Cerita

Kadang aku terlalu mudah terbawa cerita. Novel, komik, majalah, buku apapun lah. Dan sekarang juga begitu, sedang terbawa oleh novel seri young sherlock holmes karya andrew lane. Dan sampai sekarang kalau membuka google dan browsing tentang film-film di jaman dahulu seperti lorong waktu dan si unyil, meski aku tidak sepenuhnya ingat cerita lengkapnya tetap saja ada perasaan nostalgia tersendiri. Aku juga penasaran dengan sinetron seperti keluarga cemara dan si doel anak sekolahan yang dulu sempat booming, terutama setelah membaca http://m.kompasiana.com/post/read/510591/3/lima-sinetron-legendaris-indonesia, haha. Sayang keempat judul tersebut agak sulit dicari di internet. Hanya menemukan beberapa musim lorong waktu, lumayan lah buat nostalgia. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai serial jadul seperti ini daripada serial indonesia yang ada saat ini, yah, semua orang berhak untuk punya preferensi tersendiri kan?

Yang jelas jaman dahulu itu lorong waktu merupakan satu-satunya sinetron yang kuikuti, dan entah kenapa selalu jadi pengingat dan pembelajar yang kusukai. Sayang eranya sudah berakhir, hahaha, kelihatannya ini salah satu contoh sulitnya move on dari masa lalu ya. Agak merasa sayang karena sudah berakhir sih, tapi senang lah karena sempat punya kesempatan mengenal sinetron macam itu, memang tidak semua aspek dari sinetron itu bagus sih, aku juga tahu kok ada beberapa hal yang kurang sesuai. Tapi kalau melihat sinetron yang sekarang lebih banyak kekurangannya, hm, ya sudah lah ya, haha.

Hm, kembali ke novel young sherlock holmes pertama, Death Cloud. Salah satu bagian yang kusuka dari novel ini adalah bagian dimana Amyus Crowe memberikan tebak-tebakan yang, sebenarnya sudah lumayan populer dan sering diceritakan. Salah satu versi bahasa indonesianya adalah begini, “A dan B patungan masing-masing 50juta untuk membeli mobil seharga 100juta dari C. Ternyata C memberikan cashback (atau kembalian) 3juta sebagai pelayanan khusus. Karena senang, maka A dan B sepakat untuk memberikan 1juta sebagai bonus bagi C, lalu masing-masing mengambil kembali 1juta. Sehingga A dan B masing-masing hanya menyumbang 49juta pada akhirnya. Pertanyaannya, jika A dan B masing-masing menyumbang 49juta, ditambah dengan uang bonus 1juta yang diberikan kepada C, totalnya adalah 99juta, kemana sisa 1jutanya?”

Pertanyaan trik. Karena 1juta yang diberikan kepada C merupakan bagian dari 98juta, total yang diberikan A dan B. Jelas jumlah itu tidak bisa ditambahkan, pertanyaan ini sejak awal sudah salah. Dan yang menarik, Amyus Crowe yang saat itu berlaku sebagai guru yang mengajarkan metode berpikir kepada Sherlock muda mengatakan, “Permasalahannya ada pada deskripsi. Memang benar 49juta dikali 2 itu 98juta, tapi uang bonus 1juta itu sudah termasuk di dalamnya. Kalau kamu menyusun ulang masalahnya, kamu akan sadar bahwa A dan B membayar 97juta untuk mobil dan 1juta untuk uang bonus. Maka yang kita pelajari adalah …?”

Dan Sherlock muda pun menjawab, “Jangan biarkan orang lain mempengaruhimu dengan opininya, karena mereka mungkin akan mengarahkanmu pada arah yang salah. Ambillah fakta-fakta yang ada, lalu olah semua informasi tersebut dan pandanglah sebuah masalah dari sudut pandang yang logis dan memungkinkanmu menyelesaikannya.” Begitulah nyatanya, dalam pertanyaan trik itu semua akan selesai jika kita hanya memandang fakta berikut, “A dan B menyumbang masing-masing 50juta”, “C memberikan cashback 3juta kepada A dan B” dan “A dan B memberikan bonus 1juta kepada C dan masing-masing mengambil kembali 1juta”.

Tiap cerita pasti melibatkan fakta dan opini, terlepas dari apakah cerita itu hanya khayal fiksi ataupun bukan. Tapi, jika kita langsung percaya begitu saja pada semua yang kita dengar, ada kemungkinan kita justru akan menjadikan informasi palsu atau opini sebagai fakta, dan hal tersebut justru dapat menyesatkan kita. Entah kenapa aku menganggap hal ini perlu kita beri perhatian khusus, apalagi di tahun ini, tahun pemilihan umum, tahun yang katanya penuh dengam intrik politik, muslihat kotor dan lain sebagainya. Pemilu juga kelihatannya merupakan cerita yang paling populer di saat ini. Waktunya kita belajar untuk membedakan fakta dan opini dari sebuah cerita, memeriksa ulang kebenaran fakta yang disampaikan dan lebih cerdas dalam menarik kesimpulan.

Ada banyak berita terkait partai, tokoh, dan berbagai informasi lainnya yang dapat ditemukan di media massa, internet, poster atau selebaran dan lain sebagainya. Dan nyatanya, berapa banyak berita tersebut yang merupakan informasi yang salah atau opini?

Entah lah, lima tahun yang lalu sebuah pengalaman unik membuatku terlibat dengan pemilu meskipun belum punya hak untuk memilih, dan dalam keberjalanan saat itu juga aku melihat berbagai jenis orang. Ada orang yang percaya buta pada tokoh atau partai yang dia pilih dan yakin apapun yang dilakukan oleh yang dipilih itu benar. Ada yang memilih hanya karena ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan organisasi atau teman sepergaulannya tanpa tahu apa langkah yang diusung sang calon dan tidak membandingkannya dengan calon-calon lainnya. Ada yang mendukung penuh seorang calon, tapi langsung berbalik dan menyebarkan keburukan calon tersebut saat ada insiden yang terjadi. Ada orang yang menjual suaranya dengan harga tertentu. Ada yang idealis dan memang mendukung calon yang sangat dia sepakati visi dan misinya, tapi merasa terkhianati saat ada insiden lain yang menyebabkan dia kehilangan kepercayaan pada pilihannya, dan entah apakah pilihannya itu benar-benar menjalankan (atau setidaknya mencoba melakukan) janji-janji yang dibuat. Ada juga yang idealis dan terus mengingatkan calon yang terpilih akan janji-janjinya dan kepentingan rakyat melalui demonstrasi, yang entah didengar atau tidak oleh para wakil rakyat itu. Haha, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi apatis-sinis terhadap pemilu, aku juga masih bertanya-tanya kenapa.

Malam kemarin ada cerita yang menarik terkait ini, ada yang berbagi cerita di bidang motivasi, organisasi dan politik. Sayang ada beberapa bagian yang kuanggap kurang tepat perumpamaannya, seperti saat dia menggambarkan tentang motivasi. Bayangkan kita berada di atap sebuah gedung, dimana ada gedung lain yang tingginya sama dan dapat dicapai dengan meloncat, maukah kita meloncat kesana? Saat itu belum ada yang mau, tapi aku sudah tahu arah pembicaraan dan bergumam, “tergantung, kalau gedungnya terbakar aku loncat.” Salah satu hal yang kurang menyenangkan dari sikap logis adalah kamu kehilangan kesenangan dan rasa “oh, iya juga” saat orang lain mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan melalui perumpamaan jika kamu berhasil menebaknya duluan. Oke, dia yang mendengar juga berucap, “nanti dibahas”. Dia pun memberikan perubahan situasi, dengan menambahkan kondisi menaruh uang satu milyar di atap gedung sebelahnya yang diperuntukkan bagi orang yang berhasil meloncat. Masih belum banyak yang mau memilih meloncat. Di skenario ketiga baru lah dia mengganti variabel uang di gedung sebelah dengan variabel singa di atas gedung yang sama, mau meloncat ke gedung sebelah kalau ada singa yang kelaparan di atap gedung yang sama? Aku diam karena mengerti dan memang ingin membiarkan dia menyampaikan poin penting yang ingin dia buat, bahwa tiap orang perlu motivasi untuk melakukan suatu hal, baik berupa uang di gedung seberang, keselamatan nyawa dari singa dan lain sebagainya. Tapi jika itu ditanyakan padaku, aku pasti akan memilih menetap di atap gedung itu dan mencari cara untuk menjatuhkan singanya, karena jika aku berhasil melompat, aku yakin singa itu pasti juga berhasil melompat. Hal lain yang kurang menyenangkan menjadi orang yang logis, teknis dan pendiam itu adalah kejadian seperti ini, perlu perumpamaan yang memang tepat untuk menyampaikan maksud yang mengena dengan baik. Ah, sudah lah, toh aku memang bukan orang yang suka berbicara ataupun menjadi pusat perhatian orang lain, senang ada yang mau menyampaikan informasi tersebut, tapi sayang perumpamaannya kurang tepat. Ah, sudah lah, terlalu mengandalkan logika itu kadamg menyebalkan juga ya.

Yang jelas, lumayan banyak yang kusetujui, baik fakta yang disampaikan atau pun opini yang kebetulan sama. Namun tidak sedikit juga opini yang kupertanyakan. Terkait politik, dia bercerita bahwa saat ini banyak orang hukum yang tidak mengerti teknis, dan menganggap bahwa akan lebih mudah jika mengajarkan hukum kepada orang-orang teknis. Mungkin ada benarnya, tapi jika melihat kondisi lapangan saat ini, aku menganggap bahwa meskipun ceritanya mengandung fakta yang benar, bukan itu inti masalah politik yang ada saat ini. Karena dari apa yang kulihat dan kuamati selama ini, salah satu penyebab dari minimnya partisipasi politik adalah karena orang-orang tidak percaya bahwa suaranya dapat membuat perubahan.

Pernah mendengar kalimat seperti, “udah lah ya, siapapun yang kepilih toh kita bakal tetap gini-gini aja”, “semua partai sama aja busuknya”, “pemilu itu cuma permainan politik” dan lain sebagainya? Menurutku itu lebih merupakan ungkapan ketidakpercayaan kepada pemerintahan yang ada. Kenapa? Karena kita tidak tahu apakah suara atau aspirasi yang kita berikan memang dapat merubah sesuatu, entah itu nasib bangsa, masa depan, atau hal-hal lainnya. Mungkin ini perlu dijadikan prioritas dpr di jaman berikutnya, bagaimana cara agar masyarakat tahu bahwa ada aspirasi mereka yang memang dapat mengubah sesuatu. Menurutku hal itu akan lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat, apalagi bagi anak muda yang punya ideologi dan ekspektasi tinggi. Iya, ini memang cuma opini yang kesimpulannya kutarik dari fakta-fakta yang kuketahui, mungkin benar dan mungkin salah sebagaimana opini tiap orang, tapi bukankah semua orang berhak untuk punya opini tersendiri?

Jadi ingat waktu itu ada forum dimana ada seseorang yang berniat menjadi calon presiden dan menceritakan apa yang akan dia lakukan jika terpilih. Aku tidak punya masalah dengan ceritanya, tapi masalahnya lebih kepada keterlambatan beliau. Entah kenapa aku menganggap seorang eksekutor itu harus paham teknis lapangan, seperti manajemen waktu dan pemanfaatan teknologi. Aku mempertanyakan alasan keterlambatannya dan kenapa dia tidak menggunakan teknologi seperti video call skype untuk meminimalisir kekesalan para peserta. Entah lah, aku menganggap penting bagi seorang eksekutor untuk mengetahui langkah terbaik apa yang dapat diambil dan menghargai orang-orang yang dia pimpin, dan aku menganggap keterlambatan yang sangat parah sebagai sebuah pernyataan bahwa orang-orang yang hadir tidak dia anggap penting. Ini memang bukan acara debat yang diselenggarakan stasiun tv dan disaksikan banyak orang, tapi kita tetap warga yang akan dia pimpin kalau terpilih kan?

Ah, sudah lah. Sekarang kelihatannya membahas cerita politik memang sedang seru, setidaknya meracau untuk melepaakan ketegangan uts yang akan dihadapi pekan depan itu hal yang wajar kan? Yah, memang di semester ini aku masih punya tanggungan lain selain tugas akhir, haha. Ya sudah lah, semoga pikiran cepat plong dari uts dan dapat fokus kembali ke tugas akhir dan rencana memperoleh beasiswa S2 di tempat yang bagus lah ya. Dan jelas untuk dapat mewujudkannya, aku tidak bisa menjadi orang yang terus-terusan hanyut oleh cerita orang, apa jadinya kalau teknologi dibuat dengan kesalahan informasi? Waktunya berusaha dan terus mengevaluasi diri, bismillaah 😀

Donor Darah

“Temen2 skhole, ad yang sekarang di Bandung dan bergolongan darah A?
Ada anak kritis di hasan sadikin butuh donor. Bls cepat yaaa.”
Begitulah isi sms yang kuterima tadi sore. Awalnya agak kaget karena ini pertamakalinya aku mendapat info ini di bandung, karena dari perbincangan dengan relawan pmi dari daerah luar bandung saat acara donor darah yang diselenggarakan sekelompok himpunan (termasuk himpunanku), jumlah persediaan darah di bandung relatif aman jika dibandingkan dengan persediaan di daerah. Dan karena itulah saat donor darah umumnya pmi dari luar bandung lah yang sering berkunjung. Entah, sekarang aku mulai ragu, apa ini adalah maksud dari relatif atau aku salah dengar waktu itu.

Karena kecocokan golongan darah, dan sudah 3 bulan sejak donor terakhir, ya sudah lah. Apa salahnya mendonor lagi sekarang? Lagipula banyak kok manfaat dari donor darah, seperti menjaga kesehatan jantung dan produksi sel darah merah, mendeteksi penyakit serius, dan semacamnya. Aku lumayan tahu sebab himpunanku mengadakan acara ini sekitar 2-3 kali dalam setahun. Dan setelah menunggu keputusan dari relawan pmi terkait, akhirnya aku dijemput oleh seniorku untuk mendonor.

Di perjalanan kami pun berbincang tentang benar tidaknya informasi yang kudapat, bahwa persediaan darah di bandung relatif aman. Dan ternyata tidak. Sebelumnya seniorku juga sempat bertanya dengan relawan yang ada, dan ternyata, meskipun banyak orang yang mendonorkan darahnya di pmi tiap hari, namun jumlah orang yang membutuhkan darah tiap harinya masih lebih banyak. Orang yang butuh darah umumnya pun disebabkan kecelakaan atau penyakit seperti thalasemia atau anemia, dan mungkin masih ada penyebab lain. Yah, kelihatannya saat ini neraca masih menunjukkan defisit, dan otakku pun langsung menarik kesimpulan bahwa untuk mengatasi kondisi ini, kita perlu menambah jumlah darah yang masuk, atau mengurangi jumlah darah yang keluar. Meskipun menambah jumlah pendonor atau mengurangi jumlah kecelakaan (karena penyakit mungkin agak sulit dikurangi) tidak semudah membicarakannya, tapi bagi orang luar yang awam di dunia medik mungkin itu hal terbaik yang dapat kita lakukan. Menyumbangkan darah sendiri serta mengajak kawan-kawan untuk turut berpartisipasi dan berhati-hati dalam berkendara mungkin dapat membantu, sebagai motivasi, ingat lah bahwa saat neraca persediaan darah menunjukkan defisit, akan ada pasien yang tidak mendapatkan transfusi darah sebagai korban. Hal ini tidak akan terlalu menyenangkan apabila pasien yang menjadi korban adalah dirimu, atau orang-orang yang dekat denganmu, bukan?

Seniorku juga bercerita bahwa awalnya dia yang bergolongan darah O ingin mendonorkan darahnya, selaku pemilik golongan darah donor universal yang dapat disalurkan ke golongan darah manapun. Namun, relawan tersebut juga berkata bahwa ternyata lebih baik menerima transfusi dari golongan darah yang sama. Memang golongan darah O bisa mentransfusikan darahnya ke golongan darah lain seperti yang anak ipa pelajari di sma, namun ada efek samping yang dapat membahayakan penerima darah, seperti daya tahan tubuh yang melemah dan timbulnya alergi. Dan itulah sebabnya diperlukan pendonor dari semua golongan darah, dan semakin banyak pendonor semakin besar pula kemungkinan neraca akan menunjukkan selisih yang positif.

Mungkin menyumbangkan darah merupakan hal yang sedikit mengerikan pada awalnya, dan mungkin faktor utama yang menyebabkan perspektif seperti ini adalah jarum suntik yang digunakan. Seolah penderitaan (anak sd yang belum mengerti manfaatnya sepertiku dulu lebih menganggap ini hukuman atau penyiksaan, jangan salahkan jika maksud baik pemerintah tidak tersampaikan, jika pemerintah memang punya maksud baik tentunya) vaksinasi dan imunisasi di sd masih belum cukup untuk membuat kita takut terhadap jarum suntik. Dan memang rasanya tidak seperti digigit semut merah, rasa ditusuk jarum suntik harusnya digambarkan seperti apa adanya, ditusuk tidak sama dengan digigit dan jarum suntik tidak sama dengan semut merah ataupun nyamuk. Memang aneh orang yang menganggapnya sama.

Tapi coba lihat dari sudutpandang lain, dengan memberikan darah kita, kita telah berperan dalam menyambung hidup seseorang, entah siapapun dia. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk memperbanyak amal baiknya (yah, memang ada juga kemungkinan kesempatan itu akan digunakan untuk memperpanjang amal buruknya. Sama saja seperti pajak bukan, meski diniatkan bayar untuk negara, selalu ada kemungkinan sebagian masuk ke saku pribadi koruptor. Dan kalau melihat dari berita di media, jumlah yang dikorupsi tidak kecil ya. Yah, setidaknya niatkanlah yang baik dan berdoalah supaya niat itu terwujud, ada hal yang terjadi di luar kehendak kita kan? Dan semoga koruptor di negeri ini musnah, entah karena taubat dan menjadi pribadi yang lebih baik ataupun karena dikubur jasadnya karena waktu di dunia telah habis–ngelantur dalam hal ini lumayan panjang ya). Memang sel darah yang kita sumbangkan mungkin hanya berada dalam tubuhnya sebentar karena akan diolah menjadi bilirubin dan dibuang bersama urin, tidak cukup lama untuk menjadikan pendonor dan penerima saudara sedarah. Namun tetap saja hal itu penting, karena tiap orang punya peranan dalam skema besar alam semesta, dan tidak ada satu makhluk pun yang tidak penting. Dan setiap orang pasti memiliki orang lain yang menganggap orang tersebut penting, dan hanya karena kita menganggap korban yang kita tolong tidak penting, tidak berarti sahabat dekatnya juga akan berpendapat demikian. Oke, sekarang sudah terlalu malam dan kuakui, aku terlalu banyak menonton Doctor Who -_-

Yah, dari segi kepercayaan, sebagai muslim aku percaya pada perkataan Rasul, bahwa orang yang menolong saudaranya akan ditolong Allah. Mungkin ini salah satu faktor yang menyebabkan indeks akademikku patut disyukuri mengingat waktu belajarku yang sangat minim, haha.

Dan ada satu quotes yang kusuka dari manga Detective Conan, yaitu saat kasus di amerika, saat shinichi menolong seorang pembunuh berantai yang nyaris jatuh dari gedung setelah menyerang dia dan ran. Saat pembunuh tersebut menanyakan alasan dia menolongnya, justru shinichi balik bertanya, “Perlukah alasan untuk menolong seseorang?”. Yah, mungkin kita memang tidak perlu alasan yang terlalu rumit, mungkin kita hanya ingin membantu 🙂

Jadi, bagaimana kalau kita mulai mendonorkan darah dari sekarang? Bukan ide yang buruk kan? 😀

Cerita Para Halte

Diawali dari sebuah janji bertemu dengan seorang sahabat lama, hari ini kembali jalan-jalan mengelilingi jakarta dengan busway. Hari ini jalanan lumayan kosong, entah pengaruh dari “hari kejepit” atau libur panjang, yang jelas ini menyenangkan bagi pengguna angkutan umum sepertiku. Tujuan hari ini adalah Kota Tua, dan tentu saja sebagai warga negara yang berdomisili di perbatasan Tangerang-Jakarta Selatan, Blok M adalah tempat terdekat untuk masuk ke jalur transportasi Busway. Sepanjang jalur busway koridor 1, aku melihat urutan halte yang dilalui bus ini. Ternyata lumayan banyak cerita yang telah kubuat, dan tidak sedikit yang menyenangkan untuk dikenang atau bahkan direka ulang.

 

Dimulai dari Blok M, yang sering menjadi tempat yang kugunakan untuk berkumpul dengan teman-teman dari jejaring sosial Plurk, jejaring sosial yang mengandalkan fitur emotikon dan tempat “sampah” yang dapat diandalkan serta tempat untuk melontarkan berbagai komentar dan diskusi dari hal yang sangat penting sampai hal yang tidak masuk akal dan tidak perlu dibicarakan, kebetulan teman-teman semasa SMA banyak yang menggunakan plurk dan sampai sekarang kelompok kecil ini masih lumayan akrab. Memang agak disayangkan kesibukan sebagai mahasiswa dan jadwal universitas yang berbeda membuat gathering lebih sulit dilakukan sekarang, tapi setidaknya plurk masih merupakan tempat sampah yang baik dan setia, terutama terkait hal-hal yang tidak bisa diungkapkan di facebook dan blog. Selain itu, ada juga masjid Al-Fajr di belakang Rumah Sakit Pusat Pertamina yang sering kukunjungi untuk kegiatan rapat fortris semasa SMA dulu. Dan tiap rapat punya kesan, keasalan dan keunikannya masing-masing, dari foto lembaran absen dengan ratusan komentar terkait rencana politik yang asal dan SMA mana yang lebih penting saat fortris baru dibuat, rapat yang menyindir susunan struktur organisasi (koordinator sekolah yang tidak tahu letak sekolah-sekolah yang harusnya dia pegang, kepala divisi danus yang tidak punya minat dan pengalaman untuk berjualan, kepala divisi humas yang kehilangan handphone-nya dua kali, kepala divisi pergerakan yang tidak mendapat restu untuk ikut aksi dari orangtuanya, dan sekretaris jendral yang tulisannya sulit dibaca) hingga keusilan terhadap ketua fortris yang sedang berulangtahun.

Dilanjutkan dengan halte Masjid Agung Al-Azhar, yang terletak di sebelah sekolah Al-Azhar yang menjadi tempat pelatihan peserta OSN Fisika pada tahun 2009. Sekolah Al-Azhar ini memiliki 8 lantai, dan pelatihannya terletak di lantai 7. Dan, berhubung lift untuk pelatihan sering penuh dan beberapa peserta sepertiku malas untuk menunggu liftnya kosong, jadilah kami berolahraga sebelum pelatihan dengan naik tangga. Lumayan seru sih, meskipun agak canggung saat tahu jadi peserta di posisi 101 dari 101 orang yang lolos berdasarkan daftar absen, tapi tetap saja banyak pelajaran yang dapat diambil. Diskusi-diskusi ringan hingga berat terkait soal osn dan hal fisis aplikatif yang ada di sekitar. Ini juga hal yang aneh sih mengingat sebelum ujian dimulai aku lebih memilih membereskan hal lain yang menurutku lebih menenangkan jiwa daripada belajar. Ah, sudah lah, nikmati saja 🙂

Lanjut ke halte Bundaran Senayan dan Gelora Bung Karno, tempat ambil nilai olahraga dengan lari keliling dua putaran lintasan luar Lapangan Sepak Bola GBK. Ternyata di ITB pun ambil nilainya tidak jauh berbeda, sama-sama lari, haha. Oiya, tempat ini juga merupakan tempat pertamakalinya aku diajak adikku menonton pertandingan sepakbola secara langsung, saat tim nasional Indonesia bertanding dengan Liverpool di pertengahan tahun lalu. Meski tim favoritku sudah main duluan dan menang telak dari timnas 7-0, dan sekarang sedang memimpin premier league dengan perolehan poin yang sangat ketat, tapi perjuangan timnas saat itu tetap pantas untuk ditonton dan diacungi jempol. Perlawanannya lebih sebanding, meski agak disayangkan seminggu kemudian timnas kalah telak lagi dengan tim premier league lainnya. Selain itu, sebuah mall di senayan juga menyimpan kenangan tersendiri bagiku, yang masa kecilnya diisi dengan bunyi dan atraksi dari dentang jam pada mall tersebut saat jarum panjang menyentuh angka 12. Selalu ada perasaan khusus saat melihat jam tersebut beratraksi, bahkan sampai sekarang pun perasaan itu masih ada.

Dan berikutnya, halte bendungan hilir, halte singgah dari imigrasi saat membuat atau mengurus paspor, dan halte singgah dari gor sumantri, tempat sebuah try out dilaksanakan saat masih kelas 12 sma. Lalu halte setiabudi, yang terletak di dekat sma 3 yang menjadi tempatku mengikuti ujian seleksi osn fisika di tahun 2009. Ada lagi halte Bank Indonesia yang menjadi tempatku berkumpul saat bulan ramadhan lalu dan temanku mengusulkan untuk membuat perkumpulan antar universitas untuk dapat memberikan kontribusi lebih pada masyarakat. Meskipun aku terdaftar, tapi untuk yang satu ini aku cenderung berhati-hati, maklum, ini tahun pemilu dan mahasiswa sahabatku itu memang kelihatannya punya tendensi ke satu partai–tidak usah disebutkan partai mana–dan aku tidak berminat untuk diperalat secara politis. Yah, sekedar waspada. Dan yang terakhir sebelum stasiun kota adalah halte glodok, tempat favorit keluarga untuk berbelanja beberapa hal.

Di halte ujung, stasiun kota tua, nyaris ada cerita yang dapat dibuat tadi siang, tapi kelihatannya Allah belum berkenan dengan merancang skenario yang unik. Yah, terpaksa kembali ke Blok M setelah shalat jumat. Dan perjalanan kembali pun kadang masih diisi dengan kilas balik dari hal-hal yang telah lalu.

Setelah sampai di blok m pun masih ada niatan untuk random, pergi ke mall di senayan itu untuk melihat jam tersebut beratraksi. Dan, ternyata perasaan khusus itu masih ada, saat jam tersebut seolah memberikan performa yang terbaik hanya untukku meski banyak yang juga menunggu atraksi jam tersebut, terutama anak-anak. Yah, kadang kebahagiaan itu memang sederhana dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata bukan? Yah, setidaknya ada hal yang membuat perjalanan siang ini berkesan, sebuah cerita baru bahwa sejak kecil hingga mulai beranjak dewasa seperti saat ini, ada hal yang tidak berubah, dan kelihatannya tidak akan kubiarkan berubah.

 

Kelihatannya setelah semua berlalu, kehidupan hanyalah menjadi kumpulan cerita ya, entah untuk dikenang, dijadikan pelajaran ataupun dibicarakan oleh generasi penerus di masa depan. Cerita ini dapat tercipta dimana saja, meskipun tempat itu mungkin terkesan sepele seperti di dalam busway, bahkan mungkin cerita yang akan tercipta itu memiliki alur cerita yang sangat dalam, panjang, kompleks dan penuh dengan hal-hal yang menarik. Yah, bagaimanapun ceritanya, setidaknya buatlah cerita yang bagus agar dapat dikenang, dijadikan pelajaran dan dibicarakan secara positif oleh generasi berikutnya, iya kan? Setidaknya, ada kepuasan tersendiri setelah melakukannya, percayalah 🙂

 

Dan kelihatannya intensitas menulis akan sedikit berkurang di periode liburan ini karena beberapa hal, dari file-file film yang sudah berkali-kali merengek minta diputar, tempat-tempat yang ingin kukunjungi, sepeda yang perlu diurus, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, dan kawan-kawan untuk bersilaturahmi. Yah, selamat datang kembali di ciledug laks, manfaatkanlah waktumu dengan baik ya 🙂

Eight Lies of Mother

Ini cerita dari teman saya, Rosikhuna fikri assafari.
Tentang sumber notes ini masih misteri, tapi kita takkan membahas itu…

“A Story that I cannot forget….”
(Sebuah cerita yang tak dapat aku lupakan…..)

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata “Makanlah nasi ini anak ku. Aku tidak lapar”

ini adalah kebohongan Ibu yang pertama.

2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekun nya ibu menggunakan waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami, dia berharap jika dia mendapatkan ikan, dia dapat memberikan aku sedikit makanan yang bergizi untuk pertumbuhan ku. Setelah memancing, dia akan memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera makan ku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelah ku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih menempel pada tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal tersebut, aku menggunakan sumpitku dan memberikan potongan ikan yang lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan mengatakan ” Makanlah ikan itu nak, aku tidak seberapa menyukai ikan”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke dua

3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk membiayai pendidikan ku, ibu pergi ke sebuah badan ekonomi (KUD) dan membawa kerajinan dari korek api bekas. kerajinan tersebut menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan kami. Ketika musim semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunan nya dia melanjutkan pekerjaan nya menyulam. Aku berkata “Ibu, tidurlah, sekarang sudah malam, besok pagi kamu masih harus pergi bekerja.” Ibu tersenyum dan berkata “Pergilah tidur, sayang. Aku tidak Lelah.”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke tiga

4. Pada saat Ujian akhir, ibu meminta izin dari tempat ia bekerja hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menugguku dibawah terik sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah bel berbunyi, yang menandakan waktu ujian telah berakhir, Ibu dengan segera menyambutku dan memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan sebelumnya di botol dingin. kental nya teh terasa tidak sekental kasih sayang dari Ibu, yang terasa sangat kental. Melihat ibu menutup botol tersebut dengan rasa haus, langsung saya memberikan gelasku dan memintanya untuk minum juga. Ibu berkata “Minumlah, nak. Ibu tidak haus!”

Itu kebohongan ibu yang ke empat

5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, Ibuku tersayang harus menjalankan peran nya sebagai orang tua tunggal. dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Hidup keluargaku menjadi semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang paman yang tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal dekat dengan kita melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak beruntung, Mereka sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasihat mereka, dia berkata ” Saya tidak butuh cinta”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke lima

6. Setelah saya menyelesaikan pendidikanku dan mendapatkan sebuah pekerjaan. itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirahat. Tetapi dia tetap tidak mau; dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap pagi, hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi kebutuhan nya. Saya, yang bekerja di kota yang lain, sering mengirimkan beliau sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan nya, tetapi Beliau tetap keras kepala untuk tidak menerima uang tersebut. Beliau sering mengirim kembali uang tersebut kepadaku. Beliau berkata “Saya punya cukup uang”

itu adalah kebohongan ibu yang ke enam

7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan pendidikan saya ke tingkat Master, saya mengambil pendidikan tersebut, dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program beasiswa, dari sebuah Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya saya bekerja pada perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya berniat untuk mengambil Ibu dan mengajak nya untuk tinggal di amerika. Tetapi Ibuku tersayang tidak mau merepotkan anak lelakinya, Beliau berkata kepadaku “Saya tidak terbiasa”

itu adalah kebohongan ibu yang ke tujuh

8. Sewaktu memasuki masa tua nya, ibu terkena kanker tenggorokan dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang terpisah sangat jauh dan terpisah oleh lautan, segera pulang ke rumah untuk mengunjungi ibuku tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai menjalankan operasi. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan tatapan rindu yang dalam. Beliau mencoba memberikan senyum diwajahnya. meskipun terlihat sangat menyayat dikarenakan penyakit yang dideritanya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut menghancurkan tubuh ibuku. dimana beliau sangat terlihat lemah dan kurus. Saya mulai mencucurkan airmata di pipi dan menangis. Hatiku sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata “jangan menangis, anakku sayang, Ibu tidak sakit”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke delapan

“After saying her eighth lie, my dearest mother closed her eyes forever!”
(Setelah megatakan kedelapan kebohongan nya, Ibuku tersayang menutup matanya untuk selamanya!)

With Kind Regards

Mohammad Usman
Jeddah
SAUDI ARABIA

YES, MOTHER WAS AN ANGEL!

M – O – T – H – E – R

“M” is for the Million things she gave me,
“O” means Only that she’s growing old,
“T” is for the Tears she shed to save me,
“H” is for her Heart of gold,
“E” is for her Eyes with love-light shining in them,

“R” means Right, and right she’ll always be,

Put them all together, they spell “MOTHER” a word that means the world to me. 🙂

Kisah zaman dahulu

Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah berkata, “Bersabda Rasulullah saw., ‘Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang tersebut menemukan pundi-pundi berisi emas di ladang tersebut. Si pembeli mengembalikan pundi-pundi itu kepada si penjual. Si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya, “ambillah.” Tetapi si pembeli itu pun menolaknya dengan berkata, “Aku hanya membeli ladang, bukan membeli emas itu.” ‘ (HR Muslim)

Alkisah Abdullah bi Ahmad-sebut saja begitu-membeli sebidang tanah untuk bercocok tanam dari tetangganya, Salman. Esok harinya, Abdullah bersama anak lelakinya pergi ke ladang yang baru mereka beli untuk mengolah tanah dan menanam sayur-mayur. Menjelang tengah hari, Abdullah terkejut ketika sedang memacul tanah. Paculnya menghantam benda yang keras. Ternyata benda itu adalah sebuah pundi-pundi yang berisi emas.

Karena terkejut, Abdullah segera berteriak memanggil putranya, “Nak… nak segera ke sini. Cepat nak, cepat… cepat!” “Ada apa pak, ada apa? Kok berteriak seperti itu?” “Coba lihat ini! Bukankah ini emas? Emas, nak. Banyak sekali. Cepat lihat kesini,” Teriak Abdullah dengan suara agak bergetar. Setelah melihat pundi-pundi tersebut, putranya pun berseru gembira “Wah, bukankah ini emas pak? Ini emas pak. Banyak sekali!” Mereka pun menggali kembali dan mengumpulkan seluruh emas di ladang mereka. Mereka gembira karena menemukan pundi-pundi emas di ladang mereka, namun khawatir karena emas ini bukanlah milik mereka.

Akhirnya, Abdullah membawa seluruh pundi-pundi emas itu untuk diserahkan ke Salman-pemilik ladang sebelumnya. Ia yakin bahwa yang ia beli hanyalah tanah ladang, tidak termasuk emas yang banyak itu. Namun, saat melihat emas itu, Salman juga tidak pernah menyangka ada emas sebanyak itu di ladangnya. Dia pun berkata, “Wahai Abdullah, meski pundi-pundi emas ini kau temukan dari ladangku, ini bukan milikku lagi. Harta ini sudah menjadi milikmu, karena aku sudah menjual ladang itu beserta apa yang ada di dalamnya. Bawalah emas ini, gunakanlah sesukamu. Kau yang lebih berhak.”

“Tu… tunggu dulu Tuan Salman. Memang benar aku yang menemukan emas di ladangku, tanah yang telah menjadi milik dan hakku. Namun hanya tanah yang kubeli darimu, bukan emas sebanyak ini. Emas ini tetap milikmu, ambillah! Aku permisi pulang.”

“Berhenti Abdullah, jangan pulang dulu! Persoalan ini masih belum selesai. Aku tidak bisa menerima ini,” kata Salman setengah berteriak menahan Abdullah pulang. “Sungguh aku sangat senang dan menaruh hormat padamu atas sikapmu Abdullah. Kejujuranmu tiada taranya. Namun, aku mohon mengertilah. Aku pun tidak ingin menerima harta yang bukan milikku. Aku pun ingin menjadi seperti engkau, menjaga diri dari menyentuh sesuatu yang bukan hakku”

Akhirnya, mereka meminta bantuan kepada seorang hakim yang shalih. Mereka menceritakan seluruh permasalahan kepadanya. Sang hakim mendengarkan dengan seksama dan terharu dengan keimanan mereka yang membuahkan kehati-hatian. Meskipun mereka tidak kaya, “hati mereka sangat kaya”. Mereka mampu menjaga dirinya untuk tidak menyentuh apa-apa yang bukan haknya.
Setelah berpikir agak lama, sang hakim bertanya, “Apakah kalian mempunyai anak?” “Ya, aku punya anak laki-laki” jawab Abdullah, diikuti dengan jawaban Salman yang ternyata punya anak perempuan. “Bagus… bagus kalau begitu. Aku punya ide untuk solusinya. Bagaimana kalau kalian menikahkan kedua anak kalian dan menggunakan seluruh harta itu untuk pernikahan dan hidup mereka? Kalian berdua berbesanan dan anak kalian terjamin masa depannya. Bagaimana? Itulah keputusanku,” kata hakim senang.

Mendengar keputusan tuan hakim (yang di luar dugaan), wajah Abdullah dan Salman tampak berseri-seri. “Terima kasih Tuan Hakim… terima kasih,” serentak keduanya berujar. Mereka pun berpelukan dengan gembira dan pulang dengan rasa riang.

Kebahagiaan diperoleh dari keimanan dan kejujuran, bukan dari harta, apalagi yang bukan haknya…

***********************************************************************************

Beberapa tahun yang lalu, para imigran Irlandia menerima teori bahwa mereka dapat mengkonsumsi kentang besar dan menggunakan kentang kecil untuk pembibitan. Mereka melakukannya selama beberapa waktu. Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka mulai sadar, saat mereka menjalankan teori di atas, kentang-kentang mereka semakin hari semakin kecil dan akhirnya kentang-kentang mereka berukuran sebesar kelerang. Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menyimpan hal-hal terbaik dalam kehidupan untuk mereka sendiri dan hanya menyisakan sisanya untuk masa depan (pembibitan).

Hukum alam menyatakan bahwa musim panen mencerminkan musim tanam. Kita sering mencoba menyimpan sesuatu yang terbaik untuk diri kita dan menyisakan sesuatu yang kurang baik untuk masa depan kita. Andai kita menanam kentang yang besar, mungkin saja kita masih dapat menikmati kentang besar tersebut sampai beberapa generasi mendatang, namun jika yang kita tanam hanyalah kentang yang kecil, kentang yang kecil pula lah yang akan kita terima di masa depan.

Ingatlah ini, “Engkau menuai apa yang engkau tanam, tidak yang lainnya”

Mulyanto,DR (2004).Kisah-kisah Teladan untuk Keluarga.Jakarta : Gema Insani*
*dengan beberapa perubahan