Apa yang Kuanggap Baik

Apa yang kuanggap baik. Apa yang kau anggap baik. Apa yang dia anghap baik. Apa yang mereka anggap baik. Samakah semua hal tersebut?

Tiap orang punya hal yang mereka anggap baik. Sebuah organisasi seperti partai politik, sebuah prestasi, sebuah keluarga, seorang sahabat atau pendamping yang dianggap sesuai, sebuah amalan, dan banyak lagi. Tiap orang punya standarnya tersendiri. Tapi jika kita melihat kebenaran dari sebuah konteks yang lain, benarkah apa yang kita anggap baik ini memang “baik”? Benarkah organisasi atau partai politik yang kita anggap baik itu memang baik? Benarkah sahabat atau pendamping yang kita anggap sesuai itu baik? Benarkah prestasi atau amalan yang kita lakukan itu baik?

Kadang aku heran dengan orang yang menganggap skeptis atau ragu itu adalah sebuah hal yang buruk. Entah, aku menganggap keraguan adalah upaya kita mencari informasi dari suatu hal yang kita ragukan kebaikannya, karena kita ingin percaya sepenuhnya bahwa hal itu memang baik. Terlepas dari apakah hasilnya ternyata buruk atau memang baik, setidaknya kita melakukan itu karena peduli terhadap hal tersebut kan? Lagipula, sulit untuk menemukan standar baik. Bagi muslim yang taat, umumnya kitab dan perkataan utusanNya lah yang dijadikan acuan, ada juga yang menilai dari apa yang terlihat, atau yang bertanya pada orang-orang berilmu dan/atau berpengalaman. Bagaimana kita mengetahui hal-hal yang tidak terlihat atau tidak pernah kita ketahui? Yah, setidaknya kita berusaha untuk mendekati kebenaran kan?

Entah kenapa pekan ini banyak renungan, hebat, bahkan aku sendiri agak sulit mengerti diriku dan pikiranku. Sedang berminat mengikuti sebuah lomba ilmiah, dimana hadiahnya merupakan sebuah hal yang kuanggap penting. Dan sekarang terpikir begini. Hahaha, terlalu banyak pikiran, salah satu alasan aku tidak terlalu sering ikut kompetisi. Tapi sekarang kelihatannya aku telah memutuskan untuk ikut, bukan karena hadiahnya, tapi karena kesempatan untuk mempublikasikan ideku, kesempatan untuk belajar lebih banyak, dan kesempatan untuk memberi manfaat, yang jika dilakukan dengan niat yang benar dapat membantu kelak di masa depan. Bismillaah 🙂

Yang Baik untuk Yang Baik

Yang baik untuk yang baik. Mungkin kalimat itu telah sering terdengar dalam berbagai variasi. Mulai dari “lelaki yang baik untuk perempuan yang baik” (yang entah kenapa semakin sering terdengar seiring bertambahnya usia di bandung), “balasan yang baik untuk perbuatan yang baik”, yah, banyak lah ya. Tapi sekarang sedang berminat untuk membahas dua kalimat itu, khususnya kalimat yang kedua.

Untuk kalimat pertama, tidak ada yang aneh. Saat seseorang memilih sebuah jalan dan bertemu banyak orang, banyak yang akan berpapasan dengannya. Tapi ada beberapa orang dengan prioritas atau jalan yang sama–meskipun mungkin latar belakang dunia mereka jauh berbeda–yang entah bagaimana bertemu, lalu menganggap prinsip orang tersebut cocok dengannya. Dan jika jalan yang ditempuh atau prioritas yang ditetapkan adalah kebaikan, sama sekali tidak aneh jika lelaki yang baik memilih perempuan yang baik atau sebaliknya kan? Ya, topik yang pertama mungkin memang lebih mampu membuat galau beberapa orang (khususnya beberapa kawanku yang sedang ngebet nikah, entah, punya pendamping dalam suka dan duka mungkin memang menyenangkan, tapi kadang aku mempertanyakan apakah mereka sudah siap berganti tanggungjawab atau belum. Menyendiri sambil mempersiapkan diri bagi yang sudah berniat berganti tanggungjawab–atau bahkan sudah menentukan orang yang ingin dijadikan pendamping tapi belum siap–atau meneruskan perjalanan kebaikan karena siapatahu kelak akan berjalan bersama orang yang tepat bukan hal yang buruk kan?), tapi topik kedua kelihatannya lebih dipertanyakan kebenarannya, dan lebih menarik untuk dibahas.

Dalam Al-Quran Surat Ar-Rahman (55): 60 Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. Maka orang-orang yang berbuat baik seharusnya diberi balasan dengan kebaikan juga. Tapi seiring waktu, aku juga banyak menemukan orang-orang yang kebaikannya seolah tidak ada balasannya. Bahkan ada sahabatku yang tertarik untuk berkecimpung di dunia entepreneur yang berpendapat bahwa, orang-orang yang kaya di dalam dunia bisnis pasti merupakan orang-orang yang licik. Yah, secara logika orang yang terlalu baik dengan membagi-bagikan barang-barang yang dia jual secara gratis kepada orang yang butuh dan kurang mampu kelihatannya tidak akan menjadi kaya kan? Kasusnya berbeda jika seseorang sudah kaya saat melakukan itu, dan, hei, siapa yang tahu kelicikan apa yang dilakukan saat yang terlihat mata hanyalah kekayaan seseorang?

Mungkin ini juga yang terpikir oleh sahabatku. Kelihatannya lumayan banyak ceritaku mengenai sahabat-sahabatku. Aku suka bercerita tentang inspirasi yang kudapat dari mereka memang, entah, mereka terlalu inspiratif dan baik, dan mungkin hal paling minimal yang dapat kulakukan adalah menceritakan kisah mereka, sambil berharap inspirasi dan kebaikan itu dapat menyebar ke berbagai tempat. Sekaligus bentuk syukur karena dipertemukan dengan banyak orang baik lah, dari angkatan atas, seangkatan hingga angkatan bawah, mungkin tiap pertemuan punya maksud tersendiri, seperti agar jadi pembelajaran bagi pribadi, penyemangat dan sahabat untuk berkolaborasi, atau inspirasi untuk disebar ke orang lain. Paragraf yang keluar topik ini ditujukan pada beberapa orang agar berminat untuk terjun di dunia literasi, hahaha.

Saat itu sahabatku yang lain bertanya dengan menyebutkan bengkel dari sebuah jenis motor, menanyakan berapa tip atau uang rokok yang diberikan pada montir saat servis. Beberapa ada yang kurang tahu atau menyebutkan nominal tertentu yang diberikan pada semua montir. Tapi sahabatku ini punya jawaban yang berbeda, dia memberikan tip yang besarnya sesuai dengan rasa puas atau satisfaction yang didapat dari pelayanan sang montir, baik dari penjelasan yang mudah dimengerti, tingkahlaku yang sopan, hasil yang baik dan lain sebagainya. Dia sedang membawa pesan, bahwa orang-orang yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik juga.

Sebagai orang yang tidak membawa kendaraan pribadi, aku mencoba membawa nilai itu dengan cara yang berbeda, menjadi langganan beberapa tempat makan yang pemiliknya baik. Aku tidak memasang banyak kriteria untuk “baik” dalam hal ini, ramah dalam bertegursapa, raut muka yang enak dilihat, tidak mencurangi pembayaran dan harga terjangkau, sisanya sekehendak dan senyaman suasana hati saja. Tapi dalam memutuskannya aku harus sendiri agar tidak terdistraksi. Dan ternyata ada untungnya, kadang malah aku diberi bonus porsi ekstra atau potongan harga saat berkunjung ke beberapa tempat itu. Kelihatannya aku tidak salah memilih tempat, haha. Simbiosis mutualisme lah, mengingat aku juga punya peranan menjaga pemasukan tempat mereka stabil berdasarkan hukum 80-20, 80% pendapatan didapat dari 20% konsumen tetap.

Entah lah, tapi jika kita memang benar-benar percaya bahwa yang baik pantas untuk mendapatkan yang baik, yuk mulai bersikap baik kepada orang-orang baik. Orang yang percaya cenderung bertindak sebagaimana sedang berada di lingkungan ideal yang mereka percaya bukan? Lagipula, kenapa tidak mewujudkan lingkungan yang kita impikan dengan cara seperti itu? Hei, jika semua orang berlaku baik karena mereka percaya, dunia penuh dengan kebaikan tidak mustahil bukan? 🙂

Dua Serigala

Dua Serigala

Satu ilustrasi dan quotes keren (lagi) dari zenpencils 😀 Mungkin memang udah lumayan ramai di dunia maya, tapi tetap worthed buat di-repost :3

Bahwa setiap orang punya potensi untuk memiliki sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk. Dan potensi mana yang akan terwujud semuanya tergantung pada diri orang tersebut, mau membiarkan potensi mana yang mendominasi sifatnya :3

(Sumber: http://zenpencils.com/comic/94-the-two-wolves/)