H-18

Mengisi hari-hari terakhir di bandung dengan melakukan kegiatan yang sama dengan saat baru sampai disini: berjalan entah kemana sesuka hati. Fatalis mungkin menyebutnya berjalan mengikuti suratan takdir. Memang alasannya berbeda, sekarang lebih untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan atau terjadi di berbagai lokasi dalam kota ini dibandingkan dengan dahulu yang lebih difokuskan pada mengetahui bangunan dan lokasi yang akan berperan selama kehidupanku berlangsung di bandung. Sisa hari di Bandung: 18. H-18.

Banyak hal yang, entah mengapa, baru terjadi padaku disini. Mungkin karena profil manusianya berbeda dengan profil manusia jabodetabek pada umumnya. Seperti kemarin, saat pergi ke game master yang harga permainannya tergolong murah dibandingkan dengan pusat permainan lain–setidaknya sehari sebelum tulisan ini dibuat–di Baltos (Balubur Town Square) lantai atas. Setelah kemarin kawan dari zaman mahasiswa baru berkunjung ke kosan dan bercerita tentang dirinya yang mulai pergi pijat ke sebuah tempat refleksi–atau relaksasi mungkin, entah, terlalu banyak kata yang mirip dengan beda arti yang lumayan jauh–tak jauh dari kosan, aku yang lelah bermain–lelah hati akibat kalah terus karena kemampuan menumpul setelah terlalu banyak menghabiskan waktu mengerjakan TA/Skripsi tepatnya–akhirnya memutuskan untuk mencoba kursi pijat disana. 2 koin atau 2500 rupiah untuk 5 menit, lebih murah dibandingkan tempat pijat temanku yang mematok tarif 80000 rupiah untuk 90 menit.

Mungkin memang kursi pijat di game master tidak menggunakan tangan manusia, tapi, terlepas dari siapa yang memijat, kenapa ada yang mau menyerahkan tubuhnya pada orang lain untuk dielus-elus, diusap-usap, dipukul-pukul? Kalau itu terjadi di dalam kereta, kemungkinan besar teriakan, tamparan atau tinjuan telah merefleks lebih dahulu di saat pikiran belum memutuskan respon yang akan dilakukan. Apa bedanya? Diberi izin dan tidak? Bayar dan gratis? Atau standar ganda?

Yang jelas, saat aku di kursi pijat itu lah mereka bertiga datang. Tiga bocah perempuan, kelas 2 sd atau kurang, datang menghampiri kursiku, memandang dengan penuh takjub akan apa yang kursi itu sedang lakukan padaku. Bayangkan kalian sedang makan di restoran ber-franchise terkenal. Entah itu Pizza Hut, McDonald, KFC, Domino, atau apapun. Ketika kalian baru mulai melahap makanan kalian, muncullah tiga anak kecil entah dari mana yang memandang tindakan kita dengan penuh rasa ingin mencoba. “Gimana rasanya, kak? Enak?”, tanya mereka penasaran. Bayangkan saja pertanyaan itu turut diucapkan pada perandaian situasi tadi. Perasaannya sama. Aku sekilas mempertimbangkan baik-buruk antara jujur mengatakan, “Enak kok, sebelum kalian datang tapi. Jadi gak enak karena kalian liatin.” dan pura-pura tidur. Tapi tetap saja, kedua opsi tersebut tidak dapat menghilangkan rasa ketidaknyamanan menjadi pusat perhatian. Akhirnya ya, terpaksa, opsi ketiga. Sembari mencoba tersenyum ajukan pertanyaan, “Mau coba?” lalu bangkit dari kursi.

Dan betul, mereka senang, dan kursi pijatnya menjadi pusat perhatian. Semua senang. Usai mereka bertiga memenuhi rasa keingintahuannya masih ada waktu sekitar 1 menit lagi, dan mereka menyerahkannya kembali padaku. Setidaknya mereka tahu diri, pikirku.

“Kak, minta uang,” pinta bocah yang sama. Oke, beberapa tahun aktif kegiatan mengajar, beberapa kali menemukan anak-anak serupa juga. Pelajaran: jangan menyimpulkan terlalu cepat, jangan menggeneralisir tanpa mempertimbangkan data outlier. Hebat juga bagaimana waktu sekitar 3 menit mampu menaikkan pangkatku di mata anak itu, dari “kakak yang duduk di kursi pijat” menjadi “kakak yang bisa dimintain uang”. Karena aku gagal menemukan logika dari tindakannya tersebut, aku berasumsi dia masih belum mampu berlogika. Karena itu untuk menolaknya jangan menggunakan logika. Oke, asumsi yang dibuat oleh mantan mahasiswa teknik terhadap psikologi perkembangan anak-anak sangat mungkin tidak tepat, tapi tetap saja perlu dibuat untuk merumuskan respon yang akan diberikan. Dan respon yang akan kuberikan jelas: ngotot menolak, dengan gaya anak-anak.

“Nggak mau.”
“Kakak nggak punya uang?”
“Ada, tapi bukan buat kamu.”
“Ih, kakak mah.”
Beruntung kedua temannya tidak lama kemudian mengajak sang anak dengan pinta itu pulang. Mereka melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya, membatin semoga kita tidak berjumpa lagi, perempuan muda.

Mengingat kejadian kemarin memang hanya membuat tertawa, heran dan geli terhadap tindakan anak-anak. Senang jadi anak-anak, bebas mengutarakan keinginan, tanpa perlu khawatir terhadap persepsi orang lain, dampak di masa depan dan lain sebagainya. Oke, beruntung juga mereka tidak idealis. Saat aku sd dahulu, pergaulan dengan lawan jenis masih merupakan hal yang nista. Bahaya kan jika penerus bangsa tidak ada akibat dari generasi muda memandang lawan jenis dengan hina?

Terlalu banyak berpikir membuat lapar juga. Akhirnya mampir ke minimarket dan membeli roti, lebih disebabkan tiadanya pilihan daripada tingginya keinginan. Setelah itu keluar, duduk di emperan jalan, makan. Seharusnya tidak ada larangan selain membeli benda dari pedagang kaki lima di zona merah. Lagipula para pedagang kaki lima atau pengguna kendaraan pun berlaku seenaknya di trotoar dengan tenda atau kendaraan yang mengganggu pejalankaki. Mungkin polusi menjadi masalah di beberapa lokasi, karena itu hindarilah dengan melakukannya di pagi hari πŸ™‚

Oke, sejak di bandung memang kadang ada tingkahlaku abnormal yang kambuh di lokasi umum. Atau tepatnya mood untuk melakukan suatu hal di suatu lokasi. Tetiba ingin duduk dan makan, tetiba ingin memperhatikan, ingin menghitung jumlah kendaraan, tetiba ingin melakikan sesuatu, itu saja. Mungkin pengaruh dari minimnya hal yang mendesak untuk dilakukan. Dan berdasarkan pengalaman, kenalanku yang melihat tindakanku akan terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah yang penasaran atau sekedar menghormati. Bertanya sedang melakukan apa atau mencoba mengikuti tindakan abnormal yang sama. Terlihat juga perbedaan antara orang yang hanya berbasa-basi dan orang yang memang penasaran. Orang yang berbasa-basi cenderung memperhalus kalimat, seperti bertanya “sedang apa?” setelah melihat aku sedang makan roti di daerah tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang. Kupikir gestur mengunyah sembari memegang roti dengan bekas gigitan di tangan bukanlah gestur yang ambigu. Dan kadang aku hanya menatap makananku, kemudian memandang sang penanya dan bertanya balik, “Itu pertanyaan retorika?” Yah, tidak dijawab pun jawabannya jelas bukan? -_-

Kadang kalau sedang mood bercanda ingin menjawab sedang memancing pembunuh berantai keluar dari sarang persembunyiannya, sayang tidak pernah terucap. Kata-kata itu kan, doa. Kalau kata-kata itu terwujud, kelihatannya nyawaku dalam bahaya ._. Opsi lain: mengklasifikasikan manusia yang ada di bandung, demi tujuan akhir menguasai dunia. Sayangnya opsi ini perlu diucap dengan sound system dan sound effect yang baik, otherwise you’ll sound like a delusional lunatic. Well, even if you’re a delusional lunatic, what’s wrong with making it sounds convincing?

Kelompok kedua adalah kelompok yang sedang ada urusan lain, dan mungkin terburu-buru. Sebagian dari mereka sekedar memberi salam sebagai tindakan untuk menjaga hubungan dan silaturahmi. Beberapa merasa perlu untuk turut memberi komentar seperti, “galau?” sebelum pergi, dan sisanya lebih memilih untuk berpura-pura tidak lihat atau tidak kenal.

Entah apa yang berbeda di kota ini, suasananya selalu nyaman untuk membuat berpikir, meracau, bertingkah asal, dan berbagai hal. Satu sore dan satu pagi pun memiliki banyak cerita, banyak pemikiran, dan banyak inspirasi untuk bertingkahlaku, terlepas dari seabsurd apapun itu tentunya.

Ada yang menyebut bandung itu cantik, romantis, kuliner. Terserah lah, toh kebebasan berpendapat diatur undang-undang. Yang jelas bagiku yang agak sulit mengagumi keindahan, minim pengalaman dalam roman asmara, dan kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk mencoba berbagai jenis masakan bandung, kota ini aktif dan inspiratif.

Banyak cerita tercipta disini, banyak hal terjadi disini. Meski tinggal 18 hari lagi, kelihatannya saat ini lebih baik aku memikirkan apa yang akan kulakukan atau pengalaman apa yang kucari disini selama sisa waktu yang kupunya. This story hasn’t end yet, has it? πŸ™‚

Iklan

Idul Fitri

Tak terasa ramadhan kembali berlalu, bulan kembali berganti. Mungkin tidak sedikit manusia yang merasa kurang memaksimalkan kesempatan kali ini, yah, manusia selalu menginginkan lebih–terlepas dari apakah dia punya kapabilitas untuk berbuat lebih ataupun tidak–bukan?

Sekedar mengingatkan bahwa berandai-andai apa yang terjadi jika melakukan hal yang berbeda di waktu yang telah lampau bukanlah hal yang bijak. Kita bisa mengambil pelajaran darinya, jelas, tapi apa gunanya pelajaran yang diambil jika kita terperangkap di tempat, tidak bisa bergerak maju karena sibuk memikirkan masa lalu?

Saat usaha telah maksimal, selalu ada saat untuk berdoa. Setidaknya, pahala merupakan sebuah privilege khusus milikNya, kan? Mari berdoa agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia di sisiNya πŸ™‚

Taqabbalallahu minna wa minkum, ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.
Semoga Allah menerima amalan kita, dan semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali dan beruntung πŸ™‚

Selamat idul fitri semuanya, entah apakah kita termasuk golongan yang menang ataupun tidak–aku masih kesulitan menentukan standar menang itu–tapi semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu memperbaiki diri, juga golongan orang-orang yang selalu memberi manfaat bagi orang lain. Bisa dimulai dari bertukar rantang masakan ataupun sekedar bersilaturahmi dengan tetangga, anggaplah amplop berisi uang dari tetangga yang dermawan sebagai hadiah tambahan untuk menjaga silaturahmi. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? πŸ™‚

Mimpi

Bagaimana jika kehidupan yang kita jalani selama ini hanyalah mimpi?

Hanya pikiran asal yang terlintas saat playlist memainkan “Northern Downpour” karya Panic! At the Disco. Tapi jika kehidupan ini memang hanyalah sebuah mimpi dan semua orang mengetahuinya, kira-kira apa yang akan terjadi?

Mungkinkah tingkat kriminalitas dan kecemburuan akan berkurang karena semua tahu bahwa melakukannya dalam mimpi tidak lah berguna?

Mungkinkah tidak akan ada orang yang putus asa karena kita semua tahu ini merupakan mimpi yang bisa mereka bentuk sesuai dengan keinginan kita?

Mungkinkah semua orang akan lebih berani mengambil resiko dan menjalani mimpinya sebagaimana yang mereka inginkan?

Mungkinkah semua akan saling membantu orang-orang di sekitarnya agar mimpi mereka menjadi lebih nyaman untuk dihidupi?

Masih ada berbagai “Mungkinkah?” yang terlintas dalam pikiran, termasuk “Mungkinkah hal buruk ini dan itu akan terjadi?”, hei, semua memang hanya berupa kemungkinan kan?

Yang terjadi mungkin memang tidak akan se-ideal itu, tapi menurutku tetap ada baiknya kita menjalani kehidupan dalam mimpi walau hanya sejenak. Tidak ada alasan khusus atau argumen kuat yang dapat meyakinkan donatur untuk melakukan penelitian dalam hal ini, aku hanya penasaran apa yang akan terjadi pada dunia saat ini.

Terpikir perbincangan singkat dengan adikku yang kemarin berkunjung, sekaligus bersiap untuk un level internasional yang mungkin terulang tahun depan. Dia berkata bahwa saat ini dia masih belum tahu apa yang ingin dia lakukan, yah, setelah kupikir lagi memang tidak sedikit siswa sma yang mengalami hal itu, belum menemukan hal yang mereka anggap pantas untuk diimpikan atau belum punya keberanian untuk mengutarakan impiannya. Memang ada yang sudah, tapi adakah yang pernah menghitung golongan mana yang lebih banyak antara yang sudah memiliki keduanya dan yang belum?

Ada yang berkata bahwa hidup itu berawal dari mimpi. Jika begitu, mungkin saja kita dapat belajar untuk bermimpi. Bermimpi akan kehidupan yang lebih baik di masa depan, dan apa yang kita ingin lakukan untuk mewujudkannya.

Teringat lagi pada hal yang sedikit berbeda, dimana beberapa orang yang sangat sibuk mengejar segala hal yang bisa didapatkan dalam hidupnya, melupakan segala hal selain itu. Berusaha sekeras mungkin agar dapat masuk perguruan tinggi dan/atau beasiswa yang disegani, menikah lalu berpenghasilan atau menikah saat sudah berpenghasilan, mengincar karir yang bagus–mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya atau posisi yang setinggi-tingginya–dan menikmati hasil dari semua usaha itu kelak. Jika penat kita dapat berlibur ke mana saja, keindahan alam lokal atau belahan dunia manapun dapat kita kunjungi.

Tidak ada yang salah dengan kehidupan seperti itu, setidaknya selama dijalani dengan sewajarnya, tidak berlebihan. Jika beasiswa atau karir baik didapatkan dengan mengambil karya orang lain atau menyingkirkan saingan yang lebih kompeten, jika pernikahan dilancarkan dengan manipulasi atau konspirasi agar kita dapat hidup bersama sang pujaan hati, jika keuntungan besar diperoleh dengan mengotak-atik timbangan atau mengacaukan dagangan saingan, atau bahkan jika keuntungan itu diperoleh dari korupsi dana proyek infrastruktur yang dapat membahayakan orang banyak jika infrastruktur itu ambruk atau uang rakyat yang seharusnya dapat memenuhi hajat hidup orang banyak. Orang-orang yang berteriak lantang bahwa “Hidup itu tidak adil!” Jelas hidup tidak akan adil jika orang-orang yang hidup sendiri tidak mau berbuat adil, pertanyaannya, kita semua mau berlaku adil dan mendukung adanya sistem yang adil atau tidak?

Jika ini semua hanyalah mimpi, maukah kita bersikap adil dan mewujudkan sebuah sistem yang adil?

Di sisi lain, ada orang yang berusaha sangat keras untuk meraih impian seperti itu, yang kadang malah menghancurkan dirinya sendiri dengan segala tekanan mental yang dia pikirkan atau kelelahan fisik yang berlebihan. Saat liburan pun seolah kejar setoran, harus punya foto di tempat ini dan itu agar ada yang dapat diceritakan saat kembali ke rutinitas, tak masalah mengendara dalam waktu lama selama target tercapai. Entah bagaimana pendapat yang lain, tapi bagiku itu terkesan kurang menikmati hidup. Jadi teringat perkataan sahabatku.

“Hidup memang merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Sangat panjang. Tapi, tak ada yang melarang kita berburu hewan untuk disantap, bermain air di sungai atau danau yang kita temui, beristirahat sejenak diatas kasur gantung di tengah rimbunnya pepohonan ataupun berfoto bersama keindahan alam yang kita temui saat perjalanan bukan?”

Mungkin dalam hal ini kita perlu belajar untuk lebih menikmati kehidupan.

Yah, kadang aku juga berharap semua ini hanyalah mimpi. Setidaknya saat aku melakukan perbuatan buruk, mimpi tak pernah dimintai pertanggungjawaban saat kita terbangun, tidak seperti kehidupan saat kita meninggal kelak bukan?

Dan sekarang sebuah pertanyaan terlintas dalam pikiran, menurutmu, jika selama ini kehidupan yang kita jalani hanya merupakan sebuah mimpi, apa yang akan kamu lakukan setelah terbangun nanti?

Kepercayaan dan Aturan

Tema pemikiran malam ini adalah kepercayaan. Habis nonton film series “Broadchurch” yang diputar BBC, entah kenapa british drama lumayan menarik minat dan meyakinkan mereka pantas untuk dimainkan di laptop malam ini. Dan, mereka tidak salah, setidaknya begitulah menurut seleraku. Entah ini pengaruh dari british drama lain seperti doctor who dan sherlock atau apa, setidaknya aku menikmatinya. Lumayan untuk mengisi malam setelah uas selesai, dan melupakan tugas sejenak–deadline masih tiga hari lagi kok, lagipula sekarang aku tidak mood untuk nugas ataupun berpikir mengenai deadline, dan merasa perlu bertingkah sebagai diriku meski hanya sejenak.

Oke, singkat cerita, broadchurch adalah serial tentang usaha sepasang agen polisi dalam menyelidiki kematian seorang anak berusia 11 tahun bernama danny latimer di kota kecil yang bernama broadchurch, serta reaksi masyarakat di dalam kota tersebut saat terjadi pembunuhan di kota yang tingkat kriminalnya tergolong rendah tersebut. Serial yang membuatku sadar bahwa ternyata aksen british dan scottish itu gak terlalu mudah didengar, bencana bagi mereka yang menonton tanpa subtitel sepertiku. Yaa, latihan dan belajar ter-ekspos bahasa inggris sih, tapi agak menjatuhkan semangat juga karena masih banyak kata yang tidak dapat kumengerti atau tidak jelas terdengar ._.

Tapi overall, seriesnya keren. Mengingatkanku lagi alasan kenapa aku tidak pernah menyukai media atau publikasi mengenai diri sendiri dalam jenis apapun. Sekarang tontonanku sedang berada pada titik orangtua yang dekat dengan almarhum anak tersebut ditemukan meninggal setelah disudutkan oleh artikel dari beberapa media yang mencari sensasi tanpa mempedulikan fakta yang terjadi, yang kemudian menyulut amukan massa terhadap orangtua tersebut, baik dengan tindakan demonstrasi ataupun vandalisme. Entah orangtua tersebut bunuh diri atau dibunuh orang lain, toh aku belum menyelesaikan series ini untuk mengetahuinya, tapi ini lah yang tidak kusuka dari media. Mereka mengarahkan massa untuk percaya pada hal dan menarik kesimpulan seperti yang mereka inginkan, dengan alur tulisan yang lembut, penggunaan kata yang menarik dan perbedaan yang tidak terlalu jelas antara opini dan fakta (dan aku sering bingung dalam soal bahasa indonesia terkait kalimat mana yang merupakan opini dan kalimat mana yang merupakan fakta). Wajar jika lumayan banyak calon presiden atau petinggi partai yang tertarik untuk punya media sendiri, opini pada masyarakat sangat berpengaruh pada pemilihan kelak bukan?

Yah, semoga kita bisa lebih tercerdaskan saja lah ya dengan berbagai opini yang disetir oleh beberapa golongan, dengan belajar untuk menerima fakta, mengabaikan opini dan menarik kesimpulan sendiri. Oh, berhubung tulisan-tulisan yang ada di blog ini juga penuh dengan opini (mungkin aku akan menyediakan fakta kalau ada hal yang menarik untuk dibahas, kalau ada), menjadikan tulisan seperti ini sebagai pedoman juga bukan lah tindakan yang bijak. Ini hanyalah tulisan, sarana untuk berpendapat dan menyampaikan gagasan πŸ™‚

Oh iya, alasan lain aku menyukai broadchurch adalah karena aktor bbc umumnya tidak jauh berbeda, dan ada beberapa pemeran doctor who yang hadir disini, hahaha. Aktor yang memerankan tokoh kesukaanku di doctor who juga berperan sebagai pendeta disini, dan tokoh utama serial ini juga merupakan aktor yang pernah memerankan doctor. Harus diakui, mereka aktor yang hebat.

Aku suka dengan pidatonya sang pendeta saat kematian orangtua tersebut, “Orang ini adalah orang baik yang tidak berdosa, media lokal semuanya mengakui itu. Jadi mengapa kita disini? Kita membiarkan dia terintimidasi, kita tidak ada saat dia membutuhkan kita. Karena itu, sekarang, kita juga harus mengakui. Beberapa dari kita telah mengecewakan dia…, sebagaimana kita mengecewakan danny latimer. Kita harusnya mencintai tetangga kita sendiri, dan melihat apa yang terjadi saat ini, kita seharusnya bisa lebih baik. Jika kita bukan komunitas dari para tetangga, maka kita bukan apa-apa.”

Entah ini mengacu kepada apa sebagai referensi, teologi bukanlah bidangku, tapi sekarang aku mulai mengerti kenapa Rasul meminta kita untuk memperhatikan dan berbuat baik pada tetangga. Bahkan mengatakan bahwa dosa seorang muslim juga dapat mempengaruhi timbangan amalan tetangganya sesama muslim yang tidak mengingatkan sampai beberapa rumah. Entah bagaimana, aku melihat ini sebagai sindiran, bagi diriku pribadi, dan bagi masyarakat pada umumnya. Kita hidup di era teknologi, yang mendekatkan orang-orang yang jauh, tapi kadang juga malah menjauhkan orang-orang yang dekat. Oke, memang saat sifat introvertku kambuh aku juga demikian untuk mencari perasaan kesendirian, tapi selain pada saat itu aku pun berusaha meminimalisir penggunaan hp dan benda elektronik lainnya saat berinteraksi dengan orang lain. Yah, pernah mengalami hal seperti ini beberapa kali, perasaan diabaikan karena orang-orang yang jauh dan menghubungi via hp lebih dipentingkan daripada orang-orang yang dekat saat itu, dan menurutku itu kecanggungan yang tidak terlalu menyenangkan. Dan pertanyaannya, jika kita sudah mulai abai dengan kawan yang berada di dekat kita, bagaimana dengan tetangga yang tidak kita kenal? Jangankan saling mengingatkan, saling sapa pun diragukan. Memprihatinkan bukan?

Oke, kembali pada cerita. Jadi, setelah orangtua itu meninggal, sang pendeta lah yang diselidiki oleh detektif karena pendeta itu punya latar belakang seorang pemabuk, lalu sang detektif menerangkan alasan kecurigaannya terhadap sang pendeta, yang mengkhawatirkan karena latar belakangnya seorang pemabuk dan sikapnya seolah berusaha untuk eksis di tiap media yang meliput kematian danny karena tempat ibadahnya kurang disorot, dan sang pendeta pun merespon begini, “you don’t have a concept of faith, do you? I didn’t muscle in, people turned to me. People who wouldn’t normally think about religion. They asked me to speak, they asked me to listen, they needed me. Do you know why? Do you know why they came to me? Because there is a fear you couldn’t address, a gap that you couldn’t plug. Because all you have is suspicion and urge to blame whoever is in the closest proximity. Look, you can accuse me, you can take samples, belittle who I wasin the past. But you do not get to belittle my faith just because you have none. People need hope right now and they certainly not getting it from you.”

Dan kata-kata pendeta itu lumayan menjelaskan alasanku kabur dari dunia kemahasiswaan, disebabkan dari saat forum di lapangan basket saat pendidikan dan pelatihan panitia orientasi dahulu. Saat kita diuji oleh massa kampus yang terdiri dari unit dan himpunan terkait kesiapan kami untuk menjalankan acara orientasi, ada sebuah unit yang ketuanya menanyakan pertanyaan sederhana, “adik-adik sudah shalat isya belum?”. Setelah pertanyaan itu keluar, terdengar sorakan melecehkan dan makian untuk menghentikan unit yang bertanya saat itu. Itu satu malam yang menjatuhkan nilai dunia kemahasiswaan baik di bidang unit ataupun himpunan di mataku, karena itu sangat tidak dewasa, dan tidak tahu aturan. Tujuan dari forum waktu itu setahuku adalah untuk menguji kesiapan para panitia yang akan turun ke lapangan, dan tiap orang punya standar tersendiri kan untuk memeriksa kesiapan panitia? Lagipula tiap orang punya standar prioritas yang berbeda, kalau menganggap itu salah, kenapa tidak didiskusikan dimana salahnya? Entah, tapi melihat orang-orang berpendidikan menyanggah argumen dengan sorakan melecehkan dan makian untuk berhenti, dan entah suasana saat itu memang panas atau kenapa aku tidak melihat adanya sopan santun dan etika dari para mahasiswa saat itu. Ironis ya saat melihat kaum yang mendapatkan pendidikan tidak terlihat berperilaku sebagaimana orang terdidik.
Dan karena kekecewaan itu aku sudah tidak terlalu berminat untuk terjun ke dunia himpunan atau unit dan terlibat dengan mahasiswa lain, lebih tertarik untuk langsung terjun ke masyarakat dan kegiatan sosial lainnya. Oh iya, dalam waktu dekat ini ketua dari unit yang waktu itu bertanya akan menikah dengan salah seorang anak buahnya di unit yang sama. Haha, meskipun aku jarang menganggap diriku bagian dari unit itu tapi senang mendengarnya, selamat untuk kak bambang dan teh lintang, semoga bisa saling menguatkan seperti yang telah berlangsung di organisasi itu lah ya, senang bisa mengenal dan sempat belajar terkait tekad untuk terus maju tanpa peduli cacian dari kalian πŸ˜€

Oke, satu hal yang perlu dimention, aku bukan orang yang menyukai pada apa yang disebut taqlid atau percaya buta pada suatu hal. Sampai saat ini, aku muslim karena, tidak peduli seberapa sering aku melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya, Allah selalu menepati janjiNya dengan sempurna. Ambil contoh terkait hijab pada perempuan, yang ditujukan untuk keselamatan sang wanita. Ada yang berargumen bahwa perempuan berjilbab juga ada yang tetap terkena bahaya seperti pelecehan seksual, bagaimana bisa dikatakan selamat? Dan menurutku ada dua respon yang pantas untuk dimention, yang pertama adalah bahwa Quran juga memerintahkan para laki-laki untuk menundukkan pandangan dari perempuan–penyebab kasus pelecehan seksual pada umumnya–yang kelihatannya sulit dilakukan di zaman ini, dan yang kedua adalah, “dari semua pengendara motor yang menggunakan helm dan pengemudi mobil yang menggunakan seat-belt, apakah semuanya selamat saat kecelakaan terjadi?”.

Oh, ada satu hal lagi yang menarik terkait hijab. Ada temanku yang mengambil pelecehan seksual sebagai tema tugasnya. Dalam pencarian data dia menemukan sebuah situs dewasa tentang cerita terkait perempuan berjilbab dan menampilkan foto perempuan berjilbab (entah siapa, asal comot dari internet sepertinya, salah satu alasanku tidak terlalu berminat meng-upload gambar manusia nyata ke blog ini, khawatir disalahgunakan orang yang membaca, apalagi aku tidak tahu siapa saja yang mengakses blog ini), ada tulisan yang menyatakan bahwa situs itu hanya menampilkan gambar perempuan yang hijabnya kurang benar dan ada kalimat “Biarlah perempuan yang hijabnya benar menjaga dirinya di pengajian”. Entah apakah situs itu sudah diblok atau belum, tapi yang jelas perasaan dia pas menemukan itu adalah antara miris, mau ketawa, kaget, senang, banyak lah, nano-nano. Allah menjaga janjiNya!

Oh iya, ada juga temanku yang membuat kampanye terkait pelecehan seksual untuk tugas besar desainnya di bidang komunikasi visual. Dia pernah memberitahuku bahwa korban pelecehan seksual umumnya tidak berani atau tidak punya tempat untuk bercerita, karena itu dia mengampanyekan speak up bagi perempuan yang telah jadi korban, dan berencana untuk memperkenalkan sebuah game bagi perempuan yang punya potensi untuk terjerumus. Aku lupa nama asli gamenya, tapi intinya itu adalah game dating (kencan) dimana sang pemain menjadi perempuan yang diperebutkan para lelaki di dalam game, dan katanya lelaki di dalam game itu semuanya dibuat agar tampilannya cute dan punya berbagai sifat “cowok idaman” para wanita. Katanya bahkan ada fitur alarm yang akan membangungkan pemain dengam suara dan gambar laki-laki yang jadi teman ngedate dia. Pendapatku tentang game ini? Gak jauh dari seputar tamagotchi (sama-sama berinteraksi dengan satu makhluk) dan desperate (perlu dijelaskan?). Tapi dari mendengar apa yang diceritakan sahabatku ini, kelihatannya korban pelecehan seksual memang sedesperate itu. Semua orang, baik yang alim ataupun tidak, memberikan label yang kurang menyenangkan pada dirinya dan cenderung menjauhinya. Tidak ada yang memberikan dukungan, mungkin ada beberapa pada awalnya tapi seiring waktu pendukung ini pun menghilang, dan semua orang mengecewakan dia. Apa lagi yang bisa dia lakukan?
Aku lumayan simpati karena aku pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang terakhir yang meninggalkan orang dengan suatu label karena tekanan kelompok lain, bukan pengalaman yang menyenangkan, percayalah.

Tapi kalau dipikir lagi, itulah aturan, dibuat untuk menjaga keteraturan dalam hidup dan meminimalisir potensi bahaya yang dapat terjadi pada tiap individu. Dan sampai sekarang aku masih percaya islam mengatur semuanya dengan sangat baik sejak Rasulullah menerapkan aturan yang beliau bawa, zaman jahiliyyah pun musnah.
Tidak boleh mabuk? Di dunia yang penuh dengan orang-orang normal saja masalahnya sudah banyak, bagaimana kalau dipenuhi oleh orang-orang mabuk, yang kehilangan akal sehat dan tidak tahu apa yang mereka lakukan?
Shalat lima kali sehari dan puasa? Sudah banyak artikel yang membahas manfaat shalat dan puasa untuk kesehatan, dan kelihatannya setiap manusia perlu waktu untuk sekedar melepaskan penat dengan berdoa pada Tuhannya.
Zakat dan sedekah? Perlu kah artikel ini membahas kesenjangan sosial di indonesia?
Dan mungkin perlu dibahas juga rambu lalu lintas seperti berhenti saat lampu merah, menyeberang di zebra cross, tidak boleh mencontek saat ujian dan berbagai aturan yang sering kita lihat dan telah kita ketahui tapi tidak pernah kita jalankan.

Semua ada tujuannya, dan mungkin memang, sebelum mematuhi aturan akan jauh lebih baik apabila kita memiliki kepercayaan, bahwa aturan yang kita ikuti memang akan punya andil dalam menjaga kita, kini dan nanti. Karena saat kita telah percaya, selalu ada kemudahan dalam melakukannya, coba lah πŸ™‚

Randoman malam dari hp karena laptop sedang tidak terhubung dengan internet, ternyata susah ya menulis sepanjang ini di hp, hahaha.

Menggurui dan Mengarahkan

Tadi habis isya nemenin junior ngunjungin rumah kepala DKM sebuah masjid untuk menyampaikan niatan bikin perpustakaan di masjid itu, biar kegiatan belajar di masjid itu lebih menarik. Yaa, aku sih lebih menganggap ini sebagai silaturahmi daripada urusan organisasi, toh silaturahmi juga mempermudah mengalirnya rezeki kan? Dan aku juga senang berbincang dengan orang ini, beliau enak buat diajak diskusi, dan tadi pun perbincangan yang terjadi keluar dari topik, seperti biasa, dari pembangunan ruang baca atau perpustakaan kecil, lanjut ke profil warga sekitar dan ujung-ujungnya tentang anak muda saat ini.

Awalnya kita berbicara soal pembangunan perpustakaan tersebut, barang-barang dari ruangan yang akan digunakan mau dipindah kemana, jenis rak buku yang ada, dan kapan buku-bukunya mau dipindahkan, lalu berlanjut ke evaluasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh SKHOLE (ya, mungkin nanti perlu bikin tulisan sendiri untuk organisasi keren macam ini, haha) di daerah tersebut. Mengenai kenapa tiap kegiatan tidak banyak yang hadir, apa yang disukai anak-anak saat ini, faktor orangtua,pengaruh dkm dan rt/rw, dan beberapa hal lain. Pembicaraan pun terus berlanjut, dan kata-kata beliau yang paling ngena dari pembicaraan tadi adalah, “Saat ini anak-anak tidak suka digurui. Padahal tugas kami sebagai orangtua hanyalah mengarahkan.” Beliau bercerita mengenai sebuah organisasi kepemudaan sebagai contoh, tentang bagaimana anak-anak muda di organisasi tersebut membuat berbagai jenis proposal saat akan mengadakan acara untuk meminta dana, dan menyayangkan hal itu karena beliau berpendapat bahwa seharusnya organisasi dibentuk untuk memberi harapan bagi orang lain, bukan mengharapkan pemberian dari orang lain. Beliau sudah mencoba mengarahkan organisasi tersebut agar dapat mandiri secara finansial dengan bantuan dari rt/rw setempat, tapi sayangnya usaha beliau belum berhasil sampai sekarang karena apa yang beliau sampaikan hanya dikomentari oleh para anak muda, tapi belum ada yang dijalankan.

Jujur, kata-kata ini agak ngena ke aku. Soalnya aku memang bukan orang yang suka mendengarkan orang yang mengguruiku untuk melakukan sesuatu, aku lebih suka belajar dari pilihan yang kubuat, baik itu berhasil ataupun gagal. Aku kurang suka dengan orang yang mengatakan kamu seharusnya seperti ini dan seperti itu karena menurutku itu adalah pengalaman dari sudut pandang seseorang, dan apa yang berhasil bagi seseorang belum tentu akan berhasil padaku kan? Seminar terakhir yang kuikuti itu adalah SSDK (Seminar Sukses Di Kampus) yang poin-poinnya gak ada yang kujalankan sama sekali (terutama dalam poin mengatur waktu, dimana tugasku selalu deadline dan kadang bolos kuliah buat istirahat, nugas atau jalan-jalan), alhamdulillahnya prestasi akademikku masih lumayan, hahaha. Aku tidak punya masalah dengan seminar yang isinya informasi, seperti seminar tentang beasiswa dan semacamnya, tapi kalau seminar itu sudah terkait dengan bagaimana menjalankan hidup, mengatur diri dan lain semacamnya, aku gak bakal semangat buat ikut. Mungkin akan beda kalau fakta yang disampaikan terbukti secara statistik, tapi sayangnya kurang banyak seminar yang menyampaikan data seperti itu, dan karena itu aku sebagai peserta wajar dong untuk ragu yang disampaikan ini bener atau nggak.

Entah kenapa kata “menggurui” itu terdengar lebih seperti mendikte, dan kedengarannya menyebalkan. Sementara kata “mengarahkan” kalau konteksnya salah mungkin bisa mirip dengan kata menjerumuskan artinya, tapi tergantung juga sih, menjerumuskan ke hal yang baik gak bisa dibilang salah kan? Setidaknya selama definisi “baik” masih belum berubah, harusnya itu bukan masalah. Tapi yang jelas aku senang dengan kebebasan, meski tetap sadar kalau ada tanggungjawab, dan tidak terlalu suka kebebasanku diikat pada batasan-batasan dari pendapat orang yang tidak diketahui benar atau tidaknya.

Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku tidak terlalu tertarik pada motivator, seminar sukses, atau apapun yang menurutku menyampaikan pendapat atau memotivasi tanpa mengetahui kondisi, bahkan dalam kasus motivator kadang ada juga teman yang nyeletuk “Hidup ini gak segampang cocotnya *piiiip* (nama seorang motivator)”. Well, gimanapun juga sang motivator gak bisa disalahkan sih, toh memang kerjaan dia cuma memberikan motivasi, termotivasi apa nggak ya tergantung pribadi sendiri lah. Tapi kalau dipikir, kalau ada orang yang menjadikan motivator sebagai pekerjaannya, apakah ini pertanda bahwa tidak banyak masyarakat yang punya motivasi untuk melakukan suatu hal? Hm, mungkin ada baiknya tiap orang juga belajar memotivasi diri sendiri ya πŸ™‚ *OOT*

Dan setelah dipikir lagi mungkin ada benarnya, kadang kita terlalu abai. Entah karena kita tidak suka digurui, tidak suka kehidupannya didikte orang lain, atau sekedar karena tidak peduli (kalau yang ini mungkin cuma aku sih, haha). Dan mungkin ada benarnya juga kalau generasi sekarang lebih cerdas dari generasi masa lalu, toh banyak dosen yang cerita jaman dulu ip itu susah banget dapat bagus, sementara sekarang jauh lebih gampang kayaknya. Tapi bagaimanapun juga, mungkin meluangkan waktu untuk mendengarkan pendapat orang lain seperti ini ada baiknya, karena meskipun mungkin kita memang lebih pintar, apa salahnya mendengarkan pendapat orang yang lebih bijak dan berpengalaman? πŸ™‚

Tapi kalau orangnya kurang bijak dan kurang berpengalaman, dan ada yang menganggap tidak masalah mendengarkannya sebagai masukan pandangan, ya tidak masalah, toh itu pilihan, dan aku lebih memilih abai. Bukan kenapa-napa, somehow untuk hal-hal yang tidak menarik minatku dan bukan fakta statistik, i just simply don’t care πŸ™‚

Penilaian

Ini kali keduanya aku menyayangkan kondisi kampusku yang jurusannya kurang banyak. Pertama saat kasus buruh demo terjadi, dan kedua saat dokter demo baru-baru ini. Kampusku ini benar-benar kekurangan jurusan dan profil mahasiswanya banyak yang mirip, akibatnya aku jadi agak kesulitan nyari teman diskusi dalam kasus pro dan kontra gini. Akhirnya soal kasus buruh demo aku dapat pencerahan dari kawanku di program studi di bidang sosial masyarakat di depok dan jogja, sementara kasus kedokteran ini malah lebih banyak mereferensi film karena suka nonton drama kedokteran, dan detail kasusnya juga minta dari anak jogja sih, yang mungkin lebih ngerti, hehe. Tulisan ini sekedar pendapat dari seorang yang kurang memperhatikan dunia sosial tapi penasaran kenapa kasus ini bisa terjadi dan kenapa sampai booming seperti ini, jadi kalau ada pendapat yang dianggap salah, silahkan diluruskan dengan diskusi πŸ™‚

Kadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Entah karena terbawa suasana, entah karena teman yang kita kagumi memilih pendapat tersebut, entah karena kita merasa senasib dengan seseorang dari salah satu pihak, entah karena apa, tapi jika saat kita mendengar suatu hal kita langsung mengambil suatu kesimpulan, kelihatannya ada baiknya hal itu ditahan dulu, coba lah caritahu kenapa kedua pihak berpendapat seperti ini. Sayangnya, saat suatu masyarakat terlalu homogen, agak sulit untuk mencaritahu dan berdiskusi mengenai pandangan yang tidak sesuai dengan pandangan masyarakat tersebut. Dan itu lah yang kualami selama beberapa kasus belakangan ini, kesulitan mencari teman diskusi dari sudut pandang yang berbeda.

Yang pertama pada kasus buruh, di kampusku sih jelas, mayoritas gak setuju kalau gaji buruh dinaikkan sampai ke angka 3juta lebih. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari gaji dosen yang tidak sampai segitu (lebih penting mana antara buruh dan dosen?), urgensi adanya buruh yang mungkin lebih boros dibandingkan dengan berinvestasi pada mesin produksi massal (kalau lebih murah beli mesin daripada mempekerjakan 100 orang buruh, kenapa nggak?), dampaknya terhadap minat investasi di indonesia (kalau gaji buruh tambah mahal, yakin masih banyak investor yang mau buka usaha di indonesia?), harga benda tambah mahal (upah buruh naik berarti biaya produksi juga naik kan?), dampak jangka panjangnya (kalau gaji buruh naik, daya beli masyarakat juga naik, akibatnya permintaan barang akan naik dan kalau supply barang gak berubah kelak harga barang bakal jadi tambah mahal, bukankah ini sama saja dengan usaha mengadakan demo berikutnya?), dan masih ada beberapa argumen sih terkait kenapa gaji buruh gak seharusnya naik sampai segitu, tapi pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat yang paling sering kudengar.

Namun, coba lihat dari sudut pandang buruh juga, dan beruntungnya aku punya teman yang bisa menyadarkan untuk adil dalam menilai. Bagaimanapun, mereka juga berhak hidup layak dan sejahtera, dan dalam kondisi seperti itu mungkin mereka dapat menjadi lebih inovatif dan kreatif. Lagipula, pekerjaan mereka kadang juga mengharuskan terjun ke situasi berbahaya dan resiko kecelakaan kerjanya lumayan tinggi (katanya resikonya lumayan beragam, dari lumpuh hingga meninggal). Dan, bisa jadi laba yang diambil pengusaha terlalu besar dan kondisi kalau pun para buruh gajinya dinaikkan tidak terlalu terlihat pengaruhnya. Lagipula, banyak kok cara untuk mencurangi sistem dan membiarkan para buruh bergaji lebih kecil dari seharusnya, orang yang hobi nonton film kriminal seperti “Leverage” juga mungkin tahu. Mungkin ini gak bakal terlalu berhubungan dengan investor, karena kalau mau investor berinvestasi disini ya berikan kepastian hukum dan perbaguslah situasi untuk berinvestasi, bukan dengan menjual tenaga kerja dengan harga yang murah, kecuali kalau kita pengen selamanya menjadi negara berkembang. Oke, ada satu pertanyaan yang belum terjawab sih, mengenai gaji buruh itu dinilai dari kebermanfaatannya atau kerja kerasnya (karena bisa aja perusahaan langsung ngeganti sama mesin juga kan?), tapi aku lumayan menangkap poin yang dibicarakan.

Dan sekarang kesimpulanku mengenai hal ini adalah, kembali ke hal yang mendasar. Pada dasarnya hubungan antara buruh dan yang mempekerjakannya adalah transaksi jual-beli, dengan benda yang diperjualbelikan adalah tenaga sang buruh. Jadi, jika sang buruh mau naik gaji, tunjukkan lah kalau dia memang pantas mendapatkannya. Kalau sang buruh menyalahi kontraknya, seperti jam kerja harusnya jam 7-11.30 dan lanjut lagi jam 12.30-16 tapi sang buruh masuknya pada jam 8-11 dan lanjut lagi pada jam 14-16, menurutku sederhana, buruh itu keterlaluan kalau minta gajinya tetap dinaikin–kecuali kalau mereka memang dalam kondisi gak sehat akibat dari diforsir oleh perusahaan, itu beda lagi. Dan di sisi yang lain, pengusaha juga seharusnya lebih menempatkan diri pada posisinya, berikanlah upah buruh sesuai dengan yang dijanjikan, dan berikanlah bonus atau tambahan kalau kinerja sang buruh melebihi ekspektasi. Aku sempat diceritain sama dosen pas sebuah mata kuliah kalau itu yang nyebelin dari indonesia, kalau mempekerjakan tenaga kerja asing dan mereka selesai lebih cepat maka mereka dapat bonus berupa bayaran sejumlah sisa hari pekerjaan, sementara kalau tenaga kerja lokal nggak. Belum tahu sih kebenarannya gimana karena belum pernah memeriksa langsung (lulus aja belum), tapi secara logika kalau mempekerjakan tenaga kerja lokal artinya kan lebih enak selesai pada waktunya, kalau begini terus, sampai kapan kita mau jadi negara berkembang?

Dan salah satu yang menyebalkan dari posisi masyarakat sebagai konsumen adalah, mengutip bahasa temanku, kita gak tau mana perusahaan yang memperlakukan buruhnya dengan layak dan mana perusahaan yang tidak. Sebagai konsumen kita hanya melihat pada harga yang tertera pada produk, dan mungkin logo halal pada sebagian produk tentunya. Ambil contoh ada 2 buah sabun batang, sabun A yang harganya Rp2,000 dan sabun B yang harganya Rp2,300. Mungkin dari segi finansial (khususnya bagi mahasiswa dan anak kos seperti saya) kita cenderung memilih sabun A yang lebih murah, tapi bagaimana kalau ternyata harga sabun B lebih mahal dari sabun A karena perusahaan sabun B memberikan kompensasi finansial yang layak bagi para buruhnya, sementara perusahaan sabun B menekan biaya buruhnya sehingga harga sabunnya bisa murah? Well, di dunia seperti sekarang, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tidaklah semudah membedakan mana yang putih dan mana yang hitam lagi ya, terlalu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan kita tidak mengetahui semua fakta di lapangan. Agak menyebalkan mungkin, tapi ini lah kondisi saat ini.

Dan sekarang kasus ini yang terjadi, kasus dokter. Kelihatannya kasus ini sedang booming jadi kronologisnya gak usah dibahas disini lah ya, udah dengar juga kasusnya dari temanku (maklum, gak punya tv dan internet gak terlalu sering buka berita, aku agak apatis memang di dunia maya) dan dari yang kulihat sejauh ini, hal utama yang dipermasalahkan adalah mengenai kebijakan para dokter yang memilih untuk meliburkan diri selama sehari dari mengobati pasien dan berdemo.

Lagi, dari satu sisi, mungkin bisa dikatakan bahwa para dokter mengabaikan kewajibannya disini. Kalau misalnya ada pasien yang luka parah dan tidak terobati akibat dari dokternya melakukan demo, apakah dokter dapat disalahkan? Lagipula, terkait kesalahan prosedurnya juga masih dipertanyakan, ada temanku yang bilang kalau prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang harusnya dilakukan sehingga terjadinya kesalahan harusnya bukan tanggungjawab dari sang dokter, tapi ada juga temanku yang bilang kalau tenaga medis saat ini umumnya tidak mengikuti protokol yang dipelajari selama masa perkuliahan mereka sehingga kesalahan seperti yang terjadi pada kasus ini umum terjadi dan karena itu lah aksi demo ini dilakukan. Dan karena aku tidak tahu apa-apa mengenai kondisi lapangan kelihatannya aku bukan orang yang tepat untuk berbicara mengenai ini, sekedar menyampaikan beberapa pandangan yang ada.

Dan di sisi lain, dokter yang melakukan demo pun tidak bisa sepenuhnya digeneralisasi. Mungkin dokter itu memilih melakukan demo karena dia ingin menolong masyarakat tapi masyarakat malah menyudutkannya (dalam hal ini aku bisa bersimpati pada para dokter, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama, ingin menolong sekelompok orang, atau setidaknya seseorang, tapi gak ada yang merasa perlu bantuan. Baru sampai disitu aja rasanya udah gak menyenangkan, gimana kalau ditambah dengan disudutkan?), atau mungkin karena dokter itu yakin bahwa yang dilakukan sang dokter dalam kasus tersebut sudah benar sehingga keputusan menghukumnya tidak dapat diterima, atau karena berbagai alasan lain? Entah lah, ribet, tapi yang jelas dokter juga manusia, dan menurutku wajar kalau mereka merasa kecewa saat profesi yang mereka junjung tinggi itu dianggap rendah atau kotor, toh di kode etik insinyur ada kewajiban untuk menjaga nama baik insinyur, mungkin dokter juga punya tanggungan untuk menjaga nama baiknya. Lagipula, awalnya yang ada di bayanganku tentang malpraktek adalah dokter jahat yang membuat pasiennya sakit biar datang terus ke rumah sakit dan berobat biar dokternya untung, ternyata (setelah googling) definisi malpraktek ituΒ adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Entah lah apa kasus ini memang merupakan kasus malpraktek ataupun bukan, karena dunia kedokteran itu benar-benar dunia antara hidup dan mati, dan agak sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bisa saja sang dokter sudah melakukan yang terbaik dan sesuai dengan prosedur untuk pasiennya tapi pasiennya tetap meninggal. Tapi kalau dari salah satu film yang suka kutonton, “House”, disana dokternya malah terlalu sering melanggar prosedur yang ada, tapi pasiennya banyak yang selamat justru karena prosedur itu dilanggar. Hahaha, dunia kedokteran beneran ribet ya ._.

Oke, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi pada kasus ini dan apakah dokter tersebut salah atau tidak, sekedar mengingatkan, sebagai orang berpengetahuan dan memiliki kekuatan yang lebih, kita juga pasti akan memiliki tanggungjawab yang lebih. Sebagai calon engineer, aku sadar itu. Seperti halnya dokter, kalau kita salah memasukkan spesifikasi rancangan pada plant atau bangunan, korban bisa jatuh dalam jumlah besar. Tapi bagaimanapun kita tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan. Dan seperti yang pernah dosenku katakan, kita pasti akan melakukan kesalahan (terlepas dari akibat ketidaktahuan, kekeliruan atau kecerobohan) dan mengalami kegagalan. Pertanyaannya adalah kapan itu terjadi dan apa yang kita lakukan untuk menyikapinya dan memperbaikinya. With great power comes great responsibility, right? πŸ™‚

Dan meski out of topic aku agak heran, kenapa ya tiba-tiba dalam sebulan ini udah ada dua profesi yang menjadi sorotan berita. Apakah hanya kebetulan atau ada permainan di tahun pemilu ini ya? Hahaha, ah, sudah lah, dari pada berteori mengenai konspirasi lebih baik sibuk membenahi diri agar kesalahan di masa depan dapat diminimalisir, terutama kesalahan yang menyangkut hidup orang banyak πŸ™‚

Well, curhatan malam tentang penilaian yang tidak selalu objektif dari sebuah profesi beres juga. Seperti yang telah dikatakan di awal, penulis cuma anak muda yang awam dan penasaran, dan mencoba untuk melihat secara objektif. Kalau ada kesalahan, silahkan diluruskan dengan diskusi yang membangun, sekedar menuangkan apa yang ada di sudutpandangku, semoga bermanfaat πŸ™‚

Ayah

Baru tahu lah kalo ternyata 12 November itu hari ayah. Kalo buru-buru bikin tulisan karena ngejar deadline kayaknya gak bakal sempat sih, tapi ya sudah lah, jalanin aja. Sekalian ngalong lah, hahaha :p

Β 

Entah kenapa hari ayah ini kelihatannya tidak terlalu populer ya, setidaknya jika dibandingkan dengan hari pendamping hidupnya, hari ibu. Padahal peran keduanya sama penting dalam kehidupan dan pertumbuhan anak. Meski dalam tradisi islam anak harus lebih memuliakan ibunya daripada ayahnya, tradisi yang sama mengharuskan sang ibu lebih memuliakan sang ayah. Sama saja bukan?

Β 

Berbicara tentang ayah, cuma ada satu sosok di kepalaku yang identik dengan sebutan itu, ayah kandungku. Iya lah, siapa lagi? Meski banyak orang-orang yang kutemui yang jauh lebih dewasa, inspiratif, bijak, dan lain semacamnya, tetap aja sosok tersebut gak bisa digantikan. Meski memang banyak pengalaman yang menyebalkan, pengalaman yang menyenangkan tetap ada kok, meski gak tau kalo dihitung pengalaman mana yang jumlahnya lebih banyak, hehe.

Β 

Ayah itu sosok yang logis, visioner, tegas, pemimpin, serius dan peduli. Sifat baiknya banyak lah, meski tetap ada pandanganku yang agak berbeda dengannya. Beliau bukan sosok yang selalu sependapat dan memberikan kebebasan. Sebenernya mungkin aku bisa agak bebas kalau menang dalam adu logika dengan beliau, sayangnya, sampai sekarang keseringan kalah. Yah, logis itu bisa positif atau negatif ya, terutama bagi ayah saat anak sulungnya sedang dalam perjalanannya mengenal dunia, huhuhu -_-

Β 

Memang ada sisi positifnya juga, terutama setelah aku lumayan bebas (baca: pindah ke bandung), haha. Unik ya, orang yang terbiasa sama aturan itu bisa bosan terhadap aturan tersebut, tapi setelah sampai di bandung dan hidup tanpa aturan beberapa saat, aku malah gak tahan sendiri dan akhirnya membuat beberapa aturan pribadi agar kehidupanku (baik kehidupengan baikan akademik maupun kehidupan sosial) terjaga dengan baik.

Β 

Uniknya, disaat anak-anak lain banyak yang ingin meniru sosok ayahnya, aku malah penasaran apa yang terjadi kalo aku tidak mengikuti sosok beliau. Karena beliau serius, aku mencoba untuk santai dan menikmati kehidupan, sambil menyerap pelajaran saat menjalaninya. Kalo dipikir, mungkin faktor keturunan ini ya yang menyebabkan aku sering diasumsikan orang yang serius kalau lagi diam atau mikir, apalagi sama orang yang belum kenal, padahal nyatanya nggak terlalu sih. Tetap ada hal yang mengharuskanku serius, tapi sayang aku tidak bisa serius terlalu lama kalau masalah yang kuhadapi tidak terlalu sesuai sama minatku. Akibatnya malah kadang dianggap nyebelin sama teman-teman sekelompok tugas, padahal itu cuma kebiasaan ngomong asal biar otakku bisa mikir lagi, hahaha.

Β 

Ayahku banyak mengenalkanku pada hal-hal baru. Di jaman kecil, aku tidak pernah kekurangan bacaan. Dari buku-buku fiksi seperti Harry Potter sampai cerita sejarah dan biografi kesembilan Wali Songo sudah kulahap dari bangku SD, dan memang buku-buku tersebut lumayan memperluas pandanganku. Ayahku juga mengenalkanku pada dunia abu-abu, saat segala hal yang kulihat masih berupa hitam dan putih, dunia dimana kalau suatu hal tidak benar, maka hal tersebut salah secara mutlak. Dunia baru dimana segala hal yang dilakukan memiliki nilai-nilai positif dan negatif tersendiri, yang sulit digolongkan dalam dunia hitam dan putih.

Β 

Dan aku juga belajar banyak, meski bukan dari cara yang ayahku inginkan. Ayahku ingin aku fokus di bidang akademik saja, sambil berusaha menjaga kehidupan sosial. Dan aku fokus di bidang sosial sambil berusaha menjaga kehidupan akademik. Aku bahkan mengambil beberapa amanah, yang memang kuanggap penting dan layak untuk diperjuangkan, tanpa persetujuannya. Entah, tapi logikaku waktu itu pun sederhana saja, hanya ada dua sikap yang dapat ayahku tunjukkan, setuju atau tidak setuju. Kalau beliau setuju, aku tidak perlu mengetahuinya, bagaimanapun kelak aku yang akan menjalankan dan mempertanggungjawabkan hal-hal yang akan kulakukan. Dan kalau beliau tidak setuju, aku tidak mau mengetahuinya, bagaimanapun beliau tetap ayahku dan pendapatnya sangat berpengaruh terhadap tindakan-tindakanku, yang menurutku dapat mempengaruhi prioritas hal yang kuanggap penting ini, meskipun aku merasa inilah diriku dan disinilah tempatku setelah menjalani kehidupan selama beberapa lama. Bukan hal yang terlalu bagus untuk ditiru mungkin, setidaknya karena itu aku pun belajar untuk bertanggungjawab dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Hei, ini pilihanku, dan apa yang kukatakan, baik itu janji yang tak sengaja terucap atau perkataan yang terbawa suasana, dan apa yang kulakukan, baik secara sadar ataupun tidak terhadap konsekuensi dan efek jangka panjangnya, akan dimintai pertanggungjawaban kelak bukan?

Β 

Tapi kalau dipikir-pikir lebih jauh, meski banyak perbedaan pendapat diantara kita, tetap saja semua orang menginginkan yang terbaik bagi keturunannya. Kalau nggak salah ali radiyallahu anhu pernah bilang selama 7 tahun pertama manjakanlah anak-anak seperti raja, 7 tahun kedua tekankanlah nilai-nilai kedisiplinan kepada anak-anak, dan 7 tahun ketiga, perlakukanlah anak-anak seolah sahabat. Kemudian, lepaskanlah mereka.

Β 

Sekarang usiaku 19 tahun 7 bulan, tinggal 1 tahun 5 bulan lagi menuju batas waktu yang telah ditetapkan. Kemudian, setelah lepas aku akan dituntut untuk mandiri dan perlu mencari nafkah sendiri, mungkin kemudian akan menemukan sosok perempuan yang kuanggap pantas untuk menjadi pendamping hidup, jalan-jalan ke luar negeri untuk menimba ilmu dan pengalaman, menjadi sosok ayah yang punya tanggungan (anak, harta, dsb) untuk diurus dengan baik di dunia, bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan masih banyak lagi. Entah urutan terjadinya akan seperti apa, atau mungkin tidak semuanya sempat terjadi. Tapi meskipun tanggal kematian Β  tidak dapat diprediksi, rencanakan saja dulu semuanya, siapatau waktunya cukup kok.

Β 

Sampai sekarang belum kepikiran sih mau kerja sebagai apa (peneliti menarik, guru/dosen juga, sosiopreneur juga sama. Pilihan masih terbuka luas ya) dan belum tau kira-kira sebulan bisa dapat berapa. Kata ayah sih selama pola pikirku baik, itu modal yang sangat mencukupi untuk bisa survive, mari berharap itu benar. Kalau untuk kasus pendamping hidup pun aku belum terlalu mikirin. Masih menikmati sifat introvertku yang menyukai kesendirian :3 Lagian entah jodohku siapa dan bertemu kapan dan dimana, ada juga kemungkinan aku sudah bertemu tapi belum sadar aja jodohku yang mana. Banyak kemungkinan, dari sahabat seperti teman sekelas, seorganisasi atau teman masa kecil, sampai ke orang-orang yang belum pernah kujumpai. Hahaha, spekulasi terkait hal ini selalu asal sih, terlalu banyak faktor yang sulit diperhitungkan, tapi ya sudah lah ya. Toh aku juga gak bakal siap buat ngurus orang lain dalam waktu dekat, biarlah Allah membolak-balikkan hati pada waktunya, jadi tinggal nyiapin diri buat jadi baik secara wawasan, teladan dan finansial, dan berharap semoga dapat perempuan yang baik (target dapet gandengan–dari pembicaraan asal sama kawan sekelompok mentoring–masih sekitar 3-4 tahun lagi sih, semoga lancar lah). πŸ˜€

Β 

Jalan-jalan ke luar negeri itu keharusan! Bukan karena aku bosan sama Indonesia sih, tempat-tempat disini, baik hiburan, wisata atau situs-situs menarik pun belum kujelajahi semua, tapi aku merasa masih perlu ketemu sama orang-orang dari berbagai tempat, dengan berbagai latar belakang, sudut pandang dan mengembangkan pola pikir dan metode komunikasiku. Sekaligus mengembangkan jaringan untuk mempermudah urusan dunia dan akhirat (cari kerja dan silaturahmi maksudnya :p) tentunya. Lalu tentu saja sudah kodrat bagi seorang lelaki untuk memimpin keluarga. Padahal sampai sekarang pun pengen punya keluarga seperti apa belum ada bayangan yang jelas, hahaha. Yah, masih ada waktu juga kok buat figure it out, nikmatin dulu aja lah :3 Untuk bermanfaat jelas sih, sejak awal cita-citaku memang agak general (dan harus diakui, agak abstrak), bermanfaat dalam hal-hal yang baik. Salah satu sebabnya adalah karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, bukan? Hei, mungkin ini bisa jadi salah satu fondasi keluarga πŸ˜€ Entah sih bakal bermanfaat dalam hal apa, yang jelas masih ada waktu buat figure it out juga kok.

Β 

Meski memang kayaknya pekerjaanku panjang dan merepotkan ya kalau diprediksi seperti itu -_- Yang jelas, aku ingin menikmati kehidupanku seperti saat ini dulu, saat semua hal yang perlu dipertanggungjawabkan hanya berkisar pada diri sendiri, dan kemungkinan peran di masa depan masih sangat banyak, sebelum menjalani peran yang spesifik dengan banyak tanggungan. Hei, masih ada 17 bulan yang bisa kumanfaatkan untuk berkembang dan belajar.

Β 

Bagaimanapun juga, sampai sekarang aku gak pernah kepikiran gimana kalau aku terlahir di keluarga lain, meski munngkin banyak juga anak-anak yang kurang puas dengan situasi yang mereka hadapi dan berharap mereka terlahir di keluarga lain, atau bahkan mati aja. Dan aku gak bisa mengerti apa yang ada di pikiran mereka, beneran, entah orangtua itu harusnya seperti apa buat mereka -_- Karena aku sendiri pun gak bisa membayangkan hidupku, pola pikirku, jalan yang kuambil dan semua aspek dalam hidupku akan seperti apa kalau aku gak terlahir di keluarga ini, dan ayahku bukanlah beliau. Beda pendapat tetap sering, tapi semua itu punya pelajaran sendiri kok. After all, thanks a lot dad. Dan sekarang saatnya untuk menyiapkan diri, agar aku dapat dilepas tanpa rasa khawatir. You’ve done really well in your job, the role I might start playing in the short future, if Allah still gives me a time. Once again, thanks πŸ™‚