Menghargai Pilihan

Lagi. Entah mengapa bursa kepemimpinan daerah selalu memiliki kemampuan magis yang unik dalam memenuhi lini masa akun media sosial. Dan tentu saja selaku warga Tangerang ber-KTP jakarta akibat dari kemalasan orangtua dalam mengurus perpindahan domisili, kelihatannya media sosial memerlukan filter untuk topik-topik pilkada ibukota. Kelihatannya opsi itu akan disambut oleh para pengguna media sosial. Kata “para” disini seminimal-minimalnya merujuk ke beberapa akun media sosialku, termasuk satu akun cadangan di salah satu media sosial yang dulu kubuat untuk meminimalisir bahaya yang mungkin terjadi dari cyber crime, yang tak kunjung kesampaian.
Tentu saja selaku pengguna akun media sosial yang (terpaksa) mengikuti isu-isu yang muncul dalam pemilihan ini, terlepas dari kepastian mengikuti pemilihan yang sangat bergantung pada selesainya thesis perkuliahan, terlihat bahwa ketiga calon memiliki isunya tersendiri. Sang petahana yang terkena isu SARA selaku minoritas ganda dan sering terlihat naik pitak tanpa menyaring kata-katanya, sang (mantan) menteri pendidikan “santun”(?) yang bergabung dengan (mantan) lawannya saat pemilu dahulu terlepas dari prejudice negatif yang dahulu mereka miliki terhadap satu sama lain, dan juga anak mantan petinggi negara yang keluar dari karir militernya yang dapat dikatakan sangat gemilang sehingga mengemukakan spekulasi adanya eksploitasi, eh, pengaruh dari keluarga. Perlu diperhatikan bahwa banyaknya kata mantan di paragraf ini tidak mengindikasikan apapun selain kenyataan bahwa penulis merupakan sosok yang tidak terlalu (berminat) mengikuti isu-isu perpolitikan sejak didera sibuknya perkuliahan dan pertugasan. Mohon jangan disamakan dengan pembaca yang sulit untuk move on dari masa lalunya.
Di era yang sekarang ini, mereka yang mengisi lini masa dikelompokkan entah oleh siapa menjadi dua kubu secara garis besar: lovers dan haters. Katanya sih yang satu adalah pecinta segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon, sementara yang satunya adalah yang membenci segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon. Katanya. Tentu dalam praktiknya ada beda dengan teori, karena yang muncul di lini masaku adalah lovers merujuk ke segala postingan yang mendukung satu calon sementara haters merujuk ke segala postingan yang mengritisi atau menjatuhkan satu calon, terlepas dari sikap sang pencipta postingan tersebut.
Begitu pun dengan postingan positif dari sang mantan menteri, dimana terlihat foto ketiga pasangan calon pemimpin daerah tersenyum pada kamera saat melakukan swa-foto bersama saat akan melakukan pemeriksaan kesehatan. Di media sosial yang kuikuti terlihat bahwa komentar-komentar yang muncul merupakan komentar kekecewaan akibat mundurnya beliau dari kementerian dan terjun ke dunia politik yang katanya bukan tempatnya orang “baik”. Bukan berarti para calon yang lain tidak memiliki komentar miringnya tersendiri, sebagaimana komentar menyayangkan karir bagi si mantan tentara, seolah mereka yang menjalankan tidak memberikan pemikiran yang mendalam terhadap hidup dan impiannya. Pun, sang petahana kelihatannya sudah kebal terhadap julukan kafir dan tuduhan antek asing yang sering disematkan padanya.
Sayangnya, sikap para calon tidaknya mencerminkan sikap para pengikutnya. Yang dijuluki haters dengan lantangnya meneriakkan kejelekan satu calon, yang sumbernya belum tentu kredibel juga dalam melaporkan, bisa jadi malah situs satir atau cerita fiktif yang dijadikan rujukan. Yang dijuluki lovers pun tidak mau kalah, melantangkan komentarnya dengan caps lock meyakinkan pilihannya pasti lah yang benar. Dunia maya adalah arena bagi mereka mengadu komentar, yang tak jarang meremehkan mereka yang berbeda dan memaksakan untuk mengikuti kehendak sang pengomentar. Jelas hal-hal seperti ini merusak semangat orang-orang yang membuatku akun media sosial untuk melihat postingan populer di akun 9gag sepertiku.
Mungkin aku bukan orang yang terlalu peduli pada isu ini. Toh belum tentu aku bisa mengikuti pemilihan mengingat tanggungjawab studiku masih belum selesai. Terlebih, tanpa berniat mendiskreditkan pentingnya peranan pemimpin, aku masih menganggap pentingnya sinergi dengan beragama golongan masyarakat adalah apa yang bisa memajukan sebuah daerah. Dan menggolong-golongkan yang sudah tergolong-golong ini malah menambah remit permasalahan.
Melihat kembali foto bersama ketiga pasang bakal calon, mungkin ini saat yang tepat untuk merefleksikan suatu hal.

Mengingat persatuan adalah salah satu dasar negara, perlukah kita memecah belah masyarakat dengan meremehkan perspektif orang lain dan memaksakan opini diri? Juga, mulai menghargai apa yang para tokoh pilih dalam menjalani kehidupanku, mungkin. Toh, dia yang akan menjalani hidupnya. Bukan kita. Dan pencalonan diri bukanlah sebuah keburukan yang harus dihindari, kan?

Selamat Memperbaharui Tahun!

Selamat memperbaharui tahun!

Karena faktanya, bumi selalu mengorbit pada matahari, dan tidak terlihat peduli sedikit pun. Kita saja yang berusaha memperbaharui angka tahunnya, berusaha agar kita tidak kehilangan data dan mampu memprediksi segalanya. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan tidak mengulang kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya tahun ini. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan berbagai resolusi dan janji bagi diri yang kita terapkan pada diri kita di awal tahun ini. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Karena terlepas dari tahun berapapun ini, tidak banyak yang berubah dari manusia selain usianya, setidaknya selama manusia tersebut berusaha memperbaiki dirinya sendiri.

Selamat memperbaharui tahun!

Menemukan Keseimbangan

Menemukan keseimbangan yang tepat adalah hal terpenting dalam perkembangan, apapun kasusnya, baik dalam diri sendiri, anak kecil, masyarakat, ataupun makhluk hidup secara keseluruhan.

Seperti analogi kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong untuk menguatkan sayapnya, terlalu banyak bantuan dapat mematikan individu dengan menghalanginya untuk berkembang dan mempelajari keahlian-keahlian tertentu, menjadikannya sangat tidak siap untuk menghadapi dunia nyata saat bantuan yang selalu diberikan menghilang. Di sisi lain, tiadanya bantuan dan dukungan dapat mematahkan semangat dan menghilangkan harapan, terlebih jika pada akhirnya sang makhluk berpikir bahwa kelihatannya apa yang dia lakukan mustahil memang, toh pilihan untuk berpindah jalan selalu terbuka.

Terlalu mementingkan orang lain akan menyebabkan terlalu banyak hal yang harus dikorbankan dan emosi yang perlu ditahan dalam diri, namun terlalu mementingkan diri sendiri pun akan menyebabkan orang lain menjauh, yang dapat menutup beberapa pintu rezeki.

Terlalu bebas dapat menjadikan seseorang tidak punya tujuan, atau tidak tahu aturan. Seperti blog ini, misalnya. Topik yang dibahas asal, mengikuti apa yang ada di pikiran saja, dan entah jika ada aturan dunia maya yang dilanggar. Tapi terlalu terkekang juga mematikan inisiatif dan kreativitas. Seperti aku, yang lebih memilih untuk berhenti menulis kalau tidak bisa bebas, entah dengan penyetiran topik bahasan atau berbagai hal lainnya, dengan berbagai alasan ataupun bualan. Oke, mungkin memang topik bahasan perlu ditambah agar lebih banyak manfaat yang dapat dihasilkan, tapi persetan dengan keinginan pasar ataupun bahan jualan, apa untungnya menjual kepalsuan, membunuh karakter demi keuntungan?

Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan? Hal yang berlebihan dapat menimbulkan kemuakan. Setidaknya bagiku. Muak saja dengan berbagai standar yang terlalu diskriminatif dan memberikan cap, topik ini layak tulis, topik itu sampah, yang ini mahasiswa berprestasi, yang itu mahasiswa tidak berguna. Muak saja dengan dunia yang terlalu penuh dengan bualan dan kebohongan, lakukan ini untuk menambah nilai jual, sembunyikan borok itu agar memperbesar keuntungan, orang-orang tidak peduli dengan kemunafikan, nilai moral sudah tidak relevan. Muak saja dengan strata sosial, temui si ini agar urusan itu dipermudah, jangan kontak dengan si itu agar nama baik terjaga. Muak saja dengan masyarakat, yang kaya punya privasi untuk menikmati berbagai fasilitas, yang berkecukupan harus menerima kenyataan bahwa terjebak dalam rutinitas, yang miskin harus menerima nasib dan mempersiapkan diri untuk tergilas. Yang mengaku beragama sibuk berdoa di tempat ibadahnya, yang mengaku cendekia asyik sendiri dengan data dan teorinya, yang mengaku wakil rakyat lupa akan janji-janjinya, yang mengaku mahasiswa sibuk dengan teman-teman dan tugas-tugasnya, kebanyakan orang sibuk sendiri dengan urusannya. Ada, tapi tidak banyak yang peduli dan beraksi memperbaiki nasib sesamanya, seolah dengan bayar pajak kewajiban sudah lepas, fakir miskin dan anak terlantar sudah ditanggung negara. Oh, bahkan bayar pajak pun tidak semua taat. Hebat. Muak saja dengan segala aturan, alasan, dan mungkin bualan yang meminimalisir manfaat yang dapat diberikan, kalau begini resiko yang berupa skenario perandaian yang entah berapa besar kemungkinan terjadinya begitu lah, berargumen suatu hal tidak feasible tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan lah, ah, sudah lah. Toh kemuakan tidak akan mengubah pola pikir, meski mungkin juga yang membaca berminat untuk mengoreksi diri.

Uniknya, banyak orang tahu tapi tetap saja melakukan hal secara berlebihan. Kritik terhadap oknum tertentu yang berlebih, misalnya, terlebih jika tidak disertai solusi atau aksi untuk memperbaiki kondisi, hanya menghasilkan kontroversi dan debat kusir tanpa arti. Ketergantungan berlebih terhadap subsidi, misalnya, seolah rezeki hanya dapat diperoleh melalui subsidi, seolah kerja keras sudah kehilangan arti. Kebencian atau diskriminasi terhadap kaum atau pendapat lain, misalnya, seolah semua harus sama dan perbedaan adalah nista.

Memang, dapat tidak sama dengan pasti. Berapa besar kadar yang tepat agar semuanya seimbang, entah, tugas kita untuk mencaritahu, atau setidaknya mencoba menjaga kadarnya. Seperti tulisan-tulisan di blog ini misalnya. Mencoba bercerita dan memberi makna, memberitahu apa yang dirasa sembari menunjukkan yang perlu dibenahi yang mana. Bagi orang-orang yang tidak peduli, memang tulisan-tulisan hanya celotehan yang gagal dalam tujuannya. Tapi jika mereka tidak peduli, untuk apa juga kupedulikan? Jelas kepedulian yang kuberikan akan menjadi tidak seimbang dengan kepedulian mereka.

Berbuat salah lah, cobalah hal baru, tak usahlah berpikir terlalu jauh tentang masa depan, bertingkahlah semaunya, ikutilah beberapa masukan dan abaikanlah sisanya, hadapilah konsekuensinya dan belajarlah dari segalanya. Temukan keseimbangan, itu intinya.

Karya


Enchanted-Owl City

Lagu yang ditemukan belum lama ini saat sedang mengikuti serial Hyouka. It’s a bit of romance, but I really like how it shows a simple detective story. This shows proved that you don’t always have to show a murder to create a good mystery. Oke, agar disayangkan bagian misterinya tidak tergambar di dalam karya fan ini, tapi musiknya lumayan juga. Dan, menemui anime yang sederhana dalam bercerita seperti Hyouka saat ini mungkin tidak terlalu mudah. Anime recommended lainnya: Kino no Tabi (Kino’s Journey), kisah tentang perjalanan Kino bersama sepeda motornya, Hermes, ke berbagai negeri.

Menemukan informasi menarik saat mencari lagu ini. Lagu ini merupakan aransemen dari lagu berjudul sama karya penyanyi lain, yang dibuat untuk menyampaikan jawaban dan pesan kepada penyanyi tersebut. Jawaban dan pesan dalam sebuah karya.

Mengingat sekarang sedang ada beberapa kebijakan pemerintah yang ramai diperbincangkan dan dipertanyakan, jadi terpikir, kenapa tidak menjawab dengan karya? Bisa dengan mengaransemen musik yang mengkritisi, menciptakan hal yang membantu beradaptasi, mengembangkan teknologi dan lain sebagainya untuk kehidupan yang lebih baik?

Setidaknya jauh lebih menyenangkan melihat hal itu dibandingkan dengan perdebatan tanpa dasar dengan sumber fakta yang diragukan, bukan?

Random: Kekhawatiran

“Kawan2 mohon doanya, biar lamaran saya diterima oleh gadis idaman saya malam ini ya.
Beneran minta bantuan doa, terutama yang punya hubungan dekat dgn Allah.
Jazaakumullaah!”
“Minta tolong doain saya jd org yg soleh, dan dia jd wanita solehah. Kalau diterima agar dilancarkan urusan pernikahannya dan setelah menikah punya keterunan yg soleh dan solehah.
Jazaakumullaah!”

Message di sebuah grup, dikirim dari sahabat yang lebih tua enam bulan, lalalalalalalalalalalalalalala. Yang dikirim tidak berapa lama dari pesan curhat seorang sahabat yang khawatir tidak mendapat pasangan. Entah mengapa jadi merasa salah angkatan, perasaan yang telah lama hilang sejak memutuskan memanggil kawan sma di kelas sepuluh yang lebih tua tanpa embel-embel “kak” karena terasa aneh setelah lulus dari akselerasi -_-

Oke, aku tahu cepat atau lambat akan dapat pesan serupa, terlepas dalam bentuk curhatan, permohonan doa atau langsung dalam bentuk undangan. Tapi agak mempertanyakan kenapa sekarang, saat baru merasa diusir dari kampus karena muka-muka familiar mulai menghilang, untuk membuatku merasa terusir dari dunia jomblo juga. Seperti kata Calvin, “That’s one remarkable thing about life: it never get so bad that it couldn’t get worse.” -_-

Agak unik apa yang dilakukan otak saat recovery setelah bekerja dalam waktu lama. Baru saja sidang kamis lalu, mengurus persyaratan wisuda–yang awalnya terkesan sulit karena masalah administrasi–jumat lalu, mengikuti pelatihan kebencanaan sabtu lalu, membantu junior mengadakan pelatihan mengajar ahad lalu, dan secara teknis tidak memiliki kesibukan sama sekali hingga saat ini. Di saat sedang terpikir tidak bergunanya diri saat ini, melihat teman-teman yang sudah mendapat pekerjaan, melanjutkan studi, dan bahkan mengirim pesan seperti diatas, seolah membenarkan pemikiran negatif yang telah ada, hebat -_-

Bukannya nyampah sih, saat ini juga aku harusnya mencari informasi studi dan beasiswa serta belajar bahasa untuk persiapan sertifikasi kalau ingin melanjutkan studi di luar negeri. Sudah ada beberapa brosur, beberapa jurusan dan universitas hasil googling dan beberapa keterangan beasiswa, yang sama sekali tidak kubuka sejak waktuku luang akibat distraksi dari game dan film di laptop yang selama ini tersegel. Oke, itu berarti aku nyampah. Menyebalkan saat usaha untuk menjustifikasi dan memotivasi diri berakhir dengan kondisi lebih menyalahkan diri seperti ini :/

Tidak berminat untuk hidup di dunia serba cepat dimana semua dikebut seolah besok maut menjemput, tapi penasaran juga seharusnya kehidupan ini berlangsung secepat apa. Dan jadi terpikir, apa mungkin selama ini aku yang menjalani kehidupan selambat siput, sementara yang lain terus bekerja seulet semut ._.

Khawatir, waswas, entah akan apa. Pekerjaan, pasangan, masa depan, tabungan, kelihatannya selalu ada hal yang dapat dikhawatirkan manusia. Dan itu baru sebagian kecil kekhawatiran yang timbul setelah kekhawatiran akan wisuda tidak terbukti, aku bisa lulus dua setengah pekan lagi. Dan mungkin sebagian besar kekhawatiran yang terpikir saat ini pun tidak akan terbukti. Agak heran kenapa sering sekali terpikir demikian meski tau kenyataan, pertanda terikat pada dunia? Kelihatannya perlu mengikuti saran guruku dulu: baca An-Nas, mohon perlindungan dari perasaan waswas yang dibisikkan jin ataupun manusia.

Ah, sudah lah. Kelihatannya kalau dilanjutkan perasaan tidak berguna itu akan menjadi fungsi yang terus melakukan iterasi, nilainya akan terus bertambah besar selama prosesor masih beroperasi. Waktunya untuk berhenti dan mengistirahatkan diri, sembari berharap semuanya akan membaik suatu hari nanti. Cause to be fair, it also never get so good that it couldn’t get better, depend on what your focus is, right?

Rasa Takut

Kadang seseorang berdoa ke Allah memohon diberi yang terbaik untuk dia, dan saat Allah memberi yang terbaik untuknya, orang tadi memiliki kesedihan walau sedikit, karena yang terbaik untuknya bukan seperti yang dia harapkan.

Mengutip dari seorang senior, lumayan benar sih. Yap, sudah agak lama sampai ke tahap acceptance dalam 5 stages of grief, tapi baru mulai bisa berpikir jernih sekarang, setelah menghabiskan waktu lumayan lama di depan laptop dengan film dan update komik terbaru. Hahaha, ya sudah lah.

Dan sekarang jadi mempertanyakan kenapa harus lulus 4 tahun? Angkatanku mungkin salah satu anomali dalam sejarah program studi, dan tergolong taat aturan mengingat angkatan sebelumku meluluskan mahasiswa di bulan oktober tidak sebanyak tahun ini. Batas waktu untuk angkatan dibawahku (atau 2 angkatan dibawahku ya? Hm, entah, aku lupa) adalah 5 tahun, menyusut setahun dari batas waktu di angkatanku, yang juga menyusut setahun dibandingkan dengan angkatan swasta saat aku baru masuk kampus ini. Kelihatannya kita hidup di dunia yang serba cepat, dan kadang aku mempertanyakan, seberapa cepat sih kita perlu hidup? Dan sekarang jadi terpikir bahwa lulus terlambat bukan contoh yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kategori grief, kelihatannya aku hanya terbawa suasana saja. Toh setelah lulus pun rencanaku adalah istirahat setahun sembari mencari informasi dan bersiap untuk melanjutkan studi di luar negeri, dan kelihatannya itu tetap dapat kulakukan baik tanpa maupun dengan status mahasiswa. Meski memang terbawa suasana itu tidak sepenuhnya salah, setidaknya tugasku akhirnya selesai, bahaya jika aku mengabaikan tugasku terlalu lama, kan?

Aku bukan orang yang percaya pada pepatah “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dalam urusan dunia, siapa yang menjamin kita masih hidup saat harusnya kita bersenang-senang? Oke, beberapa berkata dunia itu penjara, namun bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menikmati keberadaan di dalam penjara, bukan? Setidaknya masih banyak hal yang bisa dipelajari, dilakukan, dan bahkan ditinggalkan. Menuntut ilmu bisa dilakukan dimana saja, penjara atau bukan, dan begitu pula berbuat baik dan meninggalkan cinderamata, meski yang ditinggalkan hanyalah hal seperti coretan asal di beberapa tembok atau dinding toilet umum, setidaknya ada yang bisa ditinggalkan bukan?

Dan sekarang agak terpikir, kelihatannya aku hanya takut. Takut pada ketidaktahuan apa yang akan terjadi jika terlambat lulus, takut akan tertinggal dari sahabat lainnya dalam hal studi dan karir, takut pada ketidakpastian akan masa depan. Kelihatannya aku perlu sering membaca Surat An-Nas, memohon perlindungan dari bisikan waswas yang dibisikkan jin dan manusia. Masa depan bisa dipersiapkan, namun hasilnya bagaimana bukan sepenuhnya urusan kita, bukan?

Tapi, terkait rasa takut, lumayan suka kutipan ini

Let me tell you about scared. Your heart is beating so hard, I can feel it through your hands. There is so much blood and oxygen pumping through your brain, it’s like rocket fuel. Right now you could run faster, and you could fight harder and jump higher than ever in your life, and you are so alert it’s like you can slow down time. What’s wrong with scared? Scared is a superpower–it’s your superpower

12th Doctor-Listen

Rasa takut normal untuk dimiliki, bahkan itu memberikan kekuatan lebih, setidaknya cukup kuat untuk menyelesaikan tugasku disini, hahaha. Tapi seperti kata Paman Ben di Spiderman,

With great power, comes great responsibilities

Kelihatannya rasa takut juga membebankan beberapa tanggungjawab kepada kita, bukan? 🙂

Yah, terlepas dari bagaimana hari esok, nikmati saja hari ini terlebih dahulu. Teringat perkataan Lao Tzu

If you are depressed you are living in the past.
If you are anxious you are living in the future.
If you are at peace you are living in the present.

Tambahan pengingat dari Dalai Lama

You are so anxious about the future that you do not enjoy the present. You therefore do not live in the present or the future. You live as if you are never going to die, and then die having never really lived.

Yah, tidak ada salahnya mencoba mengambil hikmah dari orang lain, setidaknya pengingat tambahan jika kepanikan melanda dan menyebabkan kita lupa bahwa hidup adalah ujian dan ada yang mengatur segalanya. But for now, just enjoy life in peace, eh? 😀

Crazy-Bahan Pemikiran

Musik apik, lirik epik.

Mempertanyakan logika dari kehidupan saat ini, salah satu lagu favorit dari Simple Plan.

If you open your eyes, you’ll see that something is wrong 

Salah satu lagu yang tepat untuk rehat sejenak dari Tugas Akhir, setidaknya menenangkan diri dengan mempertanyakan kebenaran sistem saat ini, mengingat memang ada beberapa hal yang agak absurd jika dipikir kembali.

Memang beberapa pohon tidak membentuk hutan, dan kejadian yang dibahas tidak dapat digeneralisir terjadi pada semua daerah di muka bumi. Namun, tetap ada beberapa pohon, kejadian itu terjadi, meski entah berapa banyak dan dimana.

 

Ah, sudah lah, mengingat batas waktu tinggal 3 hari, waktunya bekerja kembali 🙂

Random: Guru SMA

Bertemu kembali dengan guru-guru sma selalu punya kesan tersendiri, terlebih jika guru yang ditemui merupakan orang yang dianggap penting atau punya peranan krusial dalam perjalanan kehidupan. Dan begitulah kegiatanku kemarin, berkunjung ke rumah beberapa orang guru bersama para alumni lainnya. Menyenangkan juga mendengar kabar sma tercinta setelah lama ditinggalkan, dari kebijakan kepala sekolah baru hingga wacana akan kebijakan pemerintah provinsi di dunia pendidikan.

Sedikit menceritakan tentang SMAN 47 Jakarta, atau beberapa kawan menyebutnya Semi-MAN 47 Jakarta, entah karena apa. Kebetulan aku belum berkesempatan mengikuti kegiatan belajar di sma atau institusi sederajat lainnya untuk membuat perbandingan, mungkin itu hanya julukan dari beberapa sahabat yang belum terbiasa mengikuti pengajian. Memang dulu tiap jumat ada sesi khusus ceramah dan mengaji bagi muslim/ah, dan kabar terakhir yang kudengar adalah sekarang sesi itu dijadikan tiap hari oleh kepala sekolah yang baru, entah bagaimana jika kepala sekolahnya telah berganti lagi. Yah, itu urusan nanti.

Hm, apa lagi ya? Oh. Selain itu, tiap selesai shalat fardhu berjamaah, ada pembacaan hadits bergilir dari kitab Riyadush-Shalihin, entah siapa yang memulai tapi saat zamanku dulu umumnya anak rohis yang mengisi, sistemnya sederhana: siapa yang tercepat bangkit menuju mimbar dialah yang berkesempatan memilih bab hadits untuk dibacakan–sekaligus mengingatkan sesama muslim dalam kebenaran dan kesabaran. Dan saat bulan Ramadhan, atau kadang pada hari disunnahkannya berpuasa, jika masih ada sekelompok murid atau guru yang berada di lingkungan sekolah, biasanya mereka akan patungan untuk membeli makanan lalu memakannya bersama-sama di atas nampan. Makan berjamaah, mengingat makanan untuk dua orang cukup untuk bertiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan seterusnya. Meski mungkin bagi para anak lelaki dalam masa pertumbuhan, kegiatan ini dapat disalahartikan menjadi lomba-adu-cepat-makan-sebelum-jatahmu-dihabiskan-orang, atau mungkin juga kegiatan ini dilakukan untuk mendapat porsi lebih karena pemilik rumah makan seringkali berbaikhati jika pelanggannya membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, hahaha.

Oke, setelah dipikir kembali, julukan Semi-MAN mungkin agak terjustifikasi disini, hahaha. Entah bagaimana smaku saat ini, tapi aku lumayan senang masuk kesana di angkatan 2010. Memang ada juga beberapa siswa yang suka nongkrong, merokok, dan lain sebagainya, tapi mereka juga tak jarang terlibat di kegiatan serupa. Kadang jadi tenaga sukarela saat mengurus persiapan perayaan hari besar islam, kadang ikut-ikutan beraktivitas bersama. Yah, terlepas dari dimana tongkrongannya atau siapa sahabat dekatnya, apa salahnya berbuat kebaikan bersama-sama? Hanya karena seseorang melakukan perbuatan yang dicap negatif, bukan berarti dia tidak punya sisi positif kan? 🙂

Dan ini adalah cerita mengenai seorang guru di SMAN itu. Namanya Pak Ahnaf, nama yang lebih baik dari namaku, Hanif. Atau setidaknya itu tebakanku, analisis setelah mendengar penjelasan bahwa Akbar (Maha Besar) berasal dari kata Kabir (Besar), aku menebak bahwa itu merupakan contoh kalimat Superlative dalam Bahasa Arab. Hanya tebakan sayangnya, semoga bisa belajar Bahasa Arab setelah dua bahasa asing lain yang tengah kupelajari tersertifikasi baik, bismillaah 🙂

Satu kata untuk mendeskripsikan beliau: Baik. Oh, mungkin bisa ditambah satu kata lagi: Banget. Entah ya, kadang beberapa manusia yang kita temui sulit untuk dideskripsikan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, dan akan lebih sulit lagi jika kita membatasi keterbatasan itu, seperti meminta mendeskripsikannya dengan satu atau dua patah kata. Yah, mungkin memang sebagian manusia punya hobi untuk mempersulit diri sendiri. Terserah saja, toh aku hanya punya wewenang atas kehidupanku. Mungkin sedikit berharap jika aku akan mengikuti seleksi, entah seleksi apapun, tidak ada pertanyaan yang meminta mendeskripsikan sesuatu dalam beberapa kata, terlebih jika sesuatu itu merupakan makhluk kompleks seperti manusia.

Kemarin aku berkunjung ke rumahnya lagi. Kelihatannya sudah tidak lagi mengingatku, bukan hal yang aneh karena tiap tahun beliau perlu mengingat lebih dari 250 siswa sebagai penanggungjawab mata pelajaran agama di kelas 12. Kelihatannya beberapa senior yang datang bersamaku juga berpendapat demikian, hingga salah satu dari mereka berkata, “Meski bapak sudah tidak ingat saya lagi, saya akan tetap ingat bapak kok pak”. Berlebihan? Mungkin, tapi kelihatannya tidak sedikit dari para pengunjung yang sepakat akan kalimat tersebut, termasuk aku. Yang penting bukan apakah orang yang berperan penting dalam kehidupan kita mengingat kita atau tidak, mungkin dia punya peranan penting dalam hidup banyak manusia, atau mungkin juga dia menjadi peran penting dalam hidup kita tanpa sengaja, dan tidak perlu waktu lama untuk melupakannya. Pertanyaannya, masih ingatkah kita akan peranan penting dan jasa-jasa dari orang itu? Atau pertanyaan yang setingkat lebih sulit: Apa yang telah kita lakukan untuk membalas, atau meneruskan, kebaikan-kebaikan yang telah kita terima?

Beliau masih sama. Pembawaannya tenang, kata-kata dan nasihatnya mengena. Dan silaturahmi ke rumah beliau pun diisi dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal terkait agama. Masih ingat sebagian dari nasihatnya.

Saat sahabatku bertanya tentang sistem di sebuah perusahaan yang menyebabkan shalat jumat antar karyawannya digilir, beliau menjawab:
“Ati’ullaaha wa ati’urrasuula wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, dan taatilah RasulNya, dan pemimpin-pemimpin di antara kamu. Dan pemimpin-pemimpin di antara kamu, bukan dan ‘taatilah’ pemimpin-pemimpin di antara kamu, yang artinya ketaatan terhadap pemimpin itu relatif, salah satunya tergantung dari apa yang disuruh dikerjakan. Kemudian beliau meminta salah seorang sahabatku yang hafal 7 juz lebih untuk melanjutkan ayat “Alladzii khalaqal mawta wal hayaata…”, dari Surat Al-Mulk ayat 2, yang lanjutannya “liyabluwakum ayyukum ahsanu amala”. Kemudian beliau menjelaskan arti ayat tersebut, Allah menciptakan yang mati dan yang hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Yang mati, dan yang hidup, keduanya ujian untuk kita, untuk memeriksa siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Beliau juga berwasiat tentang kejujuran, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga”. Kali ini lupa dari pertanyaan apa tapi berhasil menemukan versi lengkapnya setelah bertanya pada master google, bagi yang penasaran silahkan buka http://salafy.or.id/blog/2012/04/08/ash-shidq-akhlaq-yang-akan-mengantarkan-ke-surga/

Isi dari sebuah nasihat memang penting, tapi penyampaiannya tidak kalah penting. Jika mengacu pada komik karya vbi djenggoten, maka isi dari sebuah nasihat ibarat sebuah berlian. Tapi jika berlian itu diberikan kepada seseorang dengan melenparnya hingga dia terluka, apakah orang itu sadar bahwa yang dilemparkan adalah berlian?

Baru beli buku baru, “The Five People You Meet In Heaven” karya Mitch Albom, setelah karyanya “Tuesday With Morrie” memberi banyak konsep pemikiran. Kali ini pun konsepnya menarik, “Ada lima orang yang akan kau temui di alam baka. Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu apa alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia”.

Mempertemukan dengan 5 orang untuk menjelaskan peranan seseorang di dunia. Yah, tiap makhluk memiliki peranannya tersendiri, tidak ada hal yang diciptakan dengan sia-sia. Mungkin tidak sedikit manusia yang mempertanyakan untuk apa mereka tercipta dan lain sebagainya. Sebagian mungkin memutuskan memberi makna sendiri pada hidup mereka. Yah, mungkin para muslim yang berilmu pun akan langsung menjawab bahwa manusia tercipta untuk menyembahNya. Tapi dari banyaknya yang mengetahui dan menyatakan, mungkin hanya Dia yang mengetahui berapa banyak yang bersungguh-sungguh menyatakannya dengan melibatkan tindakannya–entah tindakan seperti apa yang benar.

Dan sekarang jadi agak penasaran, sebagaimana beliau yang mungkin mengetahui bahwa pada gambaran besarnya beliau bertugas untuk mengajarkan dan mengenalkan anak muda terhadap agama, kira-kira dimana perananmu, dan dimana perananku dalam gambaran besar? Kupikir kita tidak perlu ke alam baka terlebih dahulu untuk mengetahuinya cukup memulainya dengan membuat beberapa pilihan, sejak saat ini 🙂