Menghargai Pilihan

Lagi. Entah mengapa bursa kepemimpinan daerah selalu memiliki kemampuan magis yang unik dalam memenuhi lini masa akun media sosial. Dan tentu saja selaku warga Tangerang ber-KTP jakarta akibat dari kemalasan orangtua dalam mengurus perpindahan domisili, kelihatannya media sosial memerlukan filter untuk topik-topik pilkada ibukota. Kelihatannya opsi itu akan disambut oleh para pengguna media sosial. Kata “para” disini seminimal-minimalnya merujuk ke beberapa akun media sosialku, termasuk satu akun cadangan di salah satu media sosial yang dulu kubuat untuk meminimalisir bahaya yang mungkin terjadi dari cyber crime, yang tak kunjung kesampaian.
Tentu saja selaku pengguna akun media sosial yang (terpaksa) mengikuti isu-isu yang muncul dalam pemilihan ini, terlepas dari kepastian mengikuti pemilihan yang sangat bergantung pada selesainya thesis perkuliahan, terlihat bahwa ketiga calon memiliki isunya tersendiri. Sang petahana yang terkena isu SARA selaku minoritas ganda dan sering terlihat naik pitak tanpa menyaring kata-katanya, sang (mantan) menteri pendidikan “santun”(?) yang bergabung dengan (mantan) lawannya saat pemilu dahulu terlepas dari prejudice negatif yang dahulu mereka miliki terhadap satu sama lain, dan juga anak mantan petinggi negara yang keluar dari karir militernya yang dapat dikatakan sangat gemilang sehingga mengemukakan spekulasi adanya eksploitasi, eh, pengaruh dari keluarga. Perlu diperhatikan bahwa banyaknya kata mantan di paragraf ini tidak mengindikasikan apapun selain kenyataan bahwa penulis merupakan sosok yang tidak terlalu (berminat) mengikuti isu-isu perpolitikan sejak didera sibuknya perkuliahan dan pertugasan. Mohon jangan disamakan dengan pembaca yang sulit untuk move on dari masa lalunya.
Di era yang sekarang ini, mereka yang mengisi lini masa dikelompokkan entah oleh siapa menjadi dua kubu secara garis besar: lovers dan haters. Katanya sih yang satu adalah pecinta segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon, sementara yang satunya adalah yang membenci segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon. Katanya. Tentu dalam praktiknya ada beda dengan teori, karena yang muncul di lini masaku adalah lovers merujuk ke segala postingan yang mendukung satu calon sementara haters merujuk ke segala postingan yang mengritisi atau menjatuhkan satu calon, terlepas dari sikap sang pencipta postingan tersebut.
Begitu pun dengan postingan positif dari sang mantan menteri, dimana terlihat foto ketiga pasangan calon pemimpin daerah tersenyum pada kamera saat melakukan swa-foto bersama saat akan melakukan pemeriksaan kesehatan. Di media sosial yang kuikuti terlihat bahwa komentar-komentar yang muncul merupakan komentar kekecewaan akibat mundurnya beliau dari kementerian dan terjun ke dunia politik yang katanya bukan tempatnya orang “baik”. Bukan berarti para calon yang lain tidak memiliki komentar miringnya tersendiri, sebagaimana komentar menyayangkan karir bagi si mantan tentara, seolah mereka yang menjalankan tidak memberikan pemikiran yang mendalam terhadap hidup dan impiannya. Pun, sang petahana kelihatannya sudah kebal terhadap julukan kafir dan tuduhan antek asing yang sering disematkan padanya.
Sayangnya, sikap para calon tidaknya mencerminkan sikap para pengikutnya. Yang dijuluki haters dengan lantangnya meneriakkan kejelekan satu calon, yang sumbernya belum tentu kredibel juga dalam melaporkan, bisa jadi malah situs satir atau cerita fiktif yang dijadikan rujukan. Yang dijuluki lovers pun tidak mau kalah, melantangkan komentarnya dengan caps lock meyakinkan pilihannya pasti lah yang benar. Dunia maya adalah arena bagi mereka mengadu komentar, yang tak jarang meremehkan mereka yang berbeda dan memaksakan untuk mengikuti kehendak sang pengomentar. Jelas hal-hal seperti ini merusak semangat orang-orang yang membuatku akun media sosial untuk melihat postingan populer di akun 9gag sepertiku.
Mungkin aku bukan orang yang terlalu peduli pada isu ini. Toh belum tentu aku bisa mengikuti pemilihan mengingat tanggungjawab studiku masih belum selesai. Terlebih, tanpa berniat mendiskreditkan pentingnya peranan pemimpin, aku masih menganggap pentingnya sinergi dengan beragama golongan masyarakat adalah apa yang bisa memajukan sebuah daerah. Dan menggolong-golongkan yang sudah tergolong-golong ini malah menambah remit permasalahan.
Melihat kembali foto bersama ketiga pasang bakal calon, mungkin ini saat yang tepat untuk merefleksikan suatu hal.

Mengingat persatuan adalah salah satu dasar negara, perlukah kita memecah belah masyarakat dengan meremehkan perspektif orang lain dan memaksakan opini diri? Juga, mulai menghargai apa yang para tokoh pilih dalam menjalani kehidupanku, mungkin. Toh, dia yang akan menjalani hidupnya. Bukan kita. Dan pencalonan diri bukanlah sebuah keburukan yang harus dihindari, kan?

MBTI Personality

FamousPersonalityTypes_524daae7b512e-640x4480

Sumber: http://dailyinfographic.com/famous-personality-types-infographic

mbti-personality-types

Sumber: http://holykaw.alltop.com/how-myers-briggs-personality-profiles-relate-to-socio-economic-status-infographic

Haha, seru juga melihat-lihat beberapa data terkait kepribadian INFP. Baik dari tokoh ternama yang sejenis maupun berbagai statistik, sayang data yang diambil masih berfokus di Amerika sana.

Ada yang mau membuat statistik berdasarkan data di Indonesia? 🙂

Bagi yang belum tahu kepribadian mbti dirinya bisa mencoba melihat secara sederhana disini: http://www.personalitypathways.com/type_inventory.html
Atau:
http://nafismudrika.wordpress.com/2011/02/18/membaca-kepribadian-menggunakan-tes-mbti-myer-briggs-type-indicator/

Kesetaraan Warna Kulit

Nelson Rolihlahla Mandela, atau lebih dikenal dengan Nelson Mandela, baru saja meninggal hari kamis kemarin. Beliau merupakan salah satu pejuang anti-apartheid (pejuang yang menolak apartheid-politik yang membedakan perlakuan dan hak warga berdasarkan perbedaan yang ada seperti suku, agama, ras dan warna kulit, dalam kasus yang terakhir disebutkan ini umumnya condong ke menguntungkan warga kulit putih dan merugikan warga kulit hitam). Ya, umumnya pada zaman dahulu, orang berkulit hitam jarang diperlakukan adil oleh para kulit putih, sekolah dan gereja khusus untuk salah satu warna kulit, dan keputusan hukum berat sebelah–kulit hitam selalu salah atau bahkan tidak dianggap layak untuk hidup–setidaknya begitulah penggambaran kondisi zaman dahulu dari “To Kill a Mockingbird” karya Harper Lee-novel terkait kisah hidup anak dari seorang pengacara yang memperjuangkan warga kulit hitam yang dituntut dalam sebuah kasus, meskipun pada kenyataannya dia tidak bersalah, recommended untuk dibaca-dan “Chamber Gas” karya John Grisham. Entah, kadang aku bingung apa penyebab politik apartheid ini. Pada perang dunia kedua para kulit putih menghancurkan Nazi karena mereka menganggap dirinya terlalu superior dibandingkan bangsa lain, sehingga bangsa selain kaum Nazi dianggap tidak layak menghuni dunia ini, yang kemudian akan membawa kejadian seperti Holocaust, pembunuhan massal atau genosida yang dilakukan terhadap sekitar 6juta warga yahudi yang disponsori oleh Nazi, hanya karena mereka berbeda. Dan, setelah Jerman kalah di perang dunia kedua, asumsi bahwa ada satu ras yang sangat dominan dibandingkan dengan ras lain pun belum pudar. Belanda masih sangat berminat untuk kembali menjajah Indonesia dengan melakukan agresi militer, Afrika Selatan dikuasai dan dimanipulasi agar menjadi utopia–negeri impian–yang menguntungkan para warga berkulit putih, dan mungkin masih banyak kejadian serupa di negara lain. Memang saat itu penjajahan belum dihapuskan, tapi kalau melihat alasan awal Nazi, yang menganggap kaumnya lebih hebat daripada kaum-kaum lainnya, agak ironis bukan melihat tidak banyak perubahan yang terjadi setelah Nazi kalah?

Nelson Mandela merupakan pejuang yang melawan kebijakan tersebut. Tidak mudah memang, namun beliau tetap berusaha, dengan berpegang pada prinsipnya, dengan mengutip kata-katanya, “It always seems impossible until its done” dan “I detest racialism, because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man”, perjuangan yang berujung pada adanya kesetaraan antara kaum kulit hitam dan kaum kulit putih. Film “Freedom Writers”–film yang juga sangat layak untuk ditonton, terkait guru pada sekolah yang kondisinya akan disebutkan, dan bagaimana guru tersebut mempersatukan dan mendidik murid-murid yang ada disana–menggambarkan situasi awal saat pertamakali mulai diadakan penyatuan sekolah sebagai penanda kesetaraan semua ras, saat ras latin, asia, amerika dan afrika digabungkan ke satu sekolah setelah sekian lama masuk ke sekolah yang terpisah-pisah, diawali dengan kondisi tiap ras yang masih terkelompokkan dengan masing-masing memegang senjata tersendiri–entah sebagai perlindungan karena khawatir akan terjadi keributan antar ras seperti biasa atau untuk alasan senang-senang saja karena mereka membenci orang-orang ras lain, yang jelas suasana saat itu memang tidak kondusif, sering terjadi perang antar ras dan korban jiwa tidak jarang jatuh. Tapi nilai itu lah yang dibawa oleh Nelson Mandela, jika mereka bisa belajar untuk membenci, mengapa mereka tidak bisa belajar untuk menyukai?

Image

Mungkin ini waktu yang tepat bagi kita untuk belajar, belajar menghormati hak-hak kaum lain, belajar menghargai perbedaan pendapat, dan belajar memperjuangkan apa yang kita anggap benar dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Seperti pelajaran yang didapat dari Atticus Finch pada “To Kill a Mockingbird”, akan tiba saat dimana kamu tidak bisa lari dari sebuah pilihan yang, meskipun kamu akan dibenci oleh banyak orang karena melakukan ini, kamu akan tetap melakukannya karena kamu tahu itu hal yang benar. Dan, bagaimana cara mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Belajar lah, karena selain dapat mengetahui mana yang benar, kita juga dapat mengubah dunia dengan keterampilan dan pengetahuan yang kita dapatkan 🙂

 1451473_717095034978177_1233420700_n

Dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti memperdebatkan tentang apa yang akan dilakukan oleh buruh, dokter, guru, insinyur, ataupun seniman yang baik, apa yang mungkin terjadi pada sekolah yang ideal, bagaimana pemimpin yang baik harus bersikap, dan mulailah menjadi orang yang baik, menjalankan profesi dengan baik dan mulai membentuk kondisi lingkungan yang baik.

Image