Tentang Bencana

Tentang Bencana

Copas dari komik biebo, entah bagaimana, kelihatannya hal seperti ini memang ironis.

Daripada mendebatkan apa yang telah terjadi dan berandai-andai apa yang kita bisa lakukan untuk menyangkal bencana terjadi, tidakkah sebaiknya kita mulai melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kondisi? ๐Ÿ™‚

Trip to Kansai-Documentation Day 1-2

Sesuai yang dijanjikanl, berikut merupakan dokumentasi kegiatanku selama di Jepang beberapa waktu yang lalu. Oiya, dokumentasi yang ada disini juga menumpang jasa kamera dan kesediaan seorang sahabat yang ikut dan mendapatkan foto yang bagus. Half of the credits for Soraya Rizka atas beberapa fotonya yang di-update disini, karena fotonya diambil langsung dari Facebook umumnya foto yang kuambil darinya berukuran kecil jika ada penasaran mana yang kuambil dan mana yang tidak kuambil. Sekaligus mempromosikan blognya sebagai kompensasi: http://dengeeky.wordpress.com ๐Ÿ˜€

Kansai International Airport (KIX)

Ini dokumentasi saat terpaksa harus bermalam di bandara karena tertinggal bis terakhir, yah, meskipun suhunya belasan Celsius setidaknya memang jauh lebih baik daripada harus menghabiskan malam di luar yang suhunya 4 derajat Celsius kebawah.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000516

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000517

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000518

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000519

Trip to Kobe — Sunrise in The Land of The Rising Sun

Dan ini dokumentasi perjalanan dari Bandara KIX ke Kota Kobe, berangkat saat matahari terbit di negeri matahari terbit, pengalaman lah ya.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000524

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000528

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000530

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000532

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000533

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000534

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000542

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000543

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000546

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000547

HAT (Happy Active Town) Kobe

Dan ini kota pertama yang dikunjungi, di hari kedua. Kobe, kota yang sempat menjadi pusat pelabuhan dunia namun sempat hancur karena The Great Hanshin Earthquake pada tahun 1995 silam. Meskipun saat ini kota telah kembali pulih, ada beberapa orang yang berkata bahwa kejayaan masa lalu kota ini masih belum dapat dikembalikan.

1800326_10203470130942467_1217122044_n

1965068_10203470131302476_1801750753_n

1904103_10203470133422529_1367326100_n

1779864_10203470133822539_571980674_n

1900115_10203470136902616_238090057_n

1660900_10203470137422629_1099512505_n

Meriken Park-Kobe Tower

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000553

Dan ini merupakan tempat terakhir yang sempat dikunjungi pada hari kedua. Meriken Park dan Kobe Tower. Ya, kata “Meriken” diambil dari “American”, yang berlatarbelakang berdirinya kedutaan besar Amerika di taman tersebut. Selain itu, di dekatnya juga terdapat Kobe Tower, bangunan berwarna merah yang menjulang tinggi itu, salah satu simbol bagi kota pelabuhan ini.

1622866_10203470139342677_1577749608_n

1653725_10203470140542707_314759918_n

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000554

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000556

Dan dalam Meriken Park tersebut juga ada Monumen Gempa Hanshin, tidak semua bagian dari taman tersebut direvitalisasi penuh. Ada beberapa bagian yang ditinggalkan sebagaimana kondisi setelah gempa agar dapat dijadikan pelajaran bagi generasi berikutnya, dan berikut adalah gambar dari monumen dengan beberapa partisi dengan luminer uplight sebagai penerang yang berisi penjelasan serta diorama dan pemutar film yang terdapat pada taman tersebut.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000558

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000559

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000560

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000561

Dan saat selesai melihat-lihat pun malam tiba. Sebenarnya kondisi malam di Meriken Park lumayan indah, tapi tubuh yang masih belum beradaptasi dengan baik pada temperatur dimana air hampir membeku menyebabkan perjalanan sebaiknya segera diakhiri. Yah, setidaknya ada foto Meriken Park saat malam hari dan China Town yang kebetulan kami lewati dalam perjalanan pulang meski tidak banyak.

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000562

NOKIA Lumia 900 Laksmana_000563

1660443_10203470150702961_644385011_n

Yang jelas, ada benarnya jika ada orang yang berkata kita memang perlu tahu bagaimana kondisi di luar sana, agar tidak terus-menerus menjadi katak dalam tempurung. Entah lah, tapi setelah melihat dunia yang, hm, sangat berbeda, aku jadi terpikir bahwa ada banyak hal yang kupelajari di Jepang dapat diaplikasikan di Indonesia. Entah untuk memperbaiki sistemnya, meningkatkan keamanan warga, dan lain semacamnya. Tidak ada salahnya memulai perubahan dengan meniru yang lebih baik kan? Bukankah semua tokoh ternama juga memiliki seseorang yang dia tiru sebelum bisa mengembangkan gayanya sendiri?

Distraksi bagi orang-orang yang tengah menunaikan Ujian Tengah Semester memang, haha. Yah, foto-foto di hari yang lain akan diunggah saat koneksi internet memungkinkan untuk mengunggah lah ya, sekarang ini saja dulu. Have a nice day!

Musibah

Sesekali main di facebook, sekalian ngeberesin tugas yang belum kelar, dan ada seorang sahabatku yang mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:

“Bencana itu pada dasarnya punya dua perspektif: pertama itu buatan manusia atau buatan alam; kedua itu hukuman dari Tuhan atau ujian dari Tuhan. Manusia bisa menganalisis dan menentukan yang pertama. Buat yang kedua, apa kepantasan kita untuk menilai manusia lain?”

Renungan yang lumayan tepat untuk malam ini, meski renungan kali ini kurang khidmat karena ada deadline yang harus dikejar, haha. Bagaimanapun juga, ini sudah sekitar tiga hari gunung kelud meletus, yang dampaknya juga secara tidak langsung kurasakan di bandung. Selama tiga hari ini aku tidak mampu bertahan di luar kamar kosanku terlalu lama tanpa membuat mataku menjadi perih, yang kucoba atasi hanya dengan meningkatkan intensitas kedipan mata karena khawatir bahaya yang timbul akan lebih banyak. Turut bahagia karena rahmatNya dalam bentuk hujan turun di sore hari ini, momen pertama aku bisa keluar tanpa menyakiti mata karena partikel-partikel yang dikeluarkan letusan tersebut terbawa turun ke tanah oleh air hujan. Pertama kalinya juga bisa nyaman beraktivitas tanpa masker, padahal tadi siang saat mencari colokan pipih untuk persiapan aktivitas di jepang debunya masih membuat mata sakit, alhamdulillaah ๐Ÿ˜€ Sayang colokan pipihnya belum ditemukan, setidaknya sudah mendapat pinjaman kupluk dan syal lah, semoga lancar ๐Ÿ˜€

Bagian pertama, siapa yang dapat disalahkan dalam bencana ini, manusia atau alam? Pertanyaan ini tergolong mudah dijawab. Dari mana sumber api penyebab kebakaran di kompleks pasar A? Apakah dari arus pendek perlengkapan elektronik seorang pedagang ataukah sambaran petir di dekat lokasi kejadian? Kita umumnya akan tahu bahwa alam sedang berulah dalam bencana seperti angin topan dan tsunami, dan kita juga umumnya akan tahu manusia yang salah jika ada bencana macam banjir karena tata kelola air yang kurang baik atau rubuhnya sebuah bangunan saat alam sedang tenang. Oke, mungkin memang tiap manusia punya metode yang berbeda dalam menyikapi terjadinya bencana, ada yang berusaha bangkit dan menolong korban yang lain meski dirinya turut menjadi korban, ada yang terpaku dan termangu karena tidak tahu apa lagi yang dapat dilakukan, ada yang merutuki nasib, ada yang mencari kambing hitam apapun yang dapat disalahkan seolah semua akan berubah jika ada pihak yang mengakui dirinya bersalah (yah, dalam beberapa kasus memang harus diakui, tuntutan ganti rugi jumlahnya tidak sedikit), masih banyak lagi jenis respon yang dapat diberikan oleh manusia jika dirinya terkena sebuah musibah seperti bencana. Namun, kita semua dapat mengetahui siapa yang salah, kondisi alam ataukah manusia.

Berbeda dengan hal yang kedua, ini hukuman atau ujian dari Allah? Hm, selagi menunggu proses instalasi dialux selesai di laptop sahabat sekosan (yang kadang kumanfaatkan untuk nugas karena beberapa faktor), meracau tentang ini kelihatannya seru juga.

Jadi ingat kondisi serupa yang terjadi hampir sedekade yang lalu, saat tsunami melanda provinsi paling utara dari indonesia. Aku masih lumayan ingat bagaimana situasi saat itu di tempat domisiliku, karena saat itu semuanya berubah. Semua stasiun televisi seolah berlomba untuk menyalurkan bantuan ke provinsi tersebut yang nominalnya besar sekali, tiap stasiun menunjukkan nilai angka yang berkisar antara delapan hingga sembilan digit angka, saat itu aku sempat berpikir bahwa dengan sumbangan sebanyak itu tiap orang bisa bertahan hingga kondisi disana kembali aman dengan menggunakan data harga makanan dan aqua galon isi ulang yang ada di dekat rumahku. Yah, memang agak sulit mengharapkan anak kecil tahu harga infrastruktur kota yang nilainya bisa mencapai 10 digit uang rupiah, apa lagi jika kerjaannya hanya makan, jajan, main dan tidur, haha.

Dan salah satu hal lain yang kuperhatikan berubah adalah topik ceramah shalat jumat. Aku ingat bahwa topik ceramahnya lumayan sering membahas bencana tsunami tersebut, dengan mengatakan bahwa bencana tersebut merupakan azab yang ditimpakan pada daerah tersebut karena kaum muslim disana merayakan hari raya umat beragama lain secara berlebihan. Entah karena pengaruh dari serial hidayah yang sedang diputar di sebuah stasiun tv atau memang pembicaraan azab dan siksa kubur sedang ramai saat itu, yang jelas teori ini sering dibicarakan, setidaknya aku lumayan yakin teori ini kudengar di lebih dari dua khutbah jumat. Dan saat guruku berargumen bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Yang Maha Penyayang, dan semua kejadian yang ada di dunia saat ini dapat diprediksi secara saintifik, aku merasa senang. Entah kenapa, mungkin karena saat itu aku juga tergolong nakal–jumlah furnitur yang rusak karena aku dan saudara-saudaraku bermain bola di dalam rumah sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan satu manusia–jika hukumannya berupa musibah yang menyebabkan kematian atau cedera berat, hm, kedengarannya bukan hal yang diinginkan oleh anak kecil kan?

Aku sempat lupa peristiwa itu sebelum beberapa waktu yang lalu khutbah jumat kembali mengangkat tema tersebut. Namun, khutbah jumat beberapa pekan lalu tersebut menurutku lebih bijak, dengan mengklasifikasikan sebuah peristiwa kedalam tiga jenis bagi orang yang mengalaminya, yaitu azab, anugrah dan cobaan atau pengingat. Sederhananya, jika orang yang sering berbuat jahat meninggal saat musibah sebelum sempat bertobat, itu adalah azab. Jika orang yang sering berbuat baik meninggal saat musibah (saat sedang melakukan perbuatan baiknya), itu adalah anugrah. Sementara bagi orang-orang yang selamat dan orang-orang yang mengetahui terjadinya peristiwa tersebut, itu adalah cobaan atau pengingat. Pembagian ini menurutku lebih adil daripada penilaian secara sepihak dengan menggunakan prasangka yang kuungkap sebelumnya.

Dan saat ini pun aku agak bingung, untuk apa kita mempertanyakan apakah suatu hal merupakan azab, anugrah, cobaan atau pengingat dari-Nya? Bukankah semua tergantung pada diri kita, jika sebuah musibah menimpa diri kita, akan kita jadikan apa musibah tersebut. Jika ingin musibah tersebut menjadi azab, teruslah berbuat buruk, mungkin musibah itu akan datang saat perbuatan buruk sedang berlangsung. Jika ingin menjadikan musibah tersebut sebagai anugrah, dengan logika yang sama, teruslah berbuat baik. Dan jika ingin menjadikan musibah itu sebagai cobaan atau pengingat, kita perlu belajar untuk menghadapinya dengan baik bukan? ๐Ÿ™‚

Rambu Bencana BDSG

Bencana merupakan kondisi yang terjadi saat hal-hal di sekitar kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, bahkan dalam tahapan lebih lanjut kondisi tersebut dapat membahayakan diri kita. Kita tentu tidak bisa memprediksi segala hal di sekitar kita, siapa yang dapat memprediksi besok akan ada 2 ekor lebah yang lewat tepat di samping telinga kita, ular berbisa yang melata lima meter dari kaki kita atau motor yang melaju kencang di sebelah kiri kita saat kita akan menyebrang jalan? Siapa juga yang dapat memperkirakan dengan jelas pengaruh dari perubahan iklim seperti pemanasan global, kapan bencana alam seperti tsunami dan angin topan terjadi, atau kapan manusia lalai sehingga timbul kebakaran dan banjir? Dan siapa yang yakin kalau hal-hal seperti itu benar-benar terjadi, kita akan dapat melaluinya dengan baik? Justru karena hal-hal seperti ini sangat sulit untuk diprediksi, kita harus mempersiapkan diri agar kita dapat melalui bahaya yang mungkin terjadi dengan sebaik mungkin. Yah, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, bukan?

Untuk menghadapi bencana, mungkin diperlukan rambu-rambu khusus seperti rambu parkir yang diletakkan di berbagai tempat, untuk mengingatkan mengenai apa yang perlu dilakukan saat terjadi bencana. Bagaimanapun, akan sulit untuk berpikir jernih saat kita berada dalam keadaan panik. Selain itu, Indonesia juga jarang melakukan simulasi terkait bagaimana kita perlu bersikap apabila suatu saat terjadi bencana, sehingga mungkin tidak banyak yang tahu apa yang dapat kita lakukan kalau bencana terjadi. Panik dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan, hm, kelihatannya bukan kombinasi yang baik.

Ada artikel menarik terkait rambu bencana yang didesain oleh kak susan, salah satu anggota dari organisasiku saat ini, Bandung Disaster Study Group, atau lebih dikenal dengan sebutan BDSG, dikutip dariย http://beritagar.com/p/rambu-sederhana-hadapi-bencana-ala-bdsg-10738, kelihatannya krisantidesain merupakan nama usaha pribadinya. Rambu bencana ini dibuat dengan mendesain ulang kartu permainan “Bosai Duck”, permainan terkait siap siaga menghadapi bencana yang diciptakan oleh Profesor Yamori dari Universitas Kyoto, yang kelihatannya sudah lumayan dikenal oleh organisasi ini. BDSG juga lumayan sering menggunakan gerakan-gerakan seperti ini untuk permainan atau sekedar ice breaking dalam kegiatannya memberikan edukasi di bidang kebencanaan pada usia muda, dan kegiatan-kegiatan dari BDSG dapat dilihat pada webnya, http://bandung-disaster-study-group.blogspot.com/. Dan berikut contoh dari beberapa rambu yang telah didesain ulang tersebut, beserta dengan penjelasannya:

Image

Saat gunung meletus, segera lah berlari menjauh dari sungai ataupun lembah. Kenapa? Karena benda yang keluar saat letusan gunung merapi seperti lava dan piroklastik akan mengalir turun dari gunung merapi menuju ke daerah yang lebih rendah. Jika aliran benda tersebut mencapai sungai, tentunya benda tersebut akan mengikuti aliran sungai dan menuju ke daerah yang lebih rendah, dan mungkin berujung ke laut. Hindari juga daerah lembah, apalagi bentuk cekungan seperti danau, karena besar kemungkinan daerah seperti itu akan dilalui aliran lava atau piroklastik juga. Selain itu, ada baiknya juga kalau kita berada di luar rumah untuk menutupi bagian tubuh kita dengan benda seperti tas atau berlindung dari arah letusan, ada kemungkinan batu yang terlontar dari letusan gunung merapi sedang mengarah ke kita. Menggunakan masker juga bukan ide yang buruk, ingat sms terkait partikel kaca yang tersebar di udara–yang dapat merusak paru-paru jika terhirup dalam jumlah banyak–saat gunung merapi baru saja meletus?

ย 9_2-lebah_l

Bila ada lebah, diam lah dan jangan bergerak, apa lagi bergerak secara tiba-tiba. Lebah memiliki pergerakan yang lumayan cepat, dan jika kita bergerak secara tiba-tiba, ada kemungkinan lebah tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengubah arah terbangnya dan justru itu yang menjadi awal dari bencana. Ada beberapa kawan yang mengatakan kalau ada lebah berkatalah (atau mungkin berbisiklah) “pahit… pahit… pahit…” agar lebah tersebut menjauh, dan meskipun ini masih diragukan kebenarannya, ada kah yang pernah mencoba dan tersengat?

9_3-tsunami_l

Kalau ada tsunami, segeralah berlari ke tempat yang lebih tinggi. Bagaimanapun, setelah terjadi tsunami, ombak akan kembali ke lautan dengan daya tarik yang sangat besar, dan daripada bertahan dari terjangan dan tarikan ombak dengan berpegang di pohon atau bertahan di atap masjid, segera menjauh ke tempat tinggi yang tidak terjangkau tsunami kedengarannya lebih mudah dilakukan. Sejarah mencatat tsunami terbesar yang terjadi di Alaska pada tahun 1958 memiliki ketinggian 1720 kaki atau sekitar 524 meter, dapat dilihat diย http://geology.com/records/biggest-tsunami.shtml. Jika data tersebut memang tepat, dengan memasukkan galat perhitungan untuk berjaga-jaga, maka ins syaa Allah kita akan aman jika berada di daerah dengan ketinggian di atas 600 meter, bukan? Tapi jika di data yang tidak tercatat (mungkin jauh sebelum manusia mulai menyadari pentingnya mendokumentasikan hal-hal yang pernah terjadi) ternyata ada tsunami dengan ketinggian diatas 2000 meter, yah, mari kita berdoa agar dilindungi Yang Maha Kuasa. Tapi jika itu memang terjadi, tetap saja berlari ke tempat yang tinggi, setidaknya kemungkinan untuk selamat di daerah tinggi lebih besar dibandingkan kemungkinan untuk selamat di daerah yang lebih rendah ๐Ÿ™‚

9_4-nyeberang_l

Masih perlukah rambu ini dijelaskan? Bukankah sudah jelas bahwa kita perlu melihat ke sekeliling kita apakah ada kendaraan yang sedang melaju dengan cepat atau tidak untuk memungkinkan kita dapat menyeberang jalan? Hm, mengingat kasus yang baru-baru ini terjadi antara truk dan kereta, mungkin ada baiknya jika pengemudi kendaraan yang ingin menyeberang rel kereta juga menengok ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu untuk memastikan semua berlangsung aman. Bagaimanapun juga, meskipun dalam kondisi dimana hanya satu pihak yang patut disalahkan sebagai penyebab kecelakaan, korban yang timbul mungkin saja akan berasal dari kedua belah pihak kan? Apa salahnya berhati-hati sedikit? ๐Ÿ™‚

9_6-asap_l

Rambu terakhir yang dimasukkan ke dalam artikel tersebut dan yang akan kubahas di artikel ini, mungkin akan di-update lain kali saat aku mendapatkan gambar lengkap rambu-rambu yang ada. Jika banyak asap, gunakan penutup hidung dan mulut. Karena asap umumnya merupakan produk hasil dari pembakaran, yang umumnya mengandung kombinasi dari karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna. Karbon monoksida akan terikat oleh hemoglobin di darah kita sehingga kadar oksigen yang dikelola dalam tubuh berkurang dan metabolisme tubuh terhambat, dan karbon monoksida juga dapat menyebabkan keracunan akibat karbon monoksida yang masuk kedalam tubuh merusak sel-sel di dalam tubuh, dan dampak keracunan karbon monoksida bagi tiap orang mungkin saja berbeda. Sementara bertambahnya karbon dioksida akan mengurangi kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh, dapat menyebabkan efek lemas dan sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Itu pun baru membahas karbon dioksida saja, mungkin masih banyak partikel senyawa lain dalam asap itu yang dapat membahayakan tubuh manusia. Atau bahkan mungkin ada partikel kaca yang terselip seperti yang telah dijelaskan pada rambu gunung berapi diatas.

Yah, bagaimanapun tidak ada salahnya mempersiapkan untuk kemungkinan terburuk kan?

Typhoon

Ada yang tahu kalau baru-baru ini Filipina baru saja mengalami Super Typhoon Haiyan? Super Typhoon Haiyan ini (katanya) dikategorikan sebagai badai tropis terkuat yang pernah ada dalam sejarah dengan kecepatan angin 315 km/jam dan kecepatan tiupan “gust”nya dapat mencapai 380 km/jam.

ย 

Mungkin bisa jadi salah satu pengingat bagi kita untuk bersyukur karena kemungkinan terjadinya Typhoon di Indonesia kecil ๐Ÿ™‚