Kurikulum 2013

Kelihatannya kurikulum 2013, kurikulum terbaru saat ini sudah terlalu banyak dikritisi sekarang. Dan kemarin baru sempat mendapat pengalaman terkait kurikulum kontroversial itu. Setidaknya aku mulai mengerti kenapa kurikulum ini dihentikan, atau akan diterapkan secara bertahap.

Sudah sekitar dua tahun aku tidak mengamati perkembangan sistem pendidikan di Indonesia, termasuk kurikulumnya. Memang itu disebabkan beberapa faktor, seperti meningkatnya kesibukan yang perlu diurus dan minimnya hal yang mengharuskan untuk terlibat dengan itu. Memang, dulu aku sempat didaulat–secara sepihak–untuk memimpin sebuah organisasi di bidang pendidikan. Awalnya pun aku menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (kbk) 2006 sebagai pembanding untuk bahan ajar di salah satu rumah belajar organisasi tersebut. Atau setidaknya niat awalnya begitu. Karena pada akhirnya, pendidikan informal lah yang digunakan di rumah belajar itu, hahaha. Toh, pesan yang ingin kubawa sebenarnya sederhana: belajar dapat dilakukan dengan siapapun sebagai gurunya. Termasuk kita, dan bahkan anak-anak itu sendiri. Kita bukan guru mereka, kita bukan juga keluarga mereka, tapi kita dapat belajar bersama serta menceritakan dan berdiskusi akan hal-hal yang menarik dengan mereka. Memang pentingnya peran keluarga tidak dapat diabaikan, namun mengambil ilmu dari semua sumber yang ada tidak salah, kan? Entah pesannya sampai atau tidak, sudah lah, sudah kadaluarsa juga masanya, hahaha.

Dan dua tahun ini kegiatanku di bidang pendidikan berpusat untuk membantu atau membimbing penerusku di organisasi tersebut yang, kinerjanya jauh melebihi ekspektasiku sehingga aku pun kadang bingung apa yang dapat kubantu, dan aktif di sektor pendidikan yang tidak dipengaruhi kurikulum baru: pendidikan anak usia dini dan pendidikan kesiapsiagaan bencana anak-anak, dimana kurikulum (jika ada) pun diciptakan oleh organisasi yang terlibat itu sendiri.

Dan kemarin, aku pun terpaksa melihat kurikulum baru disebabkan adik-adik kelas 7 di salah satu rumah belajar pagi ini ujian. Kesan pertama: speechless.

Oke, sedikit pembuka tentang pendidikan. Butet Manurung dalam Sokola Rimba (versi film) mengatakan bahwa pendidikan adalah persiapan anak-anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Ada juga sebuah kamus yang mendefinisikan pendidikan sebagai pengembangan kemampuan dan bakat anak-anak. Dua definisi itu kutulis karena cakupannya lumayan luas. Memang banyak definisi yang belum ditulis, tapi untuk apa sibuk membahas definisi jika pada akhirnya tidak ada kesimpulan yang dapat diambil sebagai kesimpulan?

Terlepas dari apapun definisi pendidikan di dalam kosakata pribadi anda, seharusnya bisa dimirip-miripkan ke satu dari dua definisi tersebut meski mungkin perlu agak dipaksakan. Pertanyaannya adalah, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana?

Jadi, ceritanya pagi ini mereka punya tiga ujian: Baca-Tulis Quran (BTQ), Al-Quran dan Hadits, serta Bahasa Indonesia. Karena kemarin terlambat, jadilah aku didaulat mengajar Quran dan Hadits. Hebat bukan? Menyerahkan amanah kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.

Oke, merepotkan. Latar belakang pengajar adalah institut teknologi, bukan madrasah da’i. Pengajar tidak banyak dan “ustad” yang tadi mengajar hukum bacaan Quran pun mau istirahat, setelah disajikan taksonomi baru dalam hukum bacaan ikhfa. Entah sejak kapan ikhfa aqrab, ikhfa ausath dan ikhfa ab’ad difungsikan. Sebelum kbk 2006 ikhfa yang diajarkan cuma satu jenis, ikhfa hakiki, yang mencakup ketiga golongan tersebut. Entah apa yang menyebabkan mereka membagi diri, ikut-ikutan membentuk golongan tandingan karena tidak puas akan suatu keputusan layaknya politisi Indonesia saat ini mungkin?

Ya sudah lah, ikuti saja. Baca bismillah agar dapat pelajaran dan berkah, sembari do’a agar kalau pun ada penjelasan yang salah tidak sampai pada tingkatan yang menyesatkan.

Dan saat membuka buku, melihat apa yang harus dijelaskan, terpana dengan tiap halaman dari buku yang terbuka. Materinya tidak banyak memang, cenderung singkat, tapi sangat mendalam. Terlebih menghubungkan materi dengan judul bab dan indikator pemahaman yang, menurutku, kurang dapat diukur. Sembari bertanya-tanya apakah indikator pemahaman agama apapun di sekolah manapun tidak memiliki standar yang umum berlaku, aku pun agak penasaran apakah dalamnya materi ini dapat dicerna remaja yang baru masuk smp.

Salah satu judul babnya adalah kebesaran Allah, dengan materi berisikan tafsir dari surat pertama dan tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an. Wah, meskipun kadang mendapatkan materi tentang tafsir ayat atau membaca rangkuman atau pesan satu surat dalam Quran, tafsir satu surat pendek secara mendalam baru kupelajari saat kuliah. Hebat, aku sudah yakin terhadap ketidakmampuanku mengajarkan pelajaran ini tahun depan. Pengingat akan minimnya wawasan, pentingnya mengritisi kebijakan, dan manfaat dari empati pada sesama.

Dan pengajaran pun dilakukan. Anak-anak sangat membantu dalam mengucapkan ayat Qur’an beserta artinya, kelihatannya mereka hafal semua. Namun saat aku mengulang artinya, untuk menghubungkan materi dengan indikator yang entah apakah aku sudah memenuhinya atau belum, mencerna materi masih membutuhkan waktu yang lama. Seusai kegiatan mengajar pun aku berbincang dengan kawan tentang hal ini. Kawanku berargumen bahwa anak-anak masih fokus pada menghafal meskipun materinya sejauh ini dan khawatir hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pemahamannya di masa depan. Aku pun juga berpendapat itu buruk berdasarkan kedalaman materi yang diperlukan dalam pengajaran.

Memang, pada kenyataannya kita tidak mengetahui apakah itu baik atau buruk, jangankan metode mengembangkan kemampuan, kami pun tidak tahu kemampuan macam apa yang harusnya dimiliki oleh remaja kelas 7 smp. Entah bagaimana pendidikan saat ini, tapi jika persepsi kami tepat, kelihatannya memang kurang baik.

Aku sudah membaca tujuan dari kurikulum 2013 dari http://samparona.blogspot.com/2013/10/karakteristik-dan-tujuan-kurikulum-2013.html?m=1, dan aku juga pernah mendengar banyak hal dari tujuan kurikulum tersebut, seperti menjadikan anak-anak aktif, inisiatif, senang belajar dan lain sebagainya. Mohon dikoreksi jika ada yang salah. Dan mari berikan apresiasi terhadap orang-orang yang mengharapkan kebaikan bagi kita seperti demikian. Tapi kita tetap perlu kembali kepada pertanyaan tadi, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana? Karena saya khawatir tidak 🙂

Saat ini masih banyak faktor yang perlu dibenahi jika persepsiku terhadap kurikulum 2013 itu benar, dari anak-anak yang masih terlalu pasif dalam mencari materi sehingga masih mengandalkan kakak-kakak meski latar belakangnya tidak sesuai dengan materi kurikulum, kegiatan belajar masih dilihat sebagai kegiatan kurang menyenangkan yang hanya dilakukan di sekolah, penjelasan dari guru yang berusaha menafsirkan kurikulum dianggap beberapa murid kurang jelas, peran keluarga yang masih minim dalam mendidik anak atau mengajarkan anaknya aktif mencari informasi, indikator ketercapaian materi yang agak sulit diukur, dan mungkin masih ada–dan mungkin masih banyak–faktor yang belum terpikirkan dan ditulis saat ini. Dengan kondisi seperti itu, apakah kurikulum ini memang tepat untuk dijalankan?

Kuakui, sulit untuk kurikulum 2013 ini dengan kbk 2006 tanpa bias, karena dahulu aku merupakan sasaran didik dan sekarang aku bukan. Dan memang, semua kebenaran dalam tulisan ini relatif, bergantung pada sebenar apa pandanganku terhadap kurikulum baru ini. Hm, jika ada yang mengetahui atas dasar apa kurikulum 2013 diterapkan, bisakah tolong bantu jelaskan apa dasar tersebut? Mohon maklumi insan yang minim wawasan ini, karena meskipun aku tahu peraturan yang berlaku, sulit untuk memahami latar belakang keputusan pemerintah dibuat jika keputusan tersebut merupakan hal yang tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan insan terkait 🙂

Iklan

Misleading Label of Food Products


Last Week Tonight with John Oliver-Episode 01

Salah satu sarana untuk melatih kemampuan berbahasa inggris, khususnya di bidang listening dan vocabulary, dan sebuah perspektif akan hal-hal yang terjadi di dunia saat ini. Acara berita satir yang dikemas secara apik, mengupas sudut pandang baru dari dalam sebuah berita, disampaikan dengan cara yang mirip dengan stand up comedy di Indonesia. Frontal sih, dan jadi penasaran, kira-kira kapan ya komika Indonesia punya acara semacam ini?

Yah, jika perusahaan makanan peduli terhadap nama baik mereka, untuk apa mempermainkan kata-kata mencapai tingkatan yang mengarahkan manusia ke arah yang salah? 🙂

Agak disayangkan sekarang programnya sedang break setelah berlangsung 24 episode hingga 2015. Topik bahasannya lumayan luas, dari label pada makanan, sistem hukuman bagi pelaku pidana, hutang pelajar di Amerika, teknologi militer, kontes kecantikan, isu-isu sara dan LGBT, yah, hal yang umum dibahas adalah isu-isu yang sedang populer di amerika, termasuk isu-isu internasional seperti sengketa Crimea, referendum Skotlandia, serta sistem monarki. Entah apakah belum pernah dibahasnya Indonesia dalam program ini merupakan hal yang patut disayangkan atau disyukuri.

Episode ini membahas tentang perlunya berhati-hati dalam mendefinisikan hal yang tertulis pada kotak kemasan dari sebuah produk, especially about how that mislead you to buy them. Fungsi subtitle tidak dapat diaktifkan disini, anggap saja latihan mendengarkan bule berorasi, mungkin saja di masa depan kita akan memiliki teman seperti itu :p

Oh, dan bagi yang berminat mengikuti acara ini, sekedar mengingatkan untuk berhati-hati terhadap beberapa episode, khususnya episode 3 🙂

Pisa Test

Pisa Test

Lumayan menarik, ternyata tes Pisa yang selama ini diagung-agungkan pun masih punya beberapa sisi yang menimbulkan kontroversi. Dan… Kritikannya memang ada benarnya juga sih.

 

Jadi penasaran, kira-kira seperti apa kurikulum yang tepat bagi negeri ini. Tiap negeri punya kebudayaan tersendiri, itu pasti, bahkan tiap daerah pun sulit untuk disamakan. Tapi untuk mengintegrasikan seluruh aspek dalam sebuah pembelajaran yang komprehensif dan menyeluruh, ada yang sudah berhasil?

 

Dan jadi terpikir, jika tidak ada ranking antar universitas dan jumlah murid yang cerdas di tiap universitas terdistribusi secara merata, kira-kira akan seperti apa dunia pendidikan saat ini ya?

Random: Bosan

Bosan.

Kata yang sering kugunakan sejak dahulu, dan tepat untuk menggambarkan situasi saat ini. Bosan, dengan rutinitas yang setiap hari menjebak, dengan tugas yang semakin banyak, dengan waktu yang semakin singkat, dan dengan akhir yang semakin dekat. Akhir perkuliahan dan akhir kehidupan, keduanya semakin mendekat, meski memang aku sendiri belum bisa memastikan kapan akhir itu tiba, akhir yang manapun itu.

“Masih mengusahakan untuk Juli, tapi memang lebih mungkin Oktober”. Entah sudah berapa kali kalimat itu kuucapkan, hampir selalu dengan template yang sama, baik dari segi intonasi, artikulasi maupun ekspresi karena bosan mendengar pertanyaan yang sama selalu terulang dari mulut yang berbeda. Kadang karena saking bosannya menjawab dengan jawaban yang sama, aku membuat satu template jawaban lagi yang lebih singkat, “Allah lebih tahu kapan”. Entah juga sudah berapa kali pertanyaan itu ditujukan padaku, baik dari teman sejawat, adik tingkat, sahabat di organisasi, siapapun. Kadang juga ada pertanyaan lanjutan, baik itu pertanyaan yang sama di topik yang berbeda seperti “Kapan nikah?” atau pertanyaan yang berbeda di topik yang sama seperti “Habis lulus mau ngapain?”. Tapi pertanyaan yang mengawali selalu sama, “Kapan lulus?”

Padahal dari segi usia seharusnya aku masih mungkin menjadi mahasiswa baru di tahun ajaran berikutnya, tapi semakin sering mendengar pertanyaan itu, semakin merasa tua. Masaku telah berakhir, dan tiap pertanyaan seolah mengusir secara halus dari dunia mahasiswa. Yah, entah karena bosan melihatku di kampus, masih membutuhkanku atau sekedar penasaran, tapi beruntung juga belum ada yang menanyakan akhir dari satu lagi. Yah, “Kapan mati?” kedengarannya bukan pertanyaan yang sopan, kan?

Kelihatannya akan menarik jika ada yang punya mesin waktu, baik seperti yang ada di laci meja nobita ataupun seperti kotak biru milik doctor who. Hanya untuk melihat, mempertanyakan dan menertawakan apa yang telah terjadi, tidak ada yang perlu diubah. Mungkin keberadaan konsep time travel ini juga yang menyebabkan aku lumayan suka dengan serial Doctor Who, selain sinematografi BBC yang menurutku keren, yah, teman-temanku juga tidak sedikit yang berpendapat begitu, padahal kita tidak anglophile. Dan sekarang dalam proses mendownload beberapa dokumenter dan series dari BBC untuk mengisi masa liburan. Yah, baru rencana memang, kadang merencanakan jauh lebih mengasyikan daripada melaksanakan, mungkin juga rencana membaca buku dan menghabiskan film ini akan kalah oleh daya tarik internet kelak, ah, tapi itu masalah nanti.

Ada beberapa sahabat yang harus berusaha lebih keras karena ikut program fast track, dimana mereka akan lulus S1 dan S2 dalam waktu 5 tahun, tapi kelulusan S1 sepertinya harus terlaksana Juli ini. Untunglah aku tidak berminat pada program itu, kehidupanku sudah terlalu cepat. Lagipula, ilmu tidak hanya dapat didapatkan di ruang kelas kan? Memang ada yang bilang sebaiknya diambil saja, sebagai persiapan untuk S2 di luar negeri, jika lancar memang akan lebih mudah mendapatkan beasiswa. Tapi aku merasa ada banyak sekali hal di luar dunia perkuliahan yang selama ini terlewatkan, hal-hal penting yang terabaikan hanya karena tidak ada dalam kurikulum institusi formal.

Jika aku punya waktu luang, aku ingin belajar metodologi riset. Tapi tidak di dunia perkuliahan. Aku sudah terlalu bosan dengan berbagai penilaian, kehadiran, deadline ataupun tugas-tugas yang berlebihan. Tidak bisakah proses pembelajaran dilakukan tanpa tekanan dan berdasarkan rasa keingintahuan semata?

Hidup memang bukan laut yang tenang, akan ada banyak tekanan yang kedatangannya tidak dapat diperkirakan kapan. Tapi bukankah aneh jika untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tekanan tersebut, kita justru memberikan mereka tekanan yang jauh lebih banyak, entah itu dalam bentuk ujian, penilaian, hukuman bila nilai jelek atau tidak mengerjakan tugas tanpa peduli alasannya, dan berbagai hal serupa? Jadi ingat di manga Space Brothers, saat salah seorang astronot mengalami kecelakaan di bulan dan menyebabkan dia memiliki PD (Panic Disorder) setiap kali mengenakan baju astronot. Awalnya rehabilitasi dilakukan dengan menyuruhnya menghadapi ketakutannya, beraktivitas sebagaimana protokol saat berada di markas di bulan di lingkungan yang telah disimulasikan. Oke, ceritanya agak panjang, tapi intinya di akhir ini salah seorang petinggi menyadari dan mempertanyakan, apa tujuan mereka melakukan ini? Untuk menyelamatkan astronot itu, atau untuk mengujinya? Aku lumayan suka dengan resolusi dari konflik ini, dimana tim dari astronot itu akhirnya turut membantu proses rehabilitasi dengan mengingatkannya pada masa-masa yang mereka lalui dengan menyenangkan selama ekspedisi mereka ke bulan, meski astronot itu akhirnya juga keluar karena masih tetap tidak dipercaya perusahaannya untuk mendapatkan misi berikutnya. Dan jadi mempertanyakan, meski memang konsep ini abstrak dan sulit untuk mengukur indikator ketercapaiannya, tapi jika kita menekankan bahwa ada kesenangan pada setiap tekanan yang datang, apa yang akan terjadi? Akankah masa depan mereka jadi lebih baik?

Ah, lama kelamaan aku juga jadi bosan memikirkan masa depan, memikirkan permintaan orang-orang, memikirkan apapun. Sudah lah, lebih baik tidur saja.

Selamat malam.

Random: Pilihan dalam Pendidikan (2)

Kemarin merupakan hari pendidikan nasional, 2 Mei 2014. Mungkin kemarin merupakan hari yang biasa-biasa saja, hari yang spesial karena alasan tertentu atau hari yang tidak terlalu menyenangkan. Dan bagiku, yang terakhirlah yang terjadi, akibat dari ujian komprehensif yang tidak berjalan dengan terlalu lancar. Merayakan hari pendidikan dengan membuat mempertanyakan kegunaan dan metode yang diterapkan institusi formal saat ini, quite a way to celebrate it :v

 

Melanjutkan racauan sebelumnya, pilihan dalam pendidikan, dari sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat seekor ikan menjadi seekor ikan?”. Mari lupakan sejenak melupakan makna harfiah dari pertanyaan tersebut dan ubah sedikit pertanyaannya menjadi, “Apa yang membuatmu menjadi dirimu?”

 

Semua makhluk memiliki keunikannya tersendiri, ciri khas yang tidak dimiliki orang lain.Ikan berbeda dengan gajah. Gajah berbeda dengan harimau. Harimau berbeda dengan manusia. Meski ada beberapa ilmuwan yang memaparkan tetap ada kesamaan, tapi tak bisa disangkal juga bahwa ada perbedaan diantara semua makhluk.

 

Kemudian, mengingat ada premis yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah unik, maka mungkin tiap manusia juga memiliki keunikannya tersendiri. “Tiap manusia berbeda”. Mungkin kalimat serupa sudah terdengar berulang kali di telinga kita hingga kita kategorikan sebagai sebuah kalimat yang klise bagi sebagian orang, kalimat yang terlalu sering digunakan, kadang hingga sampai pada suatu titik dimana perkataan tersebut kehilangan maknanya.

 

Mungkin itu salah satu alasan mengapa nasihat yang paling mengena merupakan nasihat yang hanya diucapkan pada waktu yang tepat, bukan yang diucapkan berulang-ulang. Setidaknya itu menurut pendapatku sih, tapi memang aku lebih mudah mengingat nasihat seperti itu, dan cenderung malas mengingat nasihat yang dikatakan berulang kali. “Nanti juga akan diingatkan lagi”, “Ah, itu lagi, itu lagi”, “Iya, iya, tahu, tahu”, uniknya, aku bisa langsung memikirkan berbagai respon negatif yang sangat mungkin muncul dalam menghadapi nasihat yang diberikan berulang-ulang. Berbeda dengan nasihat yang diberikan pada waktu yang tepat. Tidak ada argumen, tidak ada sanggahan, hanya diam dan menerima. Yah, mungkin nasihat bukan hal yang baik untuk dibuat klise.

 

Kadang aku berpikir bahwa kata “klise” tidak hanya dapat disematkan pada sebuah kutipan atau kalimat. Dalam beberapa kasus, pendidikan yang tidak disertai dengan pemaknaan pun dapat menjadi klise. Ya, bagaimanapun, waktu hidup kita yang kita habiskan di sekolah tidak lah sedikit. 12 tahun untuk pendidikan dasar, ditambah dengan 9 tahun atau mungkin lebih jika ditambah dengan pendidikan lanjutan di level universitas. Wajar jika ada saja keluhan bosan untuk belajar, bosan masuk sekolah, bosan untuk mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Kadang rutinitas memang membosankan.

 

Dan disini lah gunanya pemaknaan. Untuk kembali menyemangati diri saat ini terjadi. Kita belajar karena ingin mengetahui hal-hal baru yang kelak dapat kita manfaatkan untuk kebaikan kita atau orang lain, atau hal-hal yang memang membuat kita penasaran. Dan untuk menemukan apa yang membuat kita penasaran, mungkin kita juga perlu mengenal diri kita, minat kita, bakat kita, sifat kita, beserta segala keunikan kita. Dengan menemukan minat kita, mungkin kita akan lebih mudah menentukan pilihan apa yang ingin kita pelajari secara mendalam, yang pada gilirannya akan berlanjut pada menentukan program studi apa yang sesuai untuk kita masuki kelak. Dalam proses menemukannya, siapa saja dapat berperan, baik diri sendiri, sekolah, orangtua, sahabat atau kelompok sepermainan dan semacamnya. Dan di sisi lain, mungkin kita juga dapat lebih mengenal diri sendiri karenanya. Misalnya, untuk mendeskripsikanku? Banyak kata yang bisa digunakan, seperti penggalan lirik lagu Wishing Well karya Blink 182, “I’m a little bit shy. A bit strange and a little bit manic”, dengan minat yang timbul dari sebuah pengalaman kurang menyenangkan di bidang energi terbarukan. Oke, mungkin bukan pribadi yang keren atau gagah, tapi tidak masalah. Tiap orang berbeda, baik sikap, minat, dan lain sebagainya, jadi, apa kata yang kau anggap tepat untuk mendeskripsikanmu dan apa minatmu?

 

Hal lain yang mungkin perlu diperhatikan adalah kondisi belajar di institusi yang ingin kita masuki. Ya, mungkin ada baiknya kita memeriksa bagaimana kondisi pendidikan di sebuah universitas sebelum memutuskan untuk masuk. Salah seorang juniorku pernah berminat untuk menyusup ke kelas di sebuah universitas karena penasaran akan kondisi perkuliahan saat dia sedang tidak sekolah. Yah, entah legal atau tidak, tapi kelihatannya seru juga jika kita memang ingin lebih tahu tentang kondisi sebuah universitas. Mungkin mengetahui seperti apa sikap kita juga akan membantu dalam menentukan institusi formal tujuan kita. Tidak selalu harus yang ternama, tapi dimana kira-kira yang akan menjadi lokasi terbaik bagi kita untuk belajar dan berkembang. Bagaimanapun, pilihan yang kita buat untuk pendidikan kita adalah pendidikan yang akan kita jalani kelak kan? Mungkin agak merepotkan, tapi semoga saat dijalani ternyata menyenangkan.

 

Yang jelas, jika kita memilih untuk melanjutkan pendidikan, cobalah cari hal yang menarik bagi kita dalam pilihan kita itu. Setidaknya dengan begitu, pilihan tersebut tidak hanya menjadi sekedar pilihan klise yang kehilangan maknanya 🙂

Random: Pilihan dalam Pendidikan

Dalam kehidupan, banyak pilihan yang harus dibuat, entah itu bagi diri kita, atau bagi hal-hal di sekitar kita. Dari sekedar hal sehari-hari seperti memilih baju apa yang ingin dikenakan ke kampus, memilih menu atau tempat sarapan atau memilih mau menggunakan laptop dengan operating system yang mana, hingga hal yang krusial seperti mau kuliah dimana atau jurusan apa, memilih siapa yang akan dijadikan pendamping hidup, memilih antara bekerja atau lanjut studi setelah lulus kuliah, memilih lokasi tujuan untuk mencari nafkah atau melanjutkan studi itu, serta memilih kapan akan mulai membuka buku untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ujian kompre sesi 2 besok siang (iya, jadi mau kapan, laks?).

Sebagaimana yang diceritakan adikku dua pekan lalu, yang menyatakan bingung ingin memilih jurusan atau universitas tujuan kuliah kelak. Saat kutanya ketertarikan terhadap pelajaran pun dia bingung. Ah, pelajaran sekolah saat ini memang jarang ada yang menarik. Jelas ada beberapa siswa yang tertarik, tapi dari puluhan juta siswa yang ada, berapa banyak yang tertarik pada setidaknya satu mata pelajaran?

Andai kita sempat diperlihatkan bagaimana bentuk dan cara kerja hovercraft saat sekolah dulu, mungkin jumlah peminat di bidang fisika (khususnya pada topik medan magnet dan material superkonduktor) saat ini jauh lebih banyak, dan mungkin tidak lama lagi kita punya mobil terbang (atau setidaknya, mengambang. Seperti prinsip kereta super cepat yang bergerak dengan gaya magnet sehingga menghilangkan gaya gesek yang memperlambat laju. Yah, setidaknya tinggal memikirkan bagaimana cara menghentikan benda melayang dalam jumlah banyak, kecelakaan karena tidak bisa mengerem jelas akan menurunkan daya tarik ide ini).

Mungkin juga akan lebih banyak murid yang tertarik terhadap sejarah jika tiap kita berkunjung ke museum tidak ada resume yang perlu dibuat, waktu yang digunakan untuk mencari informasi dan menuliskannya jauh lebih banyak daripada waktu yang digunakan untuk melihat-lihat dan bertanya-tanya apa ini, siapa itu, serta kapan, dimana, mengapa dan bagaimana itu terjadi. Sisi menarik museum sebagai dokumentasi dari perkembangan peradaban tidak terlihat, minat untuk menggali informasi secara mandiri tidak muncul, dan aku tidak menyukai museum hingga sma, setidaknya hingga bertemu dengan sahabat yang punya minat tinggi di bidang persenjataan dan strategi militer. Obrolan tentang bagaimana cara menggunakan keris untuk menghabisi musuh. Dulu aku menganggap keris hanya jenis dagger yang kurus dan berlekuk-lekuk, tidak berbeda dengan dagger lainnya (maklum, sebagai gamer yang suka permainan rpg, action, logic dan strategi, senjata yang ada di game hanyalah dagger). Lalu temanku itu bercerita tentang bagaimana jika keris ditusukkan ke perut, kemudian diputar 90 derajat dan dicabut, pengaruhnya fatal. Tekstur keris yang ramping mampu membuatnya menyelip di sela-sela organ dalam lawan, memutarnya dan mencabutnya dapat menyebabkan organ dalam lawan terburai keluar tubuhnya. Oke, bahasan yang sedikit sadis, tapi kupikir kita perlu mengetahui keunggulan, kelemahan dan cara pakai tiap senjata agar jika suatu saat kita berada dalam kondisi diancam suatu senjata kita dapat menentukan tindakan terbaik. Itu juga mengubah pandanganku dan menarik minatku terhadap orang-orang zaman dahulu, keris jauh lebih berbahaya daripada dagger.

Mungkin aku juga tidak akan tertarik masuk ke jurusan fisika jika tidak dijebak menjadi perwakilan olimpiade sains fisika dan menemukan sisi menarik dari fisis dunia ini saat sma dahulu (terkait prestasi, yaah, satu tahap sebelum masuk tingkat nasional memang, tapi sebagai posisi terakhir dari semua yang sampai di tahap itu, hahaha). Karena itu, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan adikku, aku sendiri mengakui pelajaran saat sekolah tidak cukup menarik untuk membuat orang-orang yang belajar tertarik, setidaknya di sekolah yang pernah menjadikanku murid disana.

Tekanan diminta masuk ke perguruan tinggi ternama pun turut menjadi masalah yang sama sekali tidak membantunya, harus masuk sini, harus masuk situ, semua agar masa depannya lebih terjamin. Benar kah? Entah, sejak berada di salah satu perguruan tinggi ternama itu aku lumayan sering mendengar komentar “Dahulu nama kampus ini dibesarkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini, sekarang dimana nama mahasiswa-mahasiswa yang kuliah disini lah yang dibesarkan oleh kampus ini” atau komentar senada lainnya. Lupa tepatnya kapan, kalau tidak salah di momen seperti saat menyindir kurangnya minat mahasiswa universitas ini dalam beberapa jenis perlombaan. Oh, jangan salah, meski ada beberapa lomba yang tidak diminati kampus ini tidak miskin prestasi, bagaimanapun kita (yang setidaknya saat masa orientasi dahulu dijuluki) putra-putri terbaik bangsa berada disini. Tapi, dahulu kampus ini juga bukan merupakan apa-apa. Karena itu apa salahnya masuk ke kampus yang saat ini belum jadi apa-apa? Jika dia nyaman terhadap situasi disana, siapatahu dia jadi pelopor perubahan disana. Meningkatnya level universitas lain adalah hal yang bagus bagi negeri ini bukan?

Lagipula, benarkah dengan kita menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ternama itu berpengaruh terhadap kesuksesan masa depan kita? Aku skeptis.

Memang di universitas ini jumlah orang yang hebat tidak sedikit, tapi di universitas lain di kota yang sama juga kelihatannya jumlahnya tidak kalah banyak. Jika kita dapat menjadi baik dengan bergaul di lingkungan berstandar tinggi, lingkungan seperti itu dapat dibentuk di universitas manapun. Atau cobalah bergabung di organisasi luar kampus yang punya lingkungan serupa. Saat ini pun aku lebih memilih aktif di organisasi luar kampus, dengan sebagian besar anggotanya sudah menyelesaikan pendidikan strata-1. Menganggap lingkungan ini lebih profesional dan tidak kalah bermanfaat dengan organisasi yang ada di dalam kampus, sembari berharap sikap-sikap yang tidak profesional seperti deadliners bisa berubah perlahan disini.

Aku tidak menyangkal kelebihan berupa fasilitas yang relatif bagus serta jaringan yang ada di perguruan tinggi ternama merupakan daya tarik yang sangat menggoda untuk melanjutkan perkembangan disini. Tapi dalam beberapa kasus, kita tidak perlu terdaftar sebagai mahasiswa disana untuk menikmati fasilitas dan koneksinya. Cobalah perbanyak berkenalan dengan mahasiswa di jurusan dengan fasilitas yang kalian ingin gunakan, siapatahu kelak kalian bisa berkenalan dengan kepala progam studinya atau organisasi kemahasiswaan yang punya akses terhadap fasilitas tersebut. Dan siapatahu kalian berkesempatan untuk menggunakan fasilitasnya. Setidaknya itu pengalaman temanku yang tidak terdaftar tapi dapat menggunakan fasilitas di sebuah unit. Mungkin agak ilegal, tapi jika ada kemauan, akan terbuka jalan kan?

Aku juga tidak menyangkal bahwa perusahaan sangat mungkin lebih tertarik menjadikan mahasiswa cendekia dari universitas ternama sebagai tenaga kerjanya. Tapi aku juga mengenal beberapa senior dengan nilai indeks prestasi yang, hm, rata-rata lah. Namun beliau aktif di berbagai tempat dan membangun banyak koneksi sehingga beliau memiliki akses terhadap lumayan banyak informasi, sembari berargumen bahwa dia akan mengandalkan koneksinya untuk mencari lowongan close recruitment, saat perusahaan hanya mencari beberapa orang saja, dan umumnya berdasarkan rekomendasi orang dalam. Pada akhirnya, yaah, setahuku akhirnya dia mendaftar melalui jalur biasa, dan dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan energi multinasional. Yah, mungkin indeks prestasi dan asal perguruan tinggi bukan satu-satunya faktor penentu rezeki. Lagipula, soal rezeki sudah ada yang mengatur kan? Mungkin tinggal masalah seberapa keras kita mau mengambil rezeki yang ditakdirkan untuk kita saja 🙂

Jelas tiap orangtua menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Dan tiap anak juga berhak memilih lingkungan terbaik dimana mereka dapat belajar dan berkembang menjadi apapun yang mereka inginkan. Tapi mungkin tidak selamanya juga asal memilih jurusan di perguruan tinggi ternama merupakan pilihan yang bijak. Saat aku baru masuk universitas pun, jumlah sahabatku yang mengeluh merasa dirinya salah jurusan tidak sedikit. Kayaknya lebih cocok di mesin lah, kayaknya lebih cocok di desain lah, kayaknya lebih cocok di kedokteran lah, dan umumnya hal ini berujung pada penerimaan terhadap takdir atau usaha untuk pindah ke tempat atau program studi lain. Meski memang mungkin karir kita tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pelajari saat kuliah, mengingat bahwa kita akan terjebak untuk belajar selama 4 tahun (atau mungkin lebih) lagi, mengapa tidak sekalian belajar tentang apa yang kita sukai? 🙂

Masih ada banyak yang menarik untuk dibahas terkait hal ini, meracau tentang kehidupan selalu seru meski tidak pernah jelas apakah racauan ini ada implikasinya atau tidak pada kehidupan, hahaha. Jadi ingat sebuah pertanyaan yang, menurutku, orang yang bisa menjawabnya mungkin tidak akan terlalu repot untuk mempermasalahkan pilihan-pilihan dalam kehidupannya, baik itu pendidikan atau apapun.

What makes you, you?
Apa yang membuat kamu menjadi dirimu?

————————————————————————————————

Mungkin lain waktu akan dibahas lagi, sekarang waktunya fokus ke ujian besok dahulu 😀

Random: Kesombongan, Pendidikan dan Fanatisme

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan sombong?

Aku pernah mendengar bahwa, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Itulah sombong. Dan entah kenapa, saat ini aku melihat banyak sekali bentuk kesombongan yang ada saat ini, baik disadari atau tidak.

Ada yang pernah membaca “Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan: Dilematika Ujian Nasional” yang ditulis oleh Nurmillaty Abadiah? Jika belum, silahkan buka link berikut, http://tolakujiannasional.com/2014/04/24/surat-terbuka-untuk-bapak-menteri-pendidikan-dilematika-ujian-nasional/

Silahkan dibaca terlebih dahulu, ada yang ingin kudiskusikan dengan kalian setelah selesai nanti 🙂

——————————————————————————————————————————————————————————–

Sudah selesai membaca?

Dalam beberapa hal, aku kurang sepakat dengan sang penulis itu, tapi dalam beberapa hal lain aku sangat sepakat. Tertarik untuk menguji kemampuan diri dengan soal tahap internasional, tapi tidak berminat jika itu jadi syarat utama kelulusan; Tidak suka dengan kecurangan yang seolah sudah umum terjadi saat ujian, tapi tidak tahu dapat berbuat apa jika satu sekolah sudah berkonspirasi untuk melakukannya; Tidak masalah atas bobot soal ujian yang berbeda-beda mengingat masalah yang kita hadapi dalam kehidupan juga begitu, tapi enggan menjawab pertanyaan terkait bagaimana hasil akhir dari sebuah masalah tanpa mempedulikan prosesnya.

Tapi bukan setuju atau tidak dengan artikel itu yang akan dibahas, menurut kalian bagaimana respon yang diberikan sang menteri?

Entah dengan pendapat kalian, tapi menurutku, respon yang diberikan tidaklah dewasa. Poin-poin argumen yang diberikan oleh sang penulis sepengetahuanku valid, tapi kenapa yang dipertanyakan adalah siapa sebenarnya yang menulis surat itu? Aku juga pernah mendengar seorang sahabat berkata, “Jangan lihat siapa yang berbicara, lihatlah apa yang dibicarakan”. Sekedar bertanya, seberapa penting jawaban dari pertanyaan tersebut berpengaruh terhadap argumen kritikan yang diberikan? Memang yang terbaik adalah mengingatkan secara sembunyi-sembunyi, tapi bisakah kita memberi pengecualian pada hal-hal dimana kita ingin mengingatkan tapi tidak tahu bagaimana mengingatkan secara personal seperti saat ini?

Dan respon di bagian kedua menurutku kurang layak untuk diungkapkan. Dari bagian setelah sang menteri menyatakan tidak ingin terlalu larut dalam polemik ujian nasional. Menurutmu, apakah itu terkesan menolak apa yang dianggap kebenaran oleh sang penulis dan meremehkan pendapat penulis? Menurutku iya, kuharap ini disebabkan gaya penulisan reportase media yang ingin melaporkan kabar secara kontroversial dan menarik minat massa. Ah, kabar tentang menteri yang arogan jelas memenuhi kriteria itu. Tapi, mari kita realistis dan mempertimbangkan semua hal yang mungkin terjadi. Jika apa yang dikatakan media itu memang merupakan kenyataan tanpa ditambah-tambah atau ditutup-tutupi sebagian, bagaimana menurutmu?

Kalau kita membahas secara luas, semua punya kadar kesalahan tersendiri dalam sistem seperti ini. Dalam kasus para siswa, mari kita lihat situasinya sejenak. Benarkah siswa-siswi yang protes merupakan siswa-siswi yang serius dalam menuntut ilmu dan ada perkembangan di sekolahnya? Kalau tidak serius, hm, apakah pantas jika orang-orang yang tidak serius belajar berteriak-teriak meminta sistemnya diganti? Yakinkah jika sistemnya diganti mereka akan berubah? Namun, dalam kasus siswa yang serius namun tidak ada perkembangan, dalam hal itu, menurutku pihak sekolah atau guru lah yang salah karena tidak memiliki kapabilitas untuk menangani murid tersebut. Jika argumennya karena jumlah murid yang perlu diperhatikan terlalu banyak, kenapa kuota siswa baru yang diterima dipasang banyak-banyak?

Begitu pula dengan kasus mencontek, dari segi moral siswa yang melakukannya dan pihak sekolah atau guru yang mendukungnya sudah salah. Tapi bukan berarti sang menteri juga tidak salah sama sekali, hei, menurutmu, siapa yang punya kuasa untuk mengubah sistem dimana semua komponennya sudah salah tujuan seperti ini? Hanya ingin mengingatkan bahwa dalam sistem seperti ini semua salah, meski tidak memungkiri juga kesalahan terbesar ada di pihak pemerintah yang memutuskan sistem apa yang akan digunakan. Jadi teringat bahwa ada komentar, yang saat ini dunia pendidikan butuhkan bukanlah evolusi, tapi revolusi. Karena jika kita mengevolusikan sistem dengan banyak kesalahan, ada kemungkinan kesalahan-kesalahan tersebut juga akan berevolusi menjadi makin kompleks. Bukan berarti tidak ada sistem yang tidak punya kekurangan, tapi, jika masalah yang ada turut berevolusi menjadi kompleks, siapa yang akan turut kesulitan?

Kelihatannya, kita semua akan kesulitan bukan?

Mari kita beralih pada kasus yang kedua, terkait fanatisme golongan. Di suatu waktu ada sebuah golongan yang menganggap apa yang dilakukan golongannya adalah yang paling benar. Bahkan beberapa mungkin menganggap yang dilakukan golongannya sebagai satu-satunya yang benar. Sehingga saat golongannya ditimpa musibah, semua bersepakat untuk menyalahkan pihak manapun yang bisa disalahkan, karena musibah ini pasti bukan karena kesalahan golongannya. Entah apa yang sebenarnya benar, yang jelas pendapat orang lain yang menyalahkan atau mengkritisi golongan itu pasti salah. Hm, ada kemungkinan menolak kebenaran, ada juga kemungkinan meremehkan orang lain, baik hanya dari pendapatnya atau memang meremehkan seluruhnya.

Nyatanya aku melihat golongan ini ada dalam berbagai kelompok, dari partai politik, organisasi sosial, suporter klub sepakbola, akademisi lab, yah, setelah dipikir kembali kelihatannya hampir semua kelompok bermassa banyak memiliki golongan ini di dalamnya.

Mungkin ini waktunya kita memikirkan kembali, bahwa masalahnya bukan kita berada di kelompok apa, tapi apakah kita termasuk golongan yang fanatik dan sombong atau tidak? 🙂