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000528

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000530

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000532

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000533

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000534

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000542

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000543

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000546

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000547

HAT (Happy Active Town) Kobe

Dan ini kota pertama yang dikunjungi, di hari kedua. Kobe, kota yang sempat menjadi pusat pelabuhan dunia namun sempat hancur karena The Great Hanshin Earthquake pada tahun 1995 silam. Meskipun saat ini kota telah kembali pulih, ada beberapa orang yang berkata bahwa kejayaan masa lalu kota ini masih belum dapat dikembalikan.

1800326_10203470130942467_1217122044_n

1965068_10203470131302476_1801750753_n

1904103_10203470133422529_1367326100_n

1779864_10203470133822539_571980674_n

1900115_10203470136902616_238090057_n

1660900_10203470137422629_1099512505_n

Meriken Park-Kobe Tower

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000553

Dan ini merupakan tempat terakhir yang sempat dikunjungi pada hari kedua. Meriken Park dan Kobe Tower. Ya, kata “Meriken” diambil dari “American”, yang berlatarbelakang berdirinya kedutaan besar Amerika di taman tersebut. Selain itu, di dekatnya juga terdapat Kobe Tower, bangunan berwarna merah yang menjulang tinggi itu, salah satu simbol bagi kota pelabuhan ini.

1622866_10203470139342677_1577749608_n

1653725_10203470140542707_314759918_n

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000554

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000556

Dan dalam Meriken Park tersebut juga ada Monumen Gempa Hanshin, tidak semua bagian dari taman tersebut direvitalisasi penuh. Ada beberapa bagian yang ditinggalkan sebagaimana kondisi setelah gempa agar dapat dijadikan pelajaran bagi generasi berikutnya, dan berikut adalah gambar dari monumen dengan beberapa partisi dengan luminer uplight sebagai penerang yang berisi penjelasan serta diorama dan pemutar film yang terdapat pada taman tersebut.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000558

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000559

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000560

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000561

Dan saat selesai melihat-lihat pun malam tiba. Sebenarnya kondisi malam di Meriken Park lumayan indah, tapi tubuh yang masih belum beradaptasi dengan baik pada temperatur dimana air hampir membeku menyebabkan perjalanan sebaiknya segera diakhiri. Yah, setidaknya ada foto Meriken Park saat malam hari dan China Town yang kebetulan kami lewati dalam perjalanan pulang meski tidak banyak.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000562

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000563

1660443_10203470150702961_644385011_n

Yang jelas, ada benarnya jika ada orang yang berkata kita memang perlu tahu bagaimana kondisi di luar sana, agar tidak terus-menerus menjadi katak dalam tempurung. Entah lah, tapi setelah melihat dunia yang, hm, sangat berbeda, aku jadi terpikir bahwa ada banyak hal yang kupelajari di Jepang dapat diaplikasikan di Indonesia. Entah untuk memperbaiki sistemnya, meningkatkan keamanan warga, dan lain semacamnya. Tidak ada salahnya memulai perubahan dengan meniru yang lebih baik kan? Bukankah semua tokoh ternama juga memiliki seseorang yang dia tiru sebelum bisa mengembangkan gayanya sendiri?

Distraksi bagi orang-orang yang tengah menunaikan Ujian Tengah Semester memang, haha. Yah, foto-foto di hari yang lain akan diunggah saat koneksi internet memungkinkan untuk mengunggah lah ya, sekarang ini saja dulu. Have a nice day!