Menemukan Keseimbangan

Menemukan keseimbangan yang tepat adalah hal terpenting dalam perkembangan, apapun kasusnya, baik dalam diri sendiri, anak kecil, masyarakat, ataupun makhluk hidup secara keseluruhan.

Seperti analogi kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong untuk menguatkan sayapnya, terlalu banyak bantuan dapat mematikan individu dengan menghalanginya untuk berkembang dan mempelajari keahlian-keahlian tertentu, menjadikannya sangat tidak siap untuk menghadapi dunia nyata saat bantuan yang selalu diberikan menghilang. Di sisi lain, tiadanya bantuan dan dukungan dapat mematahkan semangat dan menghilangkan harapan, terlebih jika pada akhirnya sang makhluk berpikir bahwa kelihatannya apa yang dia lakukan mustahil memang, toh pilihan untuk berpindah jalan selalu terbuka.

Terlalu mementingkan orang lain akan menyebabkan terlalu banyak hal yang harus dikorbankan dan emosi yang perlu ditahan dalam diri, namun terlalu mementingkan diri sendiri pun akan menyebabkan orang lain menjauh, yang dapat menutup beberapa pintu rezeki.

Terlalu bebas dapat menjadikan seseorang tidak punya tujuan, atau tidak tahu aturan. Seperti blog ini, misalnya. Topik yang dibahas asal, mengikuti apa yang ada di pikiran saja, dan entah jika ada aturan dunia maya yang dilanggar. Tapi terlalu terkekang juga mematikan inisiatif dan kreativitas. Seperti aku, yang lebih memilih untuk berhenti menulis kalau tidak bisa bebas, entah dengan penyetiran topik bahasan atau berbagai hal lainnya, dengan berbagai alasan ataupun bualan. Oke, mungkin memang topik bahasan perlu ditambah agar lebih banyak manfaat yang dapat dihasilkan, tapi persetan dengan keinginan pasar ataupun bahan jualan, apa untungnya menjual kepalsuan, membunuh karakter demi keuntungan?

Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan? Hal yang berlebihan dapat menimbulkan kemuakan. Setidaknya bagiku. Muak saja dengan berbagai standar yang terlalu diskriminatif dan memberikan cap, topik ini layak tulis, topik itu sampah, yang ini mahasiswa berprestasi, yang itu mahasiswa tidak berguna. Muak saja dengan dunia yang terlalu penuh dengan bualan dan kebohongan, lakukan ini untuk menambah nilai jual, sembunyikan borok itu agar memperbesar keuntungan, orang-orang tidak peduli dengan kemunafikan, nilai moral sudah tidak relevan. Muak saja dengan strata sosial, temui si ini agar urusan itu dipermudah, jangan kontak dengan si itu agar nama baik terjaga. Muak saja dengan masyarakat, yang kaya punya privasi untuk menikmati berbagai fasilitas, yang berkecukupan harus menerima kenyataan bahwa terjebak dalam rutinitas, yang miskin harus menerima nasib dan mempersiapkan diri untuk tergilas. Yang mengaku beragama sibuk berdoa di tempat ibadahnya, yang mengaku cendekia asyik sendiri dengan data dan teorinya, yang mengaku wakil rakyat lupa akan janji-janjinya, yang mengaku mahasiswa sibuk dengan teman-teman dan tugas-tugasnya, kebanyakan orang sibuk sendiri dengan urusannya. Ada, tapi tidak banyak yang peduli dan beraksi memperbaiki nasib sesamanya, seolah dengan bayar pajak kewajiban sudah lepas, fakir miskin dan anak terlantar sudah ditanggung negara. Oh, bahkan bayar pajak pun tidak semua taat. Hebat. Muak saja dengan segala aturan, alasan, dan mungkin bualan yang meminimalisir manfaat yang dapat diberikan, kalau begini resiko yang berupa skenario perandaian yang entah berapa besar kemungkinan terjadinya begitu lah, berargumen suatu hal tidak feasible tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan lah, ah, sudah lah. Toh kemuakan tidak akan mengubah pola pikir, meski mungkin juga yang membaca berminat untuk mengoreksi diri.

Uniknya, banyak orang tahu tapi tetap saja melakukan hal secara berlebihan. Kritik terhadap oknum tertentu yang berlebih, misalnya, terlebih jika tidak disertai solusi atau aksi untuk memperbaiki kondisi, hanya menghasilkan kontroversi dan debat kusir tanpa arti. Ketergantungan berlebih terhadap subsidi, misalnya, seolah rezeki hanya dapat diperoleh melalui subsidi, seolah kerja keras sudah kehilangan arti. Kebencian atau diskriminasi terhadap kaum atau pendapat lain, misalnya, seolah semua harus sama dan perbedaan adalah nista.

Memang, dapat tidak sama dengan pasti. Berapa besar kadar yang tepat agar semuanya seimbang, entah, tugas kita untuk mencaritahu, atau setidaknya mencoba menjaga kadarnya. Seperti tulisan-tulisan di blog ini misalnya. Mencoba bercerita dan memberi makna, memberitahu apa yang dirasa sembari menunjukkan yang perlu dibenahi yang mana. Bagi orang-orang yang tidak peduli, memang tulisan-tulisan hanya celotehan yang gagal dalam tujuannya. Tapi jika mereka tidak peduli, untuk apa juga kupedulikan? Jelas kepedulian yang kuberikan akan menjadi tidak seimbang dengan kepedulian mereka.

Berbuat salah lah, cobalah hal baru, tak usahlah berpikir terlalu jauh tentang masa depan, bertingkahlah semaunya, ikutilah beberapa masukan dan abaikanlah sisanya, hadapilah konsekuensinya dan belajarlah dari segalanya. Temukan keseimbangan, itu intinya.

Privasi

Kelihatannya dewasa ini privasi sudah menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir insan. Belum lama ini ada beberapa kawan yang memperbaharui status di halaman facebooknya untuk menolak facebook dari menyimpan data pribadi, foto, video dan beberapa hal lain dari dirinya. Bukankah manusia itu unik? Jika tidak ingin facebook menyimpan data tersebut, mengapa data tersebut diunggah ke facebook?

Facebook, dan media sosial lainnya baik itu twitter, tumblr, instagram, path dan berbagai media sosial yang tak pernah kupedulikan lainnya, hanyalah salah satu wajah dari minimnya privasi dewasa ini. Jarak semakin singkat, informasi semakin membludak. Semua orang dapat mengakses semua file yang ada. Meskipun gambar, video atau data apapun dapat diatur agar hanya bisa dilihat oleh beberapa orang tertentu, orang-orang di luar kelompok tertentu itu pun bisa saja mencari jalan belakang dengan mempelajari cara hacking yang benar, dan tujuannya belum tentu baik. Entah siapa yang patut disalahkan atas hal ini, manusia yang mengunggah data atau manusia yang penasaran untuk melihat data tersebut? Secara logika, harusnya sih keduanya. Entah apakah ini disebabkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang ingin berbagi, kebanyakan manusia belum mengerti, atau memang saat ini sudah tidak banyak yang peduli dengan privasi.

Mungkin dapat dikatakan bahwa saat ini semua orang telah terdeteksi. Perkembangan zaman mengharuskan tidak ada lagi insan yang dapat bersembunyi. Semua orang tau apa yang kita suka, kemana kita semalam, dengan siapa kita berteman, keahlian apa yang kita punya dan kita tidak punya, dan lain sebagainya. Ya sudah, biarkan saja begitu. Kita bisa melawan, tentu, namun untuk apa? Toh keberadaan kita bukanlah hal yang nista.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal yang telah diunggah dan terlanjur tersimpan, tapi jika ada data yang penting dan terlanjur terunggah dan dapat membahayakan seperti alamat rumah atau kontak pribadi–meski aku belum pernah mendengar keberadaan kelompok rampok yang mengidentifikasi calon korban melalui media sosial, apa salahnya waspada?–aku menyarankan untuk meng-update informasi tersebut dengan informasi yang salah. Update lah secara berkala, semoga pihak media sosial di masa depan kebingungan mana update yang paling benar dari sekian banyak informasi yang kalian masukan. Toh pada dasarnya yang kita gunakan adalah media sosial, bukan pendeteksi kebohongan. Tidak dapat bersembunyi tidak sama dengan tidak dapat memanipulasi informasi, kan?

Selain itu untuk insan yang menggunakan master password: 1 password untuk semua akun, mungkin ada baiknya sedikit menambah tingkat kesulitan passwordnya, dengan menambah satu kata yang berbeda di tiap akun misalnya. Seperti dari masterpassword menjadi kerjamasterpassword, masterpasswordfacebook, dan lain sebagainya. Hanya untuk meminimalisir kemungkinan semua akun disalahgunakan hanya karena satu password terbongkar.

Dan tentu saja, jangan lupa berdoa agar keberadaanmu yang terdeteksi itu tidak disalahgunakan orang lain. Katanya sih itu senjata terampuh orang muslim, tidak perlu disia-siakan, bukan?

Hanya mencoba memberikan saran bagi mereka yang ingin memiliki privasi di dunia yang sedang tidak membutuhkannya saat ini. Semoga bermanfaat ­čÖé

Kurikulum 2013

Kelihatannya kurikulum 2013, kurikulum terbaru saat ini sudah terlalu banyak dikritisi sekarang. Dan kemarin baru sempat mendapat pengalaman terkait kurikulum kontroversial itu. Setidaknya aku mulai mengerti kenapa kurikulum ini dihentikan, atau akan diterapkan secara bertahap.

Sudah sekitar dua tahun aku tidak mengamati perkembangan sistem pendidikan di Indonesia, termasuk kurikulumnya. Memang itu disebabkan beberapa faktor, seperti meningkatnya kesibukan yang perlu diurus dan minimnya hal yang mengharuskan untuk terlibat dengan itu. Memang, dulu aku sempat didaulat–secara sepihak–untuk memimpin sebuah organisasi di bidang pendidikan. Awalnya pun aku menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (kbk) 2006 sebagai pembanding untuk bahan ajar di salah satu rumah belajar organisasi tersebut. Atau setidaknya niat awalnya begitu. Karena pada akhirnya, pendidikan informal lah yang digunakan di rumah belajar itu, hahaha. Toh, pesan yang ingin kubawa sebenarnya sederhana: belajar dapat dilakukan dengan siapapun sebagai gurunya. Termasuk kita, dan bahkan anak-anak itu sendiri. Kita bukan guru mereka, kita bukan juga keluarga mereka, tapi kita dapat belajar bersama serta menceritakan dan berdiskusi akan hal-hal yang menarik dengan mereka. Memang pentingnya peran keluarga tidak dapat diabaikan, namun mengambil ilmu dari semua sumber yang ada tidak salah, kan? Entah pesannya sampai atau tidak, sudah lah, sudah kadaluarsa juga masanya, hahaha.

Dan dua tahun ini kegiatanku di bidang pendidikan berpusat untuk membantu atau membimbing penerusku di organisasi tersebut yang, kinerjanya jauh melebihi ekspektasiku sehingga aku pun kadang bingung apa yang dapat kubantu, dan aktif di sektor pendidikan yang tidak dipengaruhi kurikulum baru: pendidikan anak usia dini dan pendidikan kesiapsiagaan bencana anak-anak, dimana kurikulum (jika ada) pun diciptakan oleh organisasi yang terlibat itu sendiri.

Dan kemarin, aku pun terpaksa melihat kurikulum baru disebabkan adik-adik kelas 7 di salah satu rumah belajar pagi ini ujian. Kesan pertama: speechless.

Oke, sedikit pembuka tentang pendidikan. Butet Manurung dalam Sokola Rimba (versi film) mengatakan bahwa pendidikan adalah persiapan anak-anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Ada juga sebuah kamus yang mendefinisikan pendidikan sebagai pengembangan kemampuan dan bakat anak-anak. Dua definisi itu kutulis karena cakupannya lumayan luas. Memang banyak definisi yang belum ditulis, tapi untuk apa sibuk membahas definisi jika pada akhirnya tidak ada kesimpulan yang dapat diambil sebagai kesimpulan?

Terlepas dari apapun definisi pendidikan di dalam kosakata pribadi anda, seharusnya bisa dimirip-miripkan ke satu dari dua definisi tersebut meski mungkin perlu agak dipaksakan. Pertanyaannya adalah, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana?

Jadi, ceritanya pagi ini mereka punya tiga ujian: Baca-Tulis Quran (BTQ), Al-Quran dan Hadits, serta Bahasa Indonesia. Karena kemarin terlambat, jadilah aku didaulat mengajar Quran dan Hadits. Hebat bukan? Menyerahkan amanah kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.

Oke, merepotkan. Latar belakang pengajar adalah institut teknologi, bukan madrasah da’i. Pengajar tidak banyak dan “ustad” yang tadi mengajar hukum bacaan Quran pun mau istirahat, setelah disajikan taksonomi baru dalam hukum bacaan ikhfa. Entah sejak kapan ikhfa aqrab, ikhfa ausath dan ikhfa ab’ad difungsikan. Sebelum kbk 2006 ikhfa yang diajarkan cuma satu jenis, ikhfa hakiki, yang mencakup ketiga golongan tersebut. Entah apa yang menyebabkan mereka membagi diri, ikut-ikutan membentuk golongan tandingan karena tidak puas akan suatu keputusan layaknya politisi Indonesia saat ini mungkin?

Ya sudah lah, ikuti saja. Baca bismillah agar dapat pelajaran dan berkah, sembari do’a agar kalau pun ada penjelasan yang salah tidak sampai pada tingkatan yang menyesatkan.

Dan saat membuka buku, melihat apa yang harus dijelaskan, terpana dengan tiap halaman dari buku yang terbuka. Materinya tidak banyak memang, cenderung singkat, tapi sangat mendalam. Terlebih menghubungkan materi dengan judul bab dan indikator pemahaman yang, menurutku, kurang dapat diukur. Sembari bertanya-tanya apakah indikator pemahaman agama apapun di sekolah manapun tidak memiliki standar yang umum berlaku, aku pun agak penasaran apakah dalamnya materi ini dapat dicerna remaja yang baru masuk smp.

Salah satu judul babnya adalah kebesaran Allah, dengan materi berisikan tafsir dari surat pertama dan tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an. Wah, meskipun kadang mendapatkan materi tentang tafsir ayat atau membaca rangkuman atau pesan satu surat dalam Quran, tafsir satu surat pendek secara mendalam baru kupelajari saat kuliah. Hebat, aku sudah yakin terhadap ketidakmampuanku mengajarkan pelajaran ini tahun depan. Pengingat akan minimnya wawasan, pentingnya mengritisi kebijakan, dan manfaat dari empati pada sesama.

Dan pengajaran pun dilakukan. Anak-anak sangat membantu dalam mengucapkan ayat Qur’an beserta artinya, kelihatannya mereka hafal semua. Namun saat aku mengulang artinya, untuk menghubungkan materi dengan indikator yang entah apakah aku sudah memenuhinya atau belum, mencerna materi masih membutuhkan waktu yang lama. Seusai kegiatan mengajar pun aku berbincang dengan kawan tentang hal ini. Kawanku berargumen bahwa anak-anak masih fokus pada menghafal meskipun materinya sejauh ini dan khawatir hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pemahamannya di masa depan. Aku pun juga berpendapat itu buruk berdasarkan kedalaman materi yang diperlukan dalam pengajaran.

Memang, pada kenyataannya kita tidak mengetahui apakah itu baik atau buruk, jangankan metode mengembangkan kemampuan, kami pun tidak tahu kemampuan macam apa yang harusnya dimiliki oleh remaja kelas 7 smp. Entah bagaimana pendidikan saat ini, tapi jika persepsi kami tepat, kelihatannya memang kurang baik.

Aku sudah membaca tujuan dari kurikulum 2013 dari http://samparona.blogspot.com/2013/10/karakteristik-dan-tujuan-kurikulum-2013.html?m=1, dan aku juga pernah mendengar banyak hal dari tujuan kurikulum tersebut, seperti menjadikan anak-anak aktif, inisiatif, senang belajar dan lain sebagainya. Mohon dikoreksi jika ada yang salah. Dan mari berikan apresiasi terhadap orang-orang yang mengharapkan kebaikan bagi kita seperti demikian. Tapi kita tetap perlu kembali kepada pertanyaan tadi, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana? Karena saya khawatir tidak ­čÖé

Saat ini masih banyak faktor yang perlu dibenahi jika persepsiku terhadap kurikulum 2013 itu benar, dari anak-anak yang masih terlalu pasif dalam mencari materi sehingga masih mengandalkan kakak-kakak meski latar belakangnya tidak sesuai dengan materi kurikulum, kegiatan belajar masih dilihat sebagai kegiatan kurang menyenangkan yang hanya dilakukan di sekolah, penjelasan dari guru yang berusaha menafsirkan kurikulum dianggap beberapa murid kurang jelas, peran keluarga yang masih minim dalam mendidik anak atau mengajarkan anaknya aktif mencari informasi, indikator ketercapaian materi yang agak sulit diukur, dan mungkin masih ada–dan mungkin masih banyak–faktor yang belum terpikirkan dan ditulis saat ini. Dengan kondisi seperti itu, apakah kurikulum ini memang tepat untuk dijalankan?

Kuakui, sulit untuk kurikulum 2013 ini dengan kbk 2006 tanpa bias, karena dahulu aku merupakan sasaran didik dan sekarang aku bukan. Dan memang, semua kebenaran dalam tulisan ini relatif, bergantung pada sebenar apa pandanganku terhadap kurikulum baru ini. Hm, jika ada yang mengetahui atas dasar apa kurikulum 2013 diterapkan, bisakah tolong bantu jelaskan apa dasar tersebut? Mohon maklumi insan yang minim wawasan ini, karena meskipun aku tahu peraturan yang berlaku, sulit untuk memahami latar belakang keputusan pemerintah dibuat jika keputusan tersebut merupakan hal yang tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan insan terkait ­čÖé

H-18

Mengisi hari-hari terakhir di bandung dengan melakukan kegiatan yang sama dengan saat baru sampai disini: berjalan entah kemana sesuka hati. Fatalis mungkin menyebutnya berjalan mengikuti suratan takdir. Memang alasannya berbeda, sekarang lebih untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan atau terjadi di berbagai lokasi dalam kota ini dibandingkan dengan dahulu yang lebih difokuskan pada mengetahui bangunan dan lokasi yang akan berperan selama kehidupanku berlangsung di bandung. Sisa hari di Bandung: 18. H-18.

Banyak hal yang, entah mengapa, baru terjadi padaku disini. Mungkin karena profil manusianya berbeda dengan profil manusia jabodetabek pada umumnya. Seperti kemarin, saat pergi ke game master yang harga permainannya tergolong murah dibandingkan dengan pusat permainan lain–setidaknya sehari sebelum tulisan ini dibuat–di Baltos (Balubur Town Square) lantai atas. Setelah kemarin kawan dari zaman mahasiswa baru berkunjung ke kosan dan bercerita tentang dirinya yang mulai pergi pijat ke sebuah tempat refleksi–atau relaksasi mungkin, entah, terlalu banyak kata yang mirip dengan beda arti yang lumayan jauh–tak jauh dari kosan, aku yang lelah bermain–lelah hati akibat kalah terus karena kemampuan menumpul setelah terlalu banyak menghabiskan waktu mengerjakan TA/Skripsi tepatnya–akhirnya memutuskan untuk mencoba kursi pijat disana. 2 koin atau 2500 rupiah untuk 5 menit, lebih murah dibandingkan tempat pijat temanku yang mematok tarif 80000 rupiah untuk 90 menit.

Mungkin memang kursi pijat di game master tidak menggunakan tangan manusia, tapi, terlepas dari siapa yang memijat, kenapa ada yang mau menyerahkan tubuhnya pada orang lain untuk dielus-elus, diusap-usap, dipukul-pukul? Kalau itu terjadi di dalam kereta, kemungkinan besar teriakan, tamparan atau tinjuan telah merefleks lebih dahulu di saat pikiran belum memutuskan respon yang akan dilakukan. Apa bedanya? Diberi izin dan tidak? Bayar dan gratis? Atau standar ganda?

Yang jelas, saat aku di kursi pijat itu lah mereka bertiga datang. Tiga bocah perempuan, kelas 2 sd atau kurang, datang menghampiri kursiku, memandang dengan penuh takjub akan apa yang kursi itu sedang lakukan padaku. Bayangkan kalian sedang makan di restoran ber-franchise terkenal. Entah itu Pizza Hut, McDonald, KFC, Domino, atau apapun. Ketika kalian baru mulai melahap makanan kalian, muncullah tiga anak kecil entah dari mana yang memandang tindakan kita dengan penuh rasa ingin mencoba. “Gimana rasanya, kak? Enak?”, tanya mereka penasaran. Bayangkan saja pertanyaan itu turut diucapkan pada perandaian situasi tadi. Perasaannya sama. Aku sekilas mempertimbangkan baik-buruk antara jujur mengatakan, “Enak kok, sebelum kalian datang tapi. Jadi gak enak karena kalian liatin.” dan pura-pura tidur. Tapi tetap saja, kedua opsi tersebut tidak dapat menghilangkan rasa ketidaknyamanan menjadi pusat perhatian. Akhirnya ya, terpaksa, opsi ketiga. Sembari mencoba tersenyum ajukan pertanyaan, “Mau coba?” lalu bangkit dari kursi.

Dan betul, mereka senang, dan kursi pijatnya menjadi pusat perhatian. Semua senang. Usai mereka bertiga memenuhi rasa keingintahuannya masih ada waktu sekitar 1 menit lagi, dan mereka menyerahkannya kembali padaku. Setidaknya mereka tahu diri, pikirku.

“Kak, minta uang,” pinta bocah yang sama. Oke, beberapa tahun aktif kegiatan mengajar, beberapa kali menemukan anak-anak serupa juga. Pelajaran: jangan menyimpulkan terlalu cepat, jangan menggeneralisir tanpa mempertimbangkan data outlier. Hebat juga bagaimana waktu sekitar 3 menit mampu menaikkan pangkatku di mata anak itu, dari “kakak yang duduk di kursi pijat” menjadi “kakak yang bisa dimintain uang”. Karena aku gagal menemukan logika dari tindakannya tersebut, aku berasumsi dia masih belum mampu berlogika. Karena itu untuk menolaknya jangan menggunakan logika. Oke, asumsi yang dibuat oleh mantan mahasiswa teknik terhadap psikologi perkembangan anak-anak sangat mungkin tidak tepat, tapi tetap saja perlu dibuat untuk merumuskan respon yang akan diberikan. Dan respon yang akan kuberikan jelas: ngotot menolak, dengan gaya anak-anak.

“Nggak mau.”
“Kakak nggak punya uang?”
“Ada, tapi bukan buat kamu.”
“Ih, kakak mah.”
Beruntung kedua temannya tidak lama kemudian mengajak sang anak dengan pinta itu pulang. Mereka melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya, membatin semoga kita tidak berjumpa lagi, perempuan muda.

Mengingat kejadian kemarin memang hanya membuat tertawa, heran dan geli terhadap tindakan anak-anak. Senang jadi anak-anak, bebas mengutarakan keinginan, tanpa perlu khawatir terhadap persepsi orang lain, dampak di masa depan dan lain sebagainya. Oke, beruntung juga mereka tidak idealis. Saat aku sd dahulu, pergaulan dengan lawan jenis masih merupakan hal yang nista. Bahaya kan jika penerus bangsa tidak ada akibat dari generasi muda memandang lawan jenis dengan hina?

Terlalu banyak berpikir membuat lapar juga. Akhirnya mampir ke minimarket dan membeli roti, lebih disebabkan tiadanya pilihan daripada tingginya keinginan. Setelah itu keluar, duduk di emperan jalan, makan. Seharusnya tidak ada larangan selain membeli benda dari pedagang kaki lima di zona merah. Lagipula para pedagang kaki lima atau pengguna kendaraan pun berlaku seenaknya di trotoar dengan tenda atau kendaraan yang mengganggu pejalankaki. Mungkin polusi menjadi masalah di beberapa lokasi, karena itu hindarilah dengan melakukannya di pagi hari ­čÖé

Oke, sejak di bandung memang kadang ada tingkahlaku abnormal yang kambuh di lokasi umum. Atau tepatnya mood untuk melakukan suatu hal di suatu lokasi. Tetiba ingin duduk dan makan, tetiba ingin memperhatikan, ingin menghitung jumlah kendaraan, tetiba ingin melakikan sesuatu, itu saja. Mungkin pengaruh dari minimnya hal yang mendesak untuk dilakukan. Dan berdasarkan pengalaman, kenalanku yang melihat tindakanku akan terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah yang penasaran atau sekedar menghormati. Bertanya sedang melakukan apa atau mencoba mengikuti tindakan abnormal yang sama. Terlihat juga perbedaan antara orang yang hanya berbasa-basi dan orang yang memang penasaran. Orang yang berbasa-basi cenderung memperhalus kalimat, seperti bertanya “sedang apa?” setelah melihat aku sedang makan roti di daerah tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang. Kupikir gestur mengunyah sembari memegang roti dengan bekas gigitan di tangan bukanlah gestur yang ambigu. Dan kadang aku hanya menatap makananku, kemudian memandang sang penanya dan bertanya balik, “Itu pertanyaan retorika?” Yah, tidak dijawab pun jawabannya jelas bukan? -_-

Kadang kalau sedang mood bercanda ingin menjawab sedang memancing pembunuh berantai keluar dari sarang persembunyiannya, sayang tidak pernah terucap. Kata-kata itu kan, doa. Kalau kata-kata itu terwujud, kelihatannya nyawaku dalam bahaya ._. Opsi lain: mengklasifikasikan manusia yang ada di bandung, demi tujuan akhir menguasai dunia. Sayangnya opsi ini perlu diucap dengan sound system dan sound effect yang baik, otherwise you’ll sound like a delusional lunatic. Well, even if you’re a delusional lunatic, what’s wrong with making it sounds convincing?

Kelompok kedua adalah kelompok yang sedang ada urusan lain, dan mungkin terburu-buru. Sebagian dari mereka sekedar memberi salam sebagai tindakan untuk menjaga hubungan dan silaturahmi. Beberapa merasa perlu untuk turut memberi komentar seperti, “galau?” sebelum pergi, dan sisanya lebih memilih untuk berpura-pura tidak lihat atau tidak kenal.

Entah apa yang berbeda di kota ini, suasananya selalu nyaman untuk membuat berpikir, meracau, bertingkah asal, dan berbagai hal. Satu sore dan satu pagi pun memiliki banyak cerita, banyak pemikiran, dan banyak inspirasi untuk bertingkahlaku, terlepas dari seabsurd apapun itu tentunya.

Ada yang menyebut bandung itu cantik, romantis, kuliner. Terserah lah, toh kebebasan berpendapat diatur undang-undang. Yang jelas bagiku yang agak sulit mengagumi keindahan, minim pengalaman dalam roman asmara, dan kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk mencoba berbagai jenis masakan bandung, kota ini aktif dan inspiratif.

Banyak cerita tercipta disini, banyak hal terjadi disini. Meski tinggal 18 hari lagi, kelihatannya saat ini lebih baik aku memikirkan apa yang akan kulakukan atau pengalaman apa yang kucari disini selama sisa waktu yang kupunya. This story hasn’t end yet, has it? ­čÖé

Misleading Label of Food Products


Last Week Tonight with John Oliver-Episode 01

Salah satu sarana untuk melatih kemampuan berbahasa inggris, khususnya di bidang listening dan vocabulary, dan sebuah perspektif akan hal-hal yang terjadi di dunia saat ini. Acara berita satir yang dikemas secara apik, mengupas sudut pandang baru dari dalam sebuah berita, disampaikan dengan cara yang mirip dengan stand up comedy di Indonesia. Frontal sih, dan jadi penasaran, kira-kira kapan ya komika Indonesia punya acara semacam ini?

Yah, jika perusahaan makanan peduli terhadap nama baik mereka, untuk apa mempermainkan kata-kata mencapai tingkatan yang mengarahkan manusia ke arah yang salah? ­čÖé

Agak disayangkan sekarang programnya sedang break setelah berlangsung 24 episode hingga 2015. Topik bahasannya lumayan luas, dari label pada makanan, sistem hukuman bagi pelaku pidana, hutang pelajar di Amerika, teknologi militer, kontes kecantikan, isu-isu sara dan LGBT, yah, hal yang umum dibahas adalah isu-isu yang sedang populer di amerika, termasuk isu-isu internasional seperti sengketa Crimea, referendum Skotlandia, serta sistem monarki. Entah apakah belum pernah dibahasnya Indonesia dalam program ini merupakan hal yang patut disayangkan atau disyukuri.

Episode ini membahas tentang perlunya berhati-hati dalam mendefinisikan hal yang tertulis pada kotak kemasan dari sebuah produk, especially about how that mislead you to buy them. Fungsi subtitle tidak dapat diaktifkan disini, anggap saja latihan mendengarkan bule berorasi, mungkin saja di masa depan kita akan memiliki teman seperti itu :p

Oh, dan bagi yang berminat mengikuti acara ini, sekedar mengingatkan untuk berhati-hati terhadap beberapa episode, khususnya episode 3┬á­čÖé