Rasa Takut

Kadang seseorang berdoa ke Allah memohon diberi yang terbaik untuk dia, dan saat Allah memberi yang terbaik untuknya, orang tadi memiliki kesedihan walau sedikit, karena yang terbaik untuknya bukan seperti yang dia harapkan.

Mengutip dari seorang senior, lumayan benar sih. Yap, sudah agak lama sampai ke tahap acceptance dalam 5 stages of grief, tapi baru mulai bisa berpikir jernih sekarang, setelah menghabiskan waktu lumayan lama di depan laptop dengan film dan update komik terbaru. Hahaha, ya sudah lah.

Dan sekarang jadi mempertanyakan kenapa harus lulus 4 tahun? Angkatanku mungkin salah satu anomali dalam sejarah program studi, dan tergolong taat aturan mengingat angkatan sebelumku meluluskan mahasiswa di bulan oktober tidak sebanyak tahun ini. Batas waktu untuk angkatan dibawahku (atau 2 angkatan dibawahku ya? Hm, entah, aku lupa) adalah 5 tahun, menyusut setahun dari batas waktu di angkatanku, yang juga menyusut setahun dibandingkan dengan angkatan swasta saat aku baru masuk kampus ini. Kelihatannya kita hidup di dunia yang serba cepat, dan kadang aku mempertanyakan, seberapa cepat sih kita perlu hidup? Dan sekarang jadi terpikir bahwa lulus terlambat bukan contoh yang tepat untuk dimasukkan ke dalam kategori grief, kelihatannya aku hanya terbawa suasana saja. Toh setelah lulus pun rencanaku adalah istirahat setahun sembari mencari informasi dan bersiap untuk melanjutkan studi di luar negeri, dan kelihatannya itu tetap dapat kulakukan baik tanpa maupun dengan status mahasiswa. Meski memang terbawa suasana itu tidak sepenuhnya salah, setidaknya tugasku akhirnya selesai, bahaya jika aku mengabaikan tugasku terlalu lama, kan?

Aku bukan orang yang percaya pada pepatah “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” dalam urusan dunia, siapa yang menjamin kita masih hidup saat harusnya kita bersenang-senang? Oke, beberapa berkata dunia itu penjara, namun bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menikmati keberadaan di dalam penjara, bukan? Setidaknya masih banyak hal yang bisa dipelajari, dilakukan, dan bahkan ditinggalkan. Menuntut ilmu bisa dilakukan dimana saja, penjara atau bukan, dan begitu pula berbuat baik dan meninggalkan cinderamata, meski yang ditinggalkan hanyalah hal seperti coretan asal di beberapa tembok atau dinding toilet umum, setidaknya ada yang bisa ditinggalkan bukan?

Dan sekarang agak terpikir, kelihatannya aku hanya takut. Takut pada ketidaktahuan apa yang akan terjadi jika terlambat lulus, takut akan tertinggal dari sahabat lainnya dalam hal studi dan karir, takut pada ketidakpastian akan masa depan. Kelihatannya aku perlu sering membaca Surat An-Nas, memohon perlindungan dari bisikan waswas yang dibisikkan jin dan manusia. Masa depan bisa dipersiapkan, namun hasilnya bagaimana bukan sepenuhnya urusan kita, bukan?

Tapi, terkait rasa takut, lumayan suka kutipan ini

Let me tell you about scared. Your heart is beating so hard, I can feel it through your hands. There is so much blood and oxygen pumping through your brain, it’s like rocket fuel. Right now you could run faster, and you could fight harder and jump higher than ever in your life, and you are so alert it’s like you can slow down time. What’s wrong with scared? Scared is a superpower–it’s your superpower

12th Doctor-Listen

Rasa takut normal untuk dimiliki, bahkan itu memberikan kekuatan lebih, setidaknya cukup kuat untuk menyelesaikan tugasku disini, hahaha. Tapi seperti kata Paman Ben di Spiderman,

With great power, comes great responsibilities

Kelihatannya rasa takut juga membebankan beberapa tanggungjawab kepada kita, bukan? 🙂

Yah, terlepas dari bagaimana hari esok, nikmati saja hari ini terlebih dahulu. Teringat perkataan Lao Tzu

If you are depressed you are living in the past.
If you are anxious you are living in the future.
If you are at peace you are living in the present.

Tambahan pengingat dari Dalai Lama

You are so anxious about the future that you do not enjoy the present. You therefore do not live in the present or the future. You live as if you are never going to die, and then die having never really lived.

Yah, tidak ada salahnya mencoba mengambil hikmah dari orang lain, setidaknya pengingat tambahan jika kepanikan melanda dan menyebabkan kita lupa bahwa hidup adalah ujian dan ada yang mengatur segalanya. But for now, just enjoy life in peace, eh? 😀

Crazy-Bahan Pemikiran

Musik apik, lirik epik.

Mempertanyakan logika dari kehidupan saat ini, salah satu lagu favorit dari Simple Plan.

If you open your eyes, you’ll see that something is wrong 

Salah satu lagu yang tepat untuk rehat sejenak dari Tugas Akhir, setidaknya menenangkan diri dengan mempertanyakan kebenaran sistem saat ini, mengingat memang ada beberapa hal yang agak absurd jika dipikir kembali.

Memang beberapa pohon tidak membentuk hutan, dan kejadian yang dibahas tidak dapat digeneralisir terjadi pada semua daerah di muka bumi. Namun, tetap ada beberapa pohon, kejadian itu terjadi, meski entah berapa banyak dan dimana.

 

Ah, sudah lah, mengingat batas waktu tinggal 3 hari, waktunya bekerja kembali 🙂

Random: Guru SMA

Bertemu kembali dengan guru-guru sma selalu punya kesan tersendiri, terlebih jika guru yang ditemui merupakan orang yang dianggap penting atau punya peranan krusial dalam perjalanan kehidupan. Dan begitulah kegiatanku kemarin, berkunjung ke rumah beberapa orang guru bersama para alumni lainnya. Menyenangkan juga mendengar kabar sma tercinta setelah lama ditinggalkan, dari kebijakan kepala sekolah baru hingga wacana akan kebijakan pemerintah provinsi di dunia pendidikan.

Sedikit menceritakan tentang SMAN 47 Jakarta, atau beberapa kawan menyebutnya Semi-MAN 47 Jakarta, entah karena apa. Kebetulan aku belum berkesempatan mengikuti kegiatan belajar di sma atau institusi sederajat lainnya untuk membuat perbandingan, mungkin itu hanya julukan dari beberapa sahabat yang belum terbiasa mengikuti pengajian. Memang dulu tiap jumat ada sesi khusus ceramah dan mengaji bagi muslim/ah, dan kabar terakhir yang kudengar adalah sekarang sesi itu dijadikan tiap hari oleh kepala sekolah yang baru, entah bagaimana jika kepala sekolahnya telah berganti lagi. Yah, itu urusan nanti.

Hm, apa lagi ya? Oh. Selain itu, tiap selesai shalat fardhu berjamaah, ada pembacaan hadits bergilir dari kitab Riyadush-Shalihin, entah siapa yang memulai tapi saat zamanku dulu umumnya anak rohis yang mengisi, sistemnya sederhana: siapa yang tercepat bangkit menuju mimbar dialah yang berkesempatan memilih bab hadits untuk dibacakan–sekaligus mengingatkan sesama muslim dalam kebenaran dan kesabaran. Dan saat bulan Ramadhan, atau kadang pada hari disunnahkannya berpuasa, jika masih ada sekelompok murid atau guru yang berada di lingkungan sekolah, biasanya mereka akan patungan untuk membeli makanan lalu memakannya bersama-sama di atas nampan. Makan berjamaah, mengingat makanan untuk dua orang cukup untuk bertiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan seterusnya. Meski mungkin bagi para anak lelaki dalam masa pertumbuhan, kegiatan ini dapat disalahartikan menjadi lomba-adu-cepat-makan-sebelum-jatahmu-dihabiskan-orang, atau mungkin juga kegiatan ini dilakukan untuk mendapat porsi lebih karena pemilik rumah makan seringkali berbaikhati jika pelanggannya membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, hahaha.

Oke, setelah dipikir kembali, julukan Semi-MAN mungkin agak terjustifikasi disini, hahaha. Entah bagaimana smaku saat ini, tapi aku lumayan senang masuk kesana di angkatan 2010. Memang ada juga beberapa siswa yang suka nongkrong, merokok, dan lain sebagainya, tapi mereka juga tak jarang terlibat di kegiatan serupa. Kadang jadi tenaga sukarela saat mengurus persiapan perayaan hari besar islam, kadang ikut-ikutan beraktivitas bersama. Yah, terlepas dari dimana tongkrongannya atau siapa sahabat dekatnya, apa salahnya berbuat kebaikan bersama-sama? Hanya karena seseorang melakukan perbuatan yang dicap negatif, bukan berarti dia tidak punya sisi positif kan? 🙂

Dan ini adalah cerita mengenai seorang guru di SMAN itu. Namanya Pak Ahnaf, nama yang lebih baik dari namaku, Hanif. Atau setidaknya itu tebakanku, analisis setelah mendengar penjelasan bahwa Akbar (Maha Besar) berasal dari kata Kabir (Besar), aku menebak bahwa itu merupakan contoh kalimat Superlative dalam Bahasa Arab. Hanya tebakan sayangnya, semoga bisa belajar Bahasa Arab setelah dua bahasa asing lain yang tengah kupelajari tersertifikasi baik, bismillaah 🙂

Satu kata untuk mendeskripsikan beliau: Baik. Oh, mungkin bisa ditambah satu kata lagi: Banget. Entah ya, kadang beberapa manusia yang kita temui sulit untuk dideskripsikan dengan perbendaharaan kata yang terbatas, dan akan lebih sulit lagi jika kita membatasi keterbatasan itu, seperti meminta mendeskripsikannya dengan satu atau dua patah kata. Yah, mungkin memang sebagian manusia punya hobi untuk mempersulit diri sendiri. Terserah saja, toh aku hanya punya wewenang atas kehidupanku. Mungkin sedikit berharap jika aku akan mengikuti seleksi, entah seleksi apapun, tidak ada pertanyaan yang meminta mendeskripsikan sesuatu dalam beberapa kata, terlebih jika sesuatu itu merupakan makhluk kompleks seperti manusia.

Kemarin aku berkunjung ke rumahnya lagi. Kelihatannya sudah tidak lagi mengingatku, bukan hal yang aneh karena tiap tahun beliau perlu mengingat lebih dari 250 siswa sebagai penanggungjawab mata pelajaran agama di kelas 12. Kelihatannya beberapa senior yang datang bersamaku juga berpendapat demikian, hingga salah satu dari mereka berkata, “Meski bapak sudah tidak ingat saya lagi, saya akan tetap ingat bapak kok pak”. Berlebihan? Mungkin, tapi kelihatannya tidak sedikit dari para pengunjung yang sepakat akan kalimat tersebut, termasuk aku. Yang penting bukan apakah orang yang berperan penting dalam kehidupan kita mengingat kita atau tidak, mungkin dia punya peranan penting dalam hidup banyak manusia, atau mungkin juga dia menjadi peran penting dalam hidup kita tanpa sengaja, dan tidak perlu waktu lama untuk melupakannya. Pertanyaannya, masih ingatkah kita akan peranan penting dan jasa-jasa dari orang itu? Atau pertanyaan yang setingkat lebih sulit: Apa yang telah kita lakukan untuk membalas, atau meneruskan, kebaikan-kebaikan yang telah kita terima?

Beliau masih sama. Pembawaannya tenang, kata-kata dan nasihatnya mengena. Dan silaturahmi ke rumah beliau pun diisi dengan sesi tanya jawab tentang hal-hal terkait agama. Masih ingat sebagian dari nasihatnya.

Saat sahabatku bertanya tentang sistem di sebuah perusahaan yang menyebabkan shalat jumat antar karyawannya digilir, beliau menjawab:
“Ati’ullaaha wa ati’urrasuula wa ulil amri minkum. Taatilah Allah, dan taatilah RasulNya, dan pemimpin-pemimpin di antara kamu. Dan pemimpin-pemimpin di antara kamu, bukan dan ‘taatilah’ pemimpin-pemimpin di antara kamu, yang artinya ketaatan terhadap pemimpin itu relatif, salah satunya tergantung dari apa yang disuruh dikerjakan. Kemudian beliau meminta salah seorang sahabatku yang hafal 7 juz lebih untuk melanjutkan ayat “Alladzii khalaqal mawta wal hayaata…”, dari Surat Al-Mulk ayat 2, yang lanjutannya “liyabluwakum ayyukum ahsanu amala”. Kemudian beliau menjelaskan arti ayat tersebut, Allah menciptakan yang mati dan yang hidup untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Yang mati, dan yang hidup, keduanya ujian untuk kita, untuk memeriksa siapa di antara kita yang paling baik amalnya.

Beliau juga berwasiat tentang kejujuran, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga”. Kali ini lupa dari pertanyaan apa tapi berhasil menemukan versi lengkapnya setelah bertanya pada master google, bagi yang penasaran silahkan buka http://salafy.or.id/blog/2012/04/08/ash-shidq-akhlaq-yang-akan-mengantarkan-ke-surga/

Isi dari sebuah nasihat memang penting, tapi penyampaiannya tidak kalah penting. Jika mengacu pada komik karya vbi djenggoten, maka isi dari sebuah nasihat ibarat sebuah berlian. Tapi jika berlian itu diberikan kepada seseorang dengan melenparnya hingga dia terluka, apakah orang itu sadar bahwa yang dilemparkan adalah berlian?

Baru beli buku baru, “The Five People You Meet In Heaven” karya Mitch Albom, setelah karyanya “Tuesday With Morrie” memberi banyak konsep pemikiran. Kali ini pun konsepnya menarik, “Ada lima orang yang akan kau temui di alam baka. Masing-masing dari kami ada di kehidupanmu karena suatu sebab. Kau mungkin tidak tahu apa alasannya pada saat itu, dan itulah sebabnya ada alam baka. Untuk mengerti tentang kehidupanmu di dunia”.

Mempertemukan dengan 5 orang untuk menjelaskan peranan seseorang di dunia. Yah, tiap makhluk memiliki peranannya tersendiri, tidak ada hal yang diciptakan dengan sia-sia. Mungkin tidak sedikit manusia yang mempertanyakan untuk apa mereka tercipta dan lain sebagainya. Sebagian mungkin memutuskan memberi makna sendiri pada hidup mereka. Yah, mungkin para muslim yang berilmu pun akan langsung menjawab bahwa manusia tercipta untuk menyembahNya. Tapi dari banyaknya yang mengetahui dan menyatakan, mungkin hanya Dia yang mengetahui berapa banyak yang bersungguh-sungguh menyatakannya dengan melibatkan tindakannya–entah tindakan seperti apa yang benar.

Dan sekarang jadi agak penasaran, sebagaimana beliau yang mungkin mengetahui bahwa pada gambaran besarnya beliau bertugas untuk mengajarkan dan mengenalkan anak muda terhadap agama, kira-kira dimana perananmu, dan dimana perananku dalam gambaran besar? Kupikir kita tidak perlu ke alam baka terlebih dahulu untuk mengetahuinya cukup memulainya dengan membuat beberapa pilihan, sejak saat ini 🙂

Pemenang Ramadhan

Aku selalu menyukai fakta bahwa perjalanan mudikku berlawanan arah dengan perjalanan mudik orang-orang indonesia pada umumnya, atau orang-orang pulau jawa pada khususnya. Seperti saat ini, saat travel yang kunaiki bebas melaju di sepanjang jalan tol jakarta-cikampek ke arah jakarta tanpa ada hambatan berarti, sembari melihat ke lajur arah cikampek yang sedang pamer–padat merayap–karena banyaknya pintu tol kalah jauh dengan banyaknya kendaraan disana, mungkin ada beberapa yang meratapi nasibnya terjebak dalam kendaraan.

Aku tahu bahwa idul fitri merupakan hari kemenangan. Tapi jika ditanya menang dari apa tepatnya, aku juga bingung bagaimana menjawabnya. Yang jelas kita menang, setidaknya begitulah katanya, titik. Entah apakah kita benar-benar menang, atau jangan-jangan kita hanya mengklaim bahwa diri kita pemenang. Seperti yang dilakukan oleh kedua calon presiden saat hitung cepat pemilihan umum mengeluarkan hasilnya, dimana keduanya mengklaim dirinya pemenang padahal hanya sebagian yang benar-benar menang, entah berapa jumlahnya.

Hm, katanya menang dari hawa nafsu ya? Entah, di beberapa restoran pernah kulihat orang yang berbuka dengan makanan yang banyaknya tak terkira–entah karena lapar sungguhan atau hanya lapar mata–yang mungkin tidak menunjukkan keberhasilan memenangkan pertandingan dengan hawa nafsu.

Contoh nafsu lainnya? Materi. Lihat saja masjid di sepuluh malam terakhir. Jangankan bertanya berapa banyak manusia yang i’tikaf, lihatlah berapa banyak yang shalat isya berjamaah, dan coba bandingkan jumlahnya dengan jumlah manusia yang berduyun-duyun menuju mall karena tertarik diskon sebagaimana laron mengerubungi cahaya. Yaah, atau setidaknya bandingkan saja dengan jumlah manusia yang shalat isya berjamaah di malam pertama ramadhan. Entah jika bisa disebut menang.

Hm, menang dari apa lagi ya? Oh, Jerman menang dari argentina. Memang itu bukan kemenangan yang berkaitan Ramadhan–eh, atau jangan-jangan ada kaitannya ya?–tapi setidaknya melihat mereka menyatakan bahwa mereka menang itu nyaman dilihat, karena setidaknya kita semua tahu mereka memang menang.

Mungkin sekarang kita perlu menentukan definisi dari menang, atau setidaknya menentukan bagaimana ciri orang yang menang. Jika ciri orang yang menang adalah mampu bekerjasama dengan pemain satu tim untuk mengalahkan tim-tim musuh, wajarlah jika para pemain tim jerman disebut pemenang. Tapi apa ciri dari pemenang ramadhan?

Jika cirinya adalah menjadi lebih baik dalam standar tertentu, maka jadilah lebih baik dalam standar itu, dan kita menang. Jika cirinya adalah kebaikan yang dilakukan bertambah banyak, maka tambahlah kebaikan sebanyak mungkin, dan kita menang. Jika cirinya adalah derajat taqwa, maka bertaqwalah, dan (semoga) kita menang.

Setidaknya, mencoba menjadi pemenang lebih baik daripada mereka yang sibuk mengklaim dirinya pemenang tanpa bukti kan? 🙂

Di Bawah LangitMu

Baru sadar tampilan wordpress di laptop beda, hahaha.

Sedang suka dengan lagu ini, lumayan menentramkan hati, sangat berguna apalagi setelah melihat masih saja ada yang meributkan pemilihan presiden beberapa hari yang lalu. Sayang belum berhasil menemukan video klipnya yang official, hahaha.

Di Bawah LangitMu
Bersujud Semua
Memuji Memuja AsmaMu

Dan Bertasbih Semua
MakhlukMu Tunduk
Mengharap Cinta Dan KasihMu

Kadang aku ragu, benarkah kita semua mengharap cinta dan kasihNya? Kelihatannya selalu ada sengketa. Perkataan bahwa “Kubu ini lebih baik”, “Kubu ini lebih bersih”, “Kami lebih tegas”, “Kami lebih merakyat”, dan lain sebagainya diungkapkan berulang kali hingga entah mana yang benar. Kondisi yang berakhir dengan kedua kubu melakukan klaim tersendiri atas kemenangannya, di saat harusnya hanya ada satu kubu yang menang. Kelihatannya siapapun yang menang nanti kondisinya akan tidak mengenakkan. Mungkin saja malah akan timbul masalah baru, entah apakah kita memang mengusahakan cinta dan kasihNya atau malah mencoba menentang keputusan takdirNya dengan berbuat hal demikian.

Entah apa yang salah dengan politik, yah, memang itu bukan hal yang menyenangkan. Tidak paham politik pun menyebalkan, yah, meski jelas juga bahwa hanya memperhatikan fenomena yang terjadi saat pemilihan legislatif atau eksekutif tanpa peduli, mengritisi dan mengevaluasi kinerja saat yang terpilih bekerja tidak dapat disebut paham bagaimana politik dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Setidaknya mereka bisa paham karakteristik manusia negeri ini, seperti isu apa yang membuatnya sensitif, reaksi apa yang diberikan dalam kondisi seperti sedang bergerombol–apalagi jika bertemu dengan gerombolan pendukung dari kubu lain–atau sedang sendirian, bagaimana–dan sesantun apa–cara orang berpendapat,

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Kelihatannya ada sebagian makhluk yang mempersengketakan kekuasaan dan hak yang lupa akan janji untuk selalu mengagungkanMu dalam kondisi apapun, dengan ataupun tanpa kekuasaan dan hak yang berlebih itu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Umat yang kau utus kelihatannya lupa bahwa mereka diutus untuk seluruh semesta alam, bukan hanya untuk golongannya saja, sehingga mereka memperjuangkan golongan mereka itu dengan segala cara yang dapat menimbulkan pertengkaran dan memutuskan tali silaturahmi, hal yang Kau minta untuk dijaga agar tetap tersambung. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Saat ini sebagian besar umatMu ragu, tidak tahu golongan mana yang benar-benar memperjuangkan agamaMu dan golongan mana yang sekedar mencatut namaMu demi kepentingan pribadi mereka, dan saling mengklaim bahwa golongan lain lah yang menghinakan dan memperjualbelikan agamaMu bahkan sampai pada tahapan saling mengklaim bahwa golongan lain itu hanya berpura-pura menjadi golonganMu. Entah apa yang salah di bawah langitMu. Ada beberapa orang yang tidak segan meminta dipendekkan umurnya untuk menggugatMu atau rela mempermalukan diriNya jika hal yang Kau inginkan tidak sesuai dengan hal yang mereka inginkan.

Entah apa yang salah di bawah langitMu. Sulit untuk membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, yah, ada asap kereta api yang berwarna putih dan ada asap pabrik yang berwarna hitam, namun keduanya tetap asap. Jika melihatnya begitu, maka hitam dan putih sudah tidak ada bedanya, semuanya mematikan jika terlalu banyak dihirup, apalagi jika sampai terlena berada di tengah-tengahnya.

Atau, yah, mungkin juga ini bukanlah kesalahan. Mungkin ini ujian untuk orang-orang yang mengaku beriman. Bukankah Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ya’qub alaihissalam pun mengatakan bahwa yang berputusasa dari rahmatNya hanyalah orang-orang yang sesat?

Lakukanlah yang terbaik yang dapat dilakukan, dan biarkanlah skenarioNya berjalan, semoga semua akan menjadi lebih baik kelak di masa depan 🙂