Jarak

Saat googling, berusaha rehat sejenak dari berbagai deadline awal pekan ini, kebetulan menemukan cerita yang bagus 🙂

Suatu hari, sang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu dia kehilangan kesabaran, karena itu dia lalu berteriak.”

“Tapi…” sang guru balik bertanya. “Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun, tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka jadi amat jauh walau secara fisik begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka yang begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” tanya sang guru sambil memperhatikan muridnya.

Mereka nampak berpikir dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

“Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah padangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Pada akhirnya, ada satu perkataan sang guru yang harus kita ingat. Sang guru melanjutkan, “Ketika kita sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana karena waktu akan membantu kita.”

Ingatlah, jika jarak sudah tercipta, bukan dengan teriakan jarak itu dapat mengecil tapi dengan bahasa yang halus dan sikap yang baik, meskipun bukan Anda yang bersalah akibat kemarahan yang timbul itu. Percayalah, hal tersebut dapat mendatangkan keuntungan buat hubungan Anda.

Sumber: http://www.jawaban.com/index.php/mobile/health/detail/id/1/news/131024135325/limit/0/Saat-Hati-Dipisahkan-Oleh-Jarak.html

Kadang hal yang kita lakukan untuk mendekatkan jarak antara kita merupakan hal yang memperbesar jarak tersebut. Pengingat untuk lebih memperhatikan kata yang terucap, dan bagaimana penyampaiannya. Kelihatannya benar juga perkataan yang kudengar, bahwa jika ingin menang dalam suatu perdebatan tingkatkanlah kualitas argumenmu, jangan keraskan suaramu. Mengeraskan suara (atau berkomentar dengan huruf kapital penuh di dunia maya) mungkin dapat memenangkan sebuah argumen, tapi mungkin juga menurunkan rasa hormat orang lain atau malah membuat kita dianggap tidak pantas untuk didengar. Apakah itu harga yang pantas dibayar untuk sebuah kemenangan? 🙂

Sebuah Pertanyaan

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama diberikan oleh seorang juniorku, dan dia memang memintaku membuat catatan mengenai pertanyaan ini, namun kelihatannya baru saat ini dapat terealisasi. Yah, perubahan kurikulum di program studiku memang lumayan unik, beban kerja dari tugas besar sangat bertambah setelah program studi ini terakreditasi internasional. Memang berat sih, tapi setidaknya setelah lulus dari ini aku akan dianggap sekompeten engineer-engineer di bidang studi yang sama dari universitas manapun. Selain itu, aku banyak belajar dari tugas-tugas yang selama ini telah diberikan. Yah, selalu ada sisi positif dari masalah kan? 🙂

Oke, pertanyaan yang dimaksud terkait dengan cinta dan Tuhan, dan kelihatannya lumayan sering diajukan, entah dalam puisi, untaian kata ataupun cerita, “Kalau kau mencintai seseorang karena parasnya, bagaimana kau mencintai Tuhanmu yang tak berparas?”. Sejujurnya, sampai sekarang aku pun belum tau apa jawaban yang tepat bagi pertanyaan ini. Karena belum ada respon yang terlintas dalam pikiran, mari kita analisis pertanyaan tersebut dengan menganggap ini sebuah pernyataan implikasi dalam bentuk jika “p” maka “q”. Dengan begitu, ada 4 kemungkinan orang menurut logika dari juniorku ini, yaitu “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya”, “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”, “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya” dan “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”. Oke, setelah menulis satu paragraf penuh aku baru menyadari kelihatannya menggolongkan subjek dan menganalisisnya satu persatu memang bukan logika yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Hahaha, yah, setidaknya kita mendapatkan sudut pandang yang baru terkait golongan dalam manusia, sebuah metode untuk menganalisis masalah, dan sekedar informasi atau detail menarik dari masalah tersebut.

Mari coba metode lain, metode perumpamaan, dengan mengumpamakan paras sebagai keju yang dimasukkan dalam adonan untuk membuat kue. Mungkin jika pertanyaan tersebut diubah untuk menyesuaikan dengan tema ini, “Jika kau menyukai kue karena keju yang ada di dalamnya, bagaimana kau menyukai sang pembuat kue yang tidak terbuat dari keju?” Ah, setidaknya sekarang mulai ada gambaran tentang pertanyaan tersebut, meski memang ini adalah perumpamaan yang sangat asal, hahaha.

Oke, kesimpulan sementara yang dapat kutarik adalah bahwa kedua pernyataan tersebut tidak lah berhubungan, mengacu pada contoh keju dalam kue tersebut. Tiap orang punya cara yang berbeda dalam memperlakukan kue tersebut, ada yang memakan kejunya terlebih dahulu lalu menyisakan bagian kue yang tidak mengandung keju, atau mungkin memberikannya ke orang lain. Ada juga yang mungkin memakan semua bagian yang tidak mengandung kejunya terlebih dahulu untuk menyisakan kejunya agar dimakan terakhir. Tapi semua itu tidak ada pengaruhnya terhadap bagaimana orang tersebut menyukai sang pembuat kue.

Mungkin seperti yang telah kusebutkan diatas (ah, ternyata logika yang tidak terstruktur seperti ini masih ada gunanya, hahaha), ada bermacam jenis orang, baik itu yang mencintai karena paras dan mencintai Tuhan, mencintai karena paras dan tidak mencintai Tuhan, mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan, serta yang mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan. Dan mungkin semua orang memiliki alasannya tersendiri untuk masuk ke dalam salah satu golongan, alasan orang-orang yang segolongan belum tentu sama, bahkan mungkin sebuah alasan yang menyebabkan seseorang masuk ke sebuah golongan dapat menyebabkan orang yang berbeda masuk ke golongan yang berbeda juga.

Dan jika logikaku benar, maka sebenarnya semua ini tergantung pada para pencinta (ya, maaf atas kosakata yang aneh, ini adalah kosakata yang dibuat berdasarkan logika karena aku belum dapat menemukan kata yang pas untuk memanggil orang-orang yang mencintai, kosakataku masih kurang banyak memang). Apa yang menjadi pertimbangan mereka untuk mencintai memang sepenuhnya merupakan hak individu mereka, tapi bagaimanapun saat mencintai seseorang, maka perlu diingat bahwa orang tersebut tidak hanya memiliki hal-hal yang mereka cintai, ada banyak hal lain yang mungkin tidak mereka cintai atau bahkan mereka benci dan terdapat dalam diri orang yang mereka cintai. Dan semua akan kembali pada sang pencinta, apa yang akan mereka lakukan untuk dapat berkompromi dengan kenyataan tersebut. Mungkin ada yang memutuskan untuk berubah membenci atau meninggalkan orang yang mereka cinta, ada yang memutuskan untuk bersabar, ada yang menyakiti orang yang mereka cinta atau ada yang berusaha untuk mengubah orang yang mereka cinta, dan ada berbagai skenario lain yang mungkin dapat dilakukan karena semua orang berbeda, tapi sulit untuk mengetahui apakah mereka mencintai Tuhannya atau tidak. Bagaimana bisa menilainya?

Dan semua juga tergantung pada yang dicinta, mau dicintai oleh pecinta seperti apa? Bagaimanapun, saat berbicara mengenai hubungan antar manusia, hubungan yang terjadi selalu merupakan hubungan dua arah, hubungan yang terjadi bukan karena keputusan sebelah pihak saja, namun harus ada keterlibatan dua belah pihak. Dan yang dicinta juga berhak untuk memutuskan mau menerima pecinta yang mencintai karena paras, dan meragukan apakah dia mencintai Tuhannya, atau tidak. Karena semua orang punya pilihan, bukan?

Mungkin itu penyebab Rasulullah saw pernah berkata, “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkarakarena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanyaPilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin” melalui Abu Hurairah kepada para laki-laki. Setidaknya, jika yang dipilih adalah mencintai karena agamanya, kemungkinan orang tersebut mencintai Tuhannya lebih tinggi daripada mencintai karena parasnya, dan kemungkinan untuk selamat dalam hari pembalasan juga lebih besar. Aku lupa periwayat haditsnya tapi setahuku hadits ini sudah lumayan sering dibicarakan di forum-forum pra-nikah atau forum lelaki atau perempuan yang galau nikah (bukan bermaksud menyamakan kedua forum tersebut, tapi mungkin memang keduanya mirip dari segi bahasan, dan mungkin beberapa dari para peserta juga).

Dan sekarang kembali kepada diri masing-masing, waktunya untuk bertanya mau mencinta karena apa dan mau dicinta karena apa 🙂

Cerita seorang ibu…

Sebut saja namanya ibu Sabar, beliau wanita luar biasa yang aku kenal. Berputra empat, tiga perempuan dan seorang laki-laki. Suaminya sudah tidak lagi bekerja dikarenakan sakit lama yang dideritanya.

Saat ini adalah saat yang mengharukan bagi sang Ibu. Puji syukur tak henti-hentinya beliau panjatkan kepada Yang Maha Kuasa, karena anak lelakinya sekarang sudah punya pekerjaan dan akan menikah dengan seorang yang sudah dikenal kebaikannya.Terbayang peristiwa sekitar lima tahunan yang lalu..Ya Alloh..perkenankanlah doaku semoga anak lelakiku mendapatkan istri yang shalehah.

Lima tahunan yang lalu anak lelakinya pergi merantau ke negeri seberang jauh dari kampungnya untuk mencari penghidupan yang layak.Cita-citanya adalah menjadi tulang punggung keluarga, mengingat dialah anak lelaki satu-satunya, sedang bapaknya sudah tidak bisa bekerja lagi.

Hari berganti hari. Ibunya sangat merindukannya. Sampai suatu ketika, sang ibu mendapat kabar yang sangat menyedihkan, kalau anak lelakinya berada dalam sel tahanan polisi. Tanpa banyak berfikir, sang Ibu pun berkeinginan untuk menjenguk putranya.

Setelah pinjam sana sini, akhirnya sang ibu menyusul anak lelakinya. Naik pesawat terbang. Sesuatu yang tadinya mustahil untuk dilakukan, jangankan untuk naik pesawat terbang, untuk kehidupan sehari-haripun sudah pas-pasan. Namun karena tekad yang kuat untuk bertemu anak lelakinya, maka sang ibupun berangkat setelah mendapat ijin dari suaminya.

Sesampai ditempat tujuan, sang ibu langsung menemui putranya. Ia seakan tak percaya melihat putranya, putranya yang dulu gagah sekarang kumal hanya berbalut celana kolor, kotor sepertinya tak mandi beberapa hari lamanya dan yang paling menyayat hatinya putranya tak sedikitpun mengenali Ibunya.”Siapa Kamu!”..Kata sang anak.”Nak..Nak..ini Ibumu..kenapa kamu disini. Ini tempat para maling dan penjahat, ini bukan tempatmu..ini bukan tempatmu,…siapa yang memasukkan kamu ke penjara ini Nak..siapa….ini bukan tempatmu Nak…” Tangis Sang Ibu tak henti-hentinya.

“Anak ibu membahayakan orang lain!” Begitu penjelasan dari polisi yang didapat ketika sang ibu menanyakan kenapa anaknya dimasukkan ke sel tahanan.” Ini tidak manusiawi, Pak!” seharusnya bukan begini caranya!” Kata sang ibu.”Tapi siapa yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu?!” Kata Pak Polisi.”Aku Pak!,…Aku yang bertanggung jawab, ..Aku Ibunya!” Jawab sang Ibu tegas.

Akhirnya Anak lelaki bu Sabar diperbolehkan pulang, dan sang ibu merencanakan membawa anak lelakinya ke kampung untuk pengobatan. Dengan segala perjuangan akhirnya sampailah sang ibu dan anak lelakinya ke rumah. Hatinya berbalut sedih nestapa, anak lelaki yang sangat disayanginya kini tak mengenali dirinya. “Ahh.. tidak mengapa, Aku harus kuat dan Aku harus berjuang demi anakku..aku tidak memiliki apa-apa, Tapi aku punya kekuatan Doa..Doa untuk anakku” Tekad sang ibu.

Sejak itu hari-harinya hanya untuk mengurusi anaknya. Sejauh ini ia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk kesembuhan putranya yang ia tahu anaknya kembali seperti bayi. Semua keperluan anaknya Ibunya yang mengurusi, mulai dari makan, minum, mandi, BAB, ya.. semuanya. Anak lelakinya kembali seperti bayi tetapi bayi yang pemarah, bayi yang terus-menerus teriak, menendang, bahkan pernah mencekik nya. ”Bukan Salahnya..ini semua bukan salahnya..Ia hanya sakit..” Kata sang ibu begitu Ikhlasnya.

Hampir tiga bulan lamanya sang ibu menemani putranya, dan selama itu katanya tak pernah sekalipun sang ibu bisa tersenyum, apalagi tertawa. Pernah beliau mendengar tawa seorang tetangganya, katanya beliau sangat iri kepada tetangganya itu karena bisa tertawa.

Sampai suatu ketika ada tetangga yang berbaik hati, memberikan informasi pengobatan medis di rumah sakit. Dibawalah sang anak kesana. Setelah hampir dua minggu berobat., tibalah saat sang ibu untuk menemui putranya.

“Ibu”…panggil sang anak. Mengalir deraslah tangis sang Ibu…”Ya Alloh yang Maha Pengasih…terima kasih atas karunia Mu, Anak lelakiku telah kembali”.” Panggil lagi Nak..panggil lagi aku Ibu sepuasmu…kata Itu sangat berharga dan yang paling indah yang pernah ku dengar” Kata Sang Ibu.
“Ibu..sepertinya aku telah bermimpi. Sudah berapa lama aku di rumah sakit ini?, Aku Kenapa disini bu?.apa yang telah terjadi dengan aku” Tanya sang anak bertubi-tubi. Perlahan-lahan dieja deretan kata-kata dibaju yang ia pakai ..juga tulisan yang ada diseprei tempat tidurnya…Ru..mah..Sa..kit…Ji..wa.”Hah!.. Rumah Sakit Jiwa?..Apa Aku sakit Jiwa bu..” Tanya sang anak.

Sang Ibu terus memeluknya..tak ingin melepaskannya…kali ini Sang Ibu menangis bahagia.”Kamu sudah sehat anakku..kamu sudah bangun dari mimpi burukmu. Terima kasih Ya Alloh…terimakasih Ya..Alloh..Engkau telah mengabulkan doaku” Kata sang ibu.

Sang Ibu terhenyak dari lamunan peristiwa lima tahun yang lalu, ketika para tamu undangan Walimah pernikahan anak lelakinya mulai berdatangan. Selamat menempuh hidup baru anakku, Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warohmah. Doa Restuku akan selalu menyertaimu… Anak-anakku.

Saat-saat pernikahan anak lelaki Sang Ibu

oleh Ani Murtini
http://www.eramuslim.com/oase-iman/cerita-seorang-ibu-dan-anak-lelakinya.htm