Negara dan Agama

Ah, aku sedang ingin meracau. Belum lama ini membaca sebuah tulisan berjudul “Negara (Tanpa) Agama”, tentang bagaimana kehidupan muslim di Amerika sana, yang katanya tidak se”seram” gambaran di beberapa media. Karena aku belum pernah melihat kondisi disana, aku tidak bisa berkomentar banyak, meski memang kuakui sulit untuk percaya pada media–terutama di Indonesia–saat ini, setidaknya itu kesimpulanku setelah mengunjungi jepang dan mendengar cerita dari muslim di prancis (saat Muslim Show berada di Bandung).

 

Di masa perpolitikan seperti ini, sering kita dengar “Negara dan Agama itu tidak boleh dipisahkan”. Ada benarnya kalau mau melihat ke zaman dahulu, selagi Negara dan Agama masih bersatu di jazirah Arab, tapi sekarang entah kenapa kalimat tersebut lebih terkesan berbau kepentingan politik partai berbasis islam yang menjadi umat mayoritas di nusantara, apa lagi saat pemilu semakin dekat seperti ini. Tapi, saat ini aku terpikir hal lain, apakah kita memisahkan Agama dengan Negara? Ambil contoh yang sederhana saja, masjid. Saat ini mayoritas masjid yang pernah kutemui hanyalah sebuah bangunan besar tempat untuk wudhu dan shalat. Aku tidak mengatakan semuanya begitu, tapi harus diakui bahwa kebanyakan seperti itu. Aku mencoba melihat peran masjid pada jaman Rasulullah dahulu di internet.

 

Dan hasilnya, well, bisa ditebak, banyak. Salah satu situs yang mungkin dapat dijadikan rujukan adalah http://pajatangka.wordpress.com/2012/08/05/fungsi2-masjid-pada-zaman-rasulullah-saw/ dan http://suffahstudy.blogspot.com/2011/02/peranan-masjid-di-zaman-awal.html?m=1, artikelnya setidaknya mencantumkan nama ulama yang dijadikan rujukan, meskipun sebetulnya memasukkan kata kunci peran masjid jaman Rasulullah pun juga akan menemukan banyak artikel serupa 🙂

 

Salah satu hasil yang kudapat menyatakan bahwa peranan masjid pada zaman Rasulullah intinya adalah sebagai tempat ibadah, pusat pemerintah, kegiatan pendidikan, kegiatan sosial dan ekonomi. Oke, kira-kira berapa banyak masjid yang mencakup hal ini? Jika kita melihat masjid-masjid di dalam sekolah, mencakup kantin, tempat pendidikan dan riset (apalagi jika ekskul KIR di sekolah tersebut aktif), budaya, kesehatan (PMR dan DoCil), hm, cuma kekurangan fungsi pusat pemerintahan sepertinya, berbeda dengan beberapa masjid di luar sekolah yang kutemui. Tapi memang, itu adalah asumsi jika sekolah lah yang dimiliki oleh masjid, bukan masjid yang dimiliki oleh sekolah. Dan itu pun hanya terjadi jika ada masjid di dalam sekolah, agak miris karena sempat mendengar kabar bahwa masjid di beberapa sekolah telah dihancurkan. Sudah agak lama memang, tapi tetap saja tindakan tersebut patut disayangkan.

 

Dalam pendapat idealku, aku akan mengajukan Masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan, Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat dan Masjid Salman di ITB sebagai masjid termirip dengan kriteria masjid jaman dahulu tersebut. Aku yakin masih banyak masjid serupa namun belum kutemukan (atau aku lupa) saja. Aku memilih ketiga masjid itu karena dari apa yang kulihat, masjid itu hidup. Tidak hanya hidup dari orang-orang yang shalat, berzikir dan kajian islam saja, tapi juga hidup dengan berbagai kegiatan lainnya.

al-azhar

Masjid Al Azhar Kebayoran Baru

Sumber Gambar: http://simbi.bimasislam.com/simas/public/upload/images/medium/al-azhar.jpg

Masjid Al Azhar terletak di kompleks Sekolah Al Azhar, yang lantai 7nya menjadi tempat pelatihan OSN Fisika saat aku mengikutinya, kerepotan dan kegemporan saat naik-turun tangga karena liftnya penuh itu kenangan yang unik, haha. Tapi kegiatan masjid ini beragam, sebut saja Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, tentu selain kegiatan ibadah shalat harian yang rutin dilakukan, masjid ini hidup. Setidaknya itu juga yang kurasakan meskipun daftar kegiatan disini kukutip dari http://simbi.bimasislam.com/simas/index.php/profil/masjid/60/?tipologi_id=6, haha.

masjid-istiqlal

Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Sumber Gambar: http://travelerfolio.com/jakarta-holiday-itinerary/

 

Masjid istiqlal, yah, tidak kalah. Masjid terbesar se-Asia Tenggara ini juga memiliki lantai dasar seluas 2.5 hektar sebagai tempat perkantoran, ditambah dengan berbagai fasilitas seperti Koperasi, Taman Kanak-Kanak dan Poliklinik, serta berbagai lembaga keagamaan yang berpusat disana, sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII), Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) tingkat nasional, Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI), dan masih banyak lagi, seperti yang dituliskan pada http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/09/07/sejarah-singkat-masjid-istiqlal/. Haha, meskipun sempat mengunjungi tempat tersebut beberapa kali, baru sekarang berminat pada aspek kenegaraan dari masjid, jika diberi kesempatan lagi untuk main ke Al-Azhar Kebayoran Baru dan Istiqlal semoga sempat (dan ingat) untuk memeriksa kebenaran situs-situs diatas.

 

39943383

Masjid Salman ITB

Sumber Gambar: http://www.panoramio.com/photo/39943383

Yang terakhir adalah Masjid Salman ITB, yang lumayan sering kukunjungi karena selain merupakan masjid di universitasku, aku juga berdomisili tidak jauh dari masjid itu. Dan yah, bisa dikatakan untuk yang ini aku bisa mendeskripsikan lumayan baik meski tanpa mengacu pada sebuah situs. Masjid ini memiliki dua buah tempat makan (Kantin Salman dan baru-baru ini Restoran Saji Kelinci turut buka lapak disana) dan beberapa pedagang kaki lima yang turut menjajakan dagangannya di daerah Salman, sebuah Minimarket (Toko ISTEK Salman), daerah perkantoran (dari tempat fotokopi dan print, toko obat-obatan herbal, hingga tempat lensa dan busana jilbab), sebuah asrama (yang area ikhwan dan akhwatnya terpisah), sebuah aula dan beberapa ruang rapat, serta sebuah gedung kayu yang dijadikan sekretariat bagi para badan pengurus masjid dan organisasi kemahasiswaan atau unit yang berpusat di Masjid Salman. Ya, bukan berpusat di ITB, tapi berpusat di Salman. Mahasiswa yang terdaftar pun lintas universitas, tidak hanya dari ITB saja, Unpad, UPI, Unpar, Unisba, Polban, UIN dan beberapa universitas lain di Bandung punya mahasiswa yang beraktivitas disini. Dan tiap hari, selalu ada kegiatan, baik itu berupa kajian keislaman, belajar bersama baik dalam bentuk les ataupun tidak, aktivittas unit Salman, dan masih banyak lagi. Dalam hal kemegahan, mungkin Masjid Salman memang tidak semegah kedua masjid yang dijadikan pembanding di awal, namun dalam menilai “hidup”nya masjid, dapat kukatakan masjid ini tidak kalah dari kedua masjid itu.

 

Kadang agak sedih melihat masjid-masjid yang hanya terisi saat adzan berkumandang saja, apalagi jika hanya sedikit orang yang mengisinya. Jika para organisasi politik berbasis islam memiliki kesibukan meneriakkan “Negara tidak bisa dipisahkan dengan Agama” selama dua tahun (saat Pemilihan Kepala Daerah hingga Pemilihan Presiden), bagaimana jika tiga tahun berikutnya digunakan untuk membuktikan bahwa Agama memang tidak bisa dipisahkan dengan Negara? Ramaikan dan hidupkanlah masjid, akan lebih baik lagi jika masjid-masjid yang ada dikembangkan menjadi pusay perekonomian di lingkungannya, sehingga saat ada wacana masjid ingin dirubuhkan, warga akan bersatupadu menentang perubuhan bangunan yang bermanfaat bagi mereka. Jika telah ada kegiatan serupa, kembangkanlah! Karena aku sebagai warga biasa saat ini masih belum merasakan manfaatnya, dan agak sayang jika kegiatan tersebut terhenti separuh jalan bukan? 🙂

 

Memang masjid bukanlah satu-satunya hal dimana Islam berperan dalam mengatur hidup kenegaraan. Akan menarik jika ada yang berminat untuk membahas Sedekah, Zakat dan Baitul Maal yang punya peranan penting dalam perekonomian masyarakat di masa lalu, yang sayangnya saat ini kurasa peranan pentingnya tak terlihat lagi. Selain itu, mungkin ada juga yang perlu menjelaskan tentang hukum syariah. Mungkin memang media luar terlalu membesar-besarkan “hukuman potong tangan jika mencuri” tanpa menilai kondisi yang berlaku saat hukuman tersebut diberikan. Hei, bukankah ada cerita dimana orang yang sangat kaya dihukum ketika mufti (hakim) melihat tetangganya yang sangat miskin mencuri dari dirinya? Selain itu, hukum syariah juga sepengetahuanku memiliki aturannya tersendiri bagi orang-orang yang bukan muslim untuk memperoleh ketenangan dalam kehidupannya di negara tersebut, sayang aku tidak bisa berbicara banyak tentang itu, keterbatasan ilmu. Belum sempat mencaritahu lagi saat ini, ada yang berminat membahas atau menuliskannya mungkin? Karena bagaimanapun, aku hanyalah pengamat kehidupan yang masih amatir, dengan ilmu yang sangat sedikit tapi penasaran terhadap apa yang akan terjadi jika begini dan begitu 🙂

Mengapa kita Berdoa?

Seseorang, terutama Anda yang sering berdo’a pasti hafal beberapa do’a, sekecil apapun, sependek apapun. Namun, sadarkah kita bahwa tak selalu kita khusyuk dalam berdo’a? Hal ini adalah hal umum yang terjadi di kalangan masyarakat, terutama kawula muda yang makin larut dalam kehidupannya masing-masing. Di sini, saya akan mencoba membahas beberapa masalah dalam berdo’a dan penyelesaiannya.

1. Kepada siapa kita berdo’a?
Ini masalah paling umum di masyarakat. Rata-rata, sekolah memaksa murid untuk menghafal doa-doa harian. Hal ini membuat siswa menjadi berorientasi untuk berdo’a guna mendapatkan nilai. Hal ini menyebabkan siswa berpikir bahwa do’a adalah komplementer, membentuk jalan berpikir bahwa tidak berdo’a ya tidak apa-apa. Hal ini patut menjadi pembahasan, sebab, dengan jalan berpikir seperti ini, lama kelamaan berdo’a akan sama sekali ditinggal oleh masyarakat.

Contohnya seperti ini:
-Seorang anak telah diajarkan do’a makan. Ketika hendak makan, gurunya mengingatkan,”Hayo, jangan lupa berdo’a!”. Kemudian anak itu akan berdo’a sesuai yang diajarkan, misalnya ” Allahuma baariklana, fiima……dst”. Sampai di rumah, ibunya melakukan hal sama yang dilakukan gurunya di sekolah, dan hal itu berulang terus dari hari ke hari.-

Hal ini akan membentuk pemikiran dalam diri anak bahwa berdo’a adalah budaya sebelum makan, bukannya bentuk permohonan pada Allah. Jadi, do’a yang keluar dari mulut hanya sekadar kata-kata belaka tanpa ada pengertian lebih lanjut. Akibatnya, do’a tadi jadi tidak mujarab. Akibatnya pula, anak menjadi tak mengerti maksud dan kegunaan do’a. Do’a tadi tak didasarkan atas permohonan kita pada Allah, namun pada kebiasaan sehari-hari. Hal ini harus kita hindari agar tak terjadi yang namanya kesalahpahaman. Semua orang yang masih belum terlambat dinasehati, harus sesegera mungkin dinasehati, agar, do’a kita makbul dan tidak sia-sia. Do’a yang tanpa harap akan menimbulkan kesan bodoh dan sombong yang tentunya tidak mau kita miliki bersama.

2. Apa tujuan kita berdoa?
Doa dapat kita lakukan dengan bermacam-macam tujuan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena banyak orang yang hanya menghafal doa tanpa mengerti artinya hingga kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak kita pahami. Jika ini dilanjutkan, ada kemungkinan akan terciptanya sebuah bid’ah bahkan mantera perdukunan baru. Karena itu, kita lebih baik menghafal doa sekaligus artinya agar kita bisa lebih menghayati maksud dan tujuan doa ini dibacakan.

Dua poin itu adalah inti dari kesalahpahaman kita yang sering terjadi pada diri kita.
Sekarang pertanyaannya adalah “Sudah benarkah doa yang kita lakukan?”

Apakah Akhwat yang Berjilbab pasti Menutup Auratnya?

Sekarang di Indonesia mulai banyak akhwat yang mulai mengenakan jilbab. Baik karena mengikuti teman, karena udang di balik batu ataupun karena sadar akan kewajibannya menutup aurat.

Masalahnya, berapa banyakkah akhwat yang memakai jilbab itu benar-benar menutup auratnya?
Dalam arti mereka mengerti bagian mana saja yang merupakan aurat bagi mereka dan benar-benar sadar akan tidak bolehnya memperlihatkan aurat mereka.

Suatu hari, saya sedang berada di angkot. Ketika saya melihat keluar jendela, ada seorang akhwat yang berjilbab tetapi ketika dia naik kendaraan bermotor, dia memperlihatkan betisnya yang merupakan bagian dari auratnya. Lalu, saya melihat beberapa akhwat berjilbab lain yang menggulung lengan bajunya sehingga tangannya yang merupakan bagian dari auratnya juga terlihat. Bahkan, banyak sekali akhwat yang berjilbab pacaran. Padahal, jika mereka mengerti apa alasan mereka menggunakan jilbab pasti hal seperti itu tidak akan terjadi.

Coba sekarang kita pikirkan, berapa persentase dari akhwat yang menggunakan jilbab di antara seluruh akhwat yang berada di dunia, paling tidak di Indonesia saja. Pasti persentasenya lumayan. Tapi bagaimana jika kita hitung persentase akhwat yang benar-benar memakai jilbab karena mengerti kewajibannya dengan akhwat yang hanya memakai jilbab, bagaimana hasilnya?

Rahasia Bersyukur

Rasulullah saw pernah bercerita :

Pada masa Bani Israil hiduplah tiga orang sahabat akrab. Orang yang pertama menderita sopak (lepra), orang yang kedua gundul dan orang yang ketiga buta. Suatu hari, Allah swt brmaksud menguji ketiganya. Dia mengutus seorang malaikat untuk menemui mereka.

Yang pertama kali dikunjungi adalah si sopak. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penyakit sopak ini. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang. Gantilah kulit berpenyakit ini dengan kulit bersih dan berwarna indah.” Lalu malaikat itu mengusap kulitnya dan dengan izin Allah swt, seketika penyakit kulitnya sembuh dan menjadi kulit yang bersih dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor unta.” Lalu diberilah dia seekor unta yang sedang hamil.

Yang berikutnya dikunjungi adalah si gundul. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah rambut yang lebat dan indah. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang terhadap kepalaku yang gundul ini.” pinta si gundul memelas. Lalu malaikat itu mengusap kepalanya dan dengan izin Allah swt, seketika tumbuhlah rambut yang tebal dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor sapi.” Lalu diberilah dia seekor sapi yang sedang hamil.

Yang terakhir kali dikunjungi adalah si buta. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penglihatan layaknya penglihatan manusia pada umumnya dan berilah aku seekor kambing.” Maka diusaplah kedua mata orang itu dan dengan izin Allah swt pula orang tersebut bisa melihat kembali. Lalu diberilah dia seekor kambing yang sedang hamil.

Hewan-hewan yang diberikan kepada mereka sangat cepat beranak pinak, sampai akhirnya mereka menjadi kaya raya. Lalu, suatu hari malaikat itu diutus lagi untuk menguji mereka bertiga. Kali ini, sang malaikat diutus dalam wujud seorang laki-laki tua yang kurus, miskin dan penyakitan.

Ia mendatangi si sopak sambil berkata, “Kasihanilah aku, Tuan. Aku seorang tua yang miskin dan tidak punya apa-apa, sementara perjalananku masih jauh. Dengan nama Allah swt yang telah memberikan tuan kulit yang bagus nan indah dan harta yang berlimpah, berilah aku bekal apa adanya agar aku sampai di tempat tujuan.” Si sopak pun menjawab, “Maaf, aku juga banyak kebutuhan lain.”
“Rasanya aku mengenalmu, bukankah engkau adalah orang yang dulunya berpenyakit sopak, lalu Allah swt sembuhkan dan berikan harta yang melimpah?” Dengan nada marah si sopak pun menjawab, “Enak saja! Hartaku ini melimpah karena warisan dari leluhurku. Pergi dan jangan pernah kesini lagi! Aku tidak akan pernah memberimu apapun.”

Lalu, malaikat itu pergi mengunjungi si gundul. Akan tetapi, si gundul itu menghardiknya dan tidak memberikan apa-apa padanya sebagaimana si sopak. Lalu akhirnya malaikat itu pun mengunjungi si buta.

Ketika malaikat yang menyamar menjadi lelaki tua itu mengeluh, si buta berkata, “Ambillah apa pun yang kau butuhkan dan kau inginkan, karena sesungguhnya dahulu aku seorang yang miskin dan buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku dan memberiku rezeki yang berlimpah. Aku tidak punya alasan untuk menghalangimu mengambil apapun dariku.”

Lelaki tua itu lantas berkata, “Tidak usah, sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menguji kalian bertiga. Allah swt meridhaimu dan membenci kedua temanmu.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah ra)

Dari Hadits diatas dapat kita lihat hebatnya syukur.
Sekarang, pertanyaan untuk kita adalah “Sudahkah kita bersyukur atas apa yang Allah swt berikan kepada kita hari ini?”

Israel

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hari ini, 29 Desember 2008/1 Muharram 1430 H, saya menonton sebuah berita di televisi. Di berita itu, diceritakan bahwa Israel kembali menyerang Palestina. Saya yang mendengar berita itu hanya bisa berpikir, apa sesungguhnya alasan Israel terus menerus menyerang Palestina? Apakah dikarenakan perbedaan agama? Atau dikarenakan dendam masa lalu? Saya terus berpikir mengenai hal itu. Mengapa mereka tidak mau saling memaafkan? Mengapa mereka tidak mau berdamai dan saling menghormati?

Hari ini, warga muslim di Palestina merayakan Tahun Baru Hijriyah 1430 H. Apakah serangan dari Israel-yang mengakibatkan sekitar 200 korban jiwa-adalah hadiah dari Israel untuk rakyat Palestina? Saat ini saya benar-benar tidak mengerti pola pikir para petinggi Israel. Sebetulnya apakah yang mereka cari? Tidak bisakah segala sesuatu diselesaikan secara musyawarah?